
Dor....
Dor....
Dor...
Yurina menghentakan ujung kakinya pada lemari kayu yang ada di dekatnya.
Dua orang penjaga masuk mendapatkan Yurina.
"Apa yang kau lakukan wanita hamil!" Kata salah seorang dari keduanya.
"Tolong berikan saya sedikit air minum, saya haus sekali, saya mohon tuan." Ucap Yurina memohon dengan suara lemahnya karena sudah tidak makan dan minum semenjak ia diculik kemarin siang.
"Kami hanya patuh pada perintah majikan kami. Ayo kita keluar. " Kata pria itu tak perduli pada permohonan Yurina, iya mengajak temannya keluar dari tempat itu.
"Kau keluarlah, aku akan berjaga disini saja, supaya bila ada sesuatu kita segera mengetahuinya."
"Baiklah, aku keluar. Bila ada yang mencurigakan segera beritahu kami diluar." Kata pria itu dan segera menuju pintu keluar.
Setelah temannya keluar, pria itu mendekati Yurina yang terlihat lemah.
Yurina menatap pria yang mendekatinya, ia bersiap dan waspada pada pria yang sudah berdiri dihadpannya.
Pria itu lalu berjongkok dihadapan Yurina yg tengah duduk dilantai dengan tangan yang masih terikat.
"Apa yang tuan lakukan?" Tanya Yurina takut saat tubuh pria itu merapat pada tubuhnya. Pria itu tidak menjawab, ia hanya sibuk melakukan apa yang sedang dilakukannya.
Tak lama berselang, Yurina merasa ikatan tangannya terlepas.
Pria itu lalu memberikan sebotol air mineral dari sakunya dan menyodorkannya pada Yurina.
"Ambillah, ini untuk nyonya." Kata pria itu, saat Yurina terlihat ragu menerimanya.
"Terima kasih." Yurina segera mengambil botol air mineral berukuran tanggung itu dan segera membuka segelnya dan segera meneguk isinya hingga tandas.
Perut Yurina bergerak-gerak saat air mineral itu masuk keperutnya, mungkin para bayi ikut menikmati apa yang diminum ibu mereka.
"Mengapa tuan membuka ikatan tangan saya dan memberi saya minum? Apa tuan tidak takut pada majikan tuan." Tanya Yurina sembari menatap pria yang masih berjongkok dihadapannya itu.
"Saya ini hanya seorang bayaran nyonya, saya terpaksa melakukan ini karena membutuhkan biaya untuk isteri saya yang sedang melakukan perawatan setelah usai operasi persalinan. Saat melihat wanita hamil seperti nyonya saya teringat pada isteri saya. Isteri saya itu tidak bisa terlambat makan, bila terlambat makan dia pasti akan muntah-muntah, ya begitulah wanita yang sedang hamil. Apalagi semenjak kemarin, saya tahu nyonya tidak makan dan minum sama sekali, tentu saja itu sangat berbahaya bagi wanita hamil seperti anda." Pria itu menghentikan sejenak kata-katanya, lalu mengambil napas dalam-dalam.
"Saya memang tidak mengenal anda nyonya, dan anda juga tidak mengenal saya. Tapi bila anda nanti selamat, saya mohon ingatlah akan kebaikan saya yang sangat kecil ini pada anda nyonya. Memang saya tidak layak mengharapkan balas budi dari anda nyonya, tapi bila terjadi sesuatu pada saya, saya harap nyonya bisa menolong isteri saya dan bayi perempuan saya yang baru lahir. Isteri saya bernama Selia, dan bayi perempuan saya bernama Putri. Mereka sekarang berada dirumah sakit pemerintah yang ada dikota ini."
"Bagaimana anda bisa mengatakan semuanya itu pada saya tuan, sedangkan saya masih ada ditempat ini.?"
"Saya akan membantu nyonya keluar dari tempat ini." Pria itu lalu berdiri dan membantu Yurina untuk berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Yurina agak sempoyongan, karena semenjak ia disekap ditempat itu, ia selalu dalam keadaan posisi duduk dan diikat. Perut Yurina juga terus bergerak-gerak.
Yurina dan pria asing itu menuju pintu samping, ia membawa Yurina keluar perlahan-lahan. Keduanya mengendap-endap. Yurina yang sedang hamil besar dan tubuhnya yang terasa lemah karena tidak ada makanan yang masuk kelambungnya, membuat ia hampir tidak sanggup berjalan.
Yurina dengan sekuat tenaga mengikuti langkah pria asing yang berjalan didepannya. Keduanya sudah mulai menjauh dari bangunan kosong itu.
"Berhenti !! Kalian tidak boleh melarikan diri !" Teriak seseorang dari belakang mereka.
Beberapa penjaga yang berjaga didepan pintu masuk pada bagian depan segera berlari menuju pintu samping saat mendengar suara rekannya yang berteriak.
Mereka segera berlari mengejar Yurina dan pria asing yang sedang mrlarikan diri.
"Maafkan saya nyonya, saya terpaksa harus.membantu memapah anda.".Pria asing itu lalu memapah tubuh Yurina berjalan.
Beberapa rumput liar berdaun tajam menggores kaki maupun tangan Yurina. Rasa pedih pada kulitnya tak Yurina rasakan, saat ini ia berusaha untuk melarikan dirinya agar selamat dari para penjaga yang berusaha mengejarnya dan pria asing yang membantunya itu.
Para penjaga bertubuh kekar itu akhirnya dapat menyusul Yurina dan sang pria asing.
"Kau.... Dasar penghianat!!" Seru para penjaga pada rekan mereka yang telah berusaha membantu Yurina melarikan diri. Bogem mentah para penjaga mendarat berkali-kali diwajah pria itu hingga wajahnya babak belur dan berdarah-darah.
Salah seorang dari pria kekar berkulit gelap tersebut mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Nona, wanita hamil itu hampir saja melarikan diri dengan dibantu seseorang diantara kami, tapi kami sudah meringkusnya kembali." Kata pria itu saat teleponnya sudah tersambung.
"Apa, Yurina melarikan diri. Bagus! Cepat bawa dia kembali ke tempatnya semula, aku akan segera kesana.".
***
"Anda dimana tuan Harry?" Kata Moranno sesaat setelah ia menerima panggilan masuk.
"Tuan Moranno apakah anda sudah tiba dilokasi yang telah saya share?"
"Iya..."
"Tinggalkan mobil anda disana, berjalanlah kearah barat dari proyek pembangunan rumah sakit kita, nanti tuan akan melihat satu bangunan tua kosong tak terawat, disitu nyonya muda disekap. segeralah tuan, saya menunggu tuan. Jangan melakukan gerakkan mencurigakan para penculik itu.
"Baik, saya mengerti." Kata Moranno lalu mnutup sambungan telepon.
"Asisten Rudi, kau dan pak Kasan tunggu disini saja, sambil menunggu pihak kepolisian dan orang-orang kita. Saya akan duluan menuju lokasi disebelah barat tempat ini, ada bangunan tua yang sudah tidak digunakan. Apa kau sudah mengerti apa yang harus kau lakukan asisten Rudi? Ingat kau sudah mendapatkan SP2 dari ku?"
"Iya tuan saya mengerti." Asisten Rudi membungkuk dengan hormat.
Moranno lalu berlari dengan cepat menuju lokasi yang telah disebutkan Harry. Tubuhnya yang atletis dan biasa berolahraga dengan cepat mencapai lokasi yang dituju.
Disemak-semak yang rimbun, tampak Harry bersembunyi sambil terus memperhatikan kearah bangunan tua yang terlihat kotor karena tidak dirawatl.
"Tuan Harry." Bisik Moranno setelah ia berada disisi Harry.
__ADS_1
"Kita tunggu sebentar tuan, sambil mempelajari tindakan apa yang bisa mereka lakukan." Kata tuan Harry juga ikut berbisik sambil terus mengawasi bangunan dan sekitarnya.
"Tuan Harry, mobil sedan berwarna gelap itu?? Bukankah itu milik...." Bisik Moranno saat matanya melihat mobil sedan mewah terparkir agak tersembunyi disamping bangunan tak jauh dimana mereka bersembunyi.
"Iya, itu milik Gandis."
"Apa nona Gandis ada hubungannya dengan penculikan isteriku??"
"Entahlah.... Saya tak sengaja mendengar ia berbicara ditelpon saat pulang tadi. Gandis terlihat panik saat ia menyebutkan nama nyonya muda, jadi saya mengikutinya hingga kemari. Saya belum bisa bertindak sendirian, takut membahayakan keselamatan nyonya muda."Jelas Harry.
"Bagaimana bila sekarang kita kesana tuan Harry?"
"Baik..."
Keduanya lalu berjalan mengendap-endap. Keadaan tàmpak sepi. Samar-samar terdengar suara rintihan seorang wanita. Tenggorokan Moranno tercekat, ia sangat mengenali suara wanita itu.
Tuan Harry menahan Moranno yang ingin segera menghambur kearah datangnya suara.
"Itu suara isteriku tuan Harry..."
"Iya, saya mengerti tuan Moranno anda khawatir pada nyonya muda. Lihat ada banyak penjaga jangan gegabah, Itu bisa membahayakan keselamatan nyonya muda didalam. Saya akan mengalihkan perhatian mereka, nanti tuan Moranno bisa menyusup kesana."
"Baik, saya setuju itu."
Harry lalu keluar dari semak-semak, ia berjalan santai menuju banguanan kosong.
Para penjaga yang berbadan kekar melihat Harry dari kejauhan segera bersiap. Tiga orang dari para penjaga itu mendatangi Harry sebelum ia sampai kepada mereka.
"Anda mau kemana tuan?" Kata salah seorang dari ketiga pria berbadan kekar tesebuat.
"Saya hendak bertemu dengan nona Gandis."
"Disini tidak ada yang bernama nona Gandis tuan, apa anda tidak melihat situasi tempat ini. Jadi tidak mungkin ada seorang wanita ditempat seperti ini." Bantah pria itu kasar.
"Bukankah mobil sedan berwarna gelap yang terparkir disana itu adalah milik nona Gandis."
"Itu mobil saya tuan, bisa sajakan sama."
"Apa mungkin nomor platnya juga sama?"
"Terserah anda tuan. Yang jelas, ditempat ini tidak ada wanita, apalagi yang bernama Gandis."
"Baiklah, itu artinya kalian memintaku untuk membuktikannya sendiri bukan?"
Harry lalu melangkah maju menerobos ketiga pria kekar yang menghadang jalan didepannya, bertujuan menuju bangunan tua yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga.
Namun ketiga pria kekar berkulit gelap tersebut tak membiarkannya. Maka terjadilah perkelahian diantara Harry dan ketiga pria kekar tersebut.
__ADS_1
***