JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 87 "Apa maksud nyonya muda?"


__ADS_3

Hari masih gelap, Yurina terbangun dari tidurnya. Perutnya yang kembali sakit membuatnya tidak bisa tertidur hingga pagi. Ia merasakan ada sesuatu yang keluar dari rahimnya.


Bibi Nur masih tertidur. Yurina melihat jam didnding baru menunjukan jam empat pagi.


Dengan hati - hati ia menuju ke toilet. Ia duduk ditoilet. Namun sekian lama ia menunggu tidak kunjung ia buang air besar.


Saat hendak mengganti pakaian yang ia kenakan semalam, termasuk ****** ********, ada lendir bening disana.


Setelah membersihkan dirinya dikamar mandi, Yurina keluar dengan hati - hati. Perutnya yang kembali sakit membuatnya berjalan perlahan - lahan dengan wajah meringis.


"Nyonya muda, apa anda baik - baik saja?" Tanya bibi Nur yang terbangun saat mendengar kamar mandi terbuka.


"Perutku sakit lagi bibi. Tadi saat ketoilet aku tidak bisa buang air besar. Waktu ditempat tidur, aku merasakan ada sesuatu yang keluar, saat kulihat ditoilet, ternyata ada lendir bening dipakaian dalamku."


"Sepertinya itu salah satu tanda akan melahirkan nyonya muda. Bagaimana kalau kita panggil dokter untuk memeriksa kandungan nyonya muda."


"Baiklah bibi."


Setelah membantu Yurina duduk ditepi tempat duduknya, bibi Nur segera menelpon lewat telepon yang ada diatas meja dekat sofa.


Yurina yang merasakan perutnya masih terasa sakit berusaha menahan rasa sakitnya dengan cara berjalan mondar - mandir didalam ruang rawatnya.


Setelah selesai menelpon, bibi Nur mengembalikan gagang telepon ketempatnya.


"Nyonya muda, dokter Rosalie akan segera kemari."


"Baik bibi, terima kasih." Kata Yurina, ia masih berjalan bolak - balik bagai seterika diruangan itu.


"Nyonya muda, apakah anda ingin makan sesuatu?" Tanya bibi Nur menawarkan. Ia merasa kasihan pada nyonya mudanya itu. Ia sangat mengetahui apa yang sedang dirasakan majikannya itu saat ini.


"Aku tak ingin makan bibi."


"Atau nyonya ingin minum?" Tanya bibi Nur lagi.


"Aku juga tidak ingin minum bibi. Aku hanya mau bagaimana rasa sakit ini bisa mereda kembali." Ujar Yurina menahan rasa sakitnya dengan wajah masih meringis.


Tok...

__ADS_1


Tok...


Tok...


"Itu mungkin dokter Rosalie, saya akan buka pintunya dulu nyonya muda."


"Iya bukalah bibi."


Bibi Nur membuka pintu, dan benar dugaannya, dokter Rosalie telah berdiri dimuka pintu.


"Silahkan masuk dokter..." Kata bibi Nur mempersilahkan.


"Terima kasih bibi...." Dokter Rosalie segera masuk. Bibi Nur lalu menutup pintu dengan rapat.


"Selamat pagi nyonya muda." Sapa dokter Rosalie sambil membungkuk hormat.


"Selamat pagi juga dok..." Kata Yurina yang tengah duduk ditepi tempat tidur.


"Apa yang anda rasakan nyonya muda." Tanya dokter Rosalie.


"Perut saya terasa sakit lagi dok. Sakit perut ini sudah lebih sering datang. Tak lama setelah itu, lalu mereda lagi. Begitu yang saya alami sepanjang malam ini. Saya pikir mungkin saya ingin buang air besar. Namun saat ditoilet ternyata tidak dok. Tadi saat ditempat tidur, saya merasakan ada sesuatu yang keluar, saat saya memeriksa pakaian dalam saya ternyata ada lendir bening disana. Apakah ini sudah tanda - tanda saya akan melahirkan dok? Bukankah perkiraan waktunya masih seminggu lagi?" Kata Yurina panjang lebar.


Yurina mengikuti apa yang katakan dokter Rosalie. Dokter Rosalie mulai memeriksa kandungan Yurina. Sesaat kemudian ia tampak menyunggingkan senyumnya.


"Sepertinya... Bayi kembar anda sudah tidak sabar melihat dunia nyonya muda, dan ingin bertemu orang tuanya." Kata dokter Rosalie masih tersenyum memandang wajah pasiennya.


"Memang perkiraan waktu melahirkan masih seminggu lagi. Namun situasi hati nyonya muda akibat musibah kecelakaan tuan Moranno memicu waktu kelahiran menjadi lebih cepat. Jadi nyonya muda harus bersiap - siap menghadapinya. Nyonya harus makan dan minum yang cukup supaya punya cukup tenaga dalam menjalani proses melahirkan nanti."


"Bila tidak ada kendala, hari ini mereka sudah dapat bertemu orang tuanya."


Yurina tersenyum bahagia, rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya sudah mereda kembali.


"Rasanya, saya sudah tidak sabar melihat mereka dok."


"Iya nyonya muda, kehadiran setiap bayi memang selalu dinantikan dengan perasaan tidak sabar. Apalagi bayi kembar nyonya muda dan tuan Moranno, tentu akan membawa kebahagian dalam keluarga."


Yurina, dokter Rosalie, dan bibi Nur, ketiga wanita itu sama - sama tersenyum membayangkan bahwa sebentar lagi bayi kembar dari keluarga Agatsa akan lahir dihari itu.

__ADS_1


"Bibi Nur, nanti perawat akan membawa sarapan lagi buat nyonya muda. Pastikan nyonya muda harus memakannya." Kata dokter Rosalie pada pelayan setia keluarga Agatsa itu.


"Baik dokter, akan saya lakukan."


"Kalau begitu, saya permisi dulu nyonya muda." Kata doktet Rosalie berpamitan.


"Sebentar dokter, ada yang ingin saya sampaikan." Kata Yurina sambil bangkit dari berbaringnya. Sakit perutnya sudah tidak terasa lagi.


"Katakanlah nyonya muda." Kata dokter Rosalie mengurungkan niatnya untuk pamit.


"Aku meminta ijin pada anda dokter. Saat proses melahirkan nanti, aku ingin moment penting itu diabadikan menggunakan kamera itu." Kata Yurina sambil menunjuk kearah kamera yang berada disudut ruang rawatnya.


Dokter Rosalie terperangah mendengar permintaan Yurina isteri sahabatnya itu. Tatapan matanya yang memandang Yurina sebelumnya, beralih kearah benda yang ditunjuk oleh Yurina.


"Apa maksud nyonya muda? Pernintaan nyonya muda tidak sesuai dengan kode etik kedokteran. Tidak diperbolehkan memfhoto ataupun membuat video dalam bentuk apapun dan untuk keperluan apapun saat dilakukan proses melahirkan ataupun proses apapun itu yang dilakukan oleh para dokter, bidan ataupun perawat. Ijin rumah sakit ini bisa terancam dicabut nyonya muda. Permintaan nyonya sangat berbahaya." Jelas dokter Rosalie.


Yurina terdiam sejenak mendengar penjelasan dokter Rosalie. Ia pun tidak mau membahayakan rumah sakit milik keluarga suaminya, keluarga Agatsa ini.


"Dokter Rosalie, maafkan permintaan saya yang sungguh tidak masuk akal ini, juga sangat berbahaya." Paparnya.


"Saat berangkat kerja kemarin pagi, tuan Moranno berjanji menemani saya saat melahirkan nanti. Jujur saja, saya sangat takut menghadapi dan menjalani proses melahirkan nanti. Saat tuan Moranno mengatakan bahwa ia berjanji akan menemani saya, hati saya merasa lega, dan rasa takut saya sedikit mereda. Dan suami saya juga sangat ingin menyaksikan saat bayi kembar kami lahir."


"Tapi musibah kecelakaan kemarin sore yang tidak terduga itu mengubah semuanya. Suami saya tidak akan bisa menemani saya melahirkan seperti yang ia janjikan. Dan juga tidak bisa menyaksikan kelahiran bayi kembar kami seperti yang ia inginkan dokter."


"Saya pikir, inilah yang dapat saya lakukan. Mengabadikannya lewat sebuah kamera video. Supaya saat suami saya sadar nanti dia masih bisa menyaksikannya walau hanya lewat sebuah video."


"Ini hanya untuk saya dan suami saya saja dok. Selain anda dan bibi Nur, tidak ada yang mengetahui rencana saya ini, termasuk asisten Rudy yang saya minta untuk membelikan kamera itu."


Dokter Rosalie menyimak semua alasan yang dituturkan oleh Yurina, ia berusaha memahami apa yang dikatakan isteri dari sahabatnya itu.


"Saya sudah mendengar semua apa yang menyebabkan nyonya muda mau mengabadikan moment penting itu. Namun tetap saja nyonya muda, apa yang anda minta itu sangat berbahaya bagi kelangsungan rumah sakit Agatsa Hospital ini. Walaupun anda adalah bagian dari keluarga pemilik rumah sakit ini."


"Namun, saya akan mencoba menyampaikan permintaan nyonya muda mengenai hal ini pada kepala rumah sakit ini. Tapi saya tidak berjanji, permintaan nyonya ini bisa dikabulkan atau tidak." Ucap dokter Rosalie akhirnya.


"Terima kasih banyak dokter. Saya berharap, semoga permintaan saya ini dapat dikabulkan pihak rumah sakit."


"Kalau begitu, saya permisi dulu nyonya muda. Bila terjadi sesuatu dengan anda maupun kandungan anda, cepat hubungi saya nyonya muda.

__ADS_1


"Iya dok... Terima kasih..."


Dokter Rosalie pamit dan tidak lupa memberi hormat sebelum ia keluar dari ruangan.


__ADS_2