JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 171 "Sepertinya nyonya masuk angin tuan."


__ADS_3

"Sayang...... malam ini aku sudah dua kali mandi.... sekarang kau memintaku untuk mandi lagi.... bagimana kalau kau melakukan ini sampai pagi padaku....aku akan sa....." Belum selesai Moranno berbicara, dengan tergesa - gesa, Yurina kembali bangkit dari tempat tidur dan dengan setengah berlari menuju wastafel yang ada didalam kamar mandi.


Kembali Yurina memuntahkan apa yang masih tersisa dalam perutnya.


"Sayang..... kau kenapa? Kau pasti sakit....." Moranno yang menyusul Yurina kekamar mandi berusaha membantu isterinya itu dengan memijat tengkuknya.


Keringat dingin mengucur dari kening Yurina, wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya.


Moranno segera memberikan segelas air hangat dan segera membantu meminumkannya pada Yurina. Napas isterinya itu terdengar memburu membuat Moranno semakin khawatir.


"Apakah kau masih ingin muntah sayang....?" Wajah Moranno nampak khawatir.


"Sudah tidak lagi...." Napas Yurina masih terdengar terengah - engah.


"Ayo, aku gendong kau ketempat tidur....." Tanpa persetujuan Yurina, Moranno segera membopong isterinya itu kembali kekamar dan membaringkannya dengan hati - hati diatas tempat tidur.


"Sayang.... apa yang kau rasakan?" Tanya Moranno mentap wajah Yurina yang memucat.


"Kepalaku masih pusing......" Jawab Yurina dengan suara lemahnya.


"Apakah kau masih mual?" Moranno masih menatap lekat wajah isterinya itu.


"Masih sedikit, menjauhlah dariku suamiku....aku tidak tahan mencium aroma tubuhmu." Pinta Yurina dalam suara lemahnya.


Moranno sedikit ragu, namun ia tidak merasa tersinggung, malahan kondisi Yurina membuatnya tidak tega. Ia terpaksa bangkit dari tempat tidur dan meraih ponselnya diatas nakas.


Moranno mulai mencari nama seseorang, setelah menemukannya, ia langsung menelponnya.


"Iya tuan....."


" Segera kemari, nyonya sakit, sepertinya masuk angin....." Ucap Moranno sambil memandang Yurina yang berbaring lemah dari tempat ia berdiri.


"Baik tuan, saya segera kesana....."


Moranno menutup sambungan teleponnya, lalu kembali mencari nama seseorang diponselnya, setelah menemukan nama yang ia cari, ia segera menyambungkan teleponnya.


"Hallo tuan Moranno....."


"Isteri saya sedang sakit.....bisakah dokter datang kemari untuk memeriksa isteri saya.....?" Moranno masih menatap Yurina yang mulai mengantuk dari tempat ia berdiri.


"Maafkan saya tuan, saya masih dalam perjalanan dari luar kota, besok pagi - pagi saya baru tiba. Apa keluhan nyonya tuan......?" Tanya dokter Herman dari sambungan telepon.


Tok..... Tok..... Tok......

__ADS_1


"Sebentar ya dok, saya buka pintu kamar dulu." Ucap Moranno sambil berjalan menuju pintu.


"Selamat malam tuan......" Sapa bibi Nur didepan pintu.


"Masuklah bibi Nur..... Bagaimana Billy dan Willy, siapa yang menemani mereka?" Tanya Moranno sambil menepi memberi ruang supaya bibi Nur bisa masuk.


"Tuan muda Billy dan tuan muda Willy sudah tertidur, dan ada bibi Salu yang menemani mereka tuan." Jelas bibi Nur sambil membungkuk hormat.


"Baiklah..... tolong pijat nyonya dulu ya....."


" Baik tuan......" Bibi Nur segera mendekati Yurina di pembaringannya yang masih belum tertidur walau matanya terlihat sudah mengantuk.


"Dokter Herman......Maafkan saya..... tadi sempat terputus...."


"Tidak masalah tuan, silahkan dilanjut.... Apa keluhan nyonya tuan.....? Tanya dokter Herman dari seberang telepon.


"Katanya.... kepalanya pusing..... mual.... juga sudah muntah dua kali. Kami baru pulang dari pesta pernikahan sahabatnya, jadi semua steak yang dimakannya sudah dimuntahkannya semua. Apa mungkin isteri saya salah makan, atau masuk angin barangkali dok.....?" Tanya Moranno dari sambungan teleponnya.


"Kalau dari gejalanya.... sepertinya nyonya masuk angin tuan...., namun untuk lebih pastinya, bisa dilakukan pemeriksaan tuan."


"Kira - kira, jam berapa dokter tiba....?"


"Sekarang jam 03.40. Sekitar jam 06.20 saya baru bisa tiba tuan."


"Baik, terima kasih dokter...."


Setelah sambungan telepon terputus, Moranno kembali meletakkan ponselnya diatas nakas.


Moranno mendekati tempat tidur, ia tidak berani terlalu dekat, hanya ditepi tempat tidur supaya isterinya itu tidak terganggu dengan kehadirannya.


"Sayang..... bagaimana kalau kita kerumah sakit sekarang, dokter Herman masih dalam perjalanan dari luar kota, besok pagi baru tiba disini." Ucap Moranno memandang wajah Yurina yang memejamkan matanya. Sementara bibi Nur duduk disisinya sambil memijat bagian - bagian tubuh Yurina dibalik selimutnya.


"Tidak usah suamiku..... aku sudah sangat mengantuk, lagi pula mual - mualku sudah berkurang setelah aku memuntahkan semua isi perutku tadi. Bibi Nur juga sudah memijatku. Kita tunggu dokter Herman saja yang datang besok pagi." Walau dengan susah payah, Yurina merasa lemas masih bisa menjawab perkataan Moranno padanya.


"Bagaimana kalau kita memanggil dokter Rosalie saja kemari sekarang?" Tanha Moranno lagi.


"Tidak usah suamiku..... lagi pula sekarang sudah hampir jam empat pagi." Ucap Yurina melirik kearah jam dinding kamar mereka.


"Aku sangat mengantuk, bibi pulang saja kekamar bibi atau kekamar Billy dan Willy, aku sudah tidak apa - apa....." Ucap Yurina yang terlihat memang sangat mengantuk.


"Baiklah nyonya......" Bibi Nur lalu merapikan selimut Yurina dan membereskan minyak pijat yang digunakan untuk membalur nyonyanya itu dan mengembalikan semuanya pada kotak obat yang ada didekat meja rias Yurina.


"Saya permisi dulu tuan dan nyonya...." Pamit bibi Nur sambil membungkuk hormat.

__ADS_1


"Terima kasih banyak bibi....." Ucap Yurina sambil berbaring.


"Iya sama - sama nyonya......" Moranno mengantarkan bibi Nur hingga kepintu kamar, lalu menutup dan menguncinya dari dalam.


Moranno mendekati Yurina yang sudah memejamkan matanya, napasnya terlihat begitu teratur menandakan dirinya sudah tertidur lelap. Wajahnya masih terlihat memucat.


Setelah beberapa saat lamanya memandang isterinya itu, Moranno beranjak menuju lemari. diambilnya selembar selimut yang terlipat rapi lalu membawanya menuju sofa dekat pintu menuju balkon.


Perlahan Moranno membaringkan tubuhnya disana, lalu menyelimuti dirinya dengan selimut yang diambilnya dari lemari.


Kembali dipandangnya Yurina yang berbaring seorang diri diatas tempat tidur. Ia mengingat saat isterinya itu merasa mual saat berada didekatnya, sebau itukah dirinya, pikir Moranno dalam hatinya. Ah, mungkin saja pengaruh isterinya yang sedang masuk angin, karena sebelumnya Moranno ingat isterinya itu juga mengeluh bahwa dirinya merasa kedinginan.


Moranno berusaha berpikir positip mengingat hal - hal yang ia alami bersama isterinya malam ini. Rasa kantuk yang menyerangnya, ditambah dengan rasa lelah yang harus menghadapai dan menuruti keinginan Yurina, membuat Moranno akhirnya terlelap.


...•••...


"Haacciiiihhhh...... Hhaaccihhhh......"Moranno bersin beberapa kali saat tiba dimeja makan.


"Moranno..... Apakah kau sakit?" Tanya nyonya Agatsa segera mendekatinya, lalu memberikan tissue dari atas meja.


"Tidak mom.... aku sepertinya sedikit flu saja." Moranno membersihkan wajahnya dari cairan yang menempel akibat bersinnya.


"Sudah minum obat....?" Nyonya Agatsa mengusap punggung putranya yang sudah berpakaian rapi.


"Belum mom, paling sebentar lagi baikan, ini flu ringan saja." Ucap Moranno supaya ibunya tidak khawatir.


"Dimana Yurina......??" Tanya nyonya Agatsa saat melihat Moranno seorang diri datang kemeja makan.


"Masih tidur....." Jawab Moranno singkat sambil menarik kursi untuknya.


" Apa Yurina sakit? Tidak biasanya ia melewatkan sarapan pagi bersama. Dan kenapa wajahmu kusut Moranno?? Apa kalian sedang bertengkar?" Pertanyaan beruntun keluar begitu saja dari mulut nyonya Agatsa yang memperhatikan wajah putranya sejak ia sampai dimeja makan.


"Yurina..... sepertinya dia sedang sakit. Nanti dokter Herman akan kemari."Ucap Moranno sambil mengambil beberapa menu makanan dari piring saji dan memasukan kedalam piringnya.


"Sakit apa isterimu Moranno?" Tanya nyonya Agatsa kembali khawatir.


" Entahlah mom, mungkin masuk angin. Tadi malam selepas pulang dari pesta pernikahan sahabatnya yang bernama Lisa. Ia memintaku mandi berulang - ulang kali, katanya aku bau....."


Nyonya Agaysa mengernyitkan keningnya mendengar penuturan Moranno dari tempat dududuknya. Ia sangat mengenal putranya itu, Moranno selalu menjaga penampilannya juga kebersihan tububnya, jadi tidak mungkin putranya itu bau seperti dikatakan menantunya, pasti ada yang tidak beres pikirnya.


"Karena aku bau itulah.... Yurina mual dan memuntahkan semua makanan yang telah ia makan dipesta itu....." Jelas Moranno menambahkan.


"Lanjutkan saja makanmu putraku..... Nanti mommy akan melihat isterimu itu dikamar." Ucap nyonya Agatsa yang menyimpan dugaannya didalam hatinya.

__ADS_1


"Iya mom....."


Moranno dan nyonya Agatsa, melanjutkan sarapan mereka pagi itu dengan pikirannya masing - masing."


__ADS_2