JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 60 "Ayolah sayang, aku kan suamimu..."


__ADS_3

Moranno gelisah menunggu diluar ruangan. Sesekali ia melihat kearah arloji yang ada ditangannya. Hingga akhirnya dokter Rosalie keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Moranno cepat.


"Nyonya muda baik-baik saja, bayi-bayinya juga. Mereka ternyata sangat kuat, baik ibu maupun bayi kembarnya. Bila orang biasa saja mungkin sangat sulit untuk bertahan. Nyonya muda mengalami dehidrasi. Sepertinya nyonya muda tidak dkberi makan dan minum semenjak nyonya muda diculik. Untuk luka-luka lebam dan juga luka-luka goresan akan sembuh beberapa hari kedepan. Perawat akan segera membawanya keruang inap. Tadi saya telah memesan sup pada perawat buat nyonya muda, dengan kondisi lambungnya sekarang ia harus mengkonsumsi makanan lembut sampai lambungnya kembali bisa menenerima makanan seperti biasanya" Jelas dokter Rosalie.


"Syukurlah.... Terima kasih dokter." Kata Moranno lega.


"Tuan Moranno saya permisi dulu, masih ada pasien yang harus saya temui. Saya turut gembira karena istri tuan telah kembali." Kata dokter Rosalie masih bersikap pormal.


" Berarti kau akan segera mandi dan juga berganti pakaian bukan setelah ini??" Goda dokter Rosalie pada sahabatnya itu.


Moranno memelototkan matanya, namun dokter Rosalie sudah meninggalkannya dengan tertawa kecil.


Beberapa perawat keluar dengan mendorong kereta pasien yang membawa Yurina diatasnya. Moranno segera mengikuti perawat hingga sampai diruang inap yang telah disediakan.


Setelah mengatur infus didekat pembaringan pasien para perawat itu permisi pada Moranno.


"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan? Tanya Moranno sambil menggenggam tangan Yurina.


"Aku.... baik-baik saja, hanya masih terasa lemas, dan begitu lelah."Kata Yurina dengan suara yang terdengar lemah.


"Aku haus...." Ujar Yurina sambil menatap sayu pada Moranno.


"Tunggu sebentar sayang." Moranno segera mengambil sebotol air mineral yang telah tersedia diatas nakas dan menuangkannya kedalam gelas. Ditekannya tombol pada ranjang pasien untuk menegakkan tubuh Yurina pada posisi duduk dan bersandar. Yurina meneguk minuman dalam gelas hingga habis.


"Tambah lagi airnya." Kata Yurina masih dengan suara lemahnya.


"Baiklah..." Moranno kembali menuangkan air mineral kedalam gelas dan memberikannya pada Yurina. Yurina segera menghabiskannya lagi.


"Tambah lagi airnya...." Moranno terkesiap. Namun ia segera menuangkannya lagi dan segera memberikannya pada Yurina. Moranno memperhatikan isterinya itu meneguk minumannya untuk ketiga kalinya, hatinya terasa begitu sangat ngilu dan pedih, tak terasa bulir air matanya mengalir disudut matanya.


Moranno memeluk Yurina yang berada dihadapannya dengan begitu erat. Sikap Moranno membuat Yurina agak terkejut hingga gelas ditangannya hampir saja terjatuh.


"Sayang..... Maafkan aku, karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Kau pasti telah melewati masa-masa yang sangat sulit bersama bayi-bayi kita oleh orang-orang yang menculikmu itu. Jika saja aku tak membiarkanmu pulang sendiri bersama bibi Nur dan pak Karso, mungkin hal itu tidak terjadi." Kata Moranno dengan perasaan pilu.


Yurina mengeleng-gelengkan kepalanya dalam pelukan Moranno.

__ADS_1


"Tidak... bukan salahmu suamiku. Akulah yang memintamu untuk tidak mengantarkanku pulang. Semua sudah berlalu, kita patut bersyukur pada Tuhan karena aku selamat, demikian juga bayi-bayi kita. Mungkin saja ada hikmahnya bila kita ikhlas." Kata Yurina dengan tulus.


"Iya, kau benar sayang. Terima kasih... karena kau begitu kuat menjaga mereka." Kata Moranno sambil mengelus perut Yurina. Bayi-bayi itu memberi respon, perut Yurina terlihat bergerak-gerak dibalik pakaian hamil yang ia kenakan.


Yurina merasa geli atas pergerakan bayi-bayi dalam perutnya, ia menyunggingkan senyumnya lalu membalas pelukan Moranno dengan erat.


"Aku... merindukanmu... apalagi bau tubuhmu.... " Yurina mengendus-enduskan hidungnya pada tubuh Moranno. Moranno membiarkan Yurina melakukan itu sambil tetap memeluk isterinya dengan penuh perasaannya. Seolah-olah ia tak ingin melepaskannya barang sedetikpun. Ingatannya akan kehilangan Yurina akibat penculikan itu membuatnya berusaha lebih baik lagi dalam menjaga Yurina dan bayi-bayinya.


"Ehemm.... ehemm..." Dokter Rosalie berdehem didepan pintu.


"Ternyata benar katamu Moranno, isterimu sangat menyukai bau tubuhmu yang tidak mandi itu." Kata dokter Rosalie dengan senyum menggoda sambil tangannya bersilang didepan dada.


Moranno dan Yurina yang menyadari kehadiran dokter Rosalie dan seorang perawat didepan pintu ruang inap langsung melepaskan pelukan mereka.


"Tentu saja... Sekarang kau sudah melihatnya sendiri kan bahwa kata-kataku itu benar, bukan omong kosong." Kata Moranno bangga. Yurina hanya bisa tersipu malu diranjang pasien.


"Iya... kau benar... Cinta itu memang aneh.... Itu sebabnya aku jadi takut jatuh cinta bila begitu. Takut melakukan hal-hal yang tidak logika seperti kalian." Seloroh dokter Rosalie sambil tertawa geli.


"Hari ini kau boleh saja mentertawai kami, nanti bila cinta itu menghampirimu, kau baru tahu rasa, nanti kau akan mentertawakan dirimu sendiri. Aku ingin lihat, bagaimana bucinnya dirimu, seorang dokter yang sekarang begitu mencintai pekerjaannya. Pasti akan lucu sekali, semoga aku dianugerahkan Tuhan untuk dapat menyaksikannya." Kata Moranno balas tertawa


"Kita lihat saja nanti, biarlah waktu yang akan menjawabnya..." Kata Moranno semakin tertawa.


"Sudahlah suamiku, tidak enak dengan dokter Rosalie juga perawat." Kata Yurina menengahi.


"Tidak usah khawatir nyonya muda, kami memang kadang seperti ini bila bertemu. Orang-orang saja yang tidak banyak tahu kalau sebenarnya suami nyonya itu suka berdebat, dan tidak mau kalah, walau sama perempuan."


"Aku setuju dengan kata-katamu yang lain, tapi tidak untuk kalimatmu yang terakhir. Ya kan sayang, aku selalu mengalah kan denganmu isteriku? Kata Moranno minta dukungan Yurina."


"Benarkah, apa benar seperti itu?" Kata Yurina sekenanya saja.


"Ayolah sayang, aku kan suamimu..." Kata Moranno seraya memeluk Yurina.


"Jangan begini suamiku, tidak enak dilihat dokter Rosalie dan perawat. Baiklah, kau memang pria dan suami yang selalu mengalah pada isteri, pokoknya kau suami yang terbaik."


"Nah benarkan...." Ujar Moranno merasa menang.


"Kau kan memaksa isterimu berbicara begitu kan?" Kata dokter Rosalie tetap bertahan.

__ADS_1


"Ah sudahlah... Apa maksudmu kemari. Bukankah tadi kau berkata ingin bertemu dengan pasienmu, kenapa bisa kemari lagi sebelum jam pemeriksaan." Kata Moranno berusaha menyudahi perdebatan mereka berdua.


"Tadi kebetulan aku lewat setelah bertemu pasien, kulihat ada perawat. Ia membawa sup yang aku pesan tadi, tapi malah berdiri lama didepan pintu tidak kunjung masuk. Ternyata ada adegan mesra-mesraan, membuat orang lain yang jadi salah tingkah." Goda dokter Rosalie lagi, perawat hanya berdiam diri tak berani memberi respon karena takut pada Moranno sang pemilik rumah sakit itu.


Moranno dan Yurina sama-sama tersipu mendengar perkataan dokter Rosalie yang dengan sengaja menggoda mereka berdua.


"Baiklah kalau begitu, bawa kemari supnya?" Ujar Moranno memandang kearah perawat.


"Ini tuan, maaf... supnya sudah sedikit dingin, apa perlu saya menggantinya lagi." Kata perawat dengan rasa tak enak.


"Tidak mengapa, ini masih sedikit hangat." Kata Moranno yang merasakan suhu mangkuk ditangannya.


Perawat lalu membawa masuk dan meletakan nampan berisi mangkuk sup dan teh hangat diatas nakas.


"Apa saya perlu membantu nyonya muda untuk makan tuan?"


"Tidak perlu, biarkan saya melakukannya sendiri."


"Baiklah, saya permisi dulu tuan dan nyonya muda, dokter Rosalie..."


" Iya... terima kasih."


"Kalau begitu, aku juga permisi." Kata dokter Rosalie ikut berpamitan.


"Sebaiknya begitu, bila tidak kau akan salah tingkah melihat kemesraan kami." Kata Moranno balas menggoda sahabatnya itu.


"Baiklah... baiklah.... tuan Moranno yang terhormat. Nyonya muda saya permisi dulu." Kata dokter Rosalue yang tidak ingin berdebat lagi.


"Iya, terima kasih dokter. Dan maafkan perkataan suami saya ini." Ujar Yurina sopan.


"Tidak masalah nyonya, kami berdua hanya bercanda saja. Setelah makan nyonya harus banyak istirahat. Dan tuan Moranno, jangan diganggu dulu isterinya, karena masih masa pemulihan."


"Siap bu dokter..." Kata Moranno sambil memberi hormat.


Dokter Rosalie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Morano, sedangkan Yurina merasa aneh karena baru mengetahuinya.


***

__ADS_1


__ADS_2