JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 106 "Tidur ya cucunya oma"


__ADS_3

"Nyonya besar dimana bibi?" Tanya Yurina saat tidak melihat ibu mertuanya duduk dimeja makan.


"Nyonya besar masih belum pulang nyonya muda. Akhir - akhir ini nyonya besar selalu pulang malam, dan wajahnya terlihat lesu nyonya muda." Terang bibi Nur.


Yurina lalu teringat saat menonton televisi sore itu. Berita tentang kebangkrutan perusahaan Agatsa Properri Grup begitu santer diberitakan.


Untuk beberapa hari terakhir, Yurina memang rajin melihat berita terkini, dan hampir setiap hari perusahaan keluarga Agatsa selalu disorot dalam pemberitaan.


Berita kecelakaan yang menimpa Moranno, CEO muda sekaligus pemilik Agatsa Grup pun tak luput dari sorotan.


Yurina hanya mendesah. Saat mengingat semuanya itu membuatnya merasa sedang memikul beban berton - ton dipundaknya, apalagi sang mertua pikirnya.


Mungkin itulah salah satu alasan ibu mertuanya itu selalu berangkat pagi - pagi dan pulang larut malam dalam keadaan lesu, pikir Yurina.


"Nyonya muda, saya tinggal dulu untuk mengurus pekerjaan yang lain. Nyonya muda makan malam lah sekarang." Kata bibi Nani membuyarkan lamunan Yurina.


" Iya bibi, terima kasih...."Sahut Yurina. Ia segera menikmati makan malamnya seorang diri.


***


Jam menunjukan pukul 23.15, saat Yurina terbangun dari tidurnya, ia mendengar bayi Willy menangis.


Semenjak pulang kerumah, Yurina selalu tidur dikamar bayinya.


Kamar dirinya dan Moranno dibiarkan kosong, ia kesana bila akan mandi dan berganti pakaian.


Bila seorang diri dikamarnya membuatnya selalu memikirkan suaminya yang entah kapan bangun dari komanya.


Itu sebabnya ia memilih tidur dikamar bayi kembarnya bersama bibi Nur yang mengasuh kedua putranya itu.


Yurina memeriksa popok bayi Willy, mungkin saja ia sedang BAB atau BAK. Popoknya masih kering dan bersih.


Yurina lalu menggendong bayinya yang masih menangis lalu menyusuinya. Bayi itu langsung terdiam saat mulutnya sudah menemukan pucuk dada ibunya.


"Rupanya kau haus ya sayang..." Ucap Yurina sambil tersenyum.


Bayi Willy begitu lahap menyusui hingga tak heran tubuhnya begitu berisi, jari - jari tangannya seperti jempol semua. Pipinya juga sudah terlihat gembul.


Lama - kelamaan mata bayi gembul itu terlihat seperti lampu taman yang akan padam, hingga akhirnya matanya tertutup sempurna karena telah tertidur pulas setelah merasa kenyang.

__ADS_1


Yurina membawanya kembali keranjang bayinya, meletakkan bayi Willy dengan hati - hati ditempat tidurnya.


Setelah menyelimuti bayi Willy, Yurina melihat kedalam ranjang bayinya yang satu lagi.


Yurina terkejut sambil tersenyum, saat bayi Billy sedang menatap kearahnya. Bayi itu tidak menangis, ia hanya menggerak - gerakan kedua tangan dan kaki gendutnya.


Seolah - olah minta digendong ibunya. Yurina sengaja membiarkannya, ingin melihat bagaimana reaksi bayi gembulnya itu saat di cuekin dirinya.


Bayi Billy semakin kencang menendang - nendang dengan kedua tangan dan kakinya kesana kemari diudara membuat Yurina tertawa.


Bibi Nur terbangun mendengar suara tawa Yurina walau tidak keras.


"Ada apa nyonya muda?" Tanya bibi Nur sambil turun dari tempat tidurnya.


"Lihatlah bibi, bayi Billy terlihat kesal saat aku sengaja tidak menggendongnya dengan segera." Ucap Yurina mengarahkan wajahnya pada bayi Billy yang masih terus menendang-nendang dengan kedua kaki dan tangan gembulnya itu.


"Iya nyonya muda, dia sepertinya sebentar lagi akan menangis. Saya kasian melihatnya nyonya...." Ucap bibi Nur sambil tersenyum melihat tingkah polah bayi lucu itu.


Benar saja, bayi itu langsung menangis dengan kencang, membuat Yurina dan bibi Nur saling berpandangan dan tertawa.


Yurina buru - buru meraih tubuh gembul itu, bayi itu sudah terasa berat saat digendong.


Yurina segera menyusuinya. Namun bayi Billy menolak sambil tetap menangis kencang. Yurina agak kebingungan dibuatnya.


Ia tidak perduli dengan apapun yang dilakukan Yurina dan bibi Nur untuk menghiburnya agar ia tidak menangis.


Suara Bayi Billy semakin kencang. Bayi Willy yang tertidur mulai terlihat gelisah mendengar suara tangis sang kakak.


"Apa yang terjadi? Mengapa dia menangis begitu kencang." Nyonya Agatsa tiba - tiba sudah ada dibelakang Yurina, entah kapan ia masuk ke kamar bayi kembar itu.


"Cepat berikan padaku." Perintah nyonya Agatsa.


Yurina sedikit agak ragu, namun dengan cepat diserahkannya bayi Billy kepada nyonya Agatsa.


Bayi Billy masih menangis kencang.


"Mana botol ASI nya, cepat berikan padaku." Perintahnya lagi dengan sikap tenang.


Bibi Nur buru - buru mengambil botol ASI ditempat penyimpanan dan memberikannya pada nyonya Agatsa.

__ADS_1


Bayi Billy segera menyambar pucuk botol ASI yang diarahkan kemulutnya. Tangisnya menghilang seketika.


Yurina dan bibi Nur saling berpandangan sementara nyonya Agatsa memberi ASI botol pada cucunya itu.


"Ambilkan satu botol lagi." Perintah nyonya Agatsa lagi, saat dilihatnya botol dot ASI itu hampir kosong.


Bibi Nur segera menunju ketempat penyimpanan ASI kembali, lalu segera kembali membawa sebotol ASI lagi.


Nyonya Agatsa memberikan botol dot ASI yang telah kosong pada bibi Nur, lalu mengambil dan memberikan botol dot yang baru pada bayi Billy.


Mulut bayi Willy segera menyambar pucuk dot yang diarahkan ke mulutnya.


Bayi itu terlihat sangat haus, hingga botol dot ASI kedua itupun sebentar saja sudah hampir habis disesapnya.


"Kasian cucu oma, sangat haus ya... " Kata nyonya Agatsa lembut, disela - sela dirinya memberikan cucunya itu minum ASI.


Bayi Billy hanya menatap wajah omanya, mulutnya masih setia menyesap pucuk dot yang diberikan padanya sambil tangannya membantu neneknya memegang botol dotnya dengan tangan gembulnya.


Nyonya Agatsa menyerahkan botol dot ASI yang baru saja kosong pada bibi Nur.


Wanita yang berwajah tenang itu mulai menimang - nimang bayi Billy dalam gendongannya. Membuat bayi itu tersenyum - senyum.


"Tidur ya cucunya oma, anak bayi tidak boleh bergadang seperti orang dewasa...." Ucap nyonya Agatsa sambil menimang.


Yurina dan bibi Nur masih betah berdiri ditempatnya memperhatikan nyonya Agatsa yang menimang bayi Billy sambil melangkah kesana - kemari.


Setelah sekian lama, nyonya Agatsa akhirnya membawa bayi Billy yang sudah tertidur keranjang bayinya. Ia meletakkan bayi gembul itu dengan hati - hati.


"Lain kali, jangan menunggu bayimu menangis baru kau mengambilnya." Ucap nyonya Agatsa menatap pada Yurina sejenak dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.


"Iya, maafkan saya nyonya besar." Kata Yurina sambil membungkuk hormat saat ibu mertuanya itu berlalu meninggalkan kamar bayi kembarnya.


"Bibi Nur, bagaimana bisa nyonya besar tahu kalau aku membiarkan bayi Billy, apakah nyonya besar sudah lama berada didalam kamar ini?" Tanya Yurina merasa heran, saat nyonya Agatsa sudah hilang dibalik pintu.


"Entahlah nyonya muda, bibi juga tidak tahu." Ujar bibi Nur turut merasa heran.


Yurina lalu mendekati ranjang bayi Billy. Bayi itu sùdah tertidur begitu pulas.


"Maafkan mommy ya sayang, telah sengaja mengerjaimu yang sangat kehausan sehingga kau merajuk dan sangat marah pada mommy." Ucap Yurina dengan wajah sedih sambil mengelus pipi gembul Billy.

__ADS_1


"Mommy janji, tidak nakal lagi sama Billy. Jangan Marah lagi ya sama mommy. Mommy sayaaaaang sama Billy." Ucap Yurina masih mengelus lembut bayinya itu.


Bayi Billy tidak merasa terganggu sama sekali. Hanya bibir mungilnya saja yang terkadang bergerak - gerak.


__ADS_2