
Setelah sekian jam berlalu, mobil yang mereka kendarai memasuki kawasan perkotaan, lalu lintas yang terbilang ramai membuat perjalanan mereka agak tersendat - sendat.
Moranno mengemudikan kendaraannya dengan perlahan hingga tiba di gerbang Agatsa Properti Grup. Keadaan didepan gerbang tampak begitu ramai, terlihat ada banyak wartawan dilengkapi kamera sedang menunggu didepan pagar.
Saat para wartawan melihat kendaraan Moranno tiba, mereka langsung mengerumuni mobil Moranno, beberapa wartawan berusaha mengetok pintu mobil. Pria itu hanya tenang dengan wajah datarnya sambil membunyikan klaksonnya.
Petugas security segera membukakan pintu pagar dan segera menutupnya kembali. Para wartawan yang berusaha masuk segera ditahan oleh para petugas security.
Kendaraan Moranno melintas dengan perlahan dan berhenti dengan sempurna diparkiran khusus.
"Mengapa kita kemari?" Tanya Yurina yang agak keheranan saat Moranno membawanya ke kantor Agatsa Properti Grup.
Moranno tidak langsung menjawab, ia membuka sabuk pengamannya, lalu mencondongkan tubuhnya kearah Yurina untuk membukakan sabuk pengaman isterinya itu.
Wanita itu kembali menahan napasnya saat tubuh Moranno condong kearahnya, aroma tubuh pria itu beberapa hari terakhir membuatnya merasakan debaran - debaran aneh di rongga dadanya.
"Apapun yang terjadi, tetaplah disisiku, aku mempercayaimu. Ingatlah..." Kata Pria itu sambil menatap lekat wajah isterinya.
Yurina pun hanya bisa mengangguk, walau tak mengerti maksud perkataan suaminya barusan, tapi tatapan mata pria itu tak membiarkan ia untuk membantah setiap perkataannya.
Selesai berkata, Moranno membuka pintu dan bangkit keluar dari belakang kemudi. Ia berdiri sejenak untuk merapikan jas yang ia kenakan. Kemudian ia mulai melangkah kearah pintu mobil dekat isterinya, membukanya dan mempersilahkan isterinya itu keluar.
Yurina keluar dari pintu mobil dengan perlahan dan agak ragu, ia sedikit merapikan gaun yang ia kenakan, nampak serasi dan senada dengan jas yang dikenakan Moranno.
"Apakah... kau yakin membawaku kemari? Tanya Yurina hati - hati dan agak tegang.
"Aku... Aku takut mempermalukanmu." Katanya lagi yang merasakan pirasat kurang baik.
Wanita itu merasa canggung, khawatir bila dirinya mempermalukan Moranno, karena bagaimanapun juga, ia mengetahui bahwa para pegawai Moranno mengenali dirinya sebagai cleaning service di Agatsa Properri Grup.
"Aku yakin...." Jawab Moranno mantap.
Pria itu lalu menekukkan lengan kirinya disamping pinggangnya, mengisyaratkan pada isterinya untuk menggandeng lengannya.
Yurina agak ragu melakukannya, sehingga tangan Moranno segera meraih tangan isterinya itu untuk menggandeng lengannya.
"Ayoo... ikutlah denganku." Kata Moranno setengah berbisik pada isterinya itu yang telah berdiri disisi kirinya sambil menggandeng lengannya.
Keduanya lalu memasuki lift pribadi sang CEO menuju lantai tujuh. Saat terbuka, asisten Rudi sudah bersiap didepan lift.
"Selamat datang tuan dan nyonya..." Sapa sang asisten sambil memberi hormat.
"Terima kasih..." Kata Moranno sambil berlalu dengan sunggingan tipis dibibirnya.
Asisten Rudi terkesiap, sang majikan yang biasanya hanya menganggukan kepalanya sedikit saat mendengar sapaan pegawainya, kini membalas sapaannya disertai senyuman tipis walau nyaris tak terlihat.
Asisten Rudi sempat termangu sejenak di tempatnya berdiri, lalu segera menyadarinya, dan terburu - buru mengikuti tuannya itu dari belakang.
__ADS_1
Diujung koridor lantai tujuh, telah bersiap dua pelayan yang bertugas membuka pintu yang ada dihadapan mereka.
Moranno dan Yurina tiba didepan pintu, bersama asisten Rudi dibelakang mereka. Para pelayan memberi hormat dengan membungkukan tubuh mereka, lalu pintu dibukakan.
"Selamat datang tuan dan nyonya." Sapa seluruh pegawai yang hadir dengan serempak seraya memberikan penghormatan mereka, saat Yurina dan Moranno memasuki ruangan.
Moranno dan Yurina melangkah diatas karpet permadani menuju podium, disisi kiri dan kanan berbaris seluruh para pegawai Agatsa Properti Grup dengan memberi hormat.
Yurina melihat ibu Sari dan teman - teman cleaning service nya juga hadir disana. Yurina tiba - tiba merasa sangat gugup, ia tak menyangka Moranno akan melakukan hal ini untuknya, memperkenalkannya pada semua pegawainya.
Moranno begitu terlihat tenang dan berkharisma didepan para pegawainya, berbanding terbalik dengan Yurina yang berjalan hampir terseok - seok mengikuti langkah sang suami.
Beruntungnya, lengan Moranno yang mengandeng tangannya membuat kecanggungannya itu tidak terlalu kentara terlihat.
Saat tiba di atas podium, Moranno masih menggandeng tangan Yurina isterinya, Yurina perlahan ingin melepaskan tangannya dari lengan Moranno, namun di tahan oleh suaminya itu dengan isyarat tatapan matanya.
Sejenak suasana dalam ruangan pesta penyambutan menjadi sangat hening, Moranno sedang menyapu seisi ruangan dengan tatapan matanya.
Detik kemudian ia mulai memperkenalkan isterinya itu sebagai nyonya Yurina Moranno Agatsa, lalu disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh pegawai yang hadir.
Yurina yang masih merasa sangat gugup hanya bisa mengatupkan tangannya didepan dada sambil membungkukan sedikit tubuhnya tanda penghormatan atas apa yang di sampaikan suaminya sebagai CEO di perusahaan itu.
Lengan Moranno lalu menggandeng kembali tangan Yurina, keduanya lalu kembali menuruni podium untuk keluar ruangan.
Sepeninggal Yurina dan Moranno, para pegawai lalu menikmati menu hidangan makan siang yang telah disediakan dalam acara tersebut.
***
Yurina yang mendengar jadwal yang dibacakan oleh asisten Rudi menatap Moranno yang berada disampingnya sambil menelan salivanya dengan susah payah. Wajahnya terlihat sangat gugup.
Moranno yang mengerti apa yang ada dalam pikiran Yurina isterinya, mengelus tangan isterinya itu yang sedang ia gandeng, memberi sedikit anggukan kepala disertai senyuman untuk memberi dukungannya.
"Ayoo..."Kata Moranno sambil menggandeng tangan isterinya itu masuk ke dalam lift pribadinya menuju lantai enam dibawahnya, diikuti oleh asisten Rudi.
Yurina hanya bisa mengikuti langkah suaminya itu dengan perasaan campur aduk. Bagaimana tidak, ini kali pertama ia harus bertemu dengan para orang penting di perusahaan itu, yang dahulunya sangat sulit bisa ditemui saat ia masih menjadi pegawai cleaning service.
Keringat dingin mulai bercucuran ditubuhnya, kegugupannya makin bertambah saat mereka telah sampai di lantai enam yang dituju. Tak terasa pegangan tangan Yurina menjadi semakin erat di lengan Moranno suaminya itu.
Moranno menatap wajah isterinya itu sejenak saat merasakan pegangan tangan isterinya yang berubah semakin erat pada lengannya, tangannya juga terasa lebih dingin dan berkeringat. Dengan lembut Moranno kembali mengusap tangan isterinya itu sambil memberikan senyuman.
"Bersikaplah tenang... Aku ada disismu."Kata Moranno meyakinkan isterinya itu.
Mendengar kalimat sang suami, Yurina menganggukan kepalanya, ia mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan - lahan. Itu dilakukannya sampai tiga kali, membuat Moranno sedikit tersenyum lalu cepat -cepat menahan senyumnya khawatir menyinggung isterinya yang sedang gugup tingkat tinggi. Namun hal itu terlihat oleh Yurina yang langsung sedikit memelototkan matanya ke arah suaminya itu.
Asisten Rudi yang berdiri dibelakang mereka hanya mendengar namun tak berani bersuara.
"Bagaimana, apakah kau sudah siap?" Tanya Moranno kembali menatap isterinya itu.
__ADS_1
"Emmm" Yurina mengangguk saat di rasa cukup mengumpulkan semua keberaniannya.
Pintu segera dibuka oleh Moranno hingga terbuka lebar. Semua pasang mata spontan tertuju ke arah pintu yang terbuka lebar.
Yurina semakin erat memegang lengan suaminya itu, sorot mata seisi ruangan yang duduk di meja panjang itu tengah mèmperhatikan setiap gerak langkah mereka yang sedang memasuki ruangan itu.
Moranno menggandeng tangan Yurina isterinya menuju kursi yang berada di ujung kepala meja.
Ia mempersilahkan isterinya itu untuk duduk terlebih dahulu, selanjutnya ia duduk diantara isterinya dan ibunya, nyonya Agatsa.
Suasana terasa hening sejenak. Semua mata masih terarah pada kedua pasangan yang baru saja tiba.
Detik selanjutnya Moranno bangkit dari kursinya, sejenak ia berdiri menatap semua yang hadir satu demi satu.
"Selamat siang...." Moranno membuka pertemuan.
"Yang saya hormati tuan - tuan dan nyonya pemegang saham..."
"Yang saya hormati tuan - tuan dan nyonya dewan direksi..."
"Terima kasih, telah berkenan hadir diruangan pertemuan ini."
"Saya memperkenalkan isteri saya Yurina Moranno Agatsa."
"Maafkan saya tuan Moranno."
interupsi seorang dewan direksi sambil menatap lantang pada Moranno.
"Silahkan tuan Misael." Kata Moranno memberikan kesempatan pada seorang dewan direksi untuk berbicara.
"Saya melihat di media - media cetak maupun televisi, kabar miring mengenai pernikahan tuan Moranno dan nona Yurina, maafkan saya, bukan maksud saya mencampuri ranah pribadi tuan." jelas tuan Misael.
"Benar tuan, saya pun melihatnya selama satu minggu terakhir ini setelah pernikahan tuan, bahkan telah menjadi berita utama." Tuan Marwan seorang dewan direksi turut menambahkan.
"Sepertinya keberadaan nona Yurina disisi tuan sangat berbahaya bagi kelangsungan perusahaan Agatsa Grup, kami para pemegang saham tidak mau mengambil resiko." Ujar seorang pemegang saham.
"Kami minta keberadaan nona Yurina sebagai isteri dari tuan Moranno jangan ditampakkan dimuka umum. Karena akan sangat berpengaruh besar bagi keberlangsungan perusahaan dimana kita bernaung." Timpal seorang dewan direksi lagi.
"Baik, saya rasa itu cukup..." Moranno menginterupsi para pemegang saham dan dewan direksi yang saling berlomba menyampaikan isi hati mereka.
:Pertama... Bukan nona Yurina, tapi nyonya Yurina Moranno Agatsa."
"Kedua... nyonya Yurina Moranno Agatsa akan tetap ada dimuka umum dan wajib menghadiri setiap rapat dewan direksi dan pemegang saham karena nyonya Yurina memiliki enam puluh persen saham dari yang saya miliki di seluruh induk dan anak perusahaan Agatsa Grup.
"Tuan Ronald Haran, direktur keuangan Agatsa Grup tolong perlihatkan dan bagikan nilai dari hasil laporan pemegang saham kepada seluruh pemegang saham dan dewan direksi.
"Ketiga... Bila tuan - tuan dan nyonya keberatan dan takut menanggung resiko kerugian dengan keberadaan nyonya Yurina Moranno Agatsa, saya memberi kesempatan untuk menarik saham tuan - tuan dan nyonya yang ada di induk dan anak perusahaan Agatsa Grup." Tegas Moranno.
__ADS_1
Ruangan pertemuan itu menjadi hening, tak seorangpun yang hadir berani menyanggah apa yang disampaikan Moranno.
***