JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 86 "Itu masih diselidiki oleh pihak kepolisian nyonya."


__ADS_3

Setelah membantu Yurina naik ketempat tidur. Dua pengawal itu keluar ruangan dan tidak lupa memberi hornat pada Yurina.


"Nyonya muda, apakah anda ingin makan sesuatu?" Tanya bibi Nur saat keduanya seorang diri.


"Tidak bibi, aku hanya ingin minum susuku saja. Berikan ponselku dulu bi...."


"Ini nyonya muda, ini ponsel anda." Bibi Nur lalu menyerahkan ponsel Yurina yang diambilnya dari tas tenteng yang ia bawa dari rumah.


"Terima kasih bibi...."


"Iya nyonya muda...." Bibi Nur bergegas menuju meja untuk membuat susu buat majikannya itu.


Yurina lalu mencari nomor seseorang diponselnya dan segera menelponnya.


"Hallo nyonya muda..." Terdengar suara dari sambungan telepon.


"Asisten Rudi.... Bagaimana keadaan tuan Moranno sekarang?"


""*Tuan masih diruang tindakan nyonya muda. Kami belum bisa menemuinya. Tindakkan operasi sudah dilakukan beberapa menit yang lalu hingga kurang lebih delapan jam kedepan. Kami diminta berjaga disini, dan tidak seorangpun diperkenankan masuk kedalam sebelum operasinya selesai."


" Nyonya muda.... Saya meminta ijin untuk pulang, ini sudah jam sepuluh malam, karena besok saya harus berkerja kembali. Saat tidak ada tuan, pasti ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan nyonya muda*."


"Baiklah, kau boleh pulang, tapi harus ada orang yang dipercaya untuk menggantikanmu disana."


"Iya nyonya muda, sudah ada beberapa orang yang saya tugaskan untuk berjaga disini."


"Sebelum kau pulang, aku minta tolong kau membelikan aku kamera lengkap dengan kakinya. Sekalian tagihannya berikan padaku."


"Maafkan bila saya lancang bertanya. Nyonya muda membeli kamera untuk keperluan apa?"


"Asisten Rudi, lakukan saja apa yang kuminta. Untuk saat ini aku tak bisa menjelaskannya padamu. Aku memerlukannya malam ini juga. Segera antar keruang inapku bila kau sudah membelinya.


"Baiklah nyonya muda... Saya akan segera melakukannya."


"Terima kasih asisten Rudi." Yurina lalu menutup teleponnya.


"Nyonya muda, ini susu yang anda minta, saya sudah membuatkannya." Kata bibi Nur sambil menyerahkan segelas susu hangat pada Yurina.


Yurina meneguk susunya hingga habis, lalu mengembalikan gelas yang sudah kosong pada bibi Nur.


"Terima kasih bibi Nur...."


"Iya nyonya muda. Apakah masih ada yang nyonya inginkan?" Tanya bibi Nur lagi.


"Cukup bibi, bibi boleh beristirahat sekarang."


"Iya nyonya muda." Bibi Nur melangkah menuju sofa. Ia merebahkan tubuhnya yang cukup lelah.


Dilihatnya Yurina yang nampak gelisah.


"Nyonya muda, apa yang sedang anda pikirkan?" Tanya bibi Nur setelah sekian lama ia melihat majikannya itu tak kunjung tertidur.


"Perutku bibi, sakit lagi...." Sahut Yurina sambil memegang perutnya.


"Bagaimana rasa sakitnya nyonya?" Tanya bibi Nur lagi seraya mendekati majikannya itu dipembaringannya.


"Rasanya mules, melilit bibi..."Ucap Yurina dengan wajah meringis.


"Sepertinya aku ingin ketoilet dulu bi...." Kata Yurina lagi, sambil berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. Bibi Nur buru - buru membantunya. Dipapahnya Yurina menuju toilet.


Bibi Nur menunggu diluar toilet. Ia kembali duduk disofa sambil menunggu Yurina keluar dari toilet.


Tok...


Tok...


Tok...

__ADS_1


Terdengar ketukan pintu berulang - ulang. Bibi Nur segera menuju arah pintu. Saat pintu dibuka, dilihatnya asisten Rudi berdiri dimuka pintu dan memegang sesuatu dikedua tangannya.


"Asisten Rudi, masuklah...." Kata bibi Nur mempersilahkan.


Bibi Nur segera menuju ke toilet saat dilihatnya Yurina baru keluar.


"Bagaimana nyonya muda... Apa anda memang buang air besar?" Tanya bibi Nur sambil memapah Yurina kembali kepembaringannya.


"Tidak bibi, ternyata perutku mules saja tadi, sekarang sudah mulai berkurang rasa mulesnya, tidak seperti tadi." Yurina naik kepembaringannya dan duduk ditepinya.


"Asisten Rudi... kau sudah datang?? Tanya Yurina saat melihat asisten Rudi berdiri di sebelah kiri pintu masuk.


"Iya nyonya, saya baru saja tiba." Sahutnya sambil memberi hormat.


"Apa kau sudah mendapatkan apa yang kuminta tadi?" Tanya Yurina lagi menatap kearah asisten Rudi.


"Iya nyonya, ini barang yang anda pesan." Asisten Rudi mendekati Yurina sambil membawa barang pesanan Yurina dikedua tangannya.


"Bukalah, aku ingin melihatnya." Pinta Yurina.


Asisten Rudi membuka pembungkus barang yang ia bawa satu persatu. Lalu ia mulai merakitnya.


"Bagaimana cara menggunakannya asisten Rudi?" Tanya Yurina sambil bangkit dari tepi tempat tidur.


"Bibi Nur, kemarilah... Mari, ikutlah denganku memperhatikan penjelasan asisten Rudi menggunakan kamera ini." Panggil Yurina


"Ini tombol On - Off nya nyonya muda dan bibi Nur. Ini tombol pengatur cahayanya. Ini tombol pengatur waktunya. Dan ini tombol pengatur sudutnya. Untuk kaki kameranya, tekan tombol ini untuk mengatur tinggi atau rendahnya, supaya sesuai yang kita inginkan." Jelas asisten Rudi.


"Sekarang, saya memberikan contoh cara penggunaannya. Bila objek yang akan diambil gambar atau video tidak berubah tempat. Cukup mengarahkan saja pada objek yang dituju seperti ini. Nah, hasilnya seperti ini." Kata asisten Rudy memperlihatkan hasil yang baru ia contohkan.


"Bila objek gambar atau videonya yang akan diambil berubah - ubah tempat, ini tombolnya untuk mengubah sesuai objek yang akan dituju. Nah, hasilnya seperti ini nyonya muda dan bibi Nur." Kata asisten Rudy menyelesaikan penjelasannya.


"Terima kasih banyak asisten Rudi untuk penjelasan anda." Kata Yurina yang terlihat paham apa yang telah dijelaskan oleh asisten Rudy.


"Iya nyonya muda. Sama - sama....."


"Apakah kau membawa tagihannya juga?"


"Iya nyonya muda...."


"Maksud nyonya?"


"Iya, tulis nomor rekeningmu, aku akan menstransfer sejumlah rupiah yang telah kau keluarkan untuk membeli kamera itu."


"Tapi nyonya muda, apakah anda tidak memasukkannya saja pada biaya kantor?"


"Tidak asisten Rudy, ini bukan belanja kantor. Tapi belanja pribadiku, jadi aku harus membayarnya sendiri. Berikan saja nomor rekeningmu. Anggap ini perintah dariku sebagai isteri tuanmu." Ucap Yurina.


Asisten Rudy yang sangat jarang berhadapan dengan Yurina melihat ada ketegasan dari sikap isteri majikannya itu. Walau terlihat sungkan, asisten Rudy akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Yurina.


"Baiklah nyonya muda." Asisten Rudy mengambil pulpen di kantong bajunya dan segera menuliskan nomor rekening pribadinya, lalu menyerahkan bukti tagihan itu pada Yurina.


Yurina segera menerimanya dan menstransfer sejumlah rupiah lewat ponselnya.


Beberapa detik kemudian, suara notifikasi pesan masuk diponsel Yurina dan diponsel asisten Rudy.


"Sudah berhasil ditransfer ya asisten Rudy, dan terima kasih banyak atas bantuanmu."


"Iya nyonya muda. sama - sama."


"Asisten Rudy, mari kita berbincang sejenak disofa. Ada yang ingin aku tanyakan padamu." Kata Yurina sambil menuju sofa diikuti oleh asisten Rudy.


"Bibi, tolong bawakan kami minumàn." Pinta Yurina pada bibi Nur.


"Baik nyonya muda."


"Asisten Rudy, apakah kau tahu tentang kronologi kecelakaan tuan Moranno? Setahuku, bukankah kau juga ikut kemana tuan Moranno pergi hari ini." Tanya Yurina sesaat setelah mereka sama - sama duduk disofa.

__ADS_1


"Benar nyonya muda, hari ini saya mengikuti kemana pun tuan Moranno pergi. Sore tadi setelah pulang dari proyek pembangunan rumah sakit dimana nyonya muda pernah disekap dulu saat penculikan, saya diturunkan di kantor Agatsa Properti Grup, karena kendaraan saya terparkir dikantor. Tuan Moranno dan pak Kasan langsung pulang kerumah setelah menurunkan saya."


"Beberapa menit setelah itu, saya masih dikantor mengemasi berkas - berkas hasil peninjauan kami hari ini. Telepon berdering, sekretaris Fhany yang mengangkatnya. Ternyata itu telepon dari warga yang ada dilokasi kejadian tuan Moranno kecelakaan. Mereka mengenal nomor plat keluarga Agatsa, lalu segera menelpon kekantor Agatsa Properti Grup."


"Saya, segera meninggalkan pekerjaan saya dan meminta sekretaris Fhany membereskannya. Saya langsung kelokasi kejadian dan tidak lupa menghubungi pihak kepolisian."


"Sesampainya disana, pihak kepolisian juga sudah ada disana dan membuat garis polisi. Itu kecelakaan masal nyonya muda. Sebuah truck gandeng yang mengalami ketidak seimbangan karena rem blong saat turunan bukit, menimpa beberapa kendaraan roda empat dan roda dua yang sedang berhenti dipersimpangan lampu merah. Dan mobil tuan Moranno berada dilampu merah paling depan."


"Semua korban segera dibawa kerumah sakit Pemerintah, kecuali tuan Moranno dan pak Kasan dibawa kemari. Sementara sopir truck gandeng juga dibawa kerumah sakit Pemerintah dan dalam pengawasan pihak kepolisian."


"Saya langsung mengikuti ambulance yang membawa tuan Moranno dan pak Kasan dari belakang. Sementara pihak kepolisian, mereka yang menghubungi setiap keluarga korban."


"Bagaimana mungkin truck gandeng itu bisa melintas diarea itu? Bukankah ada larangan truck ganteng melintas diarea yang padat lalu lintas seperti tempat kejadian kecelakaan itu asisten Rudy." Tanya Yurina merasa aneh.


"Itu masih diselidiki pihak kepolisian nyonya muda. Besok pagi juga saya disuruh kekantor kepolisian untuk dimintai keterangan, berkaitan dengan pelaporan saya mengenai kecelakaan itu lewat telepon."


"Baiklah terima kasih atas keteranganmu asisten Rudy. Kau boleh pulang sekarang, jam juga sudah menunjukkan larut malam. Minumlah dulu minumanmu. Bibi Nur sudah membuatkannya untukmu."


"Iya nyonya muda, terima kasih." Asisten Rudy segera meminum minumannya.


"Nyonya muda, saya permisi dulu." Pamit asisten Rudy lalu berdiri dan memberi hormat.


Bibi Nur lalu menutup pintu dengan rapat dan menguncinya setelah asisten Rudy keluar.


"Bibi... Kemarilah sebentar...." Panggil Yurina.


"Iya nyonya muda..." Bibi Nur menghampiri Yurina yang sedang berbaring dalam selimutnya.


"Bibi.... Perutku sekarang sering merasa sakit. Mungkin aku tak lama lagi akan melahirkan. Memang masih beberapa hari lagi waktu yang diperkirakan dokter Rosalie. Tapi rasa sakit ini mungkin sebagai tanda bahwa aku akan melahirkan bibi."


"Bibi, aku merasa takut..." Ucap Yurina cemas.


Bibi Nur menatap wajah majikannya itu, ia dapat melihat ketakutan dan kecemasan terpancar dari wajahnya.


Bibi Nur menyentuh perut Yurina dan mengusapnya perlahan. Ia merasa perut itu begitu keras dan kencang, ada pergerakan bayi didalamnya walau pelan.


"Apakah perut nyonya muda terasa sakit lagi?"


"Iya bibi, rasa sakit itu kembali datang seperti tadi juga, mules.... dan melilit. Ini mirip seperti yang dikatakan bibi pagi tadi, dan juga beberapa artikel yang sempat kubaca siang tadi bi."


"Apakah nyonya merasakan takut karena membayangkan akan waktu persalinan itu nanti?"


"Iya bibi.... Ini pengalamanku yang pertama. Aku belum tahu bagaimana caranya saat waktu itu tiba. Jujur, aku sangat takut bibi... Seandainya saja.... suamiku bisa ada disisiku saat aku melahirkan nanti, mungkin aku bisa sedikit tenang bibi..." Yurina memandang wajah bibi Nur yang juga sedang memandang dirinya.


"Bibi.... mengapa semuanya ini harus terjadi secara bersamaan seperti ini?"


Air mata Yurina kembali mengalir, namun ia cepat menghapusnya dan mengalihkan pandangannya ketempat lain.


Bibi Nur merasa kasihan melihat majikannya itu, ia turut merasakan apa yang sedang dialami sang majikan.


"Nyonya muda, saya memahami apa yang nyonya sedang rasakan sekarang ini. Kita tidak dapat berbuat apa - apa, selain ikhlas menerima dan menjalani semua ini dengan sabar."


"Bibi.... Bila suamiku belum sadarkan diri saat aku melahirkan nanti. Tolong katakan pada dokter Rosalie supaya ia mengiijinkan detik - detik dimana aku melahirkan untuk diabadikan dalam video menggunakan kamera yang dibawa asisten Rudy tadi. Sekalipun suamiku tidak bisa menyaksikannya langsung pada saat itu, setidaknya ia dapat melihatnya pada rekaman video saat ia sadar nanti."


"Sebelum suamiku berangkat berkerja tadi pagi, dia berjanji akan menemaniku. Namun kecelakaan itu terjadi dan sangat tak terduga."


"Perekaman ini hanya untuk keperluan pribadiku dan suamiku saja bibi. Dan yang mengetahuinya hanya bibi, dan dokter Rosalie dan perawat yang membantunya nanti. Asisten Rudy pun yang membelikannya tidak tahu tujuanku membelinya."


"Mungkin saja nanti saat tiba waktuku melahirkan, aku tidak bisa menjelaskannya pada dokter Rosalie. Jadi aku mohon padamu bibi untuk mengatakannya pada dokter supaya ia mengerti dan mengijinkannya."


"Baik nyonya muda, semua pesan yang nyonya muda katakan ini akan saya sampaikan pada dokter Rosalie."


"Terima kasih bibi. Bibi sudah boleh beristirahat sekarang. Bibi pasti sangat lelah telah menemaniku."


"Tidak mengapa nyonya, saya dengan senang hati melakukan semuanya ini untuk nyonya muda. Saya bantu nyonya untuk berbaring sekarang ya?"


"Tidak usah bibi, aku akan berbaring sendiri nanti. Aku ingin duduk dulu. Bibi silahkan tidur sekarang."

__ADS_1


"Baiklah nyonya muda." Bibi Nur beranjak ke tempat tidurnya dan berbaring disana.


Sekilas dilihatnya majikannya itu sedang berdoa ditempat tidurnya dengan posisi masih duduk. Bibi Nur segera memejamkan matanya dan berusaha segera tidur.


__ADS_2