
"Suamiku..... aku masih mengantuk..... " Ujar Yurina dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka.
"Suami tampanku...... jangan menggerakan tubuhku terus, aku masih mengantuk....." Suara Yurina terdengar mulai kesal dari dalam selimut pada Moranno yang berusaha membangunkan dirinya dengan menggoyang - goyangkan tubuhnya.
Yurina sudah mulai terlelap lagi, namun tubuhnya kembali digerak - gerakkan semakin keras. Dengan rasa kesal yang sudah ia simpan sejak tadi, Yurina memaksa untuk membuka matanya walau masih terasa sangat berat.
Suamiku.....kau tau 'kan semalam aku kurang tidur....?? kenapa kau masih membangunkanku sepagi ini....??"Ucap Yurina kesal keluar dari dalam selimut. Lalu duduk ditempat tidurnya dengan mengerjap - ngerjapkan matanya. Sedetik kemudian, matanya membola saat melihat siapa yang membangunkannya.
"Kenapa?? Kaget??" Ucap nyonya Agatsa dengan mata tajamnya.
"Hm.....maafkan aku mom..... aku tidak tahu kalau mommy yang membangunkan aku.... aku pikir....."Suara Yurina terbata - bata. Rasa malu, takut, berpadu jadi satu, kenapa tidak. Ia tidak sengaja berkata kasar pada ibu mertuanya yang ia sangka suaminya.
"Kau pikir suamimu..... jadi begini sekarang sikapmu pada suamimu, hm....??" Ucap nyonya Agatsa dengan nada penuh tekanan.
"Maafkan aku mom..... aku hanya....." Yurina menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap wajah ibu mertuanya yang terlihat galak dimatanya.
"Hanya apa....?? Hanya mengatakan suamimu bau....dan memaksa suamimu mandi bolak - balik ditengah malam....sehingga membuat suamimu flu..... begitu.....??" Yurina terkesiap, ia tidak menyangka mertuanya tahu semuanya itu, hatinya tiba - tiba merasa kesal. Kenapa hal seperti itu saja harus suaminya sampaikan pada ibunya.
"Maafkan aku mom....aku tidak bermaksud begitu.... aku hanya pusing saat mencium aroma yang melekat ditubuh suamiku...." Yurina berusaha menjelaskan apa yang ia rasakan pada ibu mertuanya itu.
"Iya, mommy tahu....tapi tidak dengan cara harus menyuruh suamimu mandi di jam - jam tidur seperti tadi malam. Mommy harap kau tidak melakukannya lagi, masih banyak cara lain' kan? Moranno memang suamimu, tapi dia adalah putra mommy."
"Iya mom..... aku mengerti...." Ucap Yurina masih malu dan takut.
"Sekarang, kau harus sarapan. Bibi Nani sudah membuatkanmu sup." Nyonya Agatsa mengambil mangkuk sup dari nakas dan mulai menyuapi Yurina.
"Mom, aku bisa makan sendiri....." Ucap Yurina menatap wajah ibu mertuanya. Ia merasa sungkan bila ibu merrtuanya itu yang harus menyuapinya.
"Tidak usah banyak bantahan, dengan Moranno saja kau banyak maunya, biarkan mommy yang mengganti Moranno untuk mengurusmu pagi ini."
"Sekarang buka mulutmu....." Ucap nyonya Agatsa setengah memaksa.
Yurina terpaksa membuka mulutnya, menerima suapan pertama dari mertuanya. Baru saja Yurina akan menelan, sudah membuat perutnya merasa mual.
Tatapan tajam milik nyonya Agatsa, serasa menembus jantungnya, membuat Yurina harus menutup mulutnya dengan kedua tangannya supaya sup didalam mulutnya tidak tertumpah keluar.
Dengan sekuat tenaga, Yurina berusaha menelan sup yang ada dalam mulutnya.
"Mom.... bolehkah aku makan sendiri.....?" Pinta Yurina pada ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Sudah mommy, katakan.... pagi ini mommy yang akan mengurusmu. Ayo, buka lagi mulutmu yang lebar...." Ucap nyonya Agatsa seolah tidak perduli pada apa yang sedang Yurina rasakan.
Walau terpaksa, Yurina tetap membuka mulutnya dengan lebar. Setiap kali Yurina akan memuntahkan makanannya, nyonya Agatsa mendelikan matanya, membuat Yurina harus menahan keras rasa mualnya dan berusaha menelan makanannya hingga habis didalam mangkuk supnya.
Tok..... tok......tok.....
Yurina dan nyonya Agatsa sama - sama menoleh kearah pintu kamar, saat terdengar ketukan pintu.
Wajah Yurina berbinar, itu pasti Moranno suaminya, pikirnya.
"Siapa??" Tanya nyonya Agatsa setengah berteriak dari tepi tempat tidur, sementara Yurina bersandar pada tempat tidurnya.
"Saya nyonya besar..... bersama dokter Herman......" Suara bibi Nani dari balik pintu. Wajah Yurina yang tadinya berbinar kini berubah sayu dan kembali terlihat pucat.
"Masuklah......!" Perintah nyonya Agatsa.
Pintu perlahan terbuka, dokter Herman maauk lebih dahulu diikuti bibi Nani.
"Selamat pagi nyonya besar....." Sapa dokter Herman sambil membungkuk hormat diikuti bibi Nani.
"Selamat pagi juga dokter Herman, syukurlah anda segera datang. Tolong periksa menantuku ini...." Nyonya Agatsa berdiri dari tepi ranjang Yurina memberi ruang pada dokter Herman untuk memeriksa kondisi Yurina.
"Permisi nyonya....... apa yang sedang anda rasakan sekarang?" Tanya dokter Herman sambil mengeluarkan stetoskop dari dalam box yang dibawanya.
"Lemas, lelah, pusiinggg..... perut saya rasanya tidak enak dok....." Ucap Yurina sambil memikirkan apa yang sedang ia rasakan.
"Mual juga dok.... tadi dia selalu ingin memuntahkan makanannya...." Nyonya Agatsa ikut menambahkan.
Dokter Herman segera memeriksa kondisi kesehatan Yurina menggunakan stetoskop yang sudah ia pasang dikedua indera pendengarannya.
"Bibi Nani...... tolong antarkan mangkuk dan gelas kotor ini kembali kedapur." Perintah nyonya Agatsa pada bibi Nani yang berdiri tidak jauh darinya.
"Baik nyonya besar....." Bibi Nani bergegas menuju nakas, mengambil nampan yang berisi peralatan makan kotor dan segera membawanya keluar kamar menuju dapur.
Nyonya Agatsa kembali pokus memperhatikan apa yang dilakukan dokter Herman pada Yurina.
"Bagaimana dokter Herman....." Nyonya Agatsa nampak penasaran akan hasil pemeriksaan dokter keluarganya itu.
"Kapan terakhir kali nyonya haid?" Tanya dokter Herman sambil membereskan stetoskopnya dan memasukkannya kedalam box.
__ADS_1
Yurina nampak berpikir sejenak.
"Terakhir..... satu bulan yang lalu dokter......" Sahut Yurina jujur, sedetik kemudian mata Yurina membuka lebar dengan wajah berubah kaget.
"Maksud dokter..... saya hamil......?!!" Seru Yurina memastikan.
"Sebaiknya nyonya muda dibawa memeriksakan diri pada dokter Rosalie.....karena menurut pemeriksaan saya, tidak ada yang salah pada kesehatan anda nyonya."Ucap dokter Herman mengusulkan dengan wajah tenangnya.
"Menurut pemeriksaan anda dokter, apakah menantuku sedang hamil? katakan dokter?" Nyonya Agatsa menatap wajah dokter Herman menuntut penjelasan.
"Saya rasa begitu nyonya besar, dilihat dari gejalanya, dan juga keluhan yang dialami, nyonya muda sedang mengandung.....Untuk memastikannya lebih baik dilakukan pemeriksaan pada dokter Rosalie...... Selamat nyonya muda..... dan selamat nyonya besar, cucu anda akan bertambah lagi....." Ucap dokter Herman mengulas senyumnya.
"Yesss.....!!"Teriak nyonya Agatsa begitu girang sambil mengepalkan kedua tangannya dengan menekuk sikunya, membuat dokter Herman dan Yurina kaget, baru kali ini mereka melihat reaksi nyonya Agatsa yang begitu girang.
"Baik dokter.... sekarang juga saya akan membawa Yurina memeriksakan dirinya pada dokter Rosalie."
"Yurina, sekarang juga kau harus segera mandi, dan segera bersiap. Mommy yang akan menemanimu untuk memeriksakan diri." Perintahnya pada Yurina.
"Mom.....bolehkah aku menunggu suamiku saja untuk memeriksakan diri...??." Pinta Yurina. Wajah pucatnya terlihat tertekan dan takut bila ibu mertuanya itu akan menolak permintaanya.
"Tidak boleh.....Moranno sibuk berkerja, jangan merepotkannya, ada.mommy disini yang akan mengurus semuanya untukmu Yurina." Ucap nyonya Agatsa masih memaksa.
"Tapi aku dingin mommy......" Yurina memberi alasan.
"Dikamar mandi ada kran air hangat yang bisa kau atur menurut keinginan kulitmu Yurina, jangan manja....." Ucap Nyonya Agatsa masih memaksa.
Dokter Herman hanya menggeleng - gelengkan kepalanya saat melihat sikap antara ibu mertua dan menantunya itu terhadap satu sama lainnya.
"Nyonya besar, maafkan saya..... mohon anda jangan memaksa nyonya muda, lihat wajahnya yang pucat itu, ia sepertinya lelah dan perlu istirahat yang cukup....." Dokter Herman yang hanya membisu sejak tadi akhirnya angkat bicara karena tidak tega melihat Yurina yang tertekan.
Mendengar perkataan dokter Herman, nyonya Agatsa akhirnya terdiam, ia menatap wajah Yurina yang semakin memucat.
"Iya dokter.... maafkan saya......" Ucap nyonya Agatsa yang menyadari sikapnya yang terlalu berlebihan pada menantunya itu, sambil menatap kearah dokter Herman, lalu beralih pada Yurina.
"Maafkan mommy Yurina, mommy terlalu bersemangat mengurusmu, apalagi mendengar kau mengandung, membuat mommy ingin segera memastikan kau benar - benar hamil."
"Baiklah, mommy akan menyekamu saja dengan air hangat, setelah itu kita akan kedokter." Ucap nyonya Agatsa berubah lembut.
"Hm...." Yurina hanya bisa menganggukan kepalanya tanda menyetujui.
__ADS_1