JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 135 " Itu artinya, mereka benar - benar putraku."


__ADS_3

"Selamat sore nyonya muda.... dan bibi Nur....." Sapa security membungkuk hormat.


"Selamat sore....." Balas Yurina dan bibi Nur secara bersamaan.


"Bibi Nur..... ada seorang pria, katanya keluarga anda dari dusun ingin bertemu, saya hentikan dulu sementara didepan. Mohon bibi Nur melihatnya lebih dulu, apakah benar pria itu keluarga bibi Nur." Kata security itu sambil menunjuk pos jaga.


"Baiklah, saya akan kesana bersama anda pak security." Sahut bibi Nur sekalian meminta ijin pada Yurina.


Yurina menganggukkan kepalanya mempersilahkan bibi Nur mengikuti security untuk menemui pria yang dimaksud.


Yurina membawa kedua bayinya yang sedang duduk dalam keretanya masing - masing kedekat kursi taman yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.


Kedua bayi itu asik berceloteh dengan dirinya sendiri sambil memainkan mainannya. Sesekali mereka menggigit - gigit mainan yang berbentuk ikan kenyal itu.


Dari kejauhan Yurina melihat seorang pria yang cukup tinggi seperti Moranno suaminya sedang berbicara dengan bibi Nur, mereka terlihat begitu akrab. Yurina nampak penasaran melihat keakraban antara bibi Nur dengan pria tinggi itu.


Mobil yang sangat dikenal Yurina tiba - tiba datang dan berhenti sejenak di dekat bibi Nur dan pria itu berdiri. Terlihat mereka seperti sedang bercakap - cakap.


Tidak menunggu lama, mobil itu kembali bergerak maju memasuki halaman dan berhenti tepat didepan rumah besar itu diikuti satu mobil dibelakangnya.


Beberapa pengawal Moranno segera turun dari mobil belakang dan membukakan pintu mobil untuk Moranno dan nyonya Agatsa. Setelahnya mereka berpamitan dan membungkuk hormat lagi lalu kembali masuk kemobil belakang.


Perlahan mobil itu bergerak menuju pintu keluar dan meninggalkan area mansion mewah keluarga Agatsa.


Yurina mendekati Moranno dan nyonya Agatsa yang masih berdiri dihalaman sambil membawa kedua bayinya yang duduk dalam keretanya.


"Selamat sore nyonya besar....."Sapa Yurina membungkuk hormat.


"Hmmm....." Nyonya Agatsa hanya menganggukan kepalanya lalu mendekati para bayi yang memandang kearahnya.


"Wah.... cucu - cucu oma sudah wangi dan ganteng." Ucap nyonya Agatsa sambil mencium bayi Billy dan bayi Willy bergantian. Kedua bayi itu berbicara dengan bahasa mereka pada nyonya Agatsa yang mencium mereka dengan perasaan gemes.


Moranno yang melihat hal itu segera mendekati Yurina dengan langkahnya yang berhati - hati.


"Sayang....." Moranno mencium kening isterinya itu lembut.


"Kau sudah lebih kuat berjalan suamiku....?" Tanya Yurina sambil memperhatikan kaki Moranno.


"Iya sayang.... Aku berusaha melatihnya, tidak menggunakan kursi roda lagi. Rasanya lebih nyaman seperti ini dibandingkan duduk dikursi roda itu terus - menerus."

__ADS_1


"Syukurlah suamiku, tapi tetap berhati - hati...." Ucap Yurina nampak senang.


Sebuah kendaraan angkutan umum masuk dan berhenti didekat mobil nyonya Agatsa.


Seorang pria tinggi berkulit sawo matang dan bibi Nur turun dari angkutan umum itu.


Keduanya membungkuk hormat pada nyonya Agatsa, Moranno, dan juga Yurina yang tengah berdiri menandang kearah mereka.


Pria tinggi itu lalu meraih tangan nyonya Agatsa dan menciumnya dengan hormat.


Setelahnya, pria tinggi itu mendekati Moranno yang berdiri bersama Yurina.


Moranno langsung merangkul dan memeluk pria yang sama tingginya dengan dirinya itu sambil keduanya tertawa hangat.


"Mas.... ini isteriku Yurina....., sayang ini mas Arta, putra bibi Nur, yang berkerja sebagai seorang guru di dusun.


"Salam kenal mas Arta...." Sapa Yurina sambil menyatukan kedua tangan didadanya.


"Salam kenal juga nyonya muda....." Balasnya sambil menyatukan kedua tangannya juga didadanya.


"Maafkan saya nyonya besar dan juga tuan Moranno, karena baru hari ini bisa memenuhi permintaan nyonya besar untuk datang berkunjung kemari yang di sampaikan lewat ibu saya. Maklumlah, karena baru saja dipindah tugaskan ke dusun, membuat saya harus membenahi banyak hal. Selain itu juga, isteri saya baru saja melahirkan anak keriga kami, seorang bayi perempuan tiga bulan yang lalu." Tutur Arta panjang lebar.


"Terima kasih tuan Moranno." Ucap Arta sambil berjabat tangan dan membalas senyum hangat Moranno.


Nyonya Agatsa dan Yurina pun turut mengucapkan selamat pada Arta putra bibi Nur itu.


"Apakah ini putra kembar anda tuan Moranno?" Tanya Arta saat melihat dua bayi kembar yang masih sibuk menggigit - gigit mainan ikannya didalam kereta bayi tanpa perduli dengan orang - orang disekitarnya.


"Iya mas, usia mereka baru memasuki tujuh bulan ini." Sahut Moranno yang ikut memperhatikan kedua bayi gembulnya itu.


"Mereka terlihat sangat sehat tuan, jarinya jempol semua. Dan wajahnya sangat mirip dengan anda tuan Moranno." Ucap Arta sambil memperhatikan wajah bayi - bayi itu.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu mas. Itu artinya, mereka benar - benar putraku." Kata Moranno berseloroh sambil tertawa ringan.


Yurina yang mendengar perkataan Moranno mencubit pinggang suaminya itu, membuat mata Moranno tiba - tiba membola lalu terlihat meringis kesakitan.


Arta, nyonya Agatsa, dan bibi Nur yang melihat tingkah Moranno dan Yurina berusaha menahan senyum mereka.


"Tuan Moranno, maafkan saya tidak sempat menengok anda saat sedang sakit. Saya turut gembira melihat anda sekarang sudah terlihat lebih sehat dan pulih. Bahkan bertambah ganteng saja." Ungkapnya lagi sambil tertawa ringan.

__ADS_1


"Mas Arta bisa saja. Terima kasih banyak mas.....tidak apa - apa mas Arta, saya sangat maklum mas. Namanya juga pindah tugas ditempat yang baru, pasti banyak hal yang harus dibenahi, ditambah lagi dengan kelahiran putrinya pasti mas Arta sangat sibuk." Ucap Moranno turut tertawa ringan.


"Nak Arta, saya sangat senang kita bisa bertemu lagi. Semenjak nak Arta sibuk menjadi guru, tidak pernah muncul - muncul lagi dirumah ini. Padahal rumah ini selalu terbuka untukmu nak Arta." Ucap nyonya Agatsa ikut bicara.


"Iya nyonya besar terima kasih.... Maafkan saya, karena menjadi seorang guru membuat saya harus banyak belajar supaya jangan sampai saat anak murid saya bertanya pada saya gurunya, saya tidak sanggup menjawab. Itu pasti sangat memalukan...." Seloroh Arta kembali tertawa.


"Kau terlalu merendah nak Arta, Saya sangat mengenalmu, kau itu anak yang pintar dan cerdas, jadi tidak mungkin kau tidak bisa menjawab pertanyaan para anak muridmu itu." Sahut nyonya Agatsa turut tertawa.


Yurina yang sedari tadi menjadi pendengar, dapat merasakan bila putra bibi Nur itu terlihat Akrab dengan suami dan juga ibu mertuanya.


"Oya, saya membawa buah tangan dari dusun." Kata Arta sambil buru - buru ke mobil angkutan umum yang ia sewa dan menurunkan banyak oleh - oleh dari dalamnya dibantu oleh supir angkutan umum itu.


"Apa ini...... banyak sekali bawaanmu nak Arta...." Kata nyonya Agatsa yang terperangah melihat barang - barang yang sedang diturunkan begitu banyak.


"Ini semua hasil kebun saya nyonya besar. Seorang warga menjual kebunnya pada saya saat saya baru pindah didusun itu nyonya besar." Sahut Arta sambil masih menurunkan semua bawaannya dari angkutan umum.


"Apa kau tidak ingin menjualnya saja, ini kan sangat banyak." Kata nyonya Agatsa yang melihat tumpukkan besar bermacam - macam buah - buahan lokal dan bermacam - macam sayur - sayuran lokal.


"Tidak nyonya, ini khusus saya bawa untuk nyonya besar, tuan Moranno dan yang lainnya yang ada dirumah besar ini."


"Lagi pula yang masih belum dipetik di kebun masih banyak nyonya besar." Ucap Arta yang baru selesai menurunkan barang - barang bawaannya.


"Kalau begitu terima kasih banyak nak Arta untuk semua pemberianmu ini, sebenarnya kau tidak perlu repot - repot begini." Ucap nyonya Agatsa tulus.


"Sama - sama nyonya besar. Saya sama sekali tidak merasa repot nyonya." Ucapnya lagi.


"Pak Guru Arta, saya permisi dulu....." Kata supir angkutan umum itu.


"Baik pak.... Terima kasih banyak....." Sahut Arta pada supir yang telah mengantarkannya.


Supir itu lalu pamit pada semua orang yang ada ditempat itu dengan sikap hormatnya.


"Bibi Nur ajaklah putramu Arta istirahat dipaviliun, dia pasti lelah dari perjalanan jauhnya. Untuk semua buah tangan putramu, mintahlah para pelayan laki - laki yang membawanya masuk."


"Baik nyonya besar. Ayo Arta, ikutlah dengan ibu." Ajak bibi Nur pada putranya itu.


"Saya permisi dulu nyonya besar, tuan Moranno dan nyonya muda." Pamit Arta dengan membungkuk hormat.


"Iyaa nak Arta.... Anggaplah seperti dirumah sendiri." Ucap nyonya Agatsa lagi masih tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2