JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 36 "Sedang apa sayang?"


__ADS_3

Yurina yang sibuk dengan kegiatan membaca dikejutkan dengan pesan yang masuk di ponselnya. Dengan segera ia meraih ponselnya dan membukanya.


Yurina tersenyum melihat nama yang tertera diponselnya, ia teringat Moranno yang menyimpan nomor dan menuliskannya diponsel miliknya.


Suamiku


Sedang apa sayang?


Hati Yurina berbunga-bunga saat membaca pesan dari suaminya. Apalagi kalimat terakhirnya membuat hatinya berdebar. Yurina jadi penasaran apa nama dirinya di ponsel suaminya itu.


Yurina


Membaca buku di perpustakaan rumah.


Suamiku


Sudah makan siang?


Yurina


Sudah. Apa kau sudah makan siang ?


Suamiku


Sudah juga. Aku akan terlambat pulang, tidurlah lebih dulu tak usah menungguku, jaga kesehatanmu dan juga kandunganmu sayang.


Yurina


Kau juga, jaga kesehatanmu.


Hati Yurina begitu bahagia, berulang-ulang dibacanya pesan antara dirinya dan suaminya hingga ia menghapalnya. Ia tersenyum-senyum sendiri, rasa rindu tiba-tiba menyerangnya.


Yurina sudah tak bisa berkonsentrasi lagi membaca bukunya, wajah Moranno ada dimana-mana. Halaman demi halaman buku yang ia buka pun, seolah-olah pesan Moranno yang tertulis disana. Beberapa menit berlalu, ia tetap berusaha berkonsentrasi, tapi semakin ia berusaha, wajah Moranno semakin jelas dalam pikirannya. Sampai akhirnya Yurina memutuskan keluar ruangan perpustakaan dengan membawa beberapa buku ditangannya, Ia lalu mengunci ruangan itu lalu kekamarnya.


Dikamar, hal sama masih terjadi, Yurina yang berusaha memejamkan matanya untuk istirahat siang tak bisa terlelap, wajah Moranno selalu saja melintas dipikirannya, sekalipun ia menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.

__ADS_1


"Ada apa denganku, kenapa wajahnya selalu ada dalam pikiranku." Yurina berbicara sendiri sambil memegang wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku akan menelpon Lisa." Yurina bergegas meraih ponselnya diatas nakas, lalu segera mencari nama sahabatnya itu dikontak ponsel miliknya.


Setelah menunggu sekian detik teleponnya direject, saat akan menghubungi ulang, notifikasi pesan masuk. Yurina segera membukanya, benar saja dari sahabatnya.


Lisa


"Maafkan aku, sedang meeting, nanti ku telpon."


Yurina


"Baiklah, tidak mengapa. Silahkan lanjutkan."


Yurina meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia masuk kekamar mandi untuk berendam di bak mandi berharap bisa menghilangkan bayangan Moranno.


Air hangat kuku disore itu sangat menyegarkan tubuh Yurina, ia mengusap seluruh tubuhnya dengan air sabun. Perutnya yang membuncit terlihat keluar dari air sebagian. Yurina menambah air rendaman mandinya menggunakan kran air hangat yang ada disisi bak mandinya sampai dirasakan cukup untuk merendam seluruh tubuhnya.


Sambil memejamkan matanya Yurina kembali mengusap seluruh tubuhnya menggunakan air sabun yang dicampur dalam rendaman air mandinya. Air sabun beraroma mawar kembali membuat pikiran Yurina teringat pada Moranno saat pernikahan mereka di villa milik Moranno. Setiap hari pria itu selalu memberikan kelopak bunga mawar segar dalam kamar mandinya setiap kali Yurina akan mandi. Yurina tersenyum-senyum sendiri, ia mengusap perut buncitnya dengan lembut mengunakan air sabun.


Moranno juga kerap kali diundang menjadi narasumber pada seminar-seminar kalangan pembisnis, tak terkecuali dikampusnya dahulu, Yurina melihat spanduk dengan terpampang wajah Moranno yang tampan menjadi orator saat acara wisuda kakak-kakak tingkatnya. Sejauh itu, Yurina tidak pernah melihat dari dekat apalagi bertemu langsung, hanya mendengar nama besarnya saja, tidak pernah melihat secara langsung pria yang konon memiliki segudang prestasi itu, dan tentu saja Moranno dikelilingi wanita-wanita cantik yang berusaha mengambil perhatiannya.


Dimalam naas pesta ulang tahun perusahaan itulah pertama kali Yurina bertemu dengan Moranno. Yurina yang tak mengenali Moranno merasa hanya ada ketakutan saja, ditambah sikap Moranno yang sangat kasar padanya, memperkosanya hingga hasil perbuatannya itu meninggalkan benih dalam rahimnya.


Yurina masih mengelus-elus perut buncitnya itu, entahlah ia merasa apakah kejadian yang menimpa dirinya itu adalah suatu kemalangan atau keberuntungan, ia masih belum memahami sepenuhnya.


Dalam benaknya Yurina hanya bisa merasakan bahwa Moranno bersikap baik padanya, ia dapat merasakannya dimulai Moranno meminta ia bersedia menikah dengannya, mulai saat itu hingga kini, Moranno tak pernah bersikap kasar sekalipun pada dirinya.


Motanno juga mengetahui akan dirinya yang seiorang anak yatim piatu, dan dibesarkan dipanti asuhan, dan beberapa sisi kehidupan tentang dirinya yang menyedihkan dalam berjuang untuk hidup.


"Mungkjn saja ia mengasihaniku." Gumam Yurina seorang diri. Seorang Moranno yang memiliki wajah yang tampan, pembawaan yang berwibawa dan berkharisma, pemilik kerajaan bisnis, segudang prestasi yang disandangnya, sosok pria yang sempurna. Berbanding terbalik dengan dirinya. Wajar saja sang ibu mertua sangat menentang pernikahan mereka.


Yurina hanya bisa mendesah, dan membuang semua pikiran sedihnya, berusaha berpikir positip.


Yurina lalu bangkit dari pemandiannya dan segera mengeringkan tubuhnya mengunakan handuk.

__ADS_1


Yuriana keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian rapi, menyisir rambut hitam panjangnya. Ia mulai mengingat kembali apa yang sering dilakukan Moranno padanya, pria itu menyisir rambutnya dengan perlahan hingga rapi lalu mengeringkannya dengan hairdryer. Tepat seperti kata Moranno waktu itu, dia tidak bisa melakukannya lagi bila mereka kekota, karena ia akan disibukan dengan banyaknya pekerjaannya. Kini Yurina melakukannya seorang diri sambil mengingat semua perhatian Moranno padanya.


"Kriuuukkk...."


YYurina segera menyelesaikan kegiatanya. Perutmya terasa begitu lapar meminta segera diisi.


"Sabar ya sayang, maafkan mama ya, kita akan segera makan." Kata Yurina sambil mengelus perutnya.


Yurina melihat jam didndig yang baru menunjukan jam lima sore, belum waktinya makan malam tapi perutnya terasa sangat lapar.


Yurina segera keluar dari kamarnya menuju kedapur, ia melihat bibi Nur turun dari lantai tiga dengan tergesa-gesa membawa nampan ditangannya.


"Bibi Nur...." Sapa Yurina.


"Ehh nyonya, syukurlah nyonya ada disini." Kata bibi Nur sambil meletakan nampan diatas meja makan.


"Tadi saya baru mengantarkan sup untuk nyonya besar, tapi nyonya besar menolaknya, padahal saya sudah memasaknya sesuai dengan resep yang nyonya buat siang tadi bersama saya." Kata bibi Nur lagi.


" Mungkin nyonya besar bosan makan sup bibi, ingin mencoba yang lain." Kata Yurina berusaha menghibur bibi Nur.


"Tidak nyonya, mulai tadi siang, setelah makan siang nyonya sudah meminta makan malamnya adalah sup yang ia makan siang tadi. Jadi saya meminta bibi Asri dan pak Karto membeli beberapa ekor ayam kampung dan bumbunya di pasar. Sedangkan bibi Nani sudah memetik sayur-sayuran segar dikebun samping."


"Boleh saya coba supnya bi?" Tanya Yurina sambil mendekati meja makan.


"Ini nyonya." Bibi Nur lalu membuka tutup mangkuk yang masih ada di nampan diatas meja. Yurina menyendoknya sedikit dan memasukannya kemulutnya.


"Bagaimana nyonya?" Tanya bibi Nur sambil menatap wajah Yurina.


"Rasanya sama bi, tidak ada bedanya." Kata Yurina sambil menelan habis sup yang ada dimulutnya.


"Jadi ini gimana nyonya, saya bingung, nanti kalau saya membawa apa yang saya buat ini, nyonya besar pasti marah lagi pada saya, karena yang ia mau sup yang ia makan tadi siang nyonya."


"Apa nyonya besar tau kalau saya yang memasaknya tadi siang bi?" Tanya Yurina yang kelihatan cemas.


"Tidak nyonya."

__ADS_1


__ADS_2