JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 176 "Nanti orang salah faham melihat ini."


__ADS_3

Yurina tidak perduli. Ia masih menggigit dengan kesal.


Setelah dirasanya ada aroma darah, Yurina langsung menghentikan kegiatannya itu.


Ia menatap wajah Moranno yang meringis kesakitan. Juga baju tidur Moranno dibagian bahu bekas gigitan Moranno terlihat bernoda darah.


"Suamiku......maafkan aku...." Yurina nampak khawatir, ia segera melepas baju tidur Moranno. Bekas gigitannya nampak membiru. Yurina merasa ngeri melihat hasil gigigannya sendiri.


"Aku harus segera mènelpon dokter Herman suamiku, aku khawatir bahumu akan infeksi karena gigitan itu." Yurina segera bangkit hendak mengambil ponselnya yang ia letakkan dimeja rias.


"Jangan sayang......" Moranno memegang tangan Yurina kuat lalu mendekapnya dalam pelukannya.


"Tapi luka gigitan itu bisa infeksi kalau tidak segera diobati." Wajah Yurina begitu khawatir, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Moranno.


"Kau tunggu disini saja. aku akan mengambil salep dikotak obat." Moranno melepaskan pelukannya lalu bangkit dari tempat tidurnya menuju kotak obat yang berada didekat lemari rias Yurina.


Moranno segera membersihkan luka gigitan isterinya itu menggunakan cairan anti septik didepan kaca lemari rias Yurina.


"Berikan padaku suamiku.... kau akan sulit mengobatinya sendiri hanya dengan bantuan melihat ke cermin rias itu." Yurina mengambil alih kapas pembersih yang dipegang oleh Moranno.


Yurina kembali menuang cairan anti septik kekapas pembersih. Dengan hati - hati diusapnya luka bekas gigitan dirinya sendiri yang mulai membengkak. Moranno nampak meringis karena perih yang ia rasakan.


"Apa sakit sekali......??" Yurina ikut meringis saat melihat wajah Moranno yang memerah menahan sakit.


"Tidak...... iya sakitlah sayang...... aku heran, kau hobby sekali menggigitku....." Ucap Moranno masih meringis menahan rasa perih pada lukanya.


"Maafkan aku suamiku.... aku tidak bisa menahan diriku. Habisanya, kau bercanda saat aku sedang benar - benar kesal padamu....." Timpal Yurina sambil mengoleskan salep pada luka gigitan yang sudah dibersihkan.


"Bagaimana sekarang??" Tanya Yurina lagi setelah selesai mengolesi semua luka dengan salep.


"Masih terasa sakit sayang, rasanya juga berdenyut, tapi tidak seperih tadi." Ungkap Moranno.


Moranno lalu membaringkan tubuhnya ditempat tidur diikuti Yurina yang menyusul berbaring disampingnya.

__ADS_1


"Suamiku, apakah kau yang meminta mommy yang mengurusku hari ini?" Tanya Yurina menatap wajah Moranno suaminya.


"Tidak...... tapi mommy sendiri yang mau mengurusmu. Memang kenapa? Apakah mommy menyusahkanmu hari ini? Atau berlaku buruk seperti dulu lagi?" Moranno balik bertanya.


"Ah tidak suamiku, bahkan mommy berlaku sangat baik padaku. Sampai aku merasa lelah......" Ucap Yurina mengingat harinya bersama sang ibu mertuanya itu.


"Mommy berlaku baik, dan kau merasa lelah.... aku tidak mengerti sayang." Ucap Moranno lagi, ia mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti.


"Dari rumah sakit , setelah tahu aku hamil, mommy tidak henti - hentinya menyuruhku makan setiap kali aku muntah. Dan itu terjadi terus menerus menjelang sore hari. Padahal aku muntah - muntah itu karena makanan yang masuk keperutku itu. Tetapi mommy tetap memaksaku untuk makan semua yang telah ia sediakan." Keluh Yurina dengan wajahnya yang menekuk.


"Lalu....?" Moranno kembali meminta isterinya itu melanjutkan perkataannya.


"Lalu mommy mengatakan tidak boleh ini, ridak boleh itu, dikamar saja, padahal aku bosan. Aku ingin sekali bertemu dengan Billy dan Willy. Aku merindukan mereka..... tapi tidak boleh, takut aku lelah. Justru perlakuan mommy itu membuatku sangat lelah hingga aku ketiduran dikamar sampai sore hari. Mommy terlalu over protektif. Dulu kan aku pernah mengandung juga suamiku, tapi tidak sampai sebegitunya diatur." Lanjutnya dengan wajah yang semakin ditekuk.


Moranno tersenyum, mendengarkan semua keluhan sang isteri, tapi ia tidak berani untuk memberi komentar yang tidak sesuai keinginan isterinya itu, karena ia belum siap menerima serangan gigitan baru. Gigitan sebelumnya saja masih terasa berdenyut - denyut.


"Sini, biar kupeluk..... untuk menenangkanmu sayang ..... kau pasti merindukanku kan hari ini." Moranno meraih tubuh Yurina yang masih ramping dalam dekapannya.


"Kenapa kau sama sekali tidak menelponku atau berkirim pesan suamiku, aku menunggumu sampai lelah. Apa hari ini kau sesibuk itu sampai - sampai tidak ingat padaku?" Rengut Yurina.


"Tidak terlalu sibuk, tapi memang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Aku menelpon mommy, dan mommy yang selalu memberi kabar tentangmu sepanjang hari ini."


"Sekarang tidurlah sayang, kau butuh istirahat yang cukup." Moranno mengeratkan dekapannya.


"Suamiku..... aku suka bau tubuhmu......" Yurina turut memeluk erat.


"Sungguh.....?? berarti kau tidak akan mabuk lagi mencium aroma tubuhku seperti semalam sayang."


"Hmm......" Yurina hanya mengganggukan kepalanya sambil membenamkan kepalanya pada dada bidang Moranno.


Moranno mencium pucuk rambut isterinya dengan penuh perasaan, dibelainya rambut Yurina yang tergerai halus dan wangi beberapa saat lamanya, hingga tertidur dalam dekapannya.


...•••...

__ADS_1


Margareth terus menguntit dari belakang, ia sangat penasaran dengan penglihatannya.


"Aku pasti tidak salah lihat, itu pasti dia." Gumam Margareth sambil terus menguntit.


"Margareth......?!" Kau disini, apa yang kau lakukan, nanti ada orang yang melihat ini." Randiasa terkejut, karena tiba - tiba Margareth memeluk tubuhnya dari belakang dengan begitu erat diujung belokan koridor dekat taman rumah sakit.


Ia dapat mengenali Margareth dari aroma parfume yang biasa wanita itu gunakan dimasa lalu.


Margareth tidak menjawab, ia masih memeluk tubuh Randiasa begitu erat.


"Margareth..... lepaskan..... tidak baik seperti ini.....nanti orang salah faham melihat ini." Randiasa mengingatkan dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Margareth yang masih erat.


"Biarkan seperti ini dulu..... aku merindukanmu....." Ucap Margareth lirih sambil memejamkan matanya. Ia tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya.


Rasa rindu yang bertumpuk - tumpuk pada pria masa lalunya itu membuat dirinya tidak menggunakan akal sehatnya.


"Ehemm....." Terdengar suara deheman seorang pria. Namun Margareth masih tidak perduli, ia masih memeluk erat. Sementara Randiasa terpaku ditempat ia berdiri karena tidak bisa bergerak akibat ulah Margareth.


"Ehemmmm.......!" Suara deheman semakin keras untuk kedua kalinya. Namun Margareth masih belum mau perduli. Ia seolah - olah memiliki dunianya sendiri saat bersama Randiasa. Masa lalunya kembali melintas dibenaknya.


"Margareth......" Suara pria dibelakangnya memanggil namanya.


Margareth tiba - tiba tersentak, ia seolah - olah disadarkan dari dunia yang lain saat mendengar suara yang amat ia kenal.


Tanpa aba - aba, ia segera melepaskan pelukan eratnya dan membalikkan tubuhnya melihat kearah pria yang telah memanggil namanya.


Tubuh Margareth langsung terpaku saat melihat siapa yang telah memanggilnya. Wajahnya merona merah menahan malu, takut, dan berbagai rasa yang tidak dapat ia ungkapkan karena pria itu adalah Harry.


Randiasa yang telah terlepas dari pelukan Margareth masih berdiri mematung ditempatnya. Ia melihat Margareth begitu gugup dan kikuk saat berhadapan dengan pria dihadapannya itu.


"Margareth...... siapa pria itu, apakah dia temanmu?" Tanya Randiasa yang belum mengenal Harry.


"Sayang, perkenalkan aku padanya?" Ucap Harry mengulas senyum ramahnya.

__ADS_1


Margareth terkesiap, ini kali pertamanya Harry memanggilnya dengan kata sayang. Margareth semakin gugup berdiri diantara kedua pria yang yang sama - sama pernah hadir dalam hidupnya, yang satunya pria masa lalunya, sedangkan yang satunya lagi pria dimasa sekarang yang sedang mengisi hari - harinya, dan mungkin sampai kemasa depannya nanti.


__ADS_2