
"Tuan Moranno, terima kasih untuk waktunya. Setelah ini kita akan bertemu dilokasi proyek setelah jam makan siang."
"Sama-sama tuan Harry."
"Tuan Moranno saya turut prihatin dengan apa yang anda alami. Saya berharap kiranya insiden penculikan nyonya muda segera terungkap."
"Terima kasih atas dukungannya tuan Harry." Moranno lalu mengantarkan Harry didepan pintu ruang meeting.
"Asisten Rudi, siapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk dilokasi proyek. Hubungi tuan Gardo kepala proyek pembangunan rumah sakit, supaya ia tahu hari ini kita jadi berkunjung kesana." Uajr Moranno keluar ruangan meeting diikuti asistennya.
"Baik tuan."
"Moranno...." Nyonya Agatsa segera ikut masuk kedalam lift saat melihat Moranno dan Asisten Rudi yang baru saja masuk kedalamnya.
"Ada apa mommy?" Tanya Moranno saat ibunya sudah berdiri disampingnya didalam lift. Sementara asisten Rudi berdiri didekat tombol lift dan terpaksa mendengar obrolan ibu dan anak itu.
"Mommy sengaja kemari untuk melihat keadaanmu. Ternyata benar kata bibi Nani, kau masih mengenakan pakaian kerjamu yang kemarin juga."
Moranno hanya berdiam diri mendengar ucapan ibunya.
"Berulang-ulang mommy berusaha menelponmu, tapi tak kau angkat. Mommy takut terjadi sesuatu padamu Moranno." Sambung nyonya Agatsa lagi.
"Sekarang mommy sudah melihatku kan? Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentangku. Bila ada yang perlu dikhawatirkan, itu adalah Yurina, ia sedang mengandung cucu keluarga Agatsa dan diculik. Sampai sekarang belum ada kabar tentang isteriku itu. Dan sampai mommy bersamaku saat ini, satu kalipun mommy tak pernah bertanya tentang isteriku itu, apalagi mengkhawatirkannya. Suka atau tidak suka. Terima atau tidak terima. Yurina sudah menjadi bagian dalam.keluarga Agatsa mom. Mommy tak bisa berlaku terus menerus seperti ini terhadapnya. Kalau bukan karena Yurina yang menahan dan melarangku, aku sudah pergi meninggalkan rumah dengan membawanya betsamaku. Namun karena Yurina perduli pada mommy, tak ingin mommy kesepian dan merasa sendiri, aku tetap bertahan dirumah, walau aku tahu mommy tidak pernah menganggap Yurina ada. Mommy dan juga Yurina, kalian adalah wanita-wanita yang berharga bagiku, yang selalu aku lindungi. Aku mohon cobalah mommy membuka hati buat Yurina. Aku Mohon mommy. " Moranno menyapaikan semua isi hatinya dan meluapkan perasaannya dengan mata yang berkaca-kaca. Namun ia berusaha untuk tetap mengendalikan dirinya.
Nyonya Agatsa terdiam, ia tak mampu berkata-kata mendengar penuturan putranya dengan suara yang terdengar parau.
Ting tong...
Suara lift terbuka. Moranno dan asisten Rudi langsung melangkah keluar, sementara nyonya Agatsa masih berdiri ditempatnya semula hingga pintu lift kembali tertutup rapat.
"Tuan Moranno, nyonya besar tidak mengikuti kita keluar." Ucap asisten Rudi pelan dibelakang Moranno.
Moranno menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap kearah pintu lift yang telah tertutup rapat.
"Biarkan saja. Mungkin mommy perlu waktu sendiri untuk memikirkan apa yang kami obrolkan tadi. Perhatikanlah arah lantai yang mommy tuju, lalu perintahkan seseorang untuk mengikuti mommy dengan diam-diam kemana saja ia pergi hari ini. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada mommy. Supaya aku bisa pokus pada pencarian isteriku."
"Baik tuan, akan saya lakukan." Asisten Rudi segera berbalik kearah pintu lift dan mulai melakukan apa yang telah diperintahkan sang majikannya itu.
Sementara didalam lift, nyonya Agatsa masih memikirkan apa yang dikatakan putranya itu. Sejujurnya walau ia sangat tidak menyukai Yurina sebagai menantunya, tapi ia memang mengakui bahwa tak pernah satu kalipun ia mendapatkan kesalahan pada menantunya itu selama masuk kedalam keluarga Agatsa. Hanya saja, kehadiran Yurina yang menjadi isteri Moranno membuat rencananya gagal total menjadikan Gandis anak sahabat keluarganya itu menjadi menantu dalam keluarga Agatsa.
***
"Tuan Gardo, sesuai dengan pembicaraan kami dengan tuan Harry, untuk pondasi bangunan rumah sakit ini, pihak tuan Harry meminta diameter tulangan diubah dengan diameter yang telah dicatat asisten Rudi pada berkas yang tuan Gardo pegang itu. Dan penyelesain pondasi juga harus diselesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan."
__ADS_1
"Baik tuan, siap dilaksanakan sesuai perintah." Jawab sang kepala proyek dengan gaya antusiasnya.
"Dan untuk pekerjaan selanjutnya, silahkan dilakukan sesuai planning jadwal yang telah dibuat, bila ada perubahan nanti asisten Rudi akan mengkonfirmasi ulang." Jelas Moranno pada kepala proyeknya itu.
"Baik tuan Moranno."
"Tuan Harry apa ada yang masih perlu disampaikan pada tuan Gardo?"
"Saya rasa cukup tuan Moranno. Pekerjaan dari awal hingga persiapan pembuatan pondasi, semuanya sudah sesuai kesepakatan kita bersama. Terima kasih tuan Gardo. Sampai disini saya puas atas hasil kerja anda."
"Sama-sama tuan Harry, saya merasa senang bila tuan Harry puas pada hasil kerja kami." ungkap tuan Gardo dengan senyum mengembang.
Sementara mereka sedang berbicara, sebuah mobil sedan mewah berwarna gelap melintas dihadapan mereka. Harry yang sangat mengenali pemilik kendaraan tersebut segera berdiri ditengah jalan untuk menghentikannya.
Mobil sedan berwarna gelap tersebut segera menepi dengan perlahan diarea proyek. Tak lama berselang seorang wanita cantik dan seksi keluar dari mobil tersebut seorang diri.
"Gandis.... bagaimana kau bisa ada disini? Bukankah kau mengatakan ada urusan mendadak sehingga tidak bisa hadir dimeeting." Tanya Harry heran bercampur sedikit kesal.
Moranno yang melihat keberadaan Gandis mengalihkan pandangannya kearah lain, memperhatikan para pekerja yang tengah sibuk melakukan kegiatan pembangunan.
"Aku... baru saja selesai... iya, baru saja selesai, kebetulan urusanku ada didekat lokasi ini, jadi begitu selesai aku segera mampir kemari." Kata Gandis sekenanya saja pada Harry.
"Apakah peninjauan proyeknya sudah selesai?" Tanya Gandis mengalihkan pembicaraan.
"Iya, semua sudah selesai, tinggal pelaksanaannya saja. Gandis, kuperingatkan kau lagi. Bila kau tidak serius berkerja denganku, aku akan melaporkan mu pada paman dan bibi juga nenek, mereka menitipkanmu padaku untuk belajar sungguh-sungguh. Bila kau telah siap, aku baru bisa merekomendasikanmu pada paman dan bibi. Apa kau mengerti !"
"Baguslah kalau kau masih punya rasa malu, setidaknya itu dapat membuatmu berubah lebih baik. Kau itu pintar dan cerdas Gandis, hanya saja kau banyak sibuk dengan segala urusanmu yang tak jelas itu."
"Iyaa, baiklah.... Cukup ocehanmu itu aku lelah mendengarnya." Gandis cepat pergi menjauh supaya tak mendengatkan ocehan Harry yang menjadi atasannya itu
"Tuan Moranno, selamat siang... " Sapa Gandis saat ia berada didekat Moranno yang sedang berbincang dengan tuan Gardo.
"Hmmm, selamat siang." Kata Moranno yang menoleh sekilas kearah Gandis yang berbicara dengannya.
"Maafkan saya tuan, karena tadi tidak bisa ikut hadir, karena sedikit ada urusan."
"Tidak maslah nona Gandis. Tuan Harry juga sudah mengatakannya padaku. Semuanya juga sudah berjalan dengan lancar dengan adanya kau hadir maupun tanpa kau hadir." Kata Moranno tanpa memandang kearah Gandis.
Gandis sedikit tersedak mendengar ucapan Moranno yang datar namun menyinggung perasaannya, namun ia berusaha bersikap manis.
"Tuan bagaimana kabar Yurina, maksud saya nyonya muda, apa sudah ada kabar?" Tanya Gandis berusaha mencairkan suasana.
Mendengar nama isterinya disebut, Moranno dengan spontan memandang kearah Gandis dengan tatapan tak suka, hingga membuat Gandis salah tingkah dihadapan Moranno.
__ADS_1
"Siapa yang memberimu ijin menyebut hanya nama isteriku tanpa ada gelar nyonya didepannya?" Ucap Moranno datar.
"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud sengaja. Bukankah tadi saya sudah meralatnya langsung bukan? Kata Gandis tanpa rasa bersalah.
"Untuk apa kau menanyakan sudah ada kabar atau tidak mengenai isteriku?" Tanya Moranno dengan tatapan tajamnya, membuat Gandis bergidik ngeri.
"Saya tidak bermaksud apa-apa tuan, saya hanya turut berempati atas hilangnya nyonya muda." Kata Gandis berusaha tenang.
"Ku harap begitu nona Gandis, semoga saja kali ini kau tidak terlibat pada penculikan isteriku. Bila saja kau terlibat, kau tentu tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa aku lakukan padamu." Kata Moranno setengah berbisik sehingga hanya didengar Gandis dan dirinya saja.
Gandis tambah bergidik mendengar ucapan Moranno, ia mulai merasa tak tenang pada sikap Moranno yang seolah-olah mengetahui apa yang ia lakukan.
"Apa yang sedang kalian percakapkan, terlihat serius sekali." Tanya Harry yang tiba-tiba berada didekat mereka.
"Tidak ada tuan Harry. Saya rasa pertemuan kita cukup hari ini. Saya permisi lebih dulu."
"Baik tuan Moranno."
"Tuan Gardo, saya pulang dulu." Kata Moranno pada pimpinan proyeknya itu.
"Baik tuan, hati-hati dijalan."
"Terima kasih." Moranno dan asisten Rudi segera menuju mobil mereka yang terparkir. Perlahan mobil yang disetir oleh pak Kasan meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan pulang Moranno tak banyak berbicara. Asisten Rudi dan pak Kasan yang duduk didepan pun tak berani bersuara karena takut mengganggu tuan mereka.
Dua puluh menit telah berlalu, saat melintas diarea taman dimana Yurina diculik, Moranno tersentak saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia meraih ponselnya dengan cepat.
"Tuan Harry?? Adaapa dia menelponku?"Gumam Moranno.
"Hallo tuan Harry...."
"Cepatlah kembali kearah area proyek yang kita kunjungi tadi. Aku telah mengirimkan lokasi dimana aku berada diponselmu. Segeralah!"
"Ada apa tuan Harry."
"Ini ada hubungannya dengan nyonya muda, sepertinya ia ada didalam sana. Nanti kujelaskan lebih lanjut saat kau sudah tiba disini. Cepatlah!"
"Baik terima kasih." Moranno menutup teleponnya.
"Pak Kasan, segera kembali kearea proyek tadi."
"Baik tuan".
__ADS_1
"Asisten Rudi, segera hubungi pihak kepolisian dan orang-orang kita ke lokasi yang telah saya kirim keponselmu."
"Baik tuan."