
"Yurinaaa... Akhirnya kau datang juga." Lisa memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Aku merindukanmu." Yurina membalas pelukan Lisa sambil cipika cipiki.
"Yuk, aku sudah memesan satu meja disudut sana untuk kita berdua."
Keduanya lalu menuju meja yang telah dipesan Lisa.
"Apa aku tak menganggu jam kerjamu Lis?" Tanya Yurina sambil mengambil posisi duduknya.
"Aman... Aku sudah ijin satu jam untuk makan siang kita, ada temanku yang menggantikanku."
"Aku sudah pesan makanan yang terenak, dan terfavorit di restoran ini. Hari ini aku yang traktir." Kata Lisa dengan penuh semangat.
"Sepertinya kau betah berkerja disini?"
"Ya tentu saja, cita-citaku sejak kecil bisa terwujud dengan aku berkerja disini. Minggu lalu aku sudah diangkat menjadi seoroang chef di restoran ini.
"Wah... Kau hebat Lisa, selamat ya." Kata Yurina sambil menggenggam kedua tangan sahabatnya diatas meja."
" Kalau begitu, biarkan aku yang mentraktirmu hari ini ya? Lain kali baru kau ya... please..?" Kata Yurina sambil menyatukan kedua tangannya didepan dada.
"Oke... Aku setuju..." Kata Lisa dengan senyum cerianya.
"Gimana kabarmu selama menikah dengan tuan Moranno?" Tanya Lisa antusias.
"Hmmm baik, dia baik." Jawab Yurina singkat.
"Huh, ga asik... singkat banget tanpa ekspresi..." Kata Lisa sambil memonyongkan mulutnya.
"Terus, aku harus ngomong gimana, menggebu-gebu, berapi-api gitu." Kata Yurina sambil tertawa kecil melihat sikap sahabatnya yang cemberut.
"Ya ngga gitu juga maksudku..." Katanya sambil membenarkan letak duduknya.
"Beberapa hari terakhir aku banyak belajar tentang aturan dan tata cara kehidupan keluarga suamiku."
"Cieeee... Suamiku, rasanya ga percaya kalo kamu udah punya suami." Ledek Lisa.
"Apaan sihh... Dia emang meminta ku memanggilnya 'SUAMIKU', yah aku masih canggung sih mengatakan nya."
"Ya gapapa lah, diawal emang gitu, nanti juga terbiasa." Katanya sambil tersenyum menggoda.
"Tadi kemari naik apa?"
"Diantar pak Kasan."
"Siapa pak Kasan?"
"Supir pribadi Moranno."
__ADS_1
"Wah enak dong, diantar jemput pake sopir pribadi."
Yurina hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya.
"Yurina, apakah kau tidak berniat menyelesaikan kuliahmu, sebentar lagi tahun ajaran baru, cuti satu tahunmu akan berakhir, ingat pendidikan itu sangat penting, kita wanita bisa lebih dihargai saat memiliki pendidikan dan karier.
"Iya kau benar Lis, aku juga sudah memikirkannya. Tapi sepertinya aku harus menambah cutiku satu tahun lagi.
"Kenapa?"
"Lihatlah, tubuhku sudah banyak perubahan beberapa minggu terakhir." Kata Yurina sambil memperlihatkan tubuhnya pada Lisa.
"Perutku mulai membesar, masa iya aku kekampus membawa perut membelendung, yang ada belum juga selesai skripsi malah udah berojol dan cuti lagi. Mending aku tuntaskan dulu sampai anakku lahir, setelah itu aku bisa lanjut kuliah lagi."
"Iya, kau benar juga. Perutmu sudah mulai terlihat membuncit. Emang udah berapa bulan?"
"Tiga bulan minggu lalu."
"Permisi chef, nona..." Seorang pramusaji datang membawa pesanan sambil menyajikan hidangan diatas meja.
"Terima kasih" Kata kedua sahabat itu kompak sambil memberikan senyum mereka pada sang pramusaji. Pramusaji mengangguk dengan hormat lalu meninggalkan mereka.
"Ayo, dimakan..." Lisa mempersilahkan.
Keduanya lalu menyantap hidangan makan siangnya dengan antusias.
"Aku sudah melihat berita-berita tentangmu di televisi maupun surat kabar Yurina. Sepertinya semua berita menghujatmu. Aku sangat mengkhawatirkanmu" Kata Lisa di sela-sela makannya.
"Terus tuan Moranno bagaimana?"
"Dia juga sudah melakukan Jumpa Pers, mungkin kau sudah melihatnya. Pemberitaan itu sangat berpengaruh pada reputasi perusahaan."
"Aku mau nambah es krim sama jusnya dong." Yurina tersenyum pada sahabatnya.
"Boleh, aku maklum... Ibu hamil emang banyak makannya." Kelakar Lisa sambil tertawa kecil.
Lisa lalu melambaikan tangannya, pramusaji segera menghampiri mereka dan membuat catatan pesanan. Lalu segera pergi.
"Tuan Moranno sangat tampan, aku tak percaya kalau kau tidak menyukainya? Aku melihat dia begitu peduli padamu saat siaran langsung Jumpa Pers itu, dia yang menggendongmu saat kau tiba-tiba pingsan, semua melihatnya Yurina, aku saja sampai meleleh." Lisa menjelaskan panjang lebar sambil tersenyum-senyum membayangkan hal itu.
Wajah Yurina merona mendengar penuturan sahabatnya itu. Saat kejadian Jumpa Pers itu dia memang tidak tahu apa yang terjadi setelah tiba-tiba ia tak sadarkan diri. Dan untuk beberapa waktu terakhir Yurina memang belum menonton televisi atau pun membuka media sosial. Ia khawatir pemberitaan-pemberitaan miring tentang dirinya itu mempengaruhi kejiwaannya, dan sangat tidak baik untuk kesehatannya, apalagi disaat ia sedang mengandung seperti sekarang ini. Jadi wajar apa yang dikatakan Lisa sahabatnya membuat debaran halus dihatinya saat mengetahui Moranno berlaku manis padanya.
"Katakan padaku, apa kau sudah mulai terpikat pada pria tampan itu, hmm?"Desak Lisa.
"Aku ini siapa Lisa, hanya seorang gadis biasa, cleaning service pula, mana mungkin pantas dengan Moranno. Dia memang berlaku baik padaku, tapi itu ia lakukan hanya karena aku mengandung anaknya. Lagi pula ibu Moranno sangat tidak menyukaiku."
"Apa alasannya?"
"Entahlah."
__ADS_1
"Apa karena status sosial?"
"Mungkin itu salah satunya, karena ibu mertua pernah mengatakan nama seorang gadis yang pantas untuk menjadi isteri Moranno, gadis itu dijodohkan dengan Moranno untuk pernikahan bisnis."
"Apa tuan Moranno setuju?"
"Sepertinya tidak."
"Permisi chef dan nona. Ini Jus dan es krimnya." Kata pramusaji sambil menyajikan pesanan yang ia bawa ke atas meja.
"Bruuuk..."
Tubuh sang pramusaji terjerembab mengenai meja, sehingga jus alpukat yang masih di nampan pramusaji tertumpah mengenai baju Yurina.
"Ah, maaf.... Maafkan saya nona, saya sungguh tidak sengaja, saya tersenggol nona ini." Kata pramusaji wanita itu dengan wajah yang gugup bercampur takut.
"Saya juga minta maaf pada anda nona, saya tidak sengaja menyenggol pramusaji. Saya harus ganti rugi berapa?" Kata wanita itu dengan wajah angkuhnya.
"Nona saya tidak perlu ganti rugi anda. Permintaan maaf anda sudah cukup bagi saya." Kata Yurina membalas kata angkuh wanita itu dengan dingin.
"Tidak apa-apa nona, saya akan membersihkannya ditoilet." Kata Yurina yang beralih menatap pramusaji yang masih terpaku berdiri, dan menepuk bahu sang pramusaji itu dengan lembut dan segera berlalu menuju toilet wanita.
Sementara wanita itu berlalu begitu saja dengan wajah liciknya.
Tak lama Yurina kembali dari toilet setelah membersihkan noda dibajunya.
"Aku merasa wanita itu sengaja melakukannya padamu Yurina. Apa kau mengenalnya?" Tanya Lisa setengah berbisik.
"Sepertinya aku tak mengenalnya, baru bertemu kali ini saja."
"Tapi aku sering kepergok melihat ia memperhatikanmu dari tempat duduknya sebelum insiden tadi terjadi. Kau harus lebih berhati- hati ya."Kata Lisa mengingatkan sahabatnya itu.
"Terima kasih ya telah mengingatkan ku."
"Aku bayar dulu , oke." Yurina lalu menuju kasir.
Aelesai membayar Yurina lalu kembali ke mejanya menemui Lisa, notifikasi di ponselnya tiba-tiba berbunyi saat ia mengambil posisi duduk.
Mata Yurina seketika terbelalak saat membuka notifikasi di ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Lisa yang penasaran melihat ekspresi wajah Yurina sahabatnya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan." Wajah Yurina semakin terbelalak melihat angka nol yang berjejer dibelakang dua angka.
"Ada apa sih." Lisa lalu mengambil ponsel Yurina dari tangannya.
"Wow... banyak sekali..." Kata Lisa yang ikut terbelalak .Pandangannya berpindah dari ponsel yang ada ditangannya ke wajah Yurina, lalu berpindah lagi ke ponsel Yurina yang masih ditangannya.
"Aku harus berkerja bertahun-tahun untuk mendapatkan saldo sebesar ini." Kata Lisa dengan masih terbelalak hingga mulutnya ikut mangap.
__ADS_1
Kedua sahabat itu sama-sama masih belum move on dari keterkejutannya.
***