JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 102 "Tarik ucapan anda nyonya."


__ADS_3

"Tuan Hartawan, menurut penyelidikan pihak kepolisian. mengapa remnya bisa tidak berpungsi." Tanya Yurina kembali pada pak Hartawan.


"Service berkalanya tidak dilakukan secara rutin. Dilakukan service bila ada kerusakan saja. Ini bisa dilihat dari daftar rutin pemeriksaan service berkalanya." Sahut tuan Hartawan.


"Bisakah saya bertemu dengan atasan atau pimpinan dimana pak Juno berkerja?" Pinta Yurina pada tuan Hartawan.


"Kebetulan, tuan Marko sedang menuju kemari. Hari ini juga ada panggilan untuknya nyonya besar." Sahut tuan Hartawan.


Sambil menunggu kedatangan tuan Marko, pak Juno dantar kembali oleh seorang petugas kedalam tahanannya kembali.


Tak lama berrselang, pintu ruangan diketuk walau sedang terbuka.


"Masuklah tuan Marko...." Tuan Hartawan mempersilahkan.


Yurina memandang kearah pintu, seorang pria masuk diantar seorang petugas polisi. Walau sudah berusia, wajah tampannya masih terlihat berkharisma. Pria itu terlihat sangat menjaga penampilannya.


"Nyonya muda, ibu Mira, ini tuan Marko, pemilik dari perusahaan tempat pak Juno berkerja." Kata tuan Hartawan memperkenalkan pria asing itu.


"Tuan Marko, ini nyonya muda Yurina isteri tuan Moranno, dan ini ibu Mira isteri mendiang pak Kasan." Kata tuan Hartawan lagi memperkenalkan.


Dengan tatapan datarnya ia memandang kearah Yurina dan ibu Mira. Diperhatikannya kedua wanita di dihadapannya itu. Wanita yang bernama Yurina nampak cantik mempesona, tapi masih sangat muda, tentunya masih kurang pengalaman dalam menghadapi segala masalah pikirnya. Sedangkan wanita yang satunya lagi, nampak sudah berumur dan terlihat canggung saat berhadapan dengan dirinya.


Baik Yurina, tuan Marko dan ibu Mira, ketiganya sama - sama berdiri untuk memberi hormat. Setelah itu, ketiganya kembali duduk dikursinya masing - masing.


"Tuan Marko, hari ini kami sengaja melakukan panggilan pada masing - masing pihak yang terkait, berkenaan dengan adanya musibah kecelakaan yang terjadi akibat kelalaian yang telah dilakukan oleh pihak pegawai anda tuan."


"Disini, ada nyonya Yurina dan ibu Mira, mereka meminta keadilan dan tanggung jawab dari pihak pak Juno maupun tuan Marko selaku pemimpin dari perusahaan tempat pak Juno berkerja." Jelas tuan Hartawan.


Sejenak, tuan Marko menatap kearah kedua wanita yang duduk berseberangan dengannya, lalu kembali memandang kearah tuan Hartawan.

__ADS_1


"Kecelakaan itu terjadi akibat kelalaian dari pak Juno pegawai saya, dan kami pun tidak pernah memberi ijin padanya untuk melewati dikawasan yang telah terjadi kecelakaan tersebut. Jadi, biarlah pak Juno yang mempertanggung jawabkan kelalaiannya itu. Jangan sangkut - pautkan pada perusahaan." Katanya enteng.


Yurina menatap tajam kearah tuan Marko yang terlihat acuh.


"Namun, kecelakàan tersebut diakibatkan karena rem dari truck gandeng yang tidak berpungsi. Dan kami telah memeriksa bahwa truck gandeng milik perusaan bapak tidak benar - benar diperhatikan kelayakannya untuk melakukan aktifitas kerja." Terang tuan Hartawan.


"Untuk pemeliharaan kendaraan itu, juga kelalaian dari pihak pak Juno, pihak perusahaan selalu menganjurkan untuk melakukan pemeliharaan sesuai jadwal tuan Hartawan." Jelas tuan Marko.


"Menurut keterangan pak Juno. Memang benar ada jadwal service rutin, namun saat ia mengantarkannya pada bagian mekanik service anda sesuai jadwal yang ada, dikatakan bahwa kendaraannya tidak perlu diservice, bila terjadi kerusakan saja baru diservice, untuk menghemat biaya perusahaan." Jelas tuan Hartawan menyudutkan.


Tuan Marko sempat terdiam sejenak seperti sedang mencari jawaban yang tepat.


"Mungkin saja itu hanya akal - akalanya saja, yang jelas tidak ada yang seperti itu tuan Hartawan." Kilahnya lagi.


"Kami juga sudah bertemu dengan beberapa pegawai mekanik anda tuan Marko. Dan mereka memberi keterangan yang sama seperti yang diterangkan pak Juno." Jelas tuan Hartawan dengan pandangannya yang menyelidik.


Yurina yang mendengar percakapan tuan Hartawan dan tuan Marko merasa muak dengan sikap tuan Marko yang berusaha mencuci tangan.


"Sebagai pemilik perusahaan, tuan Marko terkesan egois! " Yurina tiba- tiba angkat bicara dengan suara lantang.


"Tarik ucapan anda nyonya." Ucapnya tidak terima, namun berusaha berbicara dengan tenang.


"Jelas - jelas rem yang tidak berpungsi karena kurang perawatan, lalu semuanya anda timpakan pada para pegawai anda. Bagaimana mungkin mereka berani bertindak sendiri tanpa perintah dan persetujuan anda tuan Marko. Bila benar mereka melakukan itu dari diri mereka sendiri. Lalu apa yang bisa anda banggakan bila pegawai anda tidak patuh pada peraturan yang anda buat sebagai pemilik perusahaan. Dan mengapa anda diam saja, seolah - olah anda setuju akan kesalahan yang mereka lakukan!"


Perkataan tajam yang dilontarkan Yurina membuat wajah tuan Marko mendadak memerah.


Dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan emosinya, apalagi berhadapan dengan seorang wanita muda yang sempat ia remehkan diawal mereka bertemu.


"Apapun yang nyonya katakan, bagi saya tidak ada pengaruhnya." Ucap tenang.

__ADS_1


"Tuan bisa bicara seperti itu, karena tidak berada pada posisi korban seperti kami." Ucap Yurina masih dengan tatapan tajamnya.


"Suami - suami kami adalah tulang punggung keluarga kami. Sekarang keadaan suami saya masih belum sadarkan diri. Suami ibu Mira meninggal dunia, dan beberapa korban yang lainpun juga meninggal dunia, ada yang masih dirawat karena patah tulang dan lain sebagainya."


"Lalu dengan entengnya anda mengatakan bahwa itu adalah tanggung jawab pak Juno, dan jangan menyangkut pautkan dengan perusahaan. Tidak sedikitpun anda berempati pada korban."


"Pak Juno sampai kecelakaan juga karena anda mau mengemat biaya perusahaan, lalu anda mencuci tangan, sama sekali tidak ada rasa tanggung jawabnya."


"Saya sangat menyesal bertemu anda tuan Marko. Tuan Hartawan, saya menyerahkan semuanya kasus ini diusut hingga tuntas oleh pihak kepolisian, sehinga tuan Marko bisa bertanggung jawab atas apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Saya permisi dulu. Ayo ibu Mira." Yurina mengakhiri perkataannya dengan nada kekesalan.


"Baik nyonya muda." Ucap tuan Hartawan seraya berdiri dan memberi hormat.


Tuan Marko hanya bisa terdiam mendengar semua perkataan yang dilontarkan Yurina, hatinya sebenarnya sangat tidak terima. Namun kebenaran perkataan Yurina membuatnya tak mampu membantah sepatah katapun.


Yurina melangkah pergi diikuti ibu Mira. Tuan Marko mengikuti kedua wanita itu dengan pandangannya.


"Pak Karso, kita cari makan dulu, saya jadi sangat lapar setelah bertemu pria yang tidak punya hati itu." Ujar Yurina pada pak Karso saat mereka sudah didalam mobil.


"Baik nyonya muda...." Sahut pak Karso sambil menyetir.


"Singgah disini saja pak Karso." Ujar Yurina saat akan melintas didekat warung bakso pinggir jalan.


"Apa nyonya tidak salah?" Kata pak Karso yang agak ragu membelokkan mobil masuk kehalaman ruko berlantai dua itu.


"Tidak salah pak Karso, saya mengenal pemiliknya.Memangnya kenapa pak Karso?" Sahut Yurina lagi.


"Tidak mengapa nyonya muda. Bukankah nyonya muda sedang menyusui, jadi harus makan - makanan yang banyak gizinya...." Kata pak Karso lagi.


"Sekali - kali tidak apa - apa pak Karso, saya juga kangen bakso buatan ibu Selia pemilik warung ini. Pak Karso dan ibu Mira pasti suka." Kata Yurina sambil turun dari mobil yang telah dibukakan oleh Pak Karso.

__ADS_1


__ADS_2