JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 51 "Agak geli rasanya"


__ADS_3

"Aakkhh... Lihatlah mereka memberi reapon suamiku...." Ujar Yurina, saat dokter Rosalie mulai menggeser-geser transduser diatas perut besarnya.


"Bagaimana rasanya sayang" Tanya Moranno saat melihat perut Yurina bergerak-gerak lebih dari biasanya, ia menyentuh perut Yurina yang bergerak dengan lembut.


"Agak geli rasanya..."Jawab Yurina dengan senyum diwajahnya.


Sepasang mata Moranno dan Yurina tak berkedip saat melihat apa yang ditampilkan layar monitor. Kedua bayi mereka menggeliat, bergerak satu sama lain.


"Lihatlah, bayi-bayi kalian, mereka terlihat sangat sehat. Rambut kepala sudah tumbuh. Mata, hidung, telinga dan juga mulut sudah terbentuk dengan sempurna. Organ-organ tubuh seperti hati, jantung, paru-paru, usus juga sudah berpungsi dengan baik. Jari-jari tangan dan jari-jari kaki juga lengkap. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jelas dokter Rosalie dengan senyum turut bahagia.


Dokter Rosalie lalu membereskan peralatan pemeriksaan yang telah selesai digunakan.


"Lalu untuk ibunya bagaimana dokter, sekarang ia mulai terlihat sulit bergerak karena berat badannya." Tanya Moranno sambil membantu Yurina bangkit dari ranjang pasien dan menuntunnya untuk duduk di kursi depan meja dokter Rosalie.


"Ibunya sehat, tidak ada yang perlu dikhawatitkan juga. Itu masih normal diusia kandungan yang memasuki dua puluh sembilan bulan, apalagi nyonya muda sedang mengandung bayi kembar, jadi berat badannya memang akan naik dengan cepat seperti sekarang ini. Bila berjalan memang terasa sangat berat."


"Disarankan nyonya muda untuk tetap rajin berolah raga dan mengikuti kelas ibu hamil setiap minggunya seperti yang telah dilakukan selama ini. Apalagi nyonya muda berkeinginan melahirkan secara normal."


"Baiklah dokter, terima kasih untuk semuanya. Kami akan melakukan sesuai petunjuk dokter, sekarang kami permisi dahulu dok."


" Baiklah... Tetap menjadi suami yang siaga ya tuan Moranno." Kata Dokter Rosalie pada sahabatnya itu.


"Tentu saja dokter." Moranno dan Yurina berlalu dengan senyum bahagia dari hadapan dokter Rosalie.


"Aku akan mengantarkanmu pulang kerumah sayang." Kata Moranno saat didepan rumah sakit.


"Tidak perlu suamiku, tadi aku diantar Pak Karso yang mengantarkanku kemari. Kembalilah kekantor, bukankah siang ini kau ada pertemuan dengan para pemegang saham dan dewan direksi. Lagi pula aku akan singgah kepusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluanku, ada bibi Nur yang akan menemaniku bersama pak Karso."


"Baiklah kalau begitu. Kau hati-hati ya sayang. Kabari aku bila sudah tiba dirumah."


"Hmmm... Iya suamiku...." Yurina mengangguk dan memasuki mobil yang sudah dibukakan oleh pak Karso.


"Pak Karso, bi Nur... Jaga nyonya muda baik-baik ya?" Kata Moranno kepada kedua pelayannya itu.


"Iya tuan." Keduanya serentak menjawab sambil memberi hormat.


Setelah mobil yang membawa Yurina pergi, Moranno segera kembali kekantornya dengan diantar oleh Pak Kasan supir pribadinya.

__ADS_1


Baru saja Moranno memasuki ruang kerjanya. Ponselnya sudah berbunyi.


"Iya ada apa bi Nur?"


"Nyonya muda tuan...." Terdengar suara bibi Nur panik dari sambungan telepon.


"Ada apa dengan nyonya muda." Tanya Moranno dengan perasaan was-was. Assiten Rudi yang tengah duduk dihadapan meja Moranno turut mendengarkan percakapan antara tuannya itu dan bibi Nur dengan jelas karena diloadspeaker.


"Nyonya muda diculik segerombolan pria berpakaian serba hitam tuan, kami tidak mengenal nereka, wajah mereka tertutup tuan. Saya ada mengambil fhoto nomor plat mereka tuan, dan saya sudah mengirimkannya ke ponsel tuan." Kata bibi Nur sedikit terbata-bata.


"Baik terima kasih bibi Nur, sekarang kirim lokasi kalian dengan segera ada dimana, saya akan kesana." Moranno segera mematikan ponselnya dengan terburu-buru sebelum bibi Nur selesai menjawab.


"Asisten Rudi segera hubungi pihak yang berwajib dan orang-orang kita. Saya akan langsung ke lokasi kejadian. Hal-hal lain akan saya sampaikan lagi nanti." Kata Moranno sambil keluar ruang kerjanya dengan sangat terburu-buru.


"Baik tuan."


"Apa yang terjadi asisten Rudi, saya melihat tuan Moranno sangat terburu-buru meninggalkan ruangan ini." Tanya sekretaris Fhani yang baru saja memasuki ruang kerja Moranno dimana asisten Rudi sedang sibuk menghubungi beberapa nomor ponsel penting.


"Nyonya muda diculik oleh beberapa orang yang menggunakan pakaian serba gelap." Jawab asisten Rudi setelah menyelesaikan percakapannya disambungan telepon dengan seseorang.


"Itulah yang membuat tuan panik. Kita berdoa saja semoga tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan."


" Ya, semoga saja begitu."


"Sekarang kermbali berkerja. Untuk perkara ini sudah ada orang yang ditugaskan untuk mengurusnya. Tolong persiapkan data yang diminta tuan Moranno tadi, karena siang ini ada pertemuan penting dengan para pemegang saham dan para dewan direksi."


"Baik asisten Rudi."


***


"Selamat siang tuan Moranno." Seorang polisi menghampiri Moranno yang baru saja tiba ditempat kejadian sambil memberi sikap hormat.


"Selamat siang pak." Jawab Moranno juga membalas dengan sikap hormat.


"Kami sudah memeriksa lokasi kejadian ini. Dan untuk orang-orang tuan yang telah mengalami peristiwa ini akan kami periksa dikantor polisi untuk mendapatan keterangan lebih lanjut setelah keadaan mereka membaik tuan."


"Baik Pak terima kasih."

__ADS_1


"Pak Karso,.bibi.Nur.... Bagaimana keadaan kalian?" Moranno segera menghampiri kedua pelayannya itu.


"Kami baik-baik saja tuan, tapi nyonya muda tuan.... Maafkan kami tidak bisa menjaga nyonya muda dengan baik." Kata bibi Nur sambil terisak.


"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Yang penting bibi Nur dan Pak Karso selamat. Pak Kasan akan mengantarkan kalian ke rumah sakit, kalian perlu perawatan segera karena ada banyak luka lebam pada wajah dan tubuh kalian." Kata Moranno yang melihat keadaan kedua pelayannya itu yang cukup menyedihkan.


"Terima kasih tuan." Kata bibi Nur dan pak Karso bersamaan.


Moranno lalu memapah bibi Nur untuk masuk kedalam mobil dan pak Kasan membantu pak Karso.


Mobil yang dikendarai pak Kasan segera meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit.


Moranno.memperhatikan keadaan disekitarnya beberapa saat. Suasana tampak lengang dan sepi dekat taman kota, membuat para penculik itu leluasa melakukan aksinya.


Ponsel Moranno tiba-tiba berbunyi. Moranno melihat panggilan ibunya dilayar ponsel, ia segera mengangkatnya dengan tergesa-gesa.


"Hallo mom, Yurina diculik." Kata Moranno dengan cepat.


"Benarkah? Kau dimana sekarang Moranno?"


"Aku masih dilokasi kejadian mom."


"Klalau begitu cepatlah kembali. Bukankah siang ini ada pertemuan para pemegang saham dan dewan direksi. Kau sudah ditunggu."


"Mom, maksud mommy apa?? Yurina menghilang. Aku harus memcarinya mom."


"Bukankah kau telah melaporkannya ke polisi dan orang-orangmu juga telah kau perintahkan untuk mencarinya. Kau harus propesional Moranno, jangan masalah pribadi kau campur adukkan dengan pekerjaan. Kau tidak dapat mengirimkan hanya asistenmu itu pada rapat sepenting ini, kau sendiri yang harus hadir disini. Mengerti. Kami menunggumu disini Moranno."


Sambungan telepon ditutup begitu saja oleh nyonya Agatsa. Moranno hanya bisa menahan amarah dan kesedihannya yang telah bercampur aduk. Ibunya sungguh tidak perduli akan keadaan isterinya.


Moranno masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju Agatsa Properti Grup.


Pikirannya berkecamuk, wajah Yurina isterinya yang sedang mengandung selalu terbayang dalam benaknya.


"Aku merasa menjadi seorang pria yang tak berguna. Kenapa aku membiarkannya pulang sendirian. Maafkan suamimu ini isteriku, padahal aku telah berjanji akan menjadi suami yang selalu siaga. Entah apa yang sedang kau alami sekarang sayang, juga anak-anak kita yang masih ada dalam kandunganmu" Batin Moranno semakin berkecamuk menyesali akan keteledorannya menjaga isterinya.


***

__ADS_1


__ADS_2