JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 47 "Aku suka bau tubuhmu yang belum mandi"


__ADS_3

Moranno memarkirkan mobilnya digarasi. Seperti biasa, bila ia pulang larut malam, sopir pribadinya ia minta pulang lebih awal, supaya tak pulang larut malam seperti dirinya.


Moranno sempat tertegun melihat mobil milik Gandis masih terparkir di halaman rumah besar keluarganya. Moranno melangkah memasuki rumah besar itu disambut bibi Nani.


"Dimana bibi Nur bi? Biasanya dia yang membukakan pintu." Tanya Moranno saat dilihatnya bibi Nani yang melakukan tugas yang biasanya dilakukan bibi Nur.


"Sedang beristirahat tuan." Jawab bibi Nut singkat.


"Apakah bibi Nur sakit?" Kata Moranno sambil berlalu masuk.


"Tidak tuan." Kata bibi Nani.


Moranno memandang kearah bibi Nani sejenak.


"Tidak biasanya bibi Nur seperti itu. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Moranno pada bibi Nani, namun sang bibi tidak berkata apapun, hanya berdiri ditempatnya saja sambil sedikit menundukkan kepalanya, sikap yang biasa dilakukan oleh para pelayan memberi hormat pada majikannya.


"Mulai malam ini, mommy telah menggantikan posisi bibi Nur sebagai kepala pelayan menjadi pelayan biasa. Semua tugas kepala pelayan telah mommy alihkan pada bibi Nani." Kata nyonya Agatsa dari sofa tamu tempat ia duduk bersama Gandis.


Moranno menoleh kearah ibunya, lalu mendekati ibunya yang sedang duduk bersama Gandis.


"Apa yang terjadi mom?"


"Ulah isteri pilihanmu itu. Ia berusaha mengubah semua aturan dirumah ini. Dan bibi Nur mendukungnya. Sejak masuknya perempuan itu dalam kehidupan keluarga kita, ia membawa pengaruh sangat buruk, para pelayan mulai tidak patuh pada aturan dirumah ini. Bahkan kau pun sering tak sejalan dengan pikiran mommy."


Moranno mengambil napas dalam-dalam sebelum ia berbicara, lalu megeluarkannya perlahan-lahan.


"Mommy lakukanlah saja apa yang mommy pandang baik, tapi jangan tidur selarut ini. Ini sudah jam sebelas malam mom, bukankah mommy masih belum sehat benar. Ayo, sekarang aku antar mommy beristirahat dikamar." Moranno lalu membantu ibunya untuk berdiri.


"Lalu bagaimana dengan Gandis?" Kata nyonya Agatsa pada Moranno.


"Suruh pulang saja, dia kan membawa mobil sendiri." Kata Moranno acuh.


"Tapi ini sudah larut malam Moranno, tidak mungkin anak gadis pulang sendiri." Kata nyonya Agatsa memberi alasan.


"Maksud mommy dia harus diantar? Bukankah sopir-sopir kita tidak bekerja hingga malam.Itu sudah resiko. Seharusnya, bila sudah tahu pulang larut malam itu berbahaya, mengapa tidak pulang selagi masih ramai." Kata Moranno sedikit kesal.


"Jadi kau tidak bisa mengantarku?" Kata Gandis ikut berbicara.

__ADS_1


"Maafkan aku Gandis, aku baru saja pulang. Dan aku sangat lelah." Kata Moranno menatap sekilas kearah Gandis lalu beralih pada ibunya.


"Semuanya terserah mommy, dia adalah tamu mommy, mommy saja yang memberi keputusan. Aku permisi istirahat dulu mom, pekerjaanku dikantor sangat banyak hingga membuatku sangat lelah hari ini. Bibi Nani tolong antar mommy kekamarnya nanti." Kata Moranno sambil berlalu meninggalkan ruang tamu. Nyonya Agatsa dan Gandis hanya bisa berpandangan saja.


Saat Moranno masuk kekamarnya, ia tak melihat Yurina disana, kamar mandi pun kosong. Hatinya sedikit khawatir, ponsel Yurina tergeletak begitu saja diatas nakas disamping tempat tidur.


Moranno teringat sesuatu, ia bergegas keluar kamar dan menuju dapur. Benar saja Yurina ada disana menyiapkan makanan diatas meja.


"Kau sudah datang, ayo duduklah disini." Kata Yurina sambil menggeser kursi untuk Moranno.


Moranno lalu duduk dikursi yang telah disiapkan Yurina untuknya. Tangan Yurina tiba-tiba melingkar dilehernya dari belakang.


"Aku merindukan bau tubuhmu." Kata Yurina ditelinga Moranno. Moranno sedikit merinding merasakan hembusan napas Yurina yang menyapu lehernya.


"Sayang, aku bau lho, belum mandi." Kata Moranno sambil menempelkan kepala belakangnya diwajah Yurina yang masih memeluknya dari belakang.


"Aku suka bau tubuhmu yang belum mandi. Dan lebih suka lagi saat tak mencium bau wangi wanita ditubuh suamiku." Kata Yurina setengah berbisik. Moranno mengerutkan keningnya merasa heran, detik kemudian ia menyadari tingkah isterinya itu pasti bawaan bayi dalam kandungannya.


"Jadi kau benar cemburu akan obrolan kita tadi siang. hmmm." Kata Moranno sambil tersenyum hangat.


"Tentu saja, jadi aku harus memeriksanya untuk memastikannya." Ujar Yurina masih mencium leher bagian belakang Moranno.


Yurina lalu melepaskan pelukannya, lalu menggigit pelan telinga suaminya itu dengan gemas.


"Kau sekarang menjadi wanita hamil yang ganas ya... Sebenarnya tadi aku hanya ingin minum teh hangat saja, tapi saat aku nelihatmu, aku memutuskan harus makan banyak untuk menambah energiku." Goda Moranno, ia ikut merasa gemas melihat tingkah isterinya itu. Yurina tak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyumnya diujung bibirnya.


Keduanya lalu menyantap makan malam mereka yang sudah terbilang larut malam itu.


Setelah selesai beres-beres meja makan, keduanya lalu kembali kekamar.


Moranno segera masuk kekamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Tak lama Moranno keluar dari kamar mandi menggunakan handuk sebatas pinggang hingga lututnya. Butir - butir air jatuh ketubuhnya yang atletis dari rambutnya yang masih basah. Ia terlihat sexy dimata Yurina.


Moranno termasuk pria yang rajin berolah raga disela-sela kesibukannya bekerja dikantor. Selain untuk kesehatan Moranno termasuk tipe pria yang sangat perduli pada penampilannya.


Yurina pura-pura merasa tenang walau detak jantungnya tiba-tiba terasa bergemuruh saat Moranno menghampirinya diatas tempat tidur.


"Kenapa kau belum mengenakan baju tidurmu?" Tanya Yurina berusaha tetap tenang.

__ADS_1


"Begini saja, supaya mudah melepasnya."Ujar Moranno sambil mengerlingkan matanya. Ia merapatkan tubuhnya ketubuh Yurina.


"Suamiku, aku ingin mengatakan sesuatu." Kata Yurina pada suaminya itu.


"Apa itu, katakan saja." Kata Moranno.


"Bolehkah besok aku berkunjung kepanti dimana aku pernah tinggal dahulu. Aku akan pergi bersama Lisa."


"Baiklah, kau boleh pergi. Biar nanti pak Karto yang mengantarkanmu kesana."


"Terima kasih suamiku." Kata Yurina sambil tersenyum kearah Moranno yang berbaring disampingnya. Moranno hanya mengangguk sambil mencium pucuk rambut Yurina.


"Satu hal lagi..." Kata Yurina agak ragu melihat kearah wajah Moranno, senyumnya perlahan menghilang.


"Katakan saja, aku akan menjadi pendengar yang baik." Ujar Moranno yang menyadari perubahan wajah isterinya itu.


"Hari ini aku sudah membuat kesalahan dirumah ini, hingga membuat bibi Nur menjadi korban ulahku itu." Yurina berhenti sejenak, mengatur pernapasannya, ia khawatir akan apa yang ia sampaikan mungkin tak berkenan pada Moranno suaminya. Moranno pun hanya menunggu Yurina melanjutkan ceritanya.


"Saat makan malam, mommy tidak turun makan malam, mommy makan malam dikamarnya ditemani nona Gandis. Dan kau juga masih belum pulang karena kesibukanmu. Karena seorang diri, rasanya sepi, jadi aku meminta bibi Nur untuk makan bersama sekalian menemaniku. Bibi Nur sudah menolak, karena aturan yang ada dirumah ini. Tapi aku membujuknya dengan alasan bayi yang ada dalam kandunganku. Jadi bibi Nur menerima permintaanku. Saat kami sedang makan mommy datang bersama nona Gandis."


"Mommy tidak melarang bibi Makan, tapi ia tidak suka bibi tidak mematuhi peraturan yang ada. Jadi karena ulahku bibi Nur sekarang menjadi pelayan biasa, dan bibi Nani menggantikannya menjadi kepala pelyan. Aku sungguh-sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud untuk tidak mematuhi aturan didalam rumah ini, tolong maafkanlah aku." Kata Yurina bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Dirumah ini memang ada aturan yang dibuat, salah satunya adalah antara kita dan pelayan tidak makan bersama pada satu meja pada waktu yang sama. Terkadang saat kita sedang makan, bisa saja ada pembicaraan yang tidak perlu didengar oleh para pelayan, karena tidak semua dari mereka bisa memegang rahasia. Jadi itu bukan karena keluarga Agatsa membedakan antara majikan dan pekayan." Tutur Moranno menjelaskan.


"Namun apa yang kau lakukan juga dapat dimaklumi. Nanti aku akan usahakan tidak pulang malam lagi, bila ada pekerjaan yang belum selesai, aku akan menyelesaikannya dirumah supaya kau tidak kesepian,." Ujar Moranno sambil mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih suamiku, kau baik sekali." Kata Yurina membalas pelukan Moranno.


"Apa hanya terima kasih saja." Kata Moranno melihat wajah Yurina.


"Lalu aku harus bagaimana." Tanya Yurina turut memandang wajah Moranno.


"Apa kau tidak merasakan sesuatu yang menegang dibawah sana akibat tubuhmu yang bergerak-gerak itu, hmmm?"


Yurina terdiam sejenak mencoba memahami apa yang dikatakan Moranno. Beberapa detik kemudian wajah Yurina merona saat Moranno dengan sengaja menggesek-gesekan sesuatu benda yang mengeras ke perutnya yang membuncit.


"Bagaimana kalau kita melanjutkan apa yang kita lakukan dimeja makan tadi, hmmm?"

__ADS_1


Wajah Yurina semakin merona, ia hanya bisa pasrah saat Moranno memulai aksinya. Sentuhan-sentuhan Moranno serasa candu baginya. Tanpa ia sadari, ia pun mulai membalas Moranno dengan liar. Sampai akhirnya keduanya sama-sama terhempas kelelahan.


__ADS_2