
"Bibi Nani, apa tuan Moranno belum bangun?" Tanya nyonya Agatsa saat melihat kursi Moranno masih kosong.
"Tuan Moranno sudah berangkat pagi-pagi sekali nyonya besar." Kata bibi Nani berhenti sejenak dari kesibukannya menyajikan sarapan pagi diatas meja makan.
"Apa dia sempat sarapan bi?" Tanya nyonya Agatsa sambil mendudukkan dirinya dikursi meja makan.
"Tidak nyonya besar, saya sudah menawarkan tuqn Moranno untuk sarapan dulu tapi tuan katanya tak ingin sarapan." Sahut bibi Nani jujur.
Nyonya Agatsa tampak terdiam mendengar ucapan bibi Nani. Tangannya lalu meraih ponselnya dan berusaha menelpon putranya. Beberapa saat ia menunggu jawaban namun yang ia harapkan tidak terjadi. Putranya tidak mengangkat teleponnya.
Baru kali ini putranya tak mengangkat teleponnya, sekalipun sibuk Moranno selalu meluangkan sedikit waktu menggangkat teleponnya. Perasaan khawatir nyonya Agatsa menyerangnya begitu saja.
"Bibi apakah tuan Moranno tadi mengatakan sesuatu sebelum pergi?"
"Tidak nyonya besar, tuan Moranno tidak mengatakan apapun. Tapi....." Bibi Nani nampak ragu meneruskan kata-katanya.
"Tapi apa bi?" Tanya nyonya Agatsa nampak penasaran dengan kalimat bibi Nani yang terputus.
"Tuan Moranno tampak tidak seperti biasanya nyonya....."
"Maksud bibi tidak seperti biasanya bagaimana?" Tanya nyonya Agatsa semakin penasaran.
"Tuan terlihat kusut, raut wajahnya juga terlihat begitu muram. Dan.... dan.... tadi pagi saya melihat pakaian yang tuan Moranno kenakan adalah pakaian yang ia kenakan saat pulang kerja tadi malam nyonya besar, dan itu terlihat sudah kusut. Saya tidak berani memberitahu tuan, saya takut tuan marah pada saya nyonya besar." Ujar bibi Nani sedikit risau pada sang majikannya.
Nyonya Agatsa sempat termangu mendengar penuturan sang kepala pelayannya itu. Moranno dan dirinya memang pernah mengalami goncangan hidup saat mendiang tuan Agatsa suaminya meninggal disusul insiden kepergian putrinya. Namun Moranno yang masih terbilang sangat muda diusia dua puluh dua tahun tetap tegar meneruskan perusahaan milik ayahnya mendiang tuan Agatsa.
Nyonya Agatsa sangat mengingat masa-masa itu, dimana Moranno mendukungnya mengembangkan perusahaan milik keluarga mereka dengan kerja keras tak kenal menyerah sambil menyelesaikan pendidikannya diluar negeri.
Selain itu putranya itu adalah seorang pria yang sangat perduli pada penampilannya. Ia selalu tampil rapi dan wangi walaupun hanya dirumah.
Nyonya Agatsa lalu memulai sarapannya seorang diri tanpa ada seorangpun yang menemaninya. Meja makan yang besar dan dipenuhi berbagai aneka sarapan tidak membuatnya menikmati sarapan yang begitu melimpah.Perasaan kesepiannya tiba-tiba menghampirinya.
***
"Selamat pagi asisten Rudi." Sapa sekretaris Fhani saat asisten Rudi melintas didepan mejanya.
"Iya, selamat pagi sekretaris Fhani." Sahut asisten Rudi yang sudah berada didepan pintu ruang kerja Moranno. Ia memasukan anak kunci ditangannya kelubang kunci, namun pintunya ternyata tidak terkunci.
"Sekretaris Fhani... Apakah kau melihat seseorang masuk keruang tuan Moranno?" Tanya asisten Rudi keheranan melihat pintu ruangan majikannya tidak terkunci.
"Tidak ada. Saya datang lebih awal, dan dari tadi belum ada yang kemari selain saya dan asisten Rudi. Memangnya ada apa asisten Rudu." Kata sekretaris Fhani sambil melangkah mendekati asisten Rudi yang masih berdiri didepan pintu ruang kerja Moranno.
"Pintunya tidak terkunci. Kau ingatkan sekretaris Fhani tadi malam kita sudah menguncinya dengan benar?"
__ADS_1
"Iya, kau benar asisten Rudi. Buka saja, kita periksa jangan sampai ada yang hilang, tuan nanti bisa menyalahkan kita." Sambung sekretaris Fhani.
Asisten Rudi lalu buru-buru menekan gagang pintu lalu dengan cepat mendorong pintu ruangan. Asisten Rudi terlihat terkejut hingga terpana saat pintu sudah terbuka lebar, demikian pula halnya dengan sektetaris Fhani.
Keduanya hingga tak terasa sampai ternganga didepan pintu melihat siapa yang ada didalam. Seseorang yang sangat mereka kenal tetapi hampir tak mereka kenal. Sementara orang yang berada didalampun sedang menatap mereka juga dengan tatapan kosong.
Sesaat lamanya mereka ada pada posisi itu, hingga akhirnya salah satu dari mereka segera tersadar.
"Tuan, tuan Moranno apakah anda disana?" Tanya asisten Rudi yang tak tahu harus berkata apa.
Orang yang sedang duduk dimeja kerja itupun hanya terdiam tanpa bergerak dengan tetap menatap kearah mereka dengan tatapan kosongnya.
Asisten Rudi dan sekretaris Fhani berpandangan satu sama lain, keduanya bingung harus berbicara atau melakukan apa pada kondisi seperti itu. Mereka hanya bisa saling menyenggolkan punggung mereka satu sama lain mengisyaratkan supaya salah satu dari mereka melakukan sesuatu.
"Apa yang kalian lakukan didepan pintu kerjaku." Suara pria yang duduk dimeja kerja tiba-tiba mengejutkan keduanya.
"Ma.... maafkan kami tuan." Keduanya spontan berbicara bersamaan.
"Ayo segera berkerja." Ucap pria yang duduk dimeja yang ternyata adalah Moranno.
"Tuan... sejak kapan tuan ada disini, dan dari mana tuan bisa masuk?" Tanya asisten Rudi yang masih terpana.
"Pertanyaan aneh, apa aku harus menjawabnya asisten Rudi. Iya tentu saja aku masuk melewati pintu ditempat kalian berdua berdiri itu. Apa kalian pikir aku hantu yang tiba-tiba saja bisa muncul dimana saja, hmmm!"
"Ma... maafkan kami tuan, seingat saya, saya sudah menguncinya tadi malam." Sahut asisten Rudi lagi terbata-bata.
"Oh iya, saya lupa tuan, mungkin saya terlalu banyak pikiran." Ujar asisten Rudi sekenanya saja.
"Saya saja yang banyak pikiran tidak lupa asisten Rudi. Sudahlah, sekarang kalian kembali bekerja, ada banyak yang harus kita selesaikan hari ini."
"Baik tuan." Keduanya lalu segera menuju tempat kerjanya masing-masing. Sekretaris Fhani menuju mejanya yang ada diluar ruangan Moranno. Sedangkan asisten Rudi kemejanya yang berada disudut ruang kerja Moranno.
"Tuan, hari ini jam sepuluh pagi kita ada pertemuan diruang meeting lantai lima dengan tuan Harry mengenai proyek kerjasama pembangunan rumah sakit yang ada dipinggiran kota. Selanjutnya kita akan meninjau langsung pembangunan yang sedang berjalan."
"Baiklah... Persiapkan berkas-berkasnya."
"Baik tuan." Asisten Rudi segera mengambil berkas-berkas yang diperlukan dari dalam lemari berkas yang ada disisi meja kerjanya.
"Asisten Rudi... Apa ada perkembangan baru tentang isteriku?" Tanya Moranno ditengah kesibukan asistennya itu.
"Belum ada tuan. Tapi pihak kepolisian, juga orang-orang kita yang telah dikerahkan masih terus berupaya, dan mereka selalu memberi kabar pada saya tuan. Dan juga saya sudah berpesan kepada mereka bila ada hal-hal yang baru bisa langsung menyampaikannya kepada tuan."
"Baik, terima kasih asisten Rudi. Saya akan kerumah sakit dulu untuk menemui Pak Kasan dan bibi Nur, hari ini mereka akan memberi kesaksian dikantor polisi mengenai penculikan isteriku kemarin."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pertemuan kita dengan tuan Harry jam sepuluh pagi ini tuan."
"Saya akan kembali sebelum pertemuan kita dimulai. Persiapkanlah semua yang diperlukan dalam pertemuan nanti." Kata Moranno sambil melangkah menuju pintu keluar.
"Baik tuan....."
"Tuan....." Asisten Rudi tampak ragu mengatakan sesuatu pada majikannya itu.
"Ada apalagi asisten Rudi?" Moranno menghentikan langkahnya didepan pintu keluar.
"Tuan...."
"Cepat katakan, saya sedang terburu-buru."
"Itu tuan... Apa tidak sebaiknya tuan berganti pakaian."
"Maksudmu?" Moranno mengernyitkan keningnya.
"Maafkan saya tuan.... Pakaian tuan tampak sedikit lusuh, sepertinya pakaian yang tuan kenakan adalah pakaian yang tuan kenakan kemarin."
"Benarkah seperti itu? Ini memang pakaian yang kukenakan kemarin. Lagi pula aku tak membawa pakaian ganti kekantor hari ini."
"Saya bisa memesannya seperti biasa tuan."
"Terima kasih asisten Rudi. Itu tidak perlu. Apa kau berpikir kau isteriku. Hanya isteriku yang boleh perhatian seperti itu padaku."
"Saya tidak bermaksud demikian tuan."
"Sudahlah.... Apa kau ingin mendapatkan Surat Peringatan, hmmm?"
" Tidak tuan. Saya takut, terakhir saat saya tidak memberitahu ada cap dipipi tuan, saya mendapat Surat Peringatan. Jadi sekarang saya berusaha untuk memberitahu" Sahut asisten Rudi cepat.
"Sekarang, karena kau telah berani memberi tahuku, aku memberikanmu Surat Peringatan dua."
"Tapi tuan.... Salah saya apa??" Tanya asisten Rudi yang merasa dirinya dianggap salah.
"Salahmu.... Entahlah... Kau memberitahuku diwaktu yang salah. Dan kau harus ingat asisten Rudi....
Pasal satu : Boss tak pernah salah.
Pasal dua : Bila boss salah, kembali kepasal satu.
Apa kau mengerti asisten Rudi."
__ADS_1
"Iya tuan, saya memang harus mengerti." Sahut asisten Rudi pasrah.
"Bagus...." Moranno lalu beranjak meninggalkan ruangannya.