JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 118 "Sepertinya enak..."


__ADS_3

"Sungguh??" Tanya Mkranno penuh semangat.


"Hmmm...." Sahut Yurina sambil menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Sekarang aku akan membereskan barang - barangmu suamiku." Ucap Yurina lalu bergegas.


***


Siang itu, dengan diantar ambulance, Moranno pulang kerumahnya setelah sekian lamanya dirawat dirumah sakit.


Moranno hanya bisa berbaring diranjang pasiennya, karena tubunya yang masih lemah.


Beberapa perawat ikut membantu membawa Moranno kekamarnya dan memindahkannya keranjang tidurnya lalu mengganti infus yang masih diperlukan Moranno.


Setelah semuanya selesai, para perawat itu pamit untuk kembali kerumah sakit.


Tok....


Tok....


Tok....


Moranno memandang kearah Yurina saat mendengar suara ketukan pintu.


"Itu pasti bibi Nur, tadi aku memintanya kemari." Kata Yurina pada Moranno.


Yurina melangkah menuju pintu dan segera membukanya.


"Masuklah bibi." Kata Yurina mempersilahkan.


"Terima kasih nyonya." Bibi Nur lalu masuk sambil mendorong dua kereta bayi dibantu Yurina.


Mata Moranno tak berkedip memandang kearah dua kereta yang didorong menuju kearahnya.


Dan suara bayi - bayi yang berceloteh itu, walau tidak jelas kata - kata apa yang keluar dari mulut mereka membuat hati Moranno berdebar - debar.


"Sayang..... bisakah kau membantuku untuk duduk?" Pinta Moranno saat Yurina sudah berada didekatnya.


Yurina lalu membantu Moranno duduk dan menumpukkan beberapa bantal dibelakang tubuh Moranno sebagai ganjalan penyangga punggungnya.


Dua bayi yang berceloteh itu sambil memainkan bola kecil ditangan mereka masing - masing menatap wajah Moranno yang nampak asing dimata mereka.


"Sayang tolong bawa bayi Billy padaku lebih dulu." Pinta Moranno pada Yurina.


Yurina lalu mengangkat bayi Billy yang sudah lebih berat itu dan meletakkannya dipangkuan Moranno.


Bayi Billy melempar bola kecil yang ia mainkan sejak tadi kesembarang tempat.


Matanya yang begitu bening terus memandang wajah Moranno. Disentuhnya bibir Moranno dengan jari - jarinya lalu lanjut memegang hidung mancung ayahnya.


Moranno hanya bisa menahan senyumnya, perasaan bahagia begitu terpancar lewat matanya yang memandang kagum pada putranya itu. Bayi gembul itu nampak begitu lucu dan menggemaskan.


Tangan nakal bayi Billy mulai menusuk kedalam lubang hidung sang daddynya.


"Aduhhhh...... " Ucap Moranno berpura - pura merasa sakit membuat bayi Billy melepaskan tusukan jarinya karena kaget dan menatap wajah Moranno dengan teliti.


Selanjutnya, bayi Billy menusukkan kembali jarinya ke dalam hidung Moranno.


"Aduhhh....." Ucap Moranno lagi sambil tertawa kecil. Kali ini bayi Billy ikut tertawa. Ia lalu melakukan kegiatannya itu berulang - ulang sambil tertawa - tawa girang melihat reaksi ayahnya.


Sementara bayi Willy yang semenjak tadi memperhatikan apa yang dilakukan kakak kembarnya bersama Moranno tiba - tiba menangis mengejutkan mereka semua.


"Mungkin bayi Willy cemburu nyonya muda.... tuan hanya bermain dengan kakaknya saja." Ucap bibi Nur menduga sambil tersenyum kecil.


"Kakak Billy..... gantian sama adik Willy ya?" Kata Yurina sambil meraih tubuh gembul Billy dan meyerahkannya pada bibi Nur.


Yurina lalu segera meraih bayi Willy dan membawanya kepangkuan Moranno.


Bayi Willy lalu terdiam. Tangannya masih memainkan bola kecil ditangannya..Matanya yàng masih digenangi air mata membuat Moranno gemes melihatnya.


"Sayang..... Kenapa menangis tadi?" Tanya Moranno pada bayi Willy yang menatapnya terus dengan lekat.


Moranno lalu mencium wajah bayi Willy berulang - ulang dengan rasa gemes, membuat bayi gembul itu tertawa - tawa kegelian.

__ADS_1


Bayi Billy yang melihat adiknya tertawa - tawa bersama ayahnya tiba - tiba menangis kencang.


Mereka semua terkejut termasuk Moranno dan bayi Willy yang asik bermain.


"Sepertinya bayi Billy belum puas bermain dengan tuan nyonya...." Ucap bibi Nur tersenyum sambil melihat bayi Billy yang menangis dalam gendongannya.


"Iya, sepertinya bibi benar. Berikan dia padaku bibi...." Kata Yurina sambil mengembangkan kedua tangannya mengambil putranya itu.


"Sayang.... main sama mommy saja ya?" Kata Yurina membujuk sambil menimang - nimang sang buah hati.


Bayi Billy masih menangis kencang, matanya masih memandang kearah Moranno dan bayi Willy yang asik bermain.


Yurina lalu mengambil posisi duduk ditepi tempat tidur, ia lalu berusaha menyusui bayi Billy yang masih menangis.


Awalnya bayi Billy menolak, akhirnya bayi itu mulai menyesap pucuk dada ibunya dengan beringas seperti sedang melampiaskan rasa marahnya.


Yurina sempat merasa sedikit kesakitan akibat perbuatan bayinya itu, namun lama - kelamaan bayi Billy mulai menyusui dengan tenang.


Yurina tersenyum sendiri melihat kelakuan sibuah hatinya itu. Diusap - usapnya bayinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Bayi Billy yang kekenyangan menyusui akhirnya terdidur dengan mulut ternganga. Yurina lalu membawa dan meletakan bayinya itu dengan hati - hati kedalam kereta dengan posisi berbaring.


"Bibi Nur tolong bawa bayi Billy kekamarnya, nanti setelah bayi Willy aku susui aku akan mengantarkannya juga kekamar bayi." Kata Yurina pada bibi Nur.


"Baik nyonya muda." Bibi Nur lalu membawa bayi Billy yang sudah tertidur pulas dalam keretanya kembali kekamarnya.


"Suamiku, berikan bayi Willy padaku. Kau nampaknya sudah lelah." Kata Yurina yang memperhatikan suaminya dan bayinya yang tak berhenti bermain sejak tadi.


"Tapi aku masih belum puas sayang...." Kata Moranno masih mencium bayi gembulnya sambil ikut tertawa bersama bayinya itu.


"Iya, masih ada waktu. Kau tidak boleh terlalu lelah supaya kondisimu cepat pulih suamiku." Ucap Yurina mengingatkan.


"Ok... Baiklah.... Kita istirahat dulu ya.... Adik Willy minum ASI dulu ya sama mommy....." Kata Moranno pada bayinya itu.


Yurina lalu meraih bayi Willy, lalu segera menyusuinya.


Bayi Willy yang nampak lelah dan kehausan segera menyesap pucuk dada Yurina dengan kencang.


"Sayang, pelan - pelan saja." Ucap Yurina sambil menepuk - nepuk bayinya itu.


Wajah Yurina memerah mendengar ucapan Moranno yang sengaja menggodanya.


"Kata dokter, ASI hanya untuk makanan bayi, bukan makanan daddynya." Ucap Yurina menimpali. Moranno hanya tertawa mendengar sahutan Yurina.


Tak lama berselang, bayi Willy pun akhirnya tertidur karena kekenyangan setelah menyusui.


Moranno yang terus memperhatikan bayinya itu saat menyusui merasa semakin gemes saat melihat bayinya melepaskan pucuk dada ibunya karena sudah tidak sadarkan diri. Wajahnya yang terlelap membuat bayi gembul itu semakin menggemaskan dimata Moranno.


"Suamiku, aku akan mengantarkan bayi Willy kekamarnya. Kau tunggu disini ya, aku segera kembali." Kata Yurina sambil berdiri.


"Aku ingin mencium bayi Willy dulu sayang." Pinta Moranno.


"Baiklah, hati - hati.... jangan sampai ia terbangun suamiku." Kata Yurina sambil mendekatkan bayi Willy kedekat wajah Moranno.


Moranno mencium bayinya itu dengan lembut. Aroma minyak telon khas bayi begitu nyaman terasa dindera penciuman Moranno.


"Kau wangi sekali sayang, putra daddy...." Ucap Moranno melepas ciumannya pada bayi Wiily yang sedang tertidur pulas.


Yurina lalu membawa bayi Willy keluar kamar menuju kamar bayi yang berada disebelah kamar mereka.


Tak lama kemudian Yurina kembali membawa nampan ditangannya.


"Suamiku, aku membawa sup untukmu." Kata Yurina sambil mendekati Moranno. Moranno yang melihatnya langsung melenguh.


"Aku malas makan sayang, ini sudah kelima kalinya kau memberi aku makan. Aku bosan makan terus." Keluhnya.


Yurina hanya tersenyum mendengar ucapan Moranno. Ia tetap mengambil mangkuk dari nampan lalu mendekatkan pada Moranno.


"Suami tampanku, ini semua untuk melatih lambungmu menerima makanan. Karena makanmu hanya sedikit, jadi aku harus sesering mungkin memberimu makan." Kata Yurina membujuk.


Moranno menggelengkan kepalanya sambil mengatupkan mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ayolah suamiku, kau seperti itu membuatku gemes saja, kau seperti bayi raksasa yang kurus...."Kata Yurina menggoda.

__ADS_1


"Apakah aku terlihat jelek sekarang?" Kata Moranno dengan wajah dibuat cemberut.


"Iyaaa..... kau sangat jelekkkk..... sudah kurang tampan dimataku......" Ujar Yurina semakin menggoda.


"Kalau begitu.... kenapa dekat - dekat denganku?" Ujarnya merajuk dan membuang muka.


"Terpaksa..... Kalau bukan aku yang mengurusmu, siapa lagi....." Ucap Yurina yang berusaha menahan senyumnya.


"Ada bibi Nani dan yang lainnya....." Sahut Moranno sambil masih membuang wajahnya.


"Ohhhh..... Kau lebih suka mereka yang merawatmu dari pada diriku, hmmmm?" Ucap Yurina sambil mendekatkan wajahnya kewajah Moranno dengan raut masih menggoda. Sementara mangkuk ditangannya ia letakkan kembali diatas nakas.


Moranno yang merasakan hembusan napas Yurina menatap wajah isterinya itu heran. Namun ia berusaha tidak perduli.


"Bagiku.... Mau bagaimanapun keadaanmu, kau adalah suami tampanku, aku mencintaimu, jantung hatiku, belahan jiwaku...." Ucap Yurina menatap lekat wajah suaminya yang juga menatap padanya.


"Dari mana kau belajar kata - kata seperti itu?" Tanya Moranno acuh.


"Dari sini...." Kata Yurina sambil menarik kedua tangan Moranno dan meletakkan didadanya.


Moranno hanya menurut saja saat Yurina meletakan tangannya didada isterinya itu.


"Semua kata sayangku keluar dari sini, dari dalam hatiku yang semakin mencintaimu suamiku?" Kata Yurina dengan sepenuh hati dengan wajah yang serius, dan begitu terbawa perasaan.


Pikiran usil Moranno tiba - tiba muncul begitu saja.


"Benarkah?? Ayo dibuka, aku ingin melihatnya? Apakah kata - kata itu benar - benar ada tertulis disitu." Kata Moranno dengan wajah serius pula.


Yurina yang begitu terbawa perasaan tiba - tiba tersadar saat mendengar ucapan usil Moranno.


"Pikiranmu ya.... aku tahu maksud ucapan nakalmu itu." Ucap Yurina menyentil hidung mancung milik Moranno.


Moranno hanya bisa tertawa, keusilannya kali ini tidak berhasil.


"Ayo, sekarang buka mulutmu. Supnya sudah mulai dingin." Ucap Yurina memerintah.


Moranno terpaksa membuka mulutnya dan mulai mengunyahnya, lalu menelannya dengan susah payah.


Yurina tersenyum melihat suaminya itu mau menelan makanannya.


Tak lama berselang, terlihat perut kempes Moranno nampak bergejolak.


Beberapa detik kemudian, Moranno memuntahkan makanan yang baru saja masuk kelambungnya.


"Kau tidak apa - apa suamiku?" Tanya Yurina saat melihat Moranno mengeluarkan keringat dingin setelah beberapa kali memuntahkan makanananya.


"Sudah aku bilang sayang, aku malas makan. Karena aku pasti memuntahkannya kembali." Ucap Moranno bersandar ditumpukkan bantal dibelakangnya.


Yurina lalu meletakkan mangkuk ditangannya diatas nakas.


Ia lalu membersihkan muntahan Moranno yang berhamburan disprei dan pakaian suaminya itu.


Moranno memperhatikan Yurina yang mengganti sprei dan pakaiannya dengan telaten.


"Sayang, maafkan aku.... Aku sudah sangat merepotkanmu....." Kata Moranno merasa tak nyaman.


"Tidak suamiku, ini tugasku.... Lagi pula aku tidak pernah rela orang lain yang merawatmu dan mengganti pakaianmu seperti ini." Ucap Yurina sambil mengenakan pakakan bersih yang baru pada Moranno.


"Nah sekarang, kau makan lagi suamiku." Kata Yurina mendekatkan mangkuk sup yang belum habis.


"Sayang, nanti aku memuntahkannya lagi." Tolak Moranno memberi alasan.


"Tidak apa suamiku, perutmu harus terisi, tadi kau sudah memuntahkan semuanya." Yurina tetap berusaha membujuk.


"Baiklah..... semua demi dirimu sayang." Ucap Moranno yang terlihat terpaksa membuka mulutnya.


Moranno lalu mengunyah kembali makanan yang masuk kemulutnya lalu menelannya dengan susah payah.


Setelah beberapa suapan, ia mengisyaratkan dengan tangannya untuk berhenti.


Yurina lalu memberikan gelas jusnya. Moranno hanya bisa meneguk beberapa tegukan saja lalu memberikan kembali gelas jusnya yang masih berisi lebih dari setengah gelas.


"Cukup sayang.... aku sudah tidak sanggup lagi." Ucap Moranno sambil bersandar pada bantal dipunggungnya.

__ADS_1


"Yahh... lumayan... yang penting, perutmu sudah terisi makanan suamiku." Ucap Yurina dengan wajah senang.


__ADS_2