JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 21 "Pasal 1, bos tidak pernah salah"


__ADS_3

"Tuan.... waktunya kita bertemu tuan Harry." Asisten Rudi mengingatkan jadwal majikannya selanjutnya.


Moranno menutup laptopnya dan segera bersiap. Asisten Rudi nampak gelisah. Ia melihat wajah tuannya, ingin mengatakan sesuatu namun bingung cara menyampaikannya.


"Asisten Rudi, berhenti melihatku seperti itu, dari pagi kau ku perhatikan mencuri - curi waktu memandangku.!" Moranno yang melihat tingkah asistennya itu merasa terusik.


"Ayo kita berangkat!" Moranno bergegas keluar ruang kerjanya diikuti asistennya yang masih terlihat gelisah.


Sekretaris Fhani segera berdiri dibelakang mejanya dan memberi hormat saat tuannya itu lewat. Ia melirik asisten Rudi yang berjalan mengikuti dari belakang, memberi isyarat dengan matanya pada sang asisten.


Asisten Rudy pun balas memberi isyarat pada sekretaris Fhani dengan matanya. Karena terlalu serius, asisten Rudi tidak menyadari bahaya menantinya didepan.


"Brukkk...."


Asisten Rudi terperanjat. Wajah sekretaris Fhani meringis sambil memejamkan matanya saat melihat insiden tersebut.


"Apa yang kau lakukan..." Kata Moranno sambil menajamkan matanya kearah asistennya yang tak sengaja menabraknya saat ia berdiri di dalam lift.


"Maafkan saya tuan, saya tak sengaja..." Kata asisten Rudi sambil menjaga keseimbangan tubuhnya agar tak jatuh. Asisten Rudi menjadi salah tingkah pada tuannya itu.


Didalam lift asisten Rudi memeras otaknya, untuk mencari cara supaya tuannya itu tahu apa yang ingin ia sampaikan.


Lift terbuka, Moranno segera menuju mobilnya, diikuti asistennya dengan terburu - buru pula.


Pak Kasan membuka pintu mobil belakang dan mempersilahkan tuannya itu masuk. Sementara asisten Rudi duduk di depan bersama pak Kasan sang supir.


Asisten Rudi dan pak Kasan sempat berpandangan sejenak dengan wajah tegang.


"Pak Kasan, berangkat sekarang..." Perintah Moranno.


"Baik tuan..."


Pak Kasan segera menghidupkan mesin, perlahan mobil yang mereka kendarai bergerak melambat dan keluar dari area perkantoran Agatsa Properti Grup.


Hening di dalam mobil, tak ada seorangpun yang membuka suarànya.


Beberapa menit berlalu, Pak Kasan membelokkan mobil yang ia kemudikan memasuki ke salah satu area restoran yang nampak ramai.


Mobil bergerak melambat dan berhenti disalah satu tempat parkiran.


Pak Kasan segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan tuannya itu keluar. Moranno merapikan sedikit jasnya dan segera bergegas diikuti asisten Rudi.


"Tuan, itu..." Asisten Rudi berusaha memberitahu tuannya sambil menunjuk pipinya sendiri dengan jarinya.


"Cukup asisten Rudi, berhenti bersikap aneh."


"Atau kau mau ku hadiahkan SP1... hmmm??" Kata Moranno yang melangkah memasuki restoran.


Dari kejauhan tampak tuan Harry dan Gandis sekretarisnya telah menunggu di meja yang telah mereka pesan.


"Selamat siang tuan Harry, maaf sudah menunggu..." Kata Moranno sambil berjabat tangan dengan rekan bisnisnya itu.


"Tidak masalah, kami juga baru tiba tuan Moranno." Kata tuan Harry sambil tersenyum dan mempersilahkan duduk.


Pelayan datang untuk membuatkan pesanan. Setelah itu pelayan bergegas untuk menyiapkan apa yang menjadi pesanan tamu mereka.


"Tuan Moranno... " Tuan Harry menatap wajah Moranno sambil tersenyum penuh arti.


"Isteri anda pasti tidak membiarkan anda dengan mudah berangkat ke kantor pagi ini."


"Bagaimana tuan tahu?" Kata Moranno sambil tersenyum mengingat apa yang ia lakukan bersama istrinya itu tadi pagi.


"Cap bibir yang anda biarkan dipipi anda itu." Senyum tuan Harry semakin lebar menggoda rekan bisnisnya itu.

__ADS_1


Moranno segera mengambil handphone nya, ia segera memeriksa wajahnya yang dimaksud tuan Harry dengan menggunakan kamera.


OMG!! Wajah Moranno memerah, namun ia berusaha bersikap biasa sambil tersenyum.


"Oh ini... Harap maklum, masih pengantin baru tuan, seminggu pun tidak akan dibersihkan." Katanya berseloroh menutupi rasa malunya.


Asisten Rudi pura - pura tidak mendengar apa yang dikatakan tuannya itu bersama rekannya.


Lain halnya dengan Gandis, wajah gadis itu berubah seperti singa, entah apa yang terjadi pada dirinya.


***


"Asisten Rudi.... Kau ku hadiahkan SP1." Kata Moranno, sesaat setelah mereka ada di dalam mobil.


"Tapi tuan, salah saya apa.?" Tanyanya keheranan.


"Salahmu, tidak melihat penampilanku saat bertemu klien." Kata Moranno datar


"Tapi tuan... Mulai pagi saya sudah berusaha memberi tahu tuan..." sanggahnya sedikit tak terima.


"Pasal 1, bos tidak pernah salah."


"Pasal 2, bila bos salah, kembali ke pasal 1."


"Apa kau paham asisten Rudi??"


"Ya tuan saya paham." Asisten Rudi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Pak Kasan yang mendengarnya hanya terdiam dibelakang setir kemudi, sambil melirik dengan ekor matanya wajah asisten Rudi yang lagi kusut disebelahnya.


Menjelang sore, mereka telah tiba di Agatsa Properti Grup, asisten Rudi diturunkan di lobby, sedangkan Moranno langsung pulang diantar pak Kasan supir pribadinya.


Didepan toko bunga, Moranno meminta pak Kasan memberhentikan kendaraanya, ia turun menemui penjual bunga dan membeli sebuket bunga dari toko itu.


Moranno yang masuk kembali ke dalam mobilnya, tak henti - hentinya tersenyum sendiri. Entah apa yang ia rencanakan.


Petugas security segera menaikan portal saat melihat mobil tuannya yang datang.


Mobil itu berhenti tepat di depan Mension. Pak Kasan buru - buru keluar dan membukakan pintu bagi sang majikannya.


Moranno bergegas masuk membawa sebuket bunga ditangannya. Para pelayan yang sibuk berkerja sempat tertegun, tak pernah tuan mereka membawa sebuket bunga apalagi sepulang berkerja.


Moranno yang membuka pintu kamar, tak melihat isterinya itu diseluruh sudut ruangan.


Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Ia pun duduk disofa yang ada di balkon dan memandang senja yang mulai diselimuti hitamnya malam.


Yurina yang baru keluar dari kamar mandi, hendak menutup pintu yang menghubungkan kamar ke balkon.


"Kau sudah pulang....?" Kata Yurina saat melihat suaminya itu duduk di sofa yang ada di balkon.


Moranno segera berdiri dan menyerahkan sebuket bunga mawar segar pada Yurina isterinya.


Yurina dengan cepat mengulurkan tangannya untuk menerima bunga itu dari tangan suaminya.


"Apa ini.... untukku...? Tanyanya sambil menengadahkan wajahnya keatas menatap wajah suaminya.


"Iyaa... memangnya disini ada orang lain selain kita berdua." Kata Moranno dengan wajah datarnya.


"Terima kasih...." Jawab Yurina sambil tersenyum memandang sebuket bunga yang sudah berpindah ditangannya.


Dihirupnya wangi bunga segar itu dalam - dalam sambil tersenyum. Moranno memperhatikan apa yang dilakukan isterinya itu, ia selalu suka melihat kebiasaan isterinya itu saat di beri bunga.


"Eehhemmm..."

__ADS_1


"Bila mengucapkan terima kasih itu, tatapanmu itu harusnya ke arah sini, bukan ke bunganya." Ujar Moranno sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan jarinya.


Yurina yang asik pada buket bunga pemberian suaminya itu mau tak mau menatap ke arah wajah suaminya.


Senyumnya langsung menghilang dan berubah tegang. Dengan cepat ia meraih wajah suaminya itu dengan kedua tangannya sambil berjinjit.


"Mengapa kau tidak menghapusnya...??"


"Apa banyak orang melihatnya....??"


"Iiiihhhh... memalukan sekali...." Yurina begitu panik, ia segera masuk ke kamar untuk mengambil tissue yang ada diatas meja riasnya. Segera ia menghampiri suaminya lagi yang masih berada di balkon.


"Aku sudah memanggilmu tadi pagi, tapi kau tak menghiraukan dan segera berangkat." Kata wanita itu sambil membersihkan noda lipstik dipipi suaminya itu.


"Apakah kau membelikan aku cat tembok bukan lipstik, kok nodanya tak mau terhapus." gerutu Yurina sambil mengusap wajah suaminya berkali - kali hingga wajah suaminya itu sedikit memerah.


"Tapi... dibibirku bisa terhapus kok... "Katanya sambil berpikir.


"Ohh... Berarti kau harus segera mandi, bersihkan menggunakan sabun pasti bisa terhapus." Kata Yurina pada suaminya saat sudah menemukan ide.


"Buka bajuku..." Kata Moranno dengan wajah datarnya sambil melihat wajah isterinya.


"Akuuu....??" Tanya Yurina menunjuk dirinya sendiri.


"Iyaa... siapa lagi..." Katanya dengan ekspresi yang sama.


"Aaa... Biasanya kau melakukannya sendiri, kenapa sekarang aku?"


"Ingat kata mommy, isteri harus melayani suaminya." Kata pria itu lagi, masih setia dengan wajah datarnya.


Yurina menatap Moranno, lalu menarik tangan sumainya itu masuk kedalam kamar dan segera menutup pintu balkon dan menguncinya.


"Apa yang ingin kau lakukan." Kata Moranno mencurigai isterinya itu.


"Bukankah kau mau aku membuka pakaianmu? Bila di balkon akan ada orang dibawah sana yang melihat apa yang kita lakukan." Kata Yurina menjelaskan.


Moranno tersenyum didalam hati karena salah menduga.


Yurina memandang sebentar ke wajah suaminya yang berdiri di hadapannya. Dengan perlahan, ia mengulurkan tangannya dan melepaskan jas yang dikenakan suaminya itu, lalu meletakannya diatas tempat tidur.


Iya mengulurkan lagi tangannya dan melepaskan dasi yang terpasang dileher suaminya dan meletakannya juga diatas tempat tidur.


Selanjutnya ia membuka kancing atas kemeja suaminya , lalu turun kekancing kedua hingga kancing dibawahnya lagi, hingga terlihat bulu - bulu halus didada Moranno yang sixpack, dan otot - otot perutnya berbentuk kotak - kotak seperti roti sobek.


Yurina menahan napasnya atas pemandangan dihadapannya itu. Ia melepaskan kemeja suaminya itu setelah semua kancing berhasil ia buka dan meletakannya juga diatas tempat tidur.


"Sudah selesai..." Kata Yurina segera memalingkan wajahnya ketempat lain.


"Masuklah ke kamar mandi."


"Celananya belum...." Kata pria itu santai.


"Apaaa??" Yurina kaget.


"Iyaa.... cepatlah...." Kata Moranno mendesak.


"Baiklah...." Yurina lalu menghadapakan tubuhnya kembali ke depan suaminya.


Ia lalu sedikit membungkukan tubuhnya, mengulurkan tangannya dan melepaskan ikat pinggang kulit dari celana suaminya, lalu meletakannya diatas tempat tidur.


Tangan Yurina kembali mengulurkan tangannya, membuka pengait celana panjang suaminya, setelah terbuka, dengan sangat hati - hati ia menurunkan retsleting kebawah. Ternyata retsleting tak mau berkerjasama dengan wanita itu, tiba - tiba ngadat ditengah - tengah, tak bisa dinaikan maupun diturunkan.


Yurina berusaha hingga beberapa detik kemudian, tanpa disengaja tangannya menekan benda dibalik kain celana itu. Akhirnya retsleting berhasil terbuka, Yurina merasa lega lalu menurunkan celana panjang suaminya itu dengan cepat. Namun matanya melihat boxer yang dikenakan suaminya terlihat sesak dan penuh.

__ADS_1


Dengan refleks Yurina memejamkan matanya dan segera berbalik.


Moranno yang menyadari juniornya beraksi buru - buru masuk ke kamar mandi, niat hati menjahili isterinya itu, ternyata dia sendiri yang terjebak dan terpakasa bersolo di kamar mandi seorang diri.


__ADS_2