JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 198 " Dari Suamimu."


__ADS_3

Pagi itu, saat terbangun dari tidurnya, Margareth melihat Harry sudah berpakaian rapi.


"Anda mau kemana tuan Harry??" Tanya Margareth dengan mata setengah mengantuk.


"Berkerja...." Sahut Harry dengan senyum tipisnya.


"Apa?? Berkerja??" Margareth langsung terduduk dan menatap wajah Harry seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan pria yang baru 15 jam yang lalu telah menjadi suaminya. Kantuk yang dirasanya menghilang begitu saja entah kemana.


"Iya.... kau tidak salah dengar. Hari ini aku harus berkerja, ada yang harus kukerjakan, sangat penting, tidak bisa ditunda...." Suara Harry terdengar seteduh air yang tenang. Namun ditelinga Margareth, bagaikan petir yang menggelegar dan bersahut - sahutan.


Bagaimana tidak, dihari pertama setelah mereka resmi menikah, Harry bukannya membicarakan bulan madu mereka, malah masih menggilai pekerjaannya. Bahkan suaminya itu mengatakan pekerjaannya begitu penting sehingga tidak bisa ditunda.


"Tidak apa - apa 'kan kalau aku meninggalkanmu sendiri disini? Kau jangan kemana - mana, tunggu aku kembali dari berkerja." Ucap Harry lagi.


Lidah Margareth terasa kelu, ia tidak mampu berkata apa - apa, mungkin ini takdirnya, menikah dengan seorang pria yang lebih mementingkan pekerjaannya. Margareth akhirnya terpaksa mengangguk pelan.


"Mandilah dulu..... kita akan sarapan bersama." Ucap Harry masih dengan sikap tenangnya.


Margareth turun dari tempat tidur, ia mengambil handuk kimono yang terlipat rapi ditepi pembaringan yang sudah disiapkan Harry untuknya, dan segera masuk kekamar mandi.


Tidak menunggu lama, Margareth sudah keluar dengan mengenakan handuk kimononya, dan segera menghampiri meja dimana Harry telah menunggunya untuk sarapan bersama.


"Sebentar sekali mandinya?" Tanya Harry basa - basi, sambil menggeser piring roti dan segelas susu hangat dihadapan Margareth.


Margareth menatap sejenak kearah Harry. Lalu mengalihkan pandangannya pada sarapan yang ada dihadapannya. "Aku harus bergegas, supaya anda tidak terlambat untuk berangkat berkerja tuan Harry." Ucap Margareth datar tanpa memandang wajah Harry.


Harry tak berkata apa - apa lagi, ia tahu isterinya itu sedang memendam kekecewaannya. Sepasang suami - isteri itupun menikmati sarapan dihari pertama dalam pernikahan mereka dengan suasana hening dan dingin.


"Aku berangkat dulu..... " Pamit Harry seraya berdiri dari duduknya, setelah menyelesaikan makan siangnya. Margareth segera ikut berdiri dan mengejar langkah Harry untuk mengantarkan suaminya itu hingga didepan pintu kamar hotel tempat mereka menginap semalam.

__ADS_1


"Hati - hati dijalan......" Ucap Margareth berusaha tersenyum.


"Terima kasih......" Sahut Harry dan segera berlalu pergi menyusuri lorong menuju lift yang ada diujung lorong. Margareth terperangah. Tidak ada kecupan selamat tidur semalam, dan tidak ada kecupan selamat pagi, demikian juga saat suaminya itu pergi berkerja. Margareth sungguh tidak percaya bila Harry begitu dingin, dan masih tidak perduli padanya sekalipun mereka berdua telah menikah seperti sekarang ini.


"Apa salahku tuan Harry?" Margareth bergumam seorang diri dengan wajah sedihnya sambil memandang Harry yang memasuki lift diujung lorong.


Pikirnya, Harry akan berubah hangat padanya bila mereka sudah menikah. Ternyata diluar dugaanya, pria yang telah mengubah statusnya menjadi seorang isteri itu bahkan enggan bersentuhan dengannya.


"Apakah kau tidak bisa memafkanku atas apa yang telah kau lihat waktu itu, inikah bentuk balas dendammu padaku..... Menikahiku, membuat hatiku hancur karena sudah menerimamu menjadi suamiku....." Margareth tersedu, ia menutup pintu pintu dengan rapat dibelakangnya. Dirinya sudah tidak bisa menahan diri lagi, ia menangis sejadi - jadinya dengan tubuh terkulai dan melorot kelantai sambil menyandarkan punggungnya pada pintu dibelakangnya.


Setelah puas menangis hingga hampir 2 jam, Margareth akhirnya bangkit dari duduknya, ia menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti.


Margareth sempat tertegun sejenak saat melihat isi lemari pakaian kosong. Seingatnya, dirinya memang tidak membawa sehelai pakaianpun ketempat itu.


Sedangkan lemari pakaian yang satunya lagi hanya ada gaun pengantinnya dan jas pengantin Harry. Tidak mungkin ia mengenakan gaun itu, pikirnya.


"Mommy.... mommy..... iya semua barang - barangku dibawa mommy saat pemberkatan nikah kemarin." Gumam Margareth kembali seorang diri.


"Tapi bagaimana caranya aku bisa menghubungi mommy? Aku telepon ke layanan informasi hotel dulu...." Margareth bergegas menuju meja telepon yang ada disisi tempat tidurnya. ia duduk dikursi dan menekan nomor layanan informasi seperti yang ada pada daftar telepon diatas meja.


"Hallo, saya Margareth, nyonya Harry. Dari kamar xxxx. Tolong sambungkan saya kesalah satu nomor ponsel ini." Margareth lalu menyebutkan dua nomor ponsel, yaitu ponsel ibunya dan ponsel Harry.


"Baik nyonya, ditunggu sebentar ya.... akan kami sambungkan." Sahut suara seorang wanita dari ujung telepon.


"Mohon maaf nyonya Harry, kedua nomor ponsel yang anda sebutkan itu belum mengangkat telepon dari kami." Wanita yang ada diujung telepon kembali memberi informasi pada Margareth.


"Baiklah..... terima kasih....." Margareth menutup telepon dan meletakannya kembali diatas meja dengan tidak bersemangat.


"Kalau begini caranya, bisa - bisa aku akan menggunakan handuk kimono ini sepanjang hari ini sampai tuan Harry datang." Keluh Margareth pada dirinya sendiri. Ia menatap wajahnya dari pantulan cermin yang ada diepannya. Mata itu masih terlihat sembab, dan sayu akibat tangisannya dipagi itu.

__ADS_1


Margareth menyalakan televisi sambil kembali berbaring ditempat tidurnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Hal itu tidak berlangsung lama. Margareth kembali turun dari tempat tidur, dan berjalan mondar - mandir didalam kamar hotelnya itu, berusaha mencari cara bagaimana ia bisa keluar tapi tidak menggunakan handuk kimononya itu.


Dirinya tidak betah hanya berdiam diri. Sebagai seorang dokter, Margareth terbiasa melakukan banyak hal setiap harinya, bukan hanya berdiam diri seperti sekarang ini.


Tok.... tok.... tok.....


Margareth menoleh kearah pintu." Siapa??" Tanya Margareth dengan suara keras.


"Concierge nyonya......." Sahut suara pria dari luar.


Margareth segera membukakan pintu kamar hotelnya itu. Seorang pria dengan pakaian seragam dari hotel itu telah berdiri didepan pintu.


"Ini titipan dari tuan Harry nyonya." Ucap pegawai hotel itu sambil memberikan beberapa paper bag pada Margareth.


"Tuan Harry ada dimana?" Tanya Margareth, ia menatap pegawai hotel itu.


"Maafkan saya nyonya, saya kurang tahu. Saya hanya disuruh atasan saya mengantarkan ini semua pada anda." Jelas pegawai hotel itu dengan sopan.


"Baiklah..... terima kasih..... anda boleh pergi....." Margareth lalu menerima empat paper bag dari tangan pegawai hotel itu.


"Sama - sama nyonya..... Saya permisi dulu." Pamit pegawai hotel itu dengan sopan. Margareth kembali masuk, dan menutup pintu. Ia membawa semua paper bag itu ketempat tidur.


Margareth mengeluarkan isi paper bag pertama. Gaun elegan berwarna kuning banana, terlihat begitu cerah dipandang mata. Selanjutnya, paper bag kedua, berisi sepatu high heels yang juga berwarna kuning banana. Margareth menggeleng - gelengkan kepalanya saat melihat beberapa pakaian dalam berwarna senada, kuning banana. Apa maksud semuanya ini pikirnya.


Pada paper bag keempat, Margareth menemukan satu amplop berwarna kuning banana. Ia segera meraihnya dan mengambil selembar kertas yang terlipat rapi didalamnya.


Satu jam lagi, aku akan menjemputmu untuk makan siang, nyonya Harry.....


Dari Suamimu.

__ADS_1


__ADS_2