
"Nyonya muda..... nyonya muda..... Buka pintunya....." Beberapa wartawan menggedor - gedor pintu mobil yang ditumpangi Yurina.
Beberapa security datang memberi akses jalan masuk pada mobil berplat nomor khusus keluarga Agatsa tersebut.
Semua pegawai yang melakukan demonstran di halaman kantor Agatsa Properti Grup semakin terdengar gaduh, saat melihat mobil yang ditumpangi Yurina memasuki area Agatsa Properti Grup.
Pak Karso menjalankan mobil perlahan karena banyaknya para pendemo memadati akses jalan menuju area parkir khusus keluarga Agatsa.
Beberapa pengawal khusus yang telah disiapkan asisten Rudi segera merapat kearah Yurina yang baru keluar dari mobil.
Semua mata pendemo mengarah ke Yurina yang mengenakan jas panjang berwarna pech dengan kacamata cokelat gelap.
Beberapa pendemo itu berusaha mendekati Yurina dengan paksa.
"Maaf, berikan nyonya muda jalan...." Ucap beberapa pengawal saat beberapa pegawai pendemo masih tetap memaksa mendekati Yurina.
Yurina berjalan dengan cepat menuju lobby dengan dikawal para pengawal khusunya yang berpakaian gelap.
"Lihat cleaning service yang disulap menjadi seorang nyonya muda yang terhormat.......!!" Terdengar suara cempreng seorang wanita ditengah - tengah kerumunan pendemo.
"Pasti karena membiayai gaya hidupnya gaji kita sering terlambat....!!"Teriak suara pria dengan nada meninggi.
"Naik status membuat lupa diri....!!!"
Suara - suara sentilan dari tengah - tengah pendemo itu terasa begitu menusuk hati Yurina. Namun ia tetap melangkah dengan kepala yang tegak.
Beberapa pengawal khusus itu dengan sigap menangkap tiga orang pria dan seorang wanita yang menyerukan suara - suara sumbang itu.
"Nyonya muda.... Kami telah menangkap keempat orang ini, apa yang harus kami lakukan?" Tanya seorang pengawal pada Yurina, saat ia dan ketiga rekannya membawa pegawai pendemo itu didekat Yurina yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
Yurina menatap sejenak keempat pegawai pendemo itu, yang tangannya terkunci kebelakang oleh para pengawal khususnya. Wajah mereka terlihat sinis melihat kearah Yurina.
"Lepaskan mereka......" Ucap Yurina datar.
"Tapi mereka yang menyerukan suara - suara sumbang dihalaman tadi nyonya muda." Sanggah seorang pengawal khususnya itu.
"Patuhi saja apa yang aku katakan...." Kata Yurina lalu masuk kedalam lift yang sudah terbuka.
__ADS_1
Pengawal - pengawal itu terpaksa melakukan apa yang telah diperintahkan Yurina.
Para pegawai pendemo yang baru dilepaskan itu tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Lihat, nyonya muda yang kalian layani itu adalah wanita yang lemah. Dia lemah!! Dia sungguh lemah....!!" Teriak mereka sambil tertawa mengejek dan pergi begitu saja.
Suara teriakan keempat pegawai pendemo itu terdengar oleh telinga Yurina karena pintu lift belum tertutup rapat.
Hanya dirinya saja yang tahu apa yang sedang ia rasakan pada saat itu.
Yurina berdiri mematung didalam lift yang naik menuju lantai tujuh. Sementara empat pengawal yang ikut bersamanya didalam lift tak berani bergerak sedikitpun.
Tak lama pintu lift terbuka, asisten Rudi sudah menunggu didepan lift.
"Selamat siang nyonya muda ....." Sapa asisten Rudi membungkuk hormat.
"Selamat siang..... Aku ingin melihat keadaan nyonya besar." Ucap Yurina sambil melangkah keluar dari lift dengan tatapan lurus kedepan.
"Nyonya besar masih diruang tuan Moranno nyonya muda." Sahut asisten Rudi sambil mengikuti langkah cepat Yurina.
"Selamat siang nyonya muda...." Sapa dokter Herman saat melihat Yurina memasuki ruang kerja Moranno.
"Nyonya besar sudah sadarkan diri kembali. Sekarang sedang beristirahat dikamar tuan Moranno nyonya muda."
"Apa yang menyebabkan nyonya besar sampai tidak sadarkan diri dokter?" Tanya Yurina saat dirinya dan dokter Herman duduk disofa tamu bersama asisten Rudi.
Dokter Herman menatap kearah Yurina lalu beralih ke asisten Rudi.
"Asisten Rudi apa yang terjadi pada nyonya besar sebelum saya dipanggil kemari?" Tanya dokter Herman
"Saat nyonya besar tiba dikantor pagi ini, bertepatan saya juga tiba disini. Halaman hingga tempat parkiran sudah penuh dengan para pegawai pendemo itu, wartawan juga melakukan siaran langsung dengan adanya kejadian itu. Teriakan - teriakan seperti yang kita dengar sekarang ini sudah berlangsung sejak dini tadi pagi."
"Nyonya besar hampir saja tidak bisa masuk kekantor ini karena dihalang - halangi para pendemo itu. Saat di lift saya melihat nyonya begitu lemas. Sebelum nyonya terjatuh pingsan saya dan dua pengawal langsung menggotong nyonya besar kemari nyonya muda." Jelas asisten Rudi lengkap.
"Nyonya besar memiliki riwayat penyakit jantung. Jadi apa yang dilakukan para pendeno itu membuat nyonya besar stres hingga menyebabkan tidak sadarkan diri. Dan saya sudah memberikan obat yang biasa dikonsumsi nyonya besar. Sekarang ia ada didalam nyonya muda." Jelas dokter Herman.
"Apakah asisuen Rudi tahu, apa alasan para pegawai itu melakukan aksi ini?" Tanya Yurina menyelidik.
__ADS_1
"Keterlambatan menerima gaji nyonya muda. Selama enam bulan terakhir, selama tuan Miranno sakit akibat kecelakaan lalu lintas itu." Sahut asisten Rudi.
"Kenapa sampai bisa terlambat, dan berapa lama keterlambatannya asisten Rudi."
"Pegawai yang berkerja di Agatsa Properti Grup menerima gaji tanggal lima setiap bulannya. Semenjak tuan sakit, jadi enam bulan terakhir pegawai di Agatsa Properti Grup ini menerima gaji ditanggal delapan. Jadi terlambat tiga hari."
"Sedangkan di anak - anak cabang perusahaan Agatsa Grup, para pegawainya menerima gaji tanggal enam setiap bulannya. Dan selama enam bulan terakhir ini mereka menerima gaji ditanggal sepuluh, jadi ada empat hari keterlambatan."
"Biasanya gaji akan diperiksa dan ditanda - tangani oleh tuan Moranno sebelum ditransfer oleh bagian keuangan. Tapi selama enam bulan terakhir ditangani oleh nyonya besar. Nyonya besar sepertinya kewalahan karena pegawai kita berjumlah ribuan, mulai dari perusahaan induk hingga anak cabang perusahaan nyonya muda." Jelas asisten Rudi.
"Iya, saya mengerti.... Nyonya besar sering terlihat begitu lelah saat pulang kerumah." Kata Yurina sambil menganggukkan kepalanya.
"Baik, terima kasih banyak dokter, juga asisten Rudi.... Saya akan menemui nyonya besar dulu untuk melihat keadaannya." Kata Yurina sambil berdiri.
"Iya nyonya muda...." Asisten Rudi dan dokter Herman ikut berdiri dan memberi hormat pada Yurina.
Yurina melangkah menuju kamar istirahat yang ada disudut ruang kerja Moranno.
Dengan hati - hati Yurina membuka pintu kamar yang tertutup rapat.
Terlihat nyonya Agatsa sedang tertidur. Yurina masuk dengan hati - hati supaya nyonya Agatsa tidak terbangun karena kedatangannya.
Yurina menatap wajah ibu mertuanya yang terlihat sedikit pucat.
Ia duduk dikursi dekat ranjang dimana nyonya Agatsa berbaring.
Wajah nyonya Agatsa nampak begitu letih. Gurat - gurat halus diwajahnya samar - samar terlihat.
Ingin sekali rasanya Yurina menyentuh wajah ibu mertuanya itu, namun ia menahan dirinya.
Ia tidak berani melakukannya, karena ia sangat tahu posisi dirinya dihati ibu mertuanya itu.
Ia tidak berani bermimpi berharap lebih. Diijinkan tetap ada disisi Moranno dan anak - anaknya saja, itu sudah lebih cukup baginya, pikir Yurina didalam hati.. Jadi ia tidak berani mengharapkan kalau ibu mertuanya itu akan menganggapnya selayaknya seorang menantu. Walaupun harapan itu sering terbesit dihatinya. Yurina selalu berusaha menepisnya supaya dirinya tidak merasa kecewa dan tersakiti oleh harapannya sendiri.
Tiba - tiba mata nyonya Agatsa terbuka dan langsung menatap pada mata Yurina.
Yurina terkesiap, ia tidak menduga nyonya Agatsa bisa cepat terbangun.
__ADS_1
"Ma.... Maafkan saya nyonya besar...." Kata Yurina sambil berdiri dan membungkuk hormat pada mertuanya itu.
"Sa.... Saya..... kemari ingin melihat keadaan nyonya besar." Kata Yurina sangat gugup.