JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 70 "Mommy harap, isterimu itu adalah wanita yang layak untuk kau perjuangkan


__ADS_3

Moranno menyelimuti Yurina yang telah tertidur pulas setelah adegan panas yang mereka lakukan.


Ia mengambil nampan yang berisi piring kotor diatas meja sofa yang ada disisi tempat tidur lalu mrmbawanya menuju dapur.


"Tuan, seharusnya tuan tadi memanggil saya, sehingga saya bisa membantu membereskannya." Kata bibi Nani yang langsung menghampiri Moranno saat tuannya itu muncul didapur.


"Tidak mengapa bibi, kebetulan saya juga ingin kemari untuk makan malam." Kata Moranno sambil memberikan nampan ditangannya ke bibi Nani.


"Silahkan tuan... Makan malam sudah siap. Nyonya besar juga sudah menunggu tuan untuk makan malam dimeja makan." Kata bibi Nani lagi.


"Selamat malam mom...." Sapa Moranno, saat melihat ibunya sudah duduk ditempat biasanya.


"Malam Moranno, duduklah..." Sahut ibunya mempersilahkan putrannya itu.


Nyonya Agatsa lalu mengambil satu persatu menu makanan diatas meja untuk dirinya sendiri, setelah itu ia mengambil piring untuk putranya.


"Mom, biarkan aku mengambilnya sendiri." Kata Moranno lalu meraih piring yang dipegang oleh ibunya.


Moranno lalu mengambil satu persatu menu makanan yang tersaji diatas meja dengan porsi besar.


Sambil menikmati makan malamnya, Nyonya Agatsa memperhatikan putranya itu yang makan begitu lahap.


Makanan dipiring Nyonya Agatsa belum juga habis, Moranno sudah menambah lagi dengan menu yang berbeda dan masih dalam porsi besar.


Nyonya Agatsa hanya memperhatikannya saja tanpa mengatakan sesuatu.


Moranno yang asik dengan makan malamnya tidak memperhatikan ibunya yang sesekali melihat kearahnya. Dalam waktu singkat isi piringnya telah habis.

__ADS_1


Untuk ketiga kalinya Moranno mengisi piring makannya, namun kali ini tidak sebanyak dua kali sebelumnya.


"Moranno, mommy lihat sepertinya kau lapar sekali malam ini." Kata nyonya Agatsa yang tidak dapat menahan rasa ingin tahunya melihat putranya makan sebanyak itu.


Moranno berhenti sejenak dari kegiatan makannya saat mendengar ibunya berkata padanya.


"Iya, aku lapar sekali mom setelah berolah raga tadi." Jawab Moranno sekenanya saja pada ibunya.


"Berolah raga??" Tanya ibunya sambil mengerutkan keningnya.


"Iya berolah raga mom..." Jawab Moranno sambil melanjutkan makannya.


"Memang kau berolah raga dimana? Mommy dua jam ngegym dibawah tidak melihatmu." Ujar nyonya Agatsa masih mengerutkan keningnya dan wajahnya terlihat heran.


"Uhhuukkk...." Moranno tersedak mendengar ucapan ibunya. Nyonya Agatsa segera memberikan segelas air putih pada putranya itu.


"Pelan-pelan makannya Moranno, tidak ada yang mengejarmu." Ujar nyonya Agatsa mengingatkan.


"Bukankah isterimu itu baru saja pulang dari rumah sakit hari ini. Kenapa secepat itu harus berolah raga, dia kan belum terlalu pulih Moranno." Ucap nyonya Agatsa masih dengan wajah herannya.


"Itu... Itu... Katanya kalau dia banyak bergerak, nanti melahirkannya lebih mudah mom..." Sahut Moranno yang semakin bingung mau menjawab apa pada ibunya.


"Kau ini Moranno, katanya sayang pada isterimu, katanya suami siaga. Masa yang begitu saja tidak tahu. Bertanyalah pada mommy. Mommy ini kan pernah mengandung, bahkan kembar. Yaitu kau dan juga saudari kembarmu yang tidak patuh itu." Ucap nyonya Agatsa agak sinis saat menyebutkan kembaran putranya.


"Tunggu, tunggu.... Kenapa mommy berkata seperti itu, apa mommy sudah mulai membuka hati mommy buat Yurina?" Tanya Moranno sambil menghentikan sejenak kegiatan makannya.


Nyonya Agatsa tidak langsung menjawab. Ia menghabiskan makan malamnya yang tinggal satu suapan lagi. Setelah itu ia meminum jus wartel kesukaannya hingga gelasnya kosong. Lalu menatap wajah putranya yang sedang mentap kearahnya juga.

__ADS_1


"Habiskan dulu makanan yang ada dalam piringmu Moranno." Moranno yang mendengar perkataan ibunya segera menurut. Itulah yang sering ia lakukan sejak kecil, saat ibunya menyuruhnya menghabiskan makannya, walaupun rasanya ia tidak sanggup menghabiskannya.


"Minum jusmu...." Ucap nyonya Agatsa lagi, saat putranya itu telah menghabiskan makanannya.


Moranno kembali menurut, menghabiskan jusnya yang disodorkan ibunya, lalu meletakan gelas kosongnya diatas meja.


"Mommy beberapa hari ini memperhatikan ulahmu Moranno." Kata nyonya Agatsa memulai pembicaraannya sambil menatap wajah putranya yang juga sedang menatapnya.


"Kau tidak memperhatikan penampilanmu. Kekantor kau tidak berganti pakaian bahkan kau tidak mandi saat isterimu itu belum ditemukan. Padahal, mommy tahu benar, kau adalah putra mommy yang sangat memperhatikan penampilanmu, bahkan noda sedikit saja menempel pada pakaianmu, kau akan segera menggantinya." Nyonya Agatsa berhenti sejenak mengambil napas dalam untuk mengisi oksigen dalam paru-parunya.


"Lalu, kau melakukan penjagaan ketat untuk isterimu yang dirawat dirumah sakit. Bahkan, mommy mu sendiri yang datang untuk masuk, kau tidak mengijinkan, hanya tuan dan nyonya Morgan saja, karena telah meminta ijinmu untuk menjenguk." Kata Nyonya Agatsa masih memandang putranya.


"Itu maksudnya....." Moranno segera ingin meluruskan namun segera disergah ibunya.


"Biarkan mommy menyelesaikan kata-kata mommy, kau cukup mendengarkan, setelah itu baru kau bisa berkomentar." Ucap nyonya Agatsa dengan wibawanya yang tak mampu dibantah Moranno.


"Iya mommy." Ucap Moranno menyetujui perkataan ibunya.


"Dari yang mommy perhatikan itu, mommy dapat melihat kau begitu perduli pada isterimu. Kau mengingatkan mommy pada mendiang daddymu. Daddymu begitu gigih memperjuangkan mommy dahulunya. Kau bahkan melebihi daddymu dalam melindungi dan mempertahankan isterimu itu."


"Mommy harap, isterimu itu adalah wanita yang layak untuk kau perjuangkan. Kau tahu Moranno, menjadi isterimu tidak mudah. Dia adalah wanita yang harus tahan banting. Ada banyak yang ingin menjatuhkan keluarga kita, keluarga Agatsa. "


"Bisnis yang telah daddy mu bangun dengan menggunakan namanya, dan kau telah mengembangkannya menjadi kerajaan bisnis keluarga Agatsa, kini semakin kokoh ditanganmu. Ada banyak diluar sana, wanita yang pantas untuk kau pilih menjadi isterimu. Tapi kau memilih wanita yang bahkan adalah pegawai cleaning servicemu. Mengenai pernikahan kalian, walaupun mommy tidak menyetujuimu, tapi mommy bangga padamu untuk tanggung jawabmu atas apa yang telah kau lakukan, walaupun itu sepenuhnya bukan salahmu, tapi salah Gandis dan juga mommy yang menyetujui idenya yang memasukan obat perangsang dalam minumanmu. Untuk itu, mommy minta maaf padamu putraku."


"Mommy memang belum bisa menerima Yurina sepenuhnya menjadi menantu mommy, mommy punya alasan yang tidak bisa mommy ungkapkan. Beri mommy waktu. Mungkin saja mommy yang belum mengenal Yurina isterimu dengan baik." Ujar nyonya Agatsa pada putranya itu.


"Rumah ini adalah milik mommy, jadi mommy mempunyai semua anak kunci pintu rumah ini, termasuk ruang kerjaku, bahkan hanya menggunakan sidik jari mommy, mommy sudah bisa membuka ruang kerjaku. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk kesana selain aku dan mommy. Jadi bila mommy ingin mengenal Yurina lebih baik lagi, mommy boleh membuka CCTV, melihat semua file-file yang telah aku simpan. Mommy bisa melihat semua gerak-gerik Yurina didalam rumah ini tanpa kepalsuan. Bahkan mommy bisa melihat CCTV tentang Gandis kebanggaan mommy itu. Bila mommy ada waktu, mommy boleh melihatnya."

__ADS_1


"Aku berterima kasih pada mommy yang sudah mau membuka hati untuk mengenal Yurina. Aku sayang mommy, juga sayang Yurina, dia ibu dari anak-anakku.


"Mommy dan Yurina adalah wanita yang penting dalam hidupku." Ucap Moranno sambil menggenggam kedua tangan ibunya.


__ADS_2