JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 18 "Buatlah aku bahagia dengan membayar hukumanmu"


__ADS_3

Pagi itu bibi Nur sudah menyiapkan sarapan pagi kesukaan Moranno yang diperintahkan nyonya Agatsa.


Moranno mengambil piring dan memasukan menu sarapan pagi dan memberikannya pada Yurina isterinya yang duduk dihadapannya.


Mata nyonya Agatsa terbelalak melihat pemandangan itu.


"Moranno, apa yang kau lakukan! Kalau dia isterimu, bukankah seharusnya dia yang melayanimu dimeja makan, bukannya dirimu!" Sentak nyonya Agatsa.


"Ma... Maafkan saya...." Kata Yurina ketakutan.


"Mommy, aku suka melakukannya, tidak masalah." Kata Moranno dengan wajah tenangnya.


"Ayoo dimakan sarapanmu...." Kata Moranno pada isterinya itu.


Yurina lalu memakan sarapannya dalam diam.


Moranno pun mulai memasukan suapan pertamanya kemulut. Saat sarapan itu masuk, lambungnya seakan menolaknya. Namun Moranno tetap berusaha menahannya sambil tetap menghabiskan sarapan yang ada dalam piringnya. Namun akhirnya ia berlari ke arah toilet.


"Huueekk... huueekk.. huueekk.." Moranno memuntahkan semuah sarapannya.


Yurina segera berlari kecil menghampiri suaminya yang berada di toilet.


"Kau kenapa, apa masuk angin? Tanya Yurina khawatir pada suaminya itu, sambil memijit punggung suaminya.


"Hei gadis cleaning service, panggilkan dokter untuk suamimu, jangan kau tangani sendiri, apalagi kau tak mengerti apa yang suamimu alami!"


"I.. Iya mom..." Yurina terlihat sangat gugup.


"Enak saja, aku bukan mommy mu, aku belum mengakuimu sebagai menantuku!" Sergah nyonya Agatsa.


"Ma... Maafkan atas kelancangan saya nyonya." Kata Yurina hampir menangis.


Yurina berlari ke dapur mendapatkan bibi Nur.


"Bibi Nur, bisakah tolong teleponkan dokter kemari, tuan Moranno sedang sakit." Katanya pada bibi Nur.


"Baik nyonya." Kata sang bibi sambil memberi hormat pada isteri majikannya itu.


Yurina segera lari ke toilet lagi sambil membawa segelas air hangat pada suaminya yang sedari tadi masih memuntahkan isi perutnya.


"Minumlah ini dahulu." Yurina membantu Moranno untuk minum.


Setelah dirasa lega, Yurina membawa suaminya itu ke kamar untuk berbaring sambil menunggu kedatangan dokter.


Dokter Herman pun tiba dan segera menuju kamar Moranno yang diikuti oleh nyonya Agatsa. Sang dokter pun memeriksa keadaan Moranno.


"Bagaimana Dok? Apa yang dialami putraku?" Tanya nyonya Agatsa.

__ADS_1


"Nyonya... tidak terjadi masalah pada kesehatan tuan Moranno, seperti yang pernah saya katakan beberapa waktu lalu, bahwa tuan Moranno mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Ini memang jarang terjadi. Tapi ada beberapa suami yang bisa mengalaminya.


"Nah, kau denga sendiri kan Moranno, wanita ini dimasa kehamilannya pun membawamu turut merasakan tanda - tanda wanita hamil. Itu menyusahkanmu Moranno!" Kata nyonya Agatsa yang semakin tak suka pada menantunya itu.


Dokter Herman ternganga melihat sikap nyonya Agatsa yang tak seperti biasanya.


"Nyonya... Ini sebenarnya tidak berbahaya. Yang penting tuan Moranno bisa mengelola rasa stress yang dialaminya, santai dan bahagia, nanti dengan sendirinya bisa hilang, ini biasa terjadi di trisemester awal, ya seperti wanita - wanita hamil pada umumnya."


"Iya Dok, tapi seharusnya isterinya yang merasakan dan mengalami semua gejala kehamilan itu bukan suaminya." Timpal nyonya Agatsa sengit.


Dokter Herman akhirnya terdiam, ia sudah mengerti situasi yang terjadi.


Sementara Yurina terdiam kikuk disudut tempat tidur, tidak tahu apa yang harus ia lakukan menghadapi ibu mertuanya yang sangat terlihat tidak menyukai dirinya.


"Mom... sudahlah aku baik - baik saja. Dengarkan kata dokter." Kata Moranno untuk menyudahi ibunya yang menyalahkan isterinya.


"Kau itu Moranno, selalu membela isterimu. Aku ini mommymu." Katanya seraya bergegas meninggalkan kamar anak dan menantunya itu.


"Dokter... Apakah ada obat yang harus diminum oleh tuan Moranno?" Tanya Yurina pada sang dokter.


"Tidak ada, seperti saya katakan tadi, tuan Moranno harus bisa mengelola rasa stressnya, buat dia santai, dan bahagia." Jelas Dokter Herman.


"Baiklah... terima kasih banyak Dok... " Ucap Yurina lagi.


"Sama - sama nyonya."


Yurina lalu menutup pintu kamar dengan rapat, lalu kembali ke tempat tidur menemui suaminya.


Moranno meraih tubuh Yurina dengan cepat, saat wanita itu baru saja duduk ditepi tempat tidur. Ia lalu menguncinya di bawah tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan." Kata Yurina berusaha melepaskan diri dari suaminya itu.


"Kau harus membayar hukumanmu lagi, karena telah menyebutkan ku 'tuan' didepan dokter Herman."


"Tapi aku kan berbicara pada dokter Herman, bukan padamu." Kilah Yurina.


"Sama saja, seharusnya kau katakan, dokter apakah ada obat yang harus diminum oleh suamiku." Kata Moranno lagi.


Yurina yang berada dibawah kungkungan Moranno hanya terdiam memandang suaminya itu.


Moranno semakin merendahkan wajahnya ke wajah Yurina, sehingga keduanya saling bisa merasakan hembusan napasnya masing - masing.


"Apa kau dengar kata dokter tadi, penyakitku bisa sembuh dengan sendirinya kalau aku bahagia, santai, dan tidak stress." Katanya sambil tersenyum licik.


"Terus... Apa hubungannya dengan hukuman?" Tanya Yurina tak mengerti.


"Buatlah aku bahagia dengan membayar hukumanmu padaku."

__ADS_1


"Bagaimana carànya?" Tanya Yurina masih tak mengerti.


"Berikan aku kecupan disini, tapi kau harus janji tak menggigitku lagi kali ini." Ujar Moranno yang kembali mengingat dua kali ia telah digigit isterinya itu.


"Apakah benar, kalau aku menciummu, dan itu membuatmu bahagia, dan kau akan sembuh?" Tanyanya polos.


"Iya... Iya, benar... Besok - besok aku tak muntah - muntah lagi." Kata pria itu sekenanya saja.


"Baiklah kalau begitu." Kata Yurina menyetujui.


Moranno langsung tersenyum.


"Tapi posisinya tidak begini." Kata Yurina yang menatap wajah pria yang ada diatasnya.


"Lalu..." Moranno balik bertanya.


"Kalau posisi seperti ini berarti kau yang menciumku, padahal yang dihukumkan diriku."


"Baiklah..." Moranno menyetujui ucapan Yurina yang masuk logikanya.


Moranno pun melepaskan tubuh Yurina yang dikuncinya dibawahnya. Keduanya lalu bertukar posisi.


Moranno merasakan bobot tubuh isterinya menekan tubuhnya yang berada dibawah isterinya. Yurina mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Moranno. Debaran jantung Moranno mulai berdetak tak beraturan. Begitupun dengan Yurina.


Yurina memandang wajah suaminya yang memang berwajah tampan. Sebenarnya ia malu melakukan hal itu pada suaminya.


"Cup." Yurina mengecup bibir suaminya, dan segera melepaskannya.


" Apa kau bahagia..." Tanya Yurina sambil menatap wajah suaminya.


""Aku malah menjadi stress, kau terlalu sebentar." Gerutunya kesal.


"Baiklah, aku ulangi." Kata Yurina mengalah.


"Cup.. Cup... Cup..."


Yurina mencium bibir suaminya satu kali, dua kali, dan ketiga kalinya, sangat lama dan tak ia lepaskan, hingga ia terbawa perasaannya. Entah belajar dari mana, ia mulai menyesap bibir suaminya, terasà manis, hingga membuatnya terhanyut. Ciumannya begitu lembut, hingga ia sendiri terbuai.


Moranno yang merasakan kelembutan bibir isterinya balas menyesap bibir isterinya itu, ia menahan tengkuknya sehingga ciumannya semakin dalam. Lidahnya mulai bergerilya di dalam rongga mulut isterinya, ******* dan mengobrak - abrik apa yang dilaluinya.


Yurina yang terbuai membalas *******, dan sedikit menggigit lidah suaminya, sehingga membuat darah muda keduanya menggelora.


Keduanya begitu lama bergumul di tempat tidur, hingga berguling - guling kian kemari.


Moranno segera tersadar, bila kelewatan bisa diomeli oleh sahabatnya dokter Rosalie.


Iya lalu menyudahinya, dan masuk ke kamar mandi dan menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan disana.

__ADS_1


Yurina yang ikut tersadar saat Moranno melepaskan pelukannya, langsung masuk ke dalam selimut menyembunyikan dirinya.


__ADS_2