JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 14 "Aku obati lagi ya"


__ADS_3

Selepas makan malam, Yurina yang sedang melanjutkan membaca buku ibu hamil tertidur diatas tempat tidur. Buku yang ia baca jatuh menutupi wajahnya yang sedang tertidur.


Moranno yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya didepan laptopnya tak sengaja melihat hal itu, ia segera membereskan laptopnya, lalu menghampiri isterinya yang berada ditempat tidur..


Perlahan ia mengambil buku yang menutupi wajah sang isteri dan meletakannya diatas meja disisi tempat tidur.


Dengan hati - hati ia mengangkat kepala sang isteri dan mengambil satu bantal yang tersusun dua oleh isterinya yang digunakan sebagai penyangga kepalanya saat ia membaca.


Semerbak aroma wangi keluar dari rambutnya yang di sentuh oleh Moranno. Ia membelai rambut panjang hitam nan lembut itu. Perlahan diletakannya kepala sang isteri dengan hati - hati di atas bantal. Di rapikannya anak - anak rambut yang menutupi wajah wanita itu.


Moranno membaringkan tubuhnya disisi isterinya. Wangi khas bunga mawar yang keluar dari tubuh wanita itu membuat Moranno larut dalam suasana hatinya. Dipeluknya tubuh isterinya itu dari samping dengan penuh perasaan. Dihirupnya wangi tubuh wanita itu, debaran - debaran jantungnya mulai tak beraturan.


Untuk beberapa saat Moranno membiarkan dirinya menikmati suasana itu, dipandangnya wajah isterinya yang tertidur tenang tanpa ekspresi itu berlama - lama. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


Detik selanjutnya didekatkannya wajahnya pada wajah sang isteri.


"Cup."


Bibir wanita itu terasa dingin.


"Cup..."


Kali ini Moranno agak lama menyentuh bibir wanita itu dengan bibirnya lalu melepaskannya kembali.


Dipandangnya wajah wanita itu sejenak. Detik selanjutnya, bibirnya kembali menyentuh bibir wanita itu. Begitu lama, hingga bibir itu terasa menghangat.


Moranno terbawa perasaannya, disesapnya perlahan dengan lembut, bibir itu terasa manis bagai madu. Sentuhan - sentuhan dan sesapan - sesapan lembut Moranno perlahan mulai liar.


Tiba - tiba mata wanita itu terbuka, Moranno yang terkejut dengan cepat hendak melepaskan ciumannya.


"Aakkhh..."


Terlambat, Yurina yang juga terkejut dengan spontan menggigit bibir bagian bawah Moranno dengan kencang. Darah segar keluar dari bekas gigitan.


Moranno terduduk di tempat tidur sambil memegang bibirnya yang mengeluarkan darah.


Yurina pun segera duduk mendekati Moranno dan melihat apa yang terjadi pada suaminya itu dengan sedikit bingung.


"Apa yang terjadi?" Katanya, sambl berusaha menyentuh tangan Moranno yang masih memegang bibirnya yang terluka.

__ADS_1


"Bibirmu berdarah..." Kata Yurina panik saat tangan Moranno berhasil ia turunkan dari bibirnya.


Yurina segera mengambil tissue di atas meja dekat sisi tempat tidur, perlahan membersihkan noda darah yang menempel di bibir Moranno, juga noda yang menempel di tangannya.


"Tunggu sebentar..." Kata Yurina bergegas melangkah ke luar kamar dan buru - buru menuruni tangga menuju ke dapur.


Tak lama Yurina kembali membawa semangkuk air hangat dan kain kompres. Perlahan ia mulai mengompres bibir Moranno yang mulai membengkak bekas gigitan. Moranno sedikit meringis kesakitan saat kain kompres menyentuh lukanya.


"Apakah sakit?" Tanya Yurina dengan masih tetap melakukan kegiatannya.


"Iya, sedikit." sambil membiarkan Yurina tetap mengompres.


"Apa yang kau lakukan sampai terjadi seperti ini?" Tanya Yurina yang memang agak bingung, karena ia hanya ingat saat ia terbangun tiba - tiba ia tergigit bibir suaminya itu.


Moranno hanya terdiam, tak bisa berkata - kata, ini kali keduanya ia digigit isterinya itu.


Yurina lalu mengoleskan salep pada luka Moranno yang ia ambil dari kotak obat.


"Maafkan aku, sungguh aku tak sengaja menggigitmu, aku hanya terkejut." Kata Yurina yang masih mengolesi salep dengan pelan.


Moranno hanya mengangguk pelan sambil melihat wajah isterinya yang lagi pokus mengobati lukanya.


Yurina lalu mengembalikan salep ke kotak obat dan membereskan alat kompres lalu mengembalikannya ke dapur.


Saat kembali ke kamar, terlihat Moranno telah memejamkan matanya, tampaknya sudah terlelap. Yurina lalu membaringkan tubuhnya dengan perlahan dan hati - hati disisi tubuh suaminya, takut membangunkan pria itu.


Ia pun lalu menaikan selimut hingga kelehernya, sejenak ia memandang kearah wajah suaminya, memperhatikan bibir yang masih terlihat membengkak. lalu akhirnya mulai memejamkan matanya.


Tak lama kemudian Yurina terlelap dengan napasnya yang terdengar teratur.


Setelah Yurina tertidur kembali, Moranno membuka matanya, ternyata sebelumnya ia berpura - pura tertidur.


Bagaimana mau tertidur, bekas gigitan sang isteri masih terasa begitu nyeri dan berdenyut - denyut. Gigi wanita itu bagai memiliki bisa, ini untuk kedua kalinya ia mersakan gigitan sang isteri.


***


Pagi itu Yurina dan Moranno terlihat sudah bersiap kembali ke kota. Keduanya telah menyelesaikan sarapan paginya.


"Minumlah vitamin dan susumu." Moranno mendekatkan vitamin dan segelas susu ke depan isterinya.

__ADS_1


Yurina meraih vitamin dan segelas susunya dan segera memasukannya kedalam mulutnya, lalu meletakan kembali gelas susu yang sudah kosong isinya diatas meja.


"Apa masih sakit?" Kata Yurina saat melihat bibir Moranno masih sedikit membengkak.


"Sudah tidak." Katanya datar.


"Aku obati lagi ya?" Kata Yurina meminta persetujuan suaminya.


Moranno hanya mengangguk pelan. Yurina segera mengambil salep di kotak obat. Terlebih dahulu ia mulai mengompres luka pria itu dengan kain yang telah ia celupkan ke dalam mangkuk berisi air hangat.


Dengan hati - hati ia mulai mengolesi luka suaminya dengan salep. Moranno hanya terdiam di tempat duduknya, memperhatikan setiap gerak isterinya yang sedang pokus mengolesi luka pada bibirnya.


Moranno mulai terhanyut kembali merasakan aroma tubuh wanita yang berdiri dihadapannya itu. Ia mulai menghirup aroma tubuh isterinya dengan penuh perasaannya. Namun cepat - cepat ia menyadarkan dirinya sendiri, karena hal seperti itulah yang membuatnya mendapatkan insiden pada bibirnya semalam. Itupun sang wanita sedang tertidur, apalagi sedang terbangun seperti sekarang, pasti lebih berbahaya lagi pikirnya.


"Sudah selesai." Kata Yurina sambil memundurkan tubuhnya ke belakang. Ia lalu mengembalikan salep ke kotak obat, dan membereskan kain kompres dan mangkuknya.


"Ayoo kita berangkat." Kata Moranno yang berdiri dari tempat duduknya.


"Tapi kita belum membereskan meja makan ini." Kata Yurina sambil menatap kearah Moranno.


"Aku sudah meminta pelayan membereskannya. Ayoo, nanti kita kesiangan." Kata Moranno lagi.


Yurina pun segera mendekati suaminya. Keduanya lalu berjalan keluar villa di mana para pelayan sudah berbaris di depan, untuk melepas keberangkatan kedua tuan mereka.


"Selamat jalan tuan dan nyonya." Kata kepala pelayan mewakili pelayan yang lain.


"Terima kasih." Kata Moranno dan Yurina bersamaan sambil sedikit menyunggingkan senyum mereka pada para pelayan.


Keduanya lalu melangkah menuju mobil yang sudah siap. Moranno membukakan pintu dan mempersilahkan isterinya masuk. Kemudian Ia bergegas membuka pintu untuk dirinya sendiri dan duduk dibelakang kemudi.


Pria itu tak lupa memasang sabuk pengaman isterinya, aroma maskulinnya tercium oleh Yurina, saat ia mendekatkan tubuhnya pada isterinya itu. wanita itu langsung menahan napasnya supaya tidak terlena dengan aroma wangi pria itu.


Moranno membunyikan klaksonnya, dan di sambut lambaian tangan para pelayannya.


Mobil yang mereka kendarai merayap perlahan menuju pos security. Petugas security memberi hormat saat melihat mobil tuannya berhenti didepannya. Moranno menurunkan sedikit kaca mobilnya, petugas security yang melihat wajah Moranno dibalik kaca jenxela mobil sempat tersenyum agak tertahan. Portal segera dinaikan, security memberi isyarat agar mobil tuannya bisa melintas.


Moranno sedidikit merasa aneh melihat sikap petugas security. Namun ia tak mau memikirkannya lebih lanjut, ia segera menutup kembali kaca mobilnya sambil melintas pos security dengan perlahan.


Saat keluar dari gerbang villa, kendaraan mereka mulai melaju kencang. Moranno pokus pada jalan yang ada didepannya.

__ADS_1


***


__ADS_2