JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 197 "Mulai sekarang, semuanya akan kalian lakukan berdua."


__ADS_3

Semua tamu sudah pulang. Moranno dan Yurina pun sudah pergi membawa kedua buah hatinya yang tertidur ditengah keramaian pesta.


"Margareth sayang..... mommy pulang dulu....." Pamit nyonya Agatsa sambil memeluk hangat putrinya.


"Mommy tidak menginap bersama kami." Tanya Margareth polos.


Nyonya Agatsa melepaskan pelukannya lalu mencubit kedua pipi Margareth gemas. " Bicara apa kau Margareth, masakan mommy disuruh jadi obat nyamuk kalian dimalam pertama." Wajah Margareth langsung merona mendengar ucapan ibunya.


"Tapi siapa yang membantuku membuka gaun ini mommy?? Cie Mexan sudah pulang sedari tadi...." Rengek Margareth bermanja pada ibunya.


"Sekarang sudah ada Harry suamimu sayang, dia yang akan membantumu. Mulai sekarang, semuanya akan kalian lakukan berdua. Iya 'kan Harry??" Nyonya Agatsa melihat kearah Harry menantunya yang tengah berdiri disisi Margareth.


"Iya mommy......" Sahut Harry sambil menganggukan kepalanya cepat.


"Tapi Margareth merindukan mommy, mau tidur dengan mommy malam ini...." Perasaan Margareth mendadak menjadi melow, air matanya runtuh begitu saja.


Nyonya Agatsa kembali memeluk Margareth dengan hangat, ia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh putrinya itu.


Hampir setiap anak perempuan yang menikah akan mengalami perasaan seperti itu saat berpisah dengan orang tuannya, dirinya juga pernah mengalami hal yang sama.


"Sayang..... dengarkan mommy baik - baik.... semua manusia yang hidup didunia ini, tidak bisa selalu bersama orang tuannya. Saat anak menjadi dewasa, ia akan menikah seperti kalian pada hari ini. Seorang laki-laki dewasa yang telah menikah, akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan hidup bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Kalian berdua sudah dinikahkan dalam pernikahan kudus. Harus saling menjaga, menghormati sesuai janji pernikahan yang telah kalian berdua ikrarkan bersama dihadapan Tuhan, dan jemaat-Nya."Ucap nyonya Agatsa sambil mengelus punggung putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Kau mengerti sayang??" Tanya nyonya Agatsa sambil melepas pelukannya, sambil menatap wajah putrinya yang sembab.


"Iya..... Margareth mengerti mommy...." Sahut Margareth sambil menganggukan kepalanya lemah.


"Harry......" Nyonya Agatsa beralih menatap Harry yang berdiri disebelah Margareth.


"Iya mommy...." Sahut Harry melihat kearah ibu mertuanya.


"Empat minggu yang sudah berlalu, adalah masa - masa yang berat bagi putri mommy Margareth. Dan mommy mengijinkanmu melakukan itu pada putri mommy untuk membuktikan betapa kuat dan setianya putri mommy padamu. Setelah hari ini, mommy tidak akan membiarkanmu memperlakukan putri mommy seperti yang sudah - sudah. Bila mommy mendapatkanmu tidak membuat putri mommy bahagia, kau akan berhadapan langsung dengan mommy, ingat baik - baik itu Harry." Ucap nyonya Agatsa memperingatkan menantunya itu dengan bersungguh - sungguh.


"Iya mommy..... Saya akan berusaha membahagiakan Margareth, putri mommy yang sudah menjadi isteri saya yang sah." Sahut Harry singkat. Margareth hanya mendengarkan saja perbincangan antara ibunya dan suaminya itu.

__ADS_1


"Baiklah..... mommy percaya padamu...." Nyonya Agatsa menepuk - nepuk punggung Harry.


"Mommy pulang dulu, ini sudah begitu larut. Kalian berdua beristirahatlah, mommy tahu kalian sangat lelah menjalani hari ini mulai pagi hingga malam." Ucap Nyonya Agatsa lagi menatap Margareth dan Harry bergantian.


"Kami akan mengantar mommy....." Kata Harry sambil bersiap.


"Tidak perlu, ada pak Karso yang menjemput mommy." Nyonya Agatsa menunjuk pak Karso yang tengah duduk disudut ruangan pesta.yang sudah sepi.


Nyonya Agatsa memeluk Margareth dan Harry bergantian, demikian juga dengan Margareth dan Harry, keduanya meraih dan mencium tangan nyonya Agatsa sebelum meninggalkan tempat itu.


Margareth dan Harry menatap kepergian nyonya Agatsa meninggalkan ruangan pesta bersama pak Karso.


"Sekarang tinggal kita berdua.....diriku dan dirimu....Harry dan nyonya Harry." Ucap Harry sambil meraih dan menggenggam erat kedua tangan Margareth dengan kedua tangannya. Keduanya saling berhadapan. Wajah Margareth yang merona terlihat tersipu. Degup jantungnya kembali berdetak tidak karuan.


"Kau pasti lelah, aku akan menggendongmu sampai kekamar kita menginap." Ucap Harry menatap wajah Margareth.


"Tidak perlu tuan Harry, anda pasti juga lelah, kita berjalan bersama saja." Tolak Margareth berusaha menenangkan perasaan yang ada didadanya.


"Tidak apa - apa tuan Harry." Margareth tetap menolak.


"Baiklah......Katakan padaku kalau nanti kau tiba - tiba lelah." Ucap Harry. ia melepaskan genggaman tangannya dari kedua tangan Margareth.


Keduanya lalu berjalan bersama meninggalkan ruangan pesta menyusuri lorong menuju kamar hotel tempat mereka menginap malam itu.


Margareth semakin berdebar saat tangan Harry menautkan tangannya pada jari jemari tangannya.


Harry mengambil benda pipih dari saku jasnya dan menempelkannya pada pintu kamar hotel didepannya.


"Cek-klek...." Suara pintu terbuka. Harry membawa Margareth masuk dan menutup rapat pintu dibelakangnya. Margareth melangkah masuk lebih dulu kedalam. Ia memperhatikan keseluruhan kamar pengantin dirinya dan Harry. Kamar itu begitu rapi, dan bersih. Saking bersihnya, tidak ada pernak - pernik pernikahan yang menandakan keromantisan sepasang pengantin baru disana, membuat Margareth merasakan tubuhnya semakin lelah, lunglai, dan lemas.


Hampir saja ia jatuh kelantai kamar bila saja Harry tidak segera memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kau sakit??" Tanya Harry cemas.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya merasa begitu lelah...." Sahut Margareth tidak bersemangat.


"Kalau begitu, kau harus segera beristirahat." Ucap Harry sambil melepaskan pelukannya.


"Bagaimana aku bisa beristirahat, kalau gaun berat dan panjang ini masih menempel ditubuhku." Sahut Margareth masih berdiri membelakangi Harry.


"Seperti kata mommy, mulai malam ini kita akan melakukan semuanya berdua..... aku akan membantumu untuk melepaskan gaun pengantinmu yang indah ini." Ucap Harry. Margareth memejamkan matanya, saat ia merasakan jari tangan Harry menarik retsleting gaunnya dari ujung belakang punggungnya hingga bawah pinggulnya. Gaun pengantin Margareth melorot perlahan kebawah dan tergeletak begitu saja dibawah kakinya.


Margareth masih memejamkan matanya. Tubuhnya hanya menyisakan pakaian dalam penutup dada hingga bawah pinggulnya. Suasana kamar pengantin itu begitu sepi. Ia sengaja membiarkan tubuhnya yang molek terekspos begitu saja dihadapan suaminya.


"Pakailah ini.... dan bersihkan dirimu supaya kita bisa segera beristirahat. Juga ini, bawalah pakaian gantimu." Harry menyodorkan handuk kimono dan baju tidur pada Margareth dengan tubuhnya membelakangi isterinya itu.


Margareth membuka matanya saat mendengar suara Harry. Ternyata sikap Harry sangat dingin, sangat jauh dari ekspektasinya. Margareth meraih handuk dan baju tidur dari tangan Harry dengan wajah cemberut, dan berlalu begitu saja menuju kamar mandi.


Dikamar mandipun, semua serba biasa, tidak ada yang istimewa, sungguh menyedihkan, pikir Margareth. Ia segera membersihkan wajahnya, dan membuka sanggulnya seorang diri didepan wastafel. Wajah cantiknya terlihat lesu dari pantulan cermin didepannya.


Setelah dirasa cukup, ia mandi dibawah guyuran air dingin, untuk mendinginkan dan menenangkan suasana hati yang tidak sesuai harapannya.


Margareth keluar kamar mandi. Ia melihat Harry sudah tertidur pulas dibalik selimut tebalnya. Ia mengambil napas dalam dan menghembuskannya kembali melihat pria yang sudah menjadi suaminya itu tidak mengucapkan selamat tidur padanya. Apakah pria itu akan melanjutkan sikap cuek dan tidak perdulinya selama 4 minggu yang lalu?? Enatahlah, Margareth bertambah lelah, dan lesu saat memikirkan semuanya itu.


"Dimana gaun pengantinku?" Gumam Margareth yang hendak membereskan gaunnya yang ia tinggalkan begitu saja sebelum masuk kekamar mandi.


Margareth segera membuka lemari pakaian, ternyata gaun pengantin itu sudah tergantung rapi disana bersama sepasang jas pengantin Harry. Margarerth meraba gaun pengantinnya dengan lembut, lalu beralih meraba jas pengantin Harry. Bibirnya menyunggingkan senyum manisnya saat mengingat pemberkatan nikah kudus antara dirinya dan Harry yang berjalan lancar hari ini hingga pesta pernikahan usai.


Margareth menutup kembali pintu lemari itu dengan rapat, dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, hatinya menghangat, ada rasa bahagia dihatinya. Ia berbalik, dan melangkah menuju tempat tidur. Perlahan ia naik dan merebahkan dirinya disisi Harry yang telah menyisakan ruang untuknya.


Margareth berusaha memejamkan matanya, tapi ia tidak bisa terlelap. Ia mendekati Harry yang sudah pulas, napasnya teratur rapi, wajah suaminya sama tenangnya saat terjaga maupun tertidur seperti sekarang ini pikirnya.


Walau hatinya agak kecewa dengan sikap Harry, tapi Margareth berusaha memaklumi pria yang sudah menjadi suaminya itu. Ia mendekatkan wajahnya kewajah Harry. Margareth menghirup aroma wangi dari suaminya itu. " Kapan dirinya mandi? Kok sudah sewangi ini...." Gumam Margareth saat mencium aroma yang keluar dari tubuh suaminya itu


Margareth kembali berbaring disebelah Harry, ia berusaha tidur seperti halnya Harry yang sudah pulas disebelahnya. Margareth akhirnya tertidur membelakangi suaminya itu. Waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2