
"Buka pintunya...." Perintah seorang wanita yang baru saja tiba dan turun dari mobilnya.
"Baik nona." Seorang pria bertubuh tambun dengan kulit gelap membuka pintu suatu ruangan yang digembok dari luar.
Wanita bertubuh seksi dan menggunakan topeng pada wajahnya memasuki ruangan yang telah terbuka. Ruangan itu tampak remang-remang dan kotor tidak terawat.
Disudut ruangan tampak seorang wanita hamil dengan perut besarnya terduduk dengan diikat kedua tangannya.
"Buka penutup mulutnya." Perintah sang wanita lagi.
"Baik nona." Pria itu dengan cekatan membuka kain penutup mulut.
"Kau tak perlu menutup wajahmu dengan topeng itu nona Gandis." Kata Yurina yang segera mengenali wanita yang berdiri dihadapannya.
" Ternyata kau mengenalku nyonya muda Agatsa." Gandis berjongkok dihadapan Yurina untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Yurina.
"Apa yang kau inginkan hingga memperlakukanku seperti ini nona Gandis, apa salahku padamu?"
"Apa yang ku inginkan? Dan apa salahmu? Aku ingin kau menderita, karena kau aku tak mendapatkan Moranno. Kau menghancurkan impianku sejak masa SMU ku hingga sekarang. Tinggal selangkah lagi, aku akan bersamanya, tapi kau datang membawa kehamilanmu itu dan menikah dengannya." Ujar Gandis mendongakkan wajah Yurina dengan menggunakan jari telunjuknya.
"Tapi itu bukan salahku... Aku hanya korban nona Gandis."
"Aku tak perduli."
"Tolong lepaskan aku, aku mohon. Walalu kau tak perduli padaku, setidaknya bayi yang ada dalam kandunganku, mereka tak bersalah."
"Padamu saja aku tak perduli, apalagi pada bayi yang ada dalam kandunganmu. Kalian perusak rencanaku."
"Nona Gandis, aku mohon lepaskan aku."
"Tidak akan... Aku sengaja tak memberimu makan dan minum, supaya kau dan bayimu itu merasakan bagaimana rasanya aku tak bisa makan dan minum saat Moranno menikahimu."
"Terbuat dari apakah hatimu nona Gandis, menyiksa bayi yang bahkan dilahirkan saja belum."
"Terserah apa katamu. Aku tak perduli, aku puas melihatmu menderita juga bayi dalam kandunganmu itu. Membusuklah engkau disini perlahan-lahan ditempat ini, karena tidak ada orang yang akan menolongmu." Wanita itu tertawa menyeringai lalu berdiri menjauhi Yurina dan meninggalkannya seorang diri diruangan remang-remang dan kotor itu.
Yurina menatap kepergian Gandis dengan perasaan campur aduk. Perutnya yang lapar terus saja berbunyi mengisyaratkan harus segera diisi.
"Kita harus sabar ya sayang. Semoga saja ada orang yang bermurah hati menolong kita." Gumam Yurina sambil mengelus perutnya yang terus bergerak-gerak.
"Ini bayaran kalian yang telah aku janjikan." Gandis menyerahkan amplop kepada salah seorang pria yang menjaga ruangan dimana Yurina disekap.
"Terima kasih nona. Selanjutnya apa yang harus kami lakukan terhadap wanita itu." Kata pria yang menerima amplop dari tangan gandis.
"Kalian harus menjaga dan mengawasi tempat ini dengan baik, bila ada yang mencurigakan segera laporkan padaku. Untuk wanita hamil itu kalian tak perlu memberikannya makan ataupun minum."
__ADS_1
"Tapi nona, wanita yang sedang hamil bila tak makan kondisinya akan memburuk."
"Biarkan saja, apa perduliku, memang itu yang aku inginkan."
" Bila begitu mengapa nona tidak membunuhnya saja."
"Jangan lakukan itu, aku ingin dia dan juga bayi yang ada dalam kandungannya menderita sebelum mereka mati. Kalian mengerti."
"Mengerti nona." Keempat pria itu menjawab serentak.
"Aku pergi dulu, kabarkan setiap ada hal yang mencurigakan."
Baik nona."
Gandis lalu meninggalkan tempat itu menggunakan mobilnya.
***
Jam dinding menunjukan pukul sembilan malam saat Moranno tiba dirumahnya.
Bibi Nani terburu-buru membukakan pintu buat majikannya itu.
"Selamat malam tuan."
"Selamat malam bi..." Wajah Moranno tampak begitu lesu.
"Terima kasih bi... Tapi saya tidak lapar."
"Tapi tuan.... Nyonya besar sedang menunggu tuan dimeja makan." Kata bibi Nani menundukkan kepalanya dan berdiri disamping pintu masuk.
Moranno lalu menuju lantai dua tempat ruang makan berada. Bibi Nani segera menutup pintu dengan rapat dan menguncinya. Ia lalu segera menyusul majikannya itu menuju ruang makan.
"Duduk dan makanlah bersama mommy Moranno." Kata nyonya Agatsa mempersilahkan putranya duduk didepannya.
Moranno lalu duduk ditempatnya. Sementara bibi Nani memasukan menu makanan kedalam piring kedua majikannya itu.
Setelah selesai, bibi Nani berlalu dari tempat itu membiarkan kedua majikannya itu menikmati makan malamnya.
Nyonya Agasa memperhatikan piring Moranno yang tidak disentuh putranya itu sedikitpun. Moranno hanya diam termangu dengan raut wajah yang terlihat kusut.
"Moranno makanlah... bibi Nani sudah menyiapkan makan malam untuk kita."
Moranno masih terdiam dan mematung ditepi meja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Nyonya Agatsa menghentikan sejenak kegiatan makan malamnya.
"Moranno, makanlah.... Mommy tahu kau pasti lapar." Kata nyonya Agatsa lagi sambil memandang wajah kusut putranya itu.
__ADS_1
"Aku tak lapar mommy... Aku disini hanya menemani mommy makan malam saja." Kata Moranno dengan suara rendahnya yang dingin tanpa memandang wajah ibunya.
"Kau pasti lapar Moranno.... Bukankah kau belum makan sejak siang. Mommy sangat tahu kau Moranno, kau sangat tak menyukai makan diluar selain makan dirumah."
"Benarkah? Benarkah mommy sangat tahu tentang aku?" Kata Moranno masih tak memandang kearah ibunya dengan suara dinginnya.
"Apa maksudmu Moranno dengan ucapanmu itu. Tentu saja mommy banyak tahu tentangmu, kau putra mommy satu-satunya. Mommy sangat menyayangimu. Jangan pernah berkata demikian pada mommy."
"Bila mommy sudah selesai makan, aku permisi lebih dulu. Aku lelah sekali mom, ingin segera mandi dan beristirahat." Ujar Moranno seraya berdiri dan mendekati ibunya lalu meraih tangan ibunya dan menciumnya.
Nyonya Agatsa tak bisa berkata-kata lagi. Ia melihat putranya pergi menjauh setelah mencium tangannya, ia dapat melihat betapa terpukulnya putranya itu. Hal itu mengingatkannya pada saat meninggalnya mendiang suaminya dan kepergian putrinya beberapa tahun silam. Pada saat itu Moranno pun bersikap demikian. Hati nyonya Agatsa turut sedih melihat keadaan putranya itu.
"Bibi Nani...." Panggil nyonya Agatsa.
"Iya, saya nyonya besar..." Bibi Nani segera menghampiri majikannya itu dengan tergopoh-gopoh.
"Bersihkan meja ini..."
"Bukankah nyonya besar belum menyelesaikan makan malam nyonya." Kata bibi Nani yang tak sengaja melihat isi piring majikannya itu belum habis.
"Saya sudah tidak berselera makan lagi bi... Tolong antarkan makan malam yang baru atau camilan bersama teh herbal kesukaan tuan Moranno kekamarnya. Tadi dia tak sempat menyentuh makanannya. Selebihnya, bagikan saja makanan ini semua kepada para pelayan yang lain."
"Baik nyonya."
Nyonya Agatsa lalu meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Bibi Nani pun segera membereskan meja makan dibantu para pelayan yang biasa bertugas bersamanya saat menyediakan makan malam. Menu makan yang masih banyak tak tersentuh segera ia bagikan kepada para pelayan dirumah besar itu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuklah...." Terdengar suara Moranno dari dalam kamarnya.
"Permisi tuan..." Bibi Nani membuka pintu dengan perlaham.
"Ada apa bi?"
"Ini tuan, nyonya besar menyuruh saya membawakan makan malam ini kekamar tuan. Nyonya mengkhawatirkan anda tuan yang belum makan malam." Ujar bi Nani yang masih berdiri diambang pintu.
"Bawa kembali semuanya itu bi, aku tak menyukai aromanya didalam kamarku."
"Tapi tuan, anda belum...."
" Bawa kembali bibi. Aku tidak sedang ingin makan. Dan tutup pintunya kembali dibelakangmu dengan rapat."
__ADS_1
"Baik tuan.... " Bibi Nani segera melakukan apa yang diperintahkan majikannya itu. Ia merasa kasihan melihat kondisi majikannya itu yang terlihat begitu menyedihkan.