JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 161 "Tidak ada bantahan."


__ADS_3

"Kami hanya ketiduran mom, dan kebetulan berdua diranjang yang sama..... udah ahh, ribet amat...... aku mau bersiap, nanti terlambat pesawatnya." Margareth sudah lelah memberi penjelasan, ia bergegas ingin keluar kamar.


"Berhenti Margareth...... kita belum selesai...... lagi pula hari ini kau tidak akan kemana - mana sebelum menyelesaikan masalah ini." Tahan nyonya Agatsa.


"Masalah ini tidak sesederhana yang kau pikirkan Margareth......" Ketus ibunya.


"Mom.... pleaseee...... aku hari ini harus pulang, waktu ku sudah selesai disini, pekerjaanku sudah menantiku disana....." Wajah Margareth terlihat kusut dan kesal.


"Lihat arlojimu...." Margareth mengangkat pergelangan tangannya malas, matanya langsung terbelalak dengan mulut sedikit ternganga.


"Astaga....... !! Jam sebelas siang, aku sudah terlambat tiga jam....." Wajah Margareth meringis hampir menangis.


"Mom.... mom..... tolongin Margareth dong..... boleh 'kan pinjem pesawat pribadi mommy......? Yang kakak ipar pakai saat menjemputku....." Ucap Margareth memohon.


"Hari ini, tidak ada yang boleh terbang kemana - mana ataupun pergi kemana - mana. Kau dan Harry, segera mandi..... kita bersiap untuk makan siang. Selepas makan siang kita akan lanjutkan pembicaraan ini hingga selesai. Tidak ada bantahan. titik." Putus nyonya Agatsa. Nyonya Naomi beserta tuan dan nyonya Morgan hanya mengikuti dan mendukung nyonya Agatsa sebagai tuan rumah tanpa banyak berkomentar.


Tubuh Margareth melorot lemah kelantai, saat ibunya, nenek Harry, juga tuan dan nyonya Morgan pergi meninggalkan kamar itu, menyisakan dirinya dan Harry yang masih berdiam diri diatas tempat tidur.


...***...


Acara makan siang baru saja usai.


Penampilan Margareth dan Harry sudah terlihat lebih rapi dan segar siang itu. Namun wajah kusut masih terpancar dari keduanya yang tidak mampu mereka sembunyikan.


Diruang keluarga, Hari dan Margareth dipaksa duduk berdampingan seolah akan didakwa.


Moranno dan Yurina turut hadir dan duduk disamping kiri depan Margareth. Keduanya sudah mendengar penjelasan yang telah dibeberkan sang ibu.


Tuan dan nyonya Morgan duduk disamping kanan depan Harry.


Sementara Nyonya Agatsa dan nyonya Naomi duduk berseberangan dengan Margareth dan Harry.


Wajah keduanya hanya bisa menunduk lemah, terlihat pasrah pada apa yang akan diputuskan oleh sidang keluarga siang itu.


"Baiklah..... sepertinya kita sudah berkumpul semua diruangan ini...." Terdengar suara nyonya Naomi membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Tuan rumah, nyonya Agatsa dan juga tuan Moranno sudah memberikan saya mandat untuk berbicara dalam pertemuan keluarga ini." Lanjutnya dengan wajah yang terlihat tenang.


"Pertama, mungkin karena saya dianggap lebih tua, dan yang kedua, mungkin karena saya adalah nenek Harry, yang mana masalah yang ada kaitannya dengan cucu saya ini harus segera mendapat titik terang dan dapat juga diselesaian dengan baik."


"Sesuai kesepakatan pembicaraan kami para orang tua secara tertutup tadi sebelum makan siang, juga dihadiri Moranno juga Yurina, jadi saya akan menyampaikan apa yang harus kita dengar bersama."


"Penyampaian ini tidak dapat disanggah apalagi ditolak, karena ini adalah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat." Pungkas nyonya Naomi.


"Atas apa yang terjadi pagi tadi, maka Harry dan Margareth akan menikah dalam waktu dekat."


"Tapi nek.....kami 'kan......" Sela Margareth terkejut.


"Margareth..... tidakkah kau bisa mendengarkan saja tanpa memotong pembicaraan seperti yang dilakukan tuan Harry." Ucap Moranno datar menatap adiknya itu.


"Iya.... tapi 'kan kak ini semua salah paham....." Sela Margareth lagi, dirinya berusaha menjelaskan pada semua keluarga.


"Margareth.... tidakkah kau dengar, nenek Naomi sudah katakan tidak bisa disanggah ataupun ditolak." Nyonya Agatsa terlihat gemes pada putrinya itu.


Margareth akhirnya terdiam dengan pipinya yang dibuat menggelembung.


"Apakah kita bisa lanjutkan?" Tanya nyonya Naomi menatap semua yang hadir.


"Besok, Margareth akan kembali kekota tempat ia berkerja dan Harry akan mengantarkannya, dan sekalian Margareth wajib memerkenalkan Harry sebagai calon suaminya pada rekan kerjanya." Mata Margareth mendelik mendengar penyampaian nenek Harry tersebut, sambil melirik Harry disebelahnya yang tetap bersikap tenang tidak seperti dirinya.


"Jadi setelah pembicaraan ini usai, Harry dan Margareth akan kekota terdekat dari sini untuk membeli cincin ikatan, malam ini juga kalian berdua harus dipertunangkan." Mata Margareth lagi - lagi mendelik, ia melirik kearah Harry yang masih terlihat tenang sama seperti sebelumnya.


"Pernikahan akan dilangsungkan tiga bulan kemudian, setelah pertunangan nanti malam. Dan dalam waktu tiga bulan sebelum pernikahan, Margareth harus mengurus semua administrasi kepindahannya, baik domisili maupun pekerjaan, karena setelah menikah, Margareth wajib mengikuti suaminya yang akan menetap di Singapura."


"Huuhhhh......" Margareth mengambil napas panjang dan menghempaskannya begitu saja mendengar putusan yang disampaikan nenek Harry yang begitu detail.


Nyonya Naomi sempat menatap sekilas kearah Margareth saat melihat sikapnya yang tidak tenang. Lalu mulai melanjutkan lagi ucapannya.


"Sedangkan Harry, akan bolak - balik Indonesia Singapura, dan Jepang, karena ditiga negara ini, bisnis kelurga kami sedang dikembangkan. Mungkin akan sulit bertemu selama tiga bulan kedepan." Ucap nyonya Naomi menatap Margareth yang kini mulai menunduk.


""Itulah keputusan yang telah disepakati kami para orang tua. Harry, nenek mau mendengar sedikit pendapat atau responmu cucuku...." Kata nyonya Naomi yang baru saja menyelesaikan penuturannya yang sangat mendetail itu.

__ADS_1


"Saya rasa nenek sudah tahu jawaban saya. Walaupun tidak ada hal yang terjadi seperti tadi pagi antara saya dan Margareth, saya akan tetap berusaha untuk menunggunya menerima lamaran saya nek..... Tapi berhubung ada hal yang terjadi tadi pagi, saya rasa itu bukanlah suatu kebetulan, saya percaya keberuntungan dari Tuhan sedang berpihak pada saya, sehingga saya dapat menikah dengan Margareth dalam tempo tiga bulan kedepan. Saya terima semua keputusan ini dengan sangat baik dan penuh rasa syukur." Ucap Harry mantap sambil mengulas senyum.


Margareth sempat terpana mendengar ucapan Harry yang duduk disampingnya.


"Bagus..... kau memang cucu nenek Harry....." Ucap nyonya Naomi dengan raut wajah senang.


"Margarerth......? Bagaimana tanggapanmu.....?" Nyonya Naomi beralih pada Margareth yang duduk menunduk disebelah Harry.


Margareth menatap semua yang hadir satu demi satu. Semua pasang mata itu juga menatapnya, hingga membuat dirinya gugup.


"Aku.....bukankah nenek tadi bilang tidak ada sanggahan atau penolakan. Jadi aku hanya bisa ..... hanya bisa menerima semua yang sudah diputuskan keluarga....." Ucap Margareth terbata - bata.


Rona merah diwajahnya begitu terlihat, mengisyaratkan dirinya sedang menahan malu yang luar biasa, membuat semua keluarga hampir tertawa, namun mereka berusaha keras menahannya, takut Margareth bertambah malu dan berubah pikiran.


"Baiklah.... nenek rasa cukup..... kita sudah mendengar bahwa baik Harry, maupun juga Margareth.... kedua - duanya telah sama - sama menyetujui apa yang telah menjadi keputusan keluarga. Karena hari akan beranjak sore, kalian berdua harus segara berangkat membeli cincin pertunangan untuk nanti malam."


Harry segera berdiri dari duduknya, sedangkan Margareth masih tetap duduk ditempatnya, seolah - olah ada lem yang merekat dibawahnya.


"Ayo..... kita berangkat sekarang, nanti keburu sore...." Harry mengulurkan tangannya untuk membantu Maegareth berdiri.


Margareth kembali menatap kiri kanan, melihat kearah seluruh kelurga yang hadir, dan ternyata mereka pun masih menatap kearahnya membuat dirinya bertambah gugup.


"Bila kau ingin lepas dari tatapan mereka, ayo...ikutlah denganku...." Bisik Harry yang seolah - olah tahu isi kepala Margareth.


Margareth segera meraih uluran tangan Harry dan segera berdiri. Keduanya lalu berpamitan dengan mencium tangan para orang tua itu.


Margareth mendesah lega, saat dirinya sudah terlepas dari pandangan para orang tua itu.


"Aku.... ganti baju dulu....." Ucap Margareth hendak menyimpang kekamarnya. Harry segera menahannya dengan memegang lengannya.


"Tidak perlu.... kau sudah cantik seperti ini....."


"Aku.....?"


"Iya, kau sudah cantik..... calon tunanganku...." Ucap Harry menatap wajah Margareth, membuat rona wajah wanita itu semakin memerah, debar jantungnya kembali terasa saat merasakan tangan Harry masih memegang tangannya erat.

__ADS_1


"Ayo.... kita kemobil sekarang....." Margareth hanya menurut saja, saat tangan Harry yang memegang lengannya beralih menggandeng bahunya.


...***...


__ADS_2