
Suasana nampak sepi. Moranno mendorong gagang pintu kamar bayi kembarnya perlahan sambil memanggil - manggil bibi Nur. Namun tidak ada sahutan.
Saat pintu berhasil terbuka, lantai terlihat berantakan disana - sini. Mainan bayi berhamburan dimana - mana. Botol dot ASI tergeletak begitu saja disudut ruangan.
Moranno masuk dan menutup pinru dibelakangnya.
Matanya memandang Yurina dan bayi - bayinya sedang tertidur diatas kasur busa dilantai.
Keadaan kamar bayi yang terlihat kacau tidak mengganggu mereka sedikitpun, malahan ketiganya tertidur begitu pulas.
Dengan hati - hati Moranno mendekati mereka menggunakan kursi rodanya.
Dipandangnya wajah bayi Billy yang tertidur dengan mulut terbuka. Botol ďotnya terjatuh disamping wajahnya.
Moranno turun dari kursi rodanya dengan hati - hati. Kakinya yang lemah terasa sudah lebih kuat.
"Sayang..... tutup mulutmu ya, nanti ada yang masuk kesana tanpa permisi." Ucap Moranno sambil mengatupkan mulut bayi Billy yang terbuka menggunakan tangannya.
Diambilnya botol dot yang sudah kosong dari sisi wajah bayinya itu lalu diletakan dilantai.
Moranno tersenyum saat melihat bayi Billy membalikkan tubuhnya dengan posisi berbaring miring.
Tubuh gembul itu nampak membulat dan menggemaskan.
Diambilnya guling - guling kecil dan diletakan disisi kiri dan kanan bayi Billy. Diciumnya pipi gembul itu, hatinya begitu menghangat. Dihirupnya wangi minyak telon yang keluar dari tubuh bayinya itu.
Mata Moranno beralih pada bayi Willy dengan mulutnya masih mengulum pucuk dada ibunya. Sementara tangannya yang satu sedang memegang pucuk dada ibunya yang lain.
"Hmmm.... tanganmu nakal sekali nak.... bagaimana bisa kau melakukan itu pada mommy mu sayang....." Ucap Moranno pada bayi Willy. Ia melepaskan tangan bayi Wiily dari pucuk dada ibunya.
Jari - jari itu nampak gendut semua dan basah karena tumpahan ASI ibunya.
Moranno mengeringkannya menggunakan kain sprei busa kasur yang mereka tiduri.
Sealnjutnya, dengan sangat hati - hati Moranno berusaha melepaskan mulut bayi Willy dari pucuk dada ibunya.
Setelah berhasil dilepaskan, mulut mungil itu bergerak - gerak lemah, seolah - seolah sedang menyesap pucuk dada ibunya. Moranno berusaha menahan senyumnya melihat ulah bayi Willy itu.
Bibir mungil berwarna merah pink itu terlihat basah, bahkan sekitar bibir hingga kepipinya masih terlihat noda - noda ASI disana sini.
Moranno kembali menarik sedikit sprei dan mengusap wajah bayinya itu hingga mengering.
__ADS_1
Diciumnya wajah bayi Willy dengan gemas. Aroma khas ASI sangat terasa diwajahnya.
Moranno menutup dada Yurina yang terbuka menggunakan selimut.
Ia lalu ikut berbaring disebelah Yurina hingga ikut terlelap siang itu.
***
Yurina terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Saat akan bangkit tangannya tak sengaja tersentuh pada tubuh Moranno yang masih tertidur disebelahnya.
Dengan hati - hati ia bangkit menuju pintu yang masih diketuk dari luar.
"Maafkan saya nyonya muda, saya tadi ketiduran di paviliun." Ucap bibi Nur saat Yurina membuka pintu kamar bayi kembarnya.
"Tidak mengapa bibi..... Bayi Billy dan bayi Willy juga masih tertidur bersama daddy nya didalam. Nanti saya akan memanggil bibi bila mereka sudah terbangun." Ucap Yurina sambil berdiri didepan pintu.
"Baiklah nyonya muda.... Kalau begitu saya permisi dulu." Bibi Nur lalu pamit dengan tidak lupa membungkuk hormat.
Yurina menutup pintu kamar bayi dengan rapat, lalu kembali menuju kasur busa dimana Moranno masih tertidur dengan kedua bayi kembar mereka.
Diperhatikannya wajah kedua putranya dan juga suaminya sejenak, hatinya menghangat melihat wajah mereka yang nampak tenang.
Rasa bahagia dihatinya begitu terasa memenuhi jiwanya, memiliki suami yang sayang padanya dan dua buah hati yang begitu lucu dan sehat.
Kursi roda suaminya ia dorong dan diletakkan kedekat dinding.
Setelah semua terlihat bersih dan rapi, Yurina kembali menghampiri suami dan para bayinya yang masih tertidur.
Diangkatnya bayi Billy keranjang bayinya dengan hati - hati supaya tidak terbangun. Setelahnya, ia mengangkat bayi Willy keranjang bayinya juga dengan sangat hati - hati.
Tubuh kedua bayi itu sudah lebih berat dari hari - hari sebelumnya.
Dipandangnya wajah kedua bayi kembar itu lagi secara bergantian. Hatinya sangat bersyukur memiliki kedua buah hati yang tumbuh dengan sehat.
Dirapikannya selimut keduanya lalu beranjak mendekati Moranno yang masih tertidur dikasur busa.
Yurina memandang wajah suaminya itu. Pipinya kini sudah lebih berisi, tangan dan juga kakinya sudah tidak sekurus saat ia baru bangun dari komanya.
Yurina menyingkapkan kaos yang dikenakan Moranno. Rusuk - rusuk Moranno sudah tidak terlihat menonjol lagi, sudah mulai ditutupi daging disana - sini.
Hati Yurina kembali bersyukur, karena hari demi hari ia melihat perkembangan kesehatan suaminya menuju kearah yang lebih baik. Walaupun musibah kecelakaan itu sangat parah, namun suaminya itu tidak mengalami cedera sedikitpun pada tubuhnya.
__ADS_1
Yurina membaringkan tubuhnya disamping Moranno, menunggu suaminya itu terbangun.
Yurina terkejut saat tangan Moranno tiba - tiba meraih tubuhnya dan membawanya kedalam pelukannya.
"Kau sudah terbangun?" Tanya Yurina memandang wajah Moranno yang berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
"Sejak kau memindahkan bayi - bayi kita keranjang mereka." Sahut Moranno dengan mata masih terpejam.
"Kenapa tidak langsung bangun? Apa masih mengantuk?" Tanya Yurina lagi sambil menatap wajah Moranno yang matanya masih terpejam.
"Kau memindahkan bayi - bayi kita dengan menggendong mereka keranjangnya masing - masing. Setidaknya aku juga mendapat pelukanmu sayang."
"Oh.... Jadi kau cemburu..... ingin diperlakukan sama seperti bayi - bayi kita?"
" Iya, begitulah...... Aku menunggumu memelukku, tapi tidak kunjung dipeluk juga, ya aku mengambil inisiatif sendiri." Sahut Moranno membuka matanya menatap wajah Yurina yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Baiklah, bayi besarku.... Suami tampanku yang sudah mulai gemukan.... Aku akan memberikan pelukan hangatku supaya kau tidak cemburu lagi pada bayi - bayi kita." Yurina semakin merapatkan tubuhnya pada Moranno dan memeluk tubih Moranno dengan erat.
Moranno tidak membuang kesempatan baiknya. Ia lalu membawa isterinya itu berguling - guling dikasur busa hingga posisinya berpindah diatas tubuh Yurina.
"Suamiku, bagaimana kau bisa melakukan ini?" Tanya Yurina heran. Setahu Yurina suaminya itu belum bisa bergerak dengan leluasa.
"Aku pernah katakan, kekuatanku akan muncul tiba - tiba saat diperlukan bukan?" Sahut Moranno dengan senyum nakalnya.
"Tapi ini kamar bayi kita suamiku, tidak boleh melakukan hal mesum disini." Cegah Yurina.
"Memangnya ada aturan seperti itu?" Tanya Moranno seolah tidak terima.
"Iya, tentu saja..... Memangnya perusahaanmu saja yang memiliki peraturan ketat dan tidak boleh dilanggar." Ucap Yurina menegaskan.
"Aku tidak mau kita memberikan contoh yang tidak sepatutnya pada anak - anak kita walaupun mereka masih bayi suamiku." Tambah Yurina lagi.
Moranno nampak berpikir sejenak, menyaring apa yang dikatakan Yurina.
"Baiklah..... Aku mengerti nyonya Yurina Moranno Agatsa....." Ucapnya sambil turun dari tubuh Yurina isterinya.
"Jangan marah padaku ya, bayi besarku..... dan suami tampanku....." Kata Yurina yang agak khawatir suaminya itu tidak terima akan apa yang ia katakan.
"Tidak apa - apa sayang.... aku memang kecewa. Tapi jujur saja, aku bangga padamu berani mengatakan ini padaku. Aku semakin yakin dan percaya padamu sayang, ditanganmu....anak- anak kita pasti akan bisa terdidik dengan etika yang benar, dan tahu norma - norma yang berlaku dalam.masyarakat. Aku.... menyayangimu isteriku. Tapi bolehkah aku meminta satu ciuman saja? Apa itu tidak melanggar aturan disini?" Tanya Moranno menggoda.
"Cup....." Yurina lalu mencium bibir Moranno dengan hanya menempel saja, lalu segera melepaskannya kembali sambil tersenyum balas menggoda.
__ADS_1
"Baiklah.... aku mengerti....." Kata Moranno yang terlihat tidak puas pada ciuman yang diberikan isterinya itu. Namun terpaksa menerimanya begitu saja.
***