
Diletakkannya kepalanya pada dada Moranno. Dipeluknya tubuh Moranno yang kerempeng dengan satu tangannya, sementara tangan satunya lagi menyentuh rambut kepala Moranno.
Detak jantung Moranno terdengar beraturan.
"Suamiku.... Kau pasti segera bangun dari komamu. Adik perempuanmu.....dia sudah datang. Dia yang akan membantumu..... Semangatlah.... Semangatlah untuk sembuh suamiku. Kami semua merindukanmu." Air mata Yurina kembali mengalir.
"Aku tidak akan bisa lebih lama lagi melihatmu seperti ini. Aku tidak puas hanya melihat wajahmu. Aku ingin kau juga bisa melihaku lagi, melihat putra - putramu. Jangan biarkan aku membesarkan mereka seorang diri. Mereka juga butuh dirimu sebagai daddy mereka. Aku.... Aku jauh lebih membutuhkanmu suamiku."
Yurina menahan tangisnya yang begitu menyesak didadanya, sehingga tubuhnya berguncang - guncang membuat tubuh Moranno ikut berguncang.
Yurina tidak menyadari Margareth sudah ada didalam ruang rawat Moranno kembali dan mendengarkan semua perkataannya.
Yurina terus menangis didada Moranno sambil memeluk tubuh suaminya itu.
"Kakak.... jarimu bergerak...!." Suara Margareth yang setengah berteriak membuat Yurina kaget dan spontan memegang tangan Moranno.
"Iya.... iya.... jari - jarinya semua bergerak." Teriak Yurina tak kalah nyaring sambil berdiri. Wajahnya begitu senang.
Margareth segera menghampiri Moranno, ia segera memeriksa kondisi Moranno. Digerak - gerakkannya tangannya, namun tangan itu tidak merespon, terlihat lunglai tanpa tenaga.
Yurina yang memperhatikan hal itu kembali terduduk lesu. Ia kembali menangis. Kali ini ia menangis dengan suara yang kencang. Tangisnya yang nyaring membuat Margareth terpaku ditempatnya.
Pengawal jaga diluarpun tidak ada yang berani bergerak mendengar tangisan majikannya.
"Suamiku....." Tiba - tiba Yurina bangkit dari duduknya. Ia lalu mengguncang - guncangkan punggung Moranno membuat Margareth begitu terkejut melihat tindakkannya.
"Bangun suamiku.....Bangunlah....." Seru Yurina nyaring ditelinga Moranno.
"Hentikan tindakan konyolmu itu.... Kau bisa membuat tulang - tulang belakangnya bergeser!" Teriak Margareth khawatir.
Yurina tidak mendengarkan, ia tetap mengguncang - guncangkan tubuh Moranno semakin kencang.
"Bangun suamiku.... bangun.....! Aku tahu kau sudah bangun! Ayo.... buka matamu suamiku.... buka matamu....!" Suara Yurina semakin nyaring.
"Sudah kukatakan.... hentikan tindakkan konyolmu.... Kau membahayakan kakakku....." Teriak Margareth tidak kalah nyaring.
Yurina tak perduli, ia seolah - olah tidak mendengarkan teriakan Margareth padanya.
Ia tetap mengguncang - guncangkan tubuh Moranno sambil meneriakkan kata - kata yang itu - itu juga berulang kali.
Para pengawal jaga yang mendengar kegaduhan didalam menjadi serba salah ingin masuk.
__ADS_1
Tiba - tiba terdengar suara seseorang terbatuk. Yurina dan Margareth spontan menghentikan teriakan - teriakan mereka masing - masjng dan saling berpandangan satu sama lain. Karena keduanya yakin itu bukan suara mereka, melainkan suara seorang pria.
Kedua pasang mata mereka kompak menatap kearah yang sama, wajah Moranno.
Pria yang terbaring itu sedang terbatuk - batuk dan matanya sudah terbuka. Mata keduanya membola tak percaya.
Tangan Yurina dengan sigap menekan bel darurat didekatnya berkali - kali tanpa henti.
Suasana begitu gaduh disebabkan suara bel darurat yang tak berhenti berbunyi.
Para team dokter Rogen beegegas, bahkan mereka setengah berlari menuju ruang rawat keluarga Agatsa.
Para dokter dan suster yang sedang tak bertugas lainnya ikut bergegas, ingin mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi. Karena semua tenaga medis tanpa terkecuali telah mengetahui kondisi Moranno, pemilik rumah sakit dimana mereka berkerja.
Dokter Rosalie pun tidak ketinggalan ikut bergegas menuju ruang rawat Moranno.
Para pasien, dan pengunjung rumah sakit lainnya hanya bisa menatap heran pada para dokter dan suster yang setengah berlari menuju satu arah dan bertanya - tanya tentang apa yang telah terjadi.
"Apa yang terjadi nyonya muda??" Tanya dokter Rogen dengan wajah khawatir dari depan pintu, ia melihat dokter Margareth sedang memeriksa kondisi Moranno.
"Tuan Moranno sadar dokter.....! " Seru Yurina dengan suara nyaring.
Tatapan mereka langsung mengarah kewajah Moranno yang sudah terbuka matanya.
"Bagaimana dokter Margareth? Apa kondisinya stabil?" Tanya dokter Rogen sambil mendekat.
"Iya dokter, semuanya stabil... hanya fisiknya saja masih sangat lemah, lihat saja tubuhnya begitu kurus." Ucap Margareth yang baru saja selesai memeriksakan kondisi Moranno.
Dokter Rogen segera bergantian memeriksa kondisi Moranno. Seorang suster perawat mencatat semua hasil yang dikatakan dokter Rogen.
"Anda benar dokter Margareth, kondisi tuan Moranno stabil. Ini suatu keajaiban. Kita patut bersyukur pada Tuhan. Sesuatu yang rasanya mustahil terjadi, kini dijadikan Tuhan nyata pada tuan Moranno." Ucap dokter Rogen dengan wajah bahagia.
"Iya dokter, anda benar. Kita patut bersyukur. Saya pribadi pun sangat bersyukur kepada Tuhan, suami saya sudah sadarkan diri." Ucap Yurina tak kalah bahagia.
Semua yang hadir diruangan itupun turut bersyukur dengan penuh bahagia. Moranno yang koma sekian bulan lamanya kini telah sadar.
***
"Info terkini....."
"Kondisi tuan Moranno Agatsa sebagai pemilik rumah sakit Agatsa Hospital telah mempertaruhkan nama baik rumah sakit miliknya dalam merawat dirinya sendiri."
__ADS_1
"Bagaimana tidak, masyarakat luas sudah mengetahui keadaan tuan Moranno yang dikenal sebagai pengusaha muda dan pemilik kerajaan bisnis dinegeri ini sedang koma kurang lebih tiga bulan lamanya."
"Kini dengan sadarnya tuan Moranno, membuat rumah sakit Agatsa Hospital akan lebih dipercaya oleh masyakakat luas."
"Demikian berita terkini, sore ini."
Nyonya Agatsa yang melihat siaran langsung dari ponsel pintar milik asisten Rudi begitu terkejut.
"Asisten Rudi, lanjutkan dan bereskan semua pekerjaan ini. Aku akan segera kerumah sakit." Ucap nyonya Agatsa sambil meraih tasnya dan pergi dengan terburu - buru.
"Baik nyonya besar." Sahut asisten Rudi yang sudah tidak berkonsentrasi lagi berkerja saat mengetahui majikannya itu sudah sadarkan diri. Hatinya begitu bahagia.
"Sekretaris Fhani tolong bereskan berkas - berkas ini, rasanya aku lelah sekali. Mau tidur panjang saja." Ucapnya sambil membereskan tas kerjanya.
Sekretaris Fhani yang baru masuk keruangan itu dengan membawa berkas ditangannya nampak keheranan. Ia memang tahu, asisten Rudi begitu bekerja keras selama ini sejak tuan mereka koma disebabkan musibah kecelakaan lalu lintas.
"Apa maksud anda asisten Rudi. Cukup tuan Moranno saja yang belum sadarkan diri begitu lama, jangan anda juga yang menyusul. Kasihan nyonya besar, tidak ada yang membantunya." Ucapnya mengingatkan.
Asisten Rudi tertawa kecil, ia baru menyadari bahwa sekretaris Fhani belum mengetahui berita terbaru tentang tuan mereka.
"Kemari sekretaris Fhani...." Panggil asisten Rudi. Sekretaris Fhani lalu mendekat.
"Lihatlah ini...." Asisten Rudi memutar ulang siaran langsung yang ia rekam diponsel pintarnya.
Sekretaris Fhani lalu memperhatikan ponsel pintar milik asisten Rudi dèngan penuh minat ditangannya.
Asisten Rudi dapat melihat wajah sekretaris Fhani yang awalnya lesu berubah menjadi berbinar.
"Bagaimana sekretaris Fhani, apakah kau sudah tahu mengapa aku tadi mengatakan ingin tidur panjang?" Ucap asisten Rudi sambil mengambil ponsel pintarnya dari tangan sekretaris Fhani lalu memasukkan kesaku celananya.
Sekretaris Fhani mengangguk tanda mengerti lalu tersenyum lebar.
"Anda pikir... anda saja yang lelah dan ingin tidur panjang?? Saya juga asisten Rudi." Kata sekretaris Fhani sambil melempar berkas ditangannya keatas meja lalu melenggang pergi.
Asisten Rudi hanya bisa melongo melihat sekretaris Fhani yang pergi begitu saja.
♡♡♡ Ohh tuan Moranno, akhirnya anda bangun juga. Sumpah... author sempat bingung bagaimana momen pas nya bangunin si tuan mempesona itu.
Terima kasih untuk like dan komen para pembaca tersayangku😁👍🙏
Yukz... lanjut baca kisahnya....🙂😁🙏😁 ♡♡♡
__ADS_1