
"Mas Arta..... Salam buat istrinya mas, juga anak - anak.... Beberapa hari lagi saya juga akan kembali ke kota dimana saya bekerja." Ucap Margareth sambil berjabatan tangan dengan Arta.
"Iya non.... saya akan sampaikan.... Saya juga turut mengucapkan selamat jalan dan selamat menunaikan tugasnya sebagai tenaga kesehatan. Semoga pelayanan nona Margareth sebagai seorang dokter membuat masyarakat sangat terbantu." Ucap Arta.
"Terima kasih banyak mas Arta untuk semua doanya.... mas juga ya.... Oya, ini sedikit oleh - oleh buat isteri dan anak - anaknya mas....." Kata Margareth memberikan lima paper bag pada Arta.
"Wah nona..... saya jadi tidak enak..... ini oleh - oleh yang diberikan nyonya muda saja sudah banyak sekali...." Ucap Arta menunjuk pada banyaknya tumpukan paper bag yang telah diberikan Yurina.
"Tapi ini oleh - oleh dariku mas Arta.... jangan ditolak yaa...." Bujuk Margareth.
Arta menantap nyonya Agatsa, Moranno, ibunya juga Yurina secara bergantian.
Mereka semua memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya masing - masing sambil tersenyum.
"Tidak apa - apa nak Arta.... Ini semua kan oleh - oleh untuk keluargamu disana. Terima saja, tidak baik menolak rejeki nak Arta." Ucap nyonya Agatsa dengan senyum hangatnya.
"Baiklah.... Saya terima..... terima kasih banyak atas segala kebaikan dan perhatian dari nyonya besar, tuan Moranno, nyonya muda, juga nona Margareth pada saya, isteri...dan anak - anak saya. Saya pamit dulu, takut kesiangan." Arta membungkuk hormat, lalu menuju mobil angkutan umum yang telah menunggunya dengan membawa barang - barang bawaannya.
Moranno dan supir angkutan itu pun membantu menaikkan barang - barang dan oleh - oleh kedalam mobil angkutan.
"Ibu, Arta pamit.... ibu baik - baik ya.... jaga kesehatannya ya bu...." Ucap Arta sambil mencium tangan ibunya.
"Iya nak.... kau juga.... salam buat menantu ibu juga cucu - cucu ibu...." Sahut bibi Nur dengan mata berkaca - kaca.
Arta lalu naik ke mobil angkutan umum itu. Perlahan sopir menjalankan mobil itu, Arta melambaikan tangannya kepada semua orang yang mengantarkan kepulangannya.
Semuanya juga turut membalas lambaian tangan Arta. Suasana haru begitu terasa, hingga mobil angkutan yang membawa Arta hilang dari pandangan mereka.
"Mommy.... berangkat dulu.....Margareth apakah kau jadi ikut dengan mommy?" Kata nyonya Agatsa seraya menuju mobilnya.
"Iya mom aku ikut,..... kak Moranno, kakak ipar.... aku jalan dulu ya...." Ujar Margareth tergesa - gesa menyusul ibunya.
__ADS_1
"Kau yang menyetir...." Nyonya Agatsa melemparkan kunci mobil pada Margaret, dan dengan sigap ditangkap oleh Margareth.
"Sayang, aku juga pamit dulu....."Ucap Moranno seraya berjalan menuju mobilnya tanpa menatap kearah Yurina.
Yurina terperangah, belum sempat ia menjawab, Moranno sudah masuk kemobilnya.
"Suamiku....." Panggil Yurina. Saat Yurina akan menyusul, mobil yang dikemudikan oleh pak Karso sudah berjalan perlahan meninggalkan halaman luas menyusul mobil nyonya Agatsa dan Margaret yang sudah duluan meninggalkan mansion mewah itu.
Hati Yurina tiba - tiba terasa hampa. Ia menatap belakang mobil Moranno yang perlahan menjauh dan akhirnya menghilang dibalik pagar kokoh yang dijaga oleh beberapa security.
"Nyonya muda......" Panggil bibi Nur.
"Nyonya muda......" Panggil bibi Nur lagi. Namun Yurina tidak menjawab, matanya masih melihat kearah pagar kokoh didepannya yang sudah tertutup rapat.
Merasa panggilannya tidak didengar, bibi Nur meninggalkan dua kereta bayi yang sedang dipegangnya. Perlahan, disentuhnya lengan Yurina dengan lembut.
"Nyonya muda..... Apakah anda baik - baik saja?" Tanya bibi Nur menatap wajah Yurina yang nampak murung.
"Bayi Billy dan bayi Willy sepertinya sudah cukup berjemur, lihatlah wajah dan kulit mereka terlihat memerah. Bagaimana kalau kita membawa mereka kembali kekamar untuk mandi nyonya." Kata bibi Nur sambil menunjukkan kedua bayi itu yang terlihat sedang sibuk menggigit - gigit mainan ikan kenyal mereka.
"Iya bibi....." Yurina lalu meraih kereta bayi Billy dan mendorongnya perlahan diikuti bibi Nur dibelakangnya yang mendorong kereta bayi Willy.
Wajah Yurina yang nampak murung menyita perhatian bibi Nur. Namun bibi Nur tidak berani bertanya apa - apa pada majikannya itu karena ia adalah seorang pelayan dirumah itu.
Sesampainya dikamar bayi, Yurina memandikan kedua bayinya dibantu bibi Nur.
Keasikan kedua bayi itu saat mandi sambil bermain dan tertawa riang membuat Yurina sedikit terhibur.
Pakaian Yurina dan bibi Nur basah kuyup saat cipratan air dari dalam bak mandi bayi beberapa kali sengaja di semburkan bayi Billy dan bayi Willy dengan kedua tangan mereka. Kedua bayi itu begitu terlihat bahagia saat mereka berhasil membuat Ibu mereka dan pengasuhnya basah kuyup.
"Nyonya muda, pakaian anda basah kuyup, bergantilah pakaian, takut anda masuk angin nyonya. Biarkan saya saja yang mengurus kedua bayi nyonya ini." Ucap bibi Nur pada majikannya itu.
__ADS_1
"Tidak apa - apa bi.... nanti aku akan berganti pakaian bila mereka sudah selesai mandi." Sahut Yurina yang merasa senang dengan tingkah para bayinya yang usil itu.
"Lihatlah bibi.... Mereka tidak merasa lelah sedikitpun." Ujar Yurina sambil memperhatikan bayi - bayi yang amat riang bermain didalam bak mandinya.
"Iya nyonya muda, itu pertanda mereka adalah bayi - bayi yang sehat. Saat - saat mandi sambil bermain seperti ini memang salah satu yang membuat mereka sangat bahagia, karena selain bisa memainkan maianan - mainan dan bola - bola itu, mereka juga dapat bermain air sambil menyiram kita yang mengawasi mereka nyonya...." Kata bibi Nur tertawa kecil.
"Iya bibi, kau benar sekali....." Ucap Yurina sambil ikut tertawa melihat tingkah polah para bayinya itu.
Setelah menunggu dan mengawasi hingga lebih dari satu jam, Yurina dan bibi Nur mengangkat kedua bayi kembar itu yang nampak mulai kedinginan.
"Aakkhh.... Kau sudah sangat berat sayang.... " Kata Yurina saat menggendong bayi Billy dalam pelukannya.
"Bayi Willy juga nyonya muda. Mereka memang sangat kuat menyusui, ditambah lagi sekarang sudah makan makanan pendamping ASI." Tutur bibi Nur yang juga sedang menggendong bayi Willy dalam pelukannya.
Yurina dan bibi Nur dengan cekatan membalur minyak telon disekujur tubuh kedua bayi gembul itu lalu mengenakan pakaian bayi mereka.
"Bibi, saya tinggal dulu ya, ingin berganti pakaian basah ini." Ucap Yurina setelah membereskan peralatan bayi yang mereka gunakan.
"Iya nyonya muda....."
Yurina meninggalkan bayi - bayi itu pada bibi Nur pengasuh mereka.
Saat memasuki kamarnya dan Moranno, perasaan sepi dan hampa kembali menyerang Yurina.
"Apa yang telah aku lakukan, sehingga kau mengacuhkanku suamku?" Gumam Yurina tak mengerti.
"Kau tidak pernah melakukan ini padaku selama kita bersama. Atau telah terjadi sesuatu padamu?" Gumannya lagi sambil masuk kekamar mandi.
Yurina melepaskan pakaian basahnya dan membersihkan tubuhnya lagi dikamar mandi lalu mengenakan pakakannya yang baru.
***
__ADS_1