JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 65 "Jangan lupa, ini rumah sakit."


__ADS_3

"Bolehkah saya menganggap bayi-bayi tuan Moranno dan nyonya muda adalah cucu-cucu saya juga." Tanya nyonya Morgan yang terbawa perasaan saat melihat perut Yurina yang terus bergerak bergelombang dibalik pakaian hamilnya.


"Ma.... Mama bicara apa? Tidak enak dengan tuan Moranno dan nyonya muda ma." Kata tuan Morgan mendengar permintaan isterinya yang terdengar berlebihan.


"Maafkan isteri saya tuan dan nyonya. Maklum isteri saya menyukai anak-anak. Gandis putri kami satu-satunya hingga kini belum juga menikah, jadi belum bisa memberi kami cucu." imbuhnya lagi


"Iya tuan Morgan tidak mengapa. Saya merasa senang bila tuan dan nyonya mau menganggap bayi-bayi kami sama seperti cucu tuan dan nyonya sendiri. Apalagi saya mendengar bahwa tuan dan nyonya Morgan adalah sahabat dari keluarga Agatsa." Ucap Yurina sambil tersenyum memandang kearah kedua orang tua Gandis itu. Sementara Moranno hanya berdiam diri saja disisi Yurina saat mendengar ucapan Yurina isterinya pada kedua orang tua Gandis.


"Wah, saya senang sekali nyonya. Anda sangat baik, berkenan mengijinkan kami menganggap bayi-bayi anda cucu-cucu kami juga." Ujar nyonya Morgan berbinar karena bahagia.


Tuan Morgan tidak bisa berkata-kata apalagi, ia hanya bisa menepuk-nepuk pundak isterinya yang sedang tersenyum bahagia..


"Ma, bagaimana kalau kita pamit dulu, kasihan nyonya muda, pasti perlu istirahat." Ujar tuan Morgan mengingatkan isterinya setelah sekian lama mereka bertamu.


"Iya pa, kau benar." Sahut nyonya Morgan mengerti.


"Tuan Moranno dan nyonya muda, kami permisi dulu. Terima kasih telah menerima kami untuk berkunjung melihat keadaan nyonya muda." Ujar Tuan Morgan dengan sikap hormatnya.


"Iya tuan Morgan. Kami juga berterima kasih atas kunjungan tuan dan nyonya kemari. Dan mau meluangkan waktunya melihat keadaan isteri saya." Ujar Moranno juga bersikap hormat.


Moranno dan Yurina memandang kepergian kedua tamunya yang diantar oleh penjaga hingga menghilang dibelokkan koridor rumah sakit.


Moranno lalu mendorong kursi roda Yurina perlahan memasuki kamar rawatnya. Dua perawat yang sudah menunggu dikamar rawat dengan sigap membantu Yurina berdiri dan naik kepembaringan.


Setelah mengatur kemiringan tempat tidur, dua perawat itu pamit meninggalkan Moranno dan Yurina untuk kembali bertugas.


"Sayang, mengapa kau mengijinkan tuan dan nyonya Morgan menganggap bayi-bayi kita cucu mereka?" Kata Moranno sambil merapikan selimut Yurina.


"Kenapa? Apa kau tidak menyetujuinya?" Tanya Yurina pada suaminya yang masih merapikan selimut ditubuhnya.


"Apakah kau lupa, mereka adalah orang tua Gandis, wanita yang telah membuat keadaanmu seperti ini sayang." Kata Moranno mengingatkan.


"Iya, aku tau suamiku. Aku hanya merasa ada sesuatu dihatiku ini saat ada didekat mereka. Mereka sepertinya adalah orang-orang yang baik, berbeda dengan putri mereka. Apalagi aku pernah mendengar kau mengatakan bahwa mereka adalah sahabat dari keluarga Agatsa. Jadi mungkin saja ini bisa menambah erat tali persahabatan keluarga yang sudah ada." Ujar Yurina tulus.


"Baiklah, jika kau berpikir demikian. Selama aku mengenal tuan dan nyonya Morgan, mereka memang adalah orang yang baik. Semoga saja mereka tetap tulus pada kita sayang. Aku hanya ingin selalu melindungimu dari orang-orang yang berpura-pura baik tetapi ternyata jahat. Kau sudah melewati masa-masa sulitmu bersama bayi-bayi kita tanpa ada diriku bersama kalian, itu sebabnya aku harus lebih hati-hati pada semua orang." Ucap Moranno sambil menatap wajah isterinya.


"Iya terima kasih.... Suamiku... Aku mengerti maksudmu." Ucap Yurina membalas tatapan Moranno.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Yurina saat wajah Moranno semakin mendekat kewajahnya yang sedang berbaring.

__ADS_1


"Menurutmu? Apa yang akan dilakukan seorang suami saat jarak yang sangat dekat seperti ini dengan isterinya?" Sahut Moranno dengan napasnya yang menderu.


"Jangan lupa, ini rumah sakit. Jangan berlaku yang aneh-aneh suamiku? Dokter dan perawat bisa datang kapan saja kemari." Kata Yurina mengingatkan.


"Dan jangan lupa juga.... Ruang rawat inap yang kau tempati ini, adalah ruang rawat inap khusus keluarga Agatsa, jadi tidak ada dokter atau perawat yang bebas masuk. Kecuali bila sesuai jadwal pemeriksaan dan bila dibunyikan bel tanda keadaan darurat." Ucap Moranno dengan senyum kemenangan.


Yurina tidak bisa menjawab lagi, karena bibir Moranno sudah mendarat dibibirnya. Yurina hanya bisa memejamkan matanya, merasakan sentuhan Moranno.


Cecapan-cecapan halus terdengar samar-samar diruang dingin ber-AC itu.


Moranno melepaskan ciumannya saat dirasanya tangan Yurina menyentuh dadanya pertanda hampir kehabisan oksigen.


"Sayang, aku merindukanmu." Bisik Moranno setelah keduanya sama-sama menghirup udara sebanyak-banyaknya memenuhi paru-paru mereka.


"Aku juga merindukanmu suamiku." Bisik Yurina sambil mengalungkan tangannya dileher Moranno.


Moranno kembali mendaratkan ciumannya dibibir Yurina. Yurina menyambut ciumam Moranno dan membalasnya dengan pagutan lembut.


Cecapan-cecapan halus kembali terdengar samar-samar diruangan mereka berada. Hingga akhirnya keduanya sama-sama melepaskan ciumannya karena kehabisan oksigen.


Moranno membaringkan tubuhnya disisi Yurina diatas ranjang pasien. Ia merapatkan tubuhnya pada tubuh Yurina disampingnya.


"Apakah mereka sering seperti ini sayang?" Tanya Moranno sambil terus mengusap dengan lembut.


"Iya..." Sahut Yurina membiarkan tangan Moranno terus mengusap perutnya yang bergerak-gerak.


"Apakah tidak mengganggumu?" Tanya Moranno masih terus mengusap.


"Terkadang aku merasa kaget, bila tiba-tiba mereka bergerak mengejutkan. Coba perhatikan ini...." Ujar Yurina menyingkapkan pakaian hamilnya diarea perutnya.


Moranno lalu mengarahkan pandangannya pada perut Yurina. Terlihat suatu benda dari dalam perut Yurina berusaha menembus keluar. Moranno terkesiap melihat pemandangan itu.


"Apa itu??" Tanya Moranno kaget dan ingin tahu.


"Sepertinya itu siku bayi kita, terlihat runcing seolah-olah ingin menembus keluar..." Kata Yurina tertawa kecil.


"Aww....." Suara Yurina sedikit mengerang.


"Kau kenapa sayang?" Ujar Moranno khawatir saat melihat wajah Yurina sedikit meringis.

__ADS_1


"Tidak apa-apa suamiku. Itu tadi... Mereka menendang bagian bawah perutku." Sahut Yurina.


"Oh begitu rupanya. Kalian sedang berlatih bermain bola kaki ya didalam sana." Ujar Moranno, lalu melanjutkan kegiatannya mengelus perut Yurina.


Yurina tertawa kecil mendengar ucapan suaminya pada bayi kembar mereka yang entah mendengar atau tidak apa yang dikatakan sang ayah.


"Ayolah baby-baby nya daddy, kalian harus beristirahat, sudah waktunya tidur siang bersama mommy kalian." Ujar Moranno mengusap para bayi yang masih terus bergerak didalam perut ibu mereka.


"Sepertinya mereka baru akan beristirahat bila daddynya menyanyikan satu lagu buat mereka." Kata Yurina memberi ide.


"Baiklah, daddy akan menyanyikan lagu kesukaan daddy semasa kecil. Maju Tak Gentar!" Kata Moranno sekenanya saja.


"Bukankah itu lagu wajib disekolah? Bukan untuk lagu menidurkan bayi suamiku." Ujar Yurina merasa aneh atas pilihan lagu suaminya itu.


"Tidak masalah. Bayi-bayi kita harus enerjik mulai dari dalam kandungan sayang. Aku akan mulai bernyanyi."


Moranno mulai menyanyikan lagu wajib kesukaanya disekolah semasa kanak-kanaknya. Dengan penuh semangat dan percaya diri sambil mengusap-usap perut Yurina.


Yurina hanya pasrah. Bayi-bayi semàkin bergerak kian kesana-kemari mendengar lagu yang dinyanyikan sang daddy mereka. Semakin Moranno menyanyanyikan lagu wajibnya dengan penuh semangat, semakin pergerakan para bayi didalam sana bertambah aktif memperlihatkan perut Yurina bergelombang kesana-kemari dibuatnya.


"Lihatlah mereka suamiku... belum mau beristirahat mendengar lagu yang kau nyanyikan." Ujar Yurina memperlihatkan perutnya saat Moranno menyelesaikan nyanyiannya.


"Itu tandanya mereka adalah bayi yang pintar sayang. Lagunya enerjik dan mereka juga ikut enerjik. Sekarang daddy akan menyanyikan lagu pengantar tidur buat kalian."


Tik-tik-tik


Bunyi hujan diatas genting


Airnya turun tidak terkira


Cobalah tengok dahan dan ranting


Pohan yang kering basah semua.


Moranno melantunkan lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang sambil mengusap perut Yurina. Ajaib, bayi-bayi itu mulai mengurangi pergerakannya, hingga akhirnya perut Yurina terlihat tenang.


Yurina terkagum-kagum mendengar suara merdu Moranno yang mengalun lembut. Ia tidak menyangka bila suaminya itu selain berwajah tampan, tajir juga memiliki suara emas.


" Kau suami yang sempurna suamiku...." Ucap Yurina lirih.

__ADS_1


__ADS_2