
Pagi itu Moranno bersiap untuk berkerja, seperti biasa mereka akan sarapan bersama. Moranno melihat tempat duduk ibunya masih kosong.
"Mommy dimana bibi Nur?"
"Nyonya sedang sakit tuan, tidak bisa sarapan bersama, tadi saya sudah mengantarkan sarapan tapi nyonya tidak mau makan." Ucap bibi Nur.
"Sudah menelpon dokter Herman?"
"Belum tuan, nyonya melarang saya menelpon dokter. Sebenarnya nyonya juga melarang saya memberitahu tuan, tapi saya khawatir."
"Baiklah selesai sarapan saya akan menengok mommy. Tolong telepon dokter Herman sekarang untuk memeriksa keadaan mommy."
"Iya, baik tuan." Bibi Nur membungkuk hormat dan segera berlalu dari tempat itu
Moranno dan Yurina lalu memulai sarapan pagi mereka dalam hening, hingga keduanya menyelesaikan ritual sarapan pagi itu.
"Aku akan naik keatas melihat keadaan mommy. Apa kau ingin ikut?"
"Iya, aku ikut denganmu."
Yurina lalu segera berdiri mengikuti langkah Moranno. Keduanya berjalan bersama menaiki satu persatu anak tangga ke lantai atas.
Moranno mengetuk pintu berulang-ulang tapi tidak ada sahutan, pintu terkunci dari dalam. Moranno lalu masuk kekamar lamanya yang berada didekat kamar ibunya dan mengambil kunci serep dilaci mejanya. Ia bergegas kembali dan membuka pintu kamar ibunya dengan cepat, karena khawatir terjadi sesuatu pada ibunya.
Saat pintu terbuka Moranno segera berhambur menuju tempat tidur ibunya, diikuti Yurina. Nyonya Agatsa masih berbaring ditempat tidurnya dengan menggunakan selimutnya.
"Untuk apa kau kemari?" Kata nyonya Agatsa dengan suara datarnya.
"Aku dengar mommy sakit, jadi aku kemari. Aku mengkhawatirkan mommy."
"Benarkah? Apa kau masih perduli?"
"Tentu saja, mommy adalah ibuku orang yang aku perdulikan."
"Bukankah kau hanya perduli pada isterimu saja selain pekerjaanmu?"
Yurina yang berada dibelakang Moranno hanya bisa berdiri membisu.
"Mengapa mommy berkata begitu. Apa hanya karena perbincangan kita tadi malam? Semua itu aku sampaikan supaya mommy tau siapa gadis itu, mommy belum mengenalnya dengan baik."
"Kau salah Moranno, justru karena mommy sangat mengenalnya, itulah sebabnya mommy bersikukuh."
"Kenapa mom? Kenapa mommy tak mau melihat kenyataan bahwa dia adalah gadis yang tidak baik. Sudahlah aku bisa apa supaya mommy mengerti."
Yurina menyentuh lengan Moranno memberi isyarat supaya suaminya itu berhenti berdebat dengan ibunya.
Tok...
Tok..
Tok...
"Masuklah." Ujar Moranno saat pintu diketuk dari luar.
"Selamat pagi tuan Moranno dan nyonya, nonya besar..." Sapa dokter Herman.
"Silahkan dokter." Moranno mempersilahkan dokter untuk memeriksa ibunya.
__ADS_1
Dokter Herman lalu mengeluarkan alat pemeriksaannya, dengan seksama ia memeriksa keadaan nyonya Agatsa.
"Bagaimana dok?" Tanya Moranno pada dokter.
"Gangguan asam lambung, dan agak kelelahan. Nyonya jangan terlambat makan dan harus banyak istirahat sementara waktu." Kata dokter menerangkan hasil pemeriksaannya.
"Baik terima kasih dok."
"Saya permisi dulu, dan jangan lupa diminum obatnya ya nyonya." Kata dokter Herman lalu pergi dan diantar oleh Moranno hingga kedepan pintu kamar ibunya.
"Nyonya, saya bantu untuk sarapan dulu." Kata Yurina sambil mendekatkan piring sarapan pagi pada ibu Moranno.
"Pergi kau wanita busuk. Jangan mendekatiku ! Putraku dapat kau kelabui, tapi aku tidak!" Bentak ibu Moranno.
"Mom, jangan begitu. Yurina hanya ingin membantu mommy sarapan supaya bisa minum obat dan segera sembuh." Kata Moranno segera mendekat setelah menutup pintu kamar dengan rapat.
"Dia itu wanita penjilat, berlaku baik hanya didepan kita Moranno!" Ketus sang ibu lagi.
Yurina hanya terdiam disamping nakas sambil memegang piring. Moranno lalu mengambil piring ditangan Yurina lalu berusaha menyuapi ibunya makan.
"Mommy tak ingin makan."
"Dengar kata dokter Herman mom, mommy harus makan lalu minum obat, dan beristirahat."
"Mommy tidak mau."
"Apa mommy mau aku temani sepanjang hari dikamar ini, hmmm?" Kata Moranno menatap ibunya yang menolak sarapannya.
"Bukankah kau harus berkerja?"
"Bila mommy tak mau makan itu artinya mommy akan lambat sembuh, dan aku tidak akan membiarkan mommy sendirian dikamar ini dalam keadaan sakit, aku akan ijin berkerja." Kata Moranno dengan wajah seriusnya.
Moranno tersenyum melihat ibunya, perlahan ia menyuapi ibunya. Nyonya Agatsa menerima suapan demi suapan dari Moranno. Beberapa suap kemudian, ibu Moranno tiba-tiba memuntahkan makanannya.
"Mom, mommy tidak apa-apa? Wajah Moranno terlihat panik demikian juga Yurina.
"Perut mommy terasa mual saat ada makanan masuk ke lambung mommy." Kata nyonya Agatsa dengan suara terengah-engah setelah memuntahkan isi perutnya.
"Kita kerumah sakit saja mom." Kata Moranno lagi.
"Tak usah, mommy dirumah saja."
"Tapi mommy perlu perawatan dokter."
"Tapi mommy tak mau dirumah sakit."
"Baiklah, tapi mommy janji harus mau makan walau sedikit, karena asam lambung mommy bisa bertambah parah bila tidak makan."
"Hmmm." Nyonya Agatsa hanya mengangguk lemah.
Moranno lalu mengambil gagang telepon diatas nakas.
"Bi Nur tolong buatkan sup hangat buat mommy dan segera antarkan kemari."
"Baik tuan." Jawab bibi Nur dari sambungan telepon.
Yurina lalu mengambil selimut yang terkena muntahan mertuanya, dan menaruhnya dalam keranjang pakaian kotor. Ia mulai membersihkan bekas muntahan mertuanya menggunakan tissue dan memasukannya kedalam tong sampah yang ada didalam kamar.
__ADS_1
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuklah." Kata Moranno dari dalam kamar.
"Saya bawakan sup hangat untuk nyonya besar tuan."
"Berikan padaku." Kata Moranno sambil mengulurkan tangannya.
"Ini tuan."
"Terima kasih." Moranno lalu mendekatkan sup hangat kearah ibunya lalu mulai menyuapinya lagi. Ibu Moranno menelan setiap suapan yang diberikan putranya.
"Sekarang, mommy minum obat dulu." Moranno memberikan obat kepada ibunya dan memberikan segelas air putih.
"Sekarang mommy berbaringlah lagi. Beristirahatlah supaya kembali sehat." Kata Moranno sambil menyelimuti ibunya dengan selimut yang baru diambil Yurina dari lemari.
Sejak mereka datang menengok ibu Moranno hingga detik itu, Yurina dapat melihat bahwa Moranno sangat sayang pada ibunya,.demikian sebaliknya ibunya juga menyayangi Moranno.
"Berangkatlah berkerja, mommy akan beristirahat, ada bibi Nur bila mommy butuh sesuatu." Kata nyonya Agatsa pada putranya itu.
"Ingat, mommy jangan banyak pikiran, beristirahat saja, dan jangan lupa makan siang dan minum obatnya lagi."
"Hmmm." Ibu Moranno hanya mengangguk mendengar ucapan Moranno.
"Bibi Nur, tolong cuci selimut kotor mommy yang ada dikeranjang kotor, juga sampah jangan lupa dibawa keluar dari kamar ini."
"Baik tuan."
Moranno lalu mencium kening ibunya dan memeluknya sejenak, lalu beranjak pergi bersama Yurina keluar dari kamar itu.
"Aku mungkin agak pulang terlambat hari ini. Banyak pekerjaan yang harus aku urus dan selesaikan." Kata Moranno saat mereka turun menggunakan lift.
"Apakah hanya hari ini saja?" Tanya Yurina.
"Mungkin sepanjang minggu ini. Kenapa? Apa kau akam merindukanku, hmmm?"
"Hmmm." Yurina hanya mengangguk tanpa malu-malu, entah mengapa rasa malunya seakan pergi begitu saja.
"Baiklah, aku akan memberikanmu pelukan untuk bekalmu sepanjang hari ini." Kata Moranno sambil memeluk isterinya itu. Yurina pun membalas pelukan suaminya dengan erat.
Ting... tong...
Suara lift terbuka. Moranno lalu melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan isterinya keluar dari lift menuju mobil yang terparkir dihalaman rumah.
"Mengenai mommy, biarkan bibi Nur saja yang mengurus dan merawatnya, aku tak ingin kalian bertengkar bila tak ada aku dirumah. Kalian adalah wanita terpenting dalam hidupku. Mommy adalah ibu yang melahirkan aku. Kau adalah isteriku, dan ibu dari anak-anakku yang akan kau lahirkan."
Yurina hanya mengangguk mendengar ucapan Moranno.
"Aku berangkat dulu, jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu lelah."
"Ya, kau juga hati-hati dijalan, aku menunggumu pulang."
Moranno lalu mencium kening isterinya, lalu menyodorkan pipinya. Yurina tanpa ragu mengecup pipi suaminya, ya perasaan malunya sudah benar-benar hilang entah kemana.
__ADS_1
***