JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 76 "Semuanya itu kulakukan bukan untukmu."


__ADS_3

Nyonya Agatsa melepas kaca mata bacanya dan meletakkannya diatas buku yang baru ia baca.


"Duduklah bibi Nur." Nyonya Agatsa mempersilahkan pada pelayannya itu.


"Disini nyonya besar?" Tanya bibi Nur hati-hati.


" Iya, duduklah saja. Kau tidak akan terkena masalah karena aku yang mengijinkanmu." Ucap nyonya Agatsa datar.


"Terima kasih nyonya besar." Bibi Nur mengambil tempat duduk disebelah Yurina dengan posisi berhadapan dengan nyonya Agatsa. Ia masih sedikit menundukkan wajahnya seperti biasa yang dilakukan oleh para pelayan saat berhadapan atau berbicara dengan majikannya di keluarga Agatsa.


Bibi Nur terlihat kikuk, karena ia tidak terbiasa satu tempat duduk dengan para majikannya itu.


"Bibi.... Apa kau sungguh-sungguh ingin berhenti bekerja dari rumah ini?" Tanya nyonya Agatsa memastikan.


"Sebenarnya begini nyonya besar. Putra saya yang baru dipindah tugaskan itu mengajak saya untuk ikut bersamanya. Isterinya baru saja mengandung anak ketiga mereka. Ia juga ada membeli sebidang tanah didusun tempat ia ditugaskan untuk kami bertani dan berkebun." Ucap bibi Nur sesuai apa yang dikatakan putranya.


"Jadi saya berpikir, saya membicarakan ini dulu pada putra saya sebelum saya menyetuji ajakan putra saya itu. Selama ini, saya banyak berhutang budi pada nyonya besar. Dimasa-masa sulit saya seorang diri membesarkan putra semata wayang saya yang hanya mengandalkan gaji pensiunan mendiang suami saya, nyonya besarlah yang telah bermurah hati menampung saya dirumah besar ini. Saya tidak akan pernah lupa akan kebaikan hati nyonya besar dan juga mendiang tuan Agatsa." Ucap bibi Nur mengingat masa lalunya.


Nyonya Agatsa terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bibi Nur, kau benar. Kau sudah lama ikut bersamaku, bekerja untuk keluarga Agatsa. Aku sudah sangat mengenalmu dengan baik, kau sudah kuanggap bagian dari keluarga Agatsa. Kaulah yang telah merawat Moranno dan saudari kembarnya sejak mereka balita. Aku pun sangat berhutang budi padamu, keberadaanmu dirumah ini sungguh sangat membantuku bibi Nur." Nyonya Agatsa menjedah ucapannya sejenak sambil mengambil napas.


"Walau beberapa bulan lalu aku sempat menurunkan jabatanmu dari kepala pelayan menjadi pelayan biasa, bukan berarti rasa percayaku padamu berkurang bi. Aku hanya ingin kedisiplinan dalam bekerja dan mematuhi peraturan dalam rumah ini tetap terjaga. Kau mengerti maksudku bibi Nur?" Ucapnya masih dengan wajah datarnya yang berwibawa.

__ADS_1


"Iya nyonya besar, saya mengerti." Sahut bibi Nur masih menunduk hormat dan mendengarkan penuturan nyonya Agatsa dengan setia.


"Jadi, anggaplah aku memohon padamu bibi Nur, untuk menunda rencanamu berhenti berkerja untuk beberapa waktu kedepan yang belum bisa aku tentukan. Karena beberapa minggu lagi Yurina, isteri Moranno ini akan melahirkan bayi kembarnya." Ucap nyonya Agatsa sambil menatap sekilas pada Yurina yang duduk disebelah bibi Nur.


"Benarkah? Nyonya muda akan melahirkan bayi kembar seperti nyonya besar dulu?" Kata bibi Nur hampir tak percaya. Ia memandang sejenak kearah nyonya Agatsa yang duduk dihadapannya, lalu beralih menatap kearah Yurina meminta jawaban.


Yurina hanya mengganggukkan kepalanya mengiyakan sembari tersenyum dan memandang bibi Nur yang duduk bersebelahan dengannya.


Bibi Nur membalas senyuman Yurina, terlihat wajahnya begitu bahagia mengetahui bahwa nyonya mudanya itu akan melahirkan bayi kembar.


"Iya bibi Nur, itu benar. Bagaimana bi, apa bibi bersedia untuk bertahan dulu beberapa waktu lagi, karena untuk merawat bayi kembar tentu tidak mudah bi. Apalagi setelah melahirkan, Yurina akan melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Jadi kehadiran bibi sangat kami butuhkan. Aku berharap bibi bisa memikirkannya lagi." Ucap nyonya Agatsa penuh harap.


"Iya nyonya besar, saya mengerti. Nanti saya coba membicarakannya lagi dengan putra saya mengenai hal ini." Kata bibi Nur pada nyonya Agatsa yang berbicara padanya.


"Baik nyonya besar, nanti saya sampaikan pada putra saya. Untuk beberapa hari kedepan ia akan datang kembali kekota untuk mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal dirumah dinasnya yang lama." Sahut bibi Nur sedikit menjelaskan.


"Aku berharap besar padamu bibi Nur. Aku tidak akan mencari pengasuh yang baru bagi para cucuku. Aku hanya bisa mempercayaimu saja. Jadi aku mau kau mempertimbangkan permintaanku ini bibi." Ucap nyonya Agatsa penuh harap.


"Iya nyonya besar. Saya akan mempertimbangkannya." Ucap bibi Nur dengan sikap hormatnya.


Yurina hanya berdiam ditempat duduknya dan menjadi pendengar yang baik diantara nyonya Agatsa dan bibi Nur. Tidak disangkanya, sang mertuanya itu telah memikirkan tentang pengasuhan bayi kembarnya sebelum ia sendiri sebagai ibunya sempat memikirkannya. Diam-diam Yurina merasa ada kebaikan hati dalam diri mertuanya itu tanpa mertuanya itu mau menunjukkannya secara terang-terangan pada orang lain.


Ternyata hubungan antara nyonya Agatsa dan bibi Nur selama ini bukan sekedar hubungan majikan dengan pelayan seperti yang dilihat, Yurina dapat melihat ibu mertuanya itu sangat menghargai mantan kepala pelayannya itu, ditambah lagi ia telah mendengar sekelumit kisah yang dipaparkan keduanya dalam pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya besar dan nyonya muda untuk kembali berkerja." Pamit bibi Nur.


"Baiklah, kau sudah boleh pergi bibi Nur." Sahut nyonya Agatsa.


Setelah kepergian bibi Nur, nyonya Agatsa kembali meraih kacamata bacanya dan mengenakannya kembali, lalu mulai membaca bukunya yang sempat tertunda.


"Terima kasih nyonya besar atas perhatian nyonya pada bayi kembar yang sedang ada dalam kandung saya dan sudah memikirkan juga tentang pengasuhannya." Kata Yurina tulus untuk berterima kasih atas apa yang telah ia dengar.


Nyonya Agatsa menghentikan sejenak kegiatan membacanya yang baru saja ia mulai. Tatapan datar nyonya Agatsa pada Yurina yang duduk berseberangan dengannya dan agak kesisi kiri membuat Yurina sedikit kikuk.


"Semua itu kulakukan bukan untukmu. Tapi untuk para cucuku yang sedang kau kandung itu. Aku tidak mau mereka diasuh orang yang salah, bibi Nur adalah orang yang tepat menjadi pengasuh mereka."


"Dan kau, bisa melanjutkan pendidikanmu yang sempat tertunda itu. Aku tak mau kehadiran cucu-cucuku menjadi alasan bagimu untuk tidak menyelesaikan pendidikanmu itu." Ucapnya lalu kembali melanjutkan membaca bukunya.


"Iya nyonya besar." Yurina yang mendengar ucapan mertuanya tidak mampu berbicara lagi. Setiap kata dan kalimat yang keluar dari mertuanya selalu terdengar pedas ditelinganya.


Yurina lalu melanjutkan kembali kegiatannya membaca buku. Namun konsentrasinya agak sulit kembali, ia berharap bisa segera meninggalkan tempat itu. Bersama mertuanya seolah membuatnya tidak dapat bergerak dengan leluasa.


Yurina merasa sangat canggung, walau ia berusaha keras bersikap tenang.


Berbeda dengan nyonya Agatsa, ia terlihat sangat menikmati bacaannya. Tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran menantunya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2