
"Adik ipar, ikutlah denganku...."Kata Yurina, setelah ia dan Margarerth baru saja menyelesaikan makan malam mereka.
Margareth mengikuti Yurina. Keduanya masuk kedalam lift menuju lantai satu.
Ditaman samping mansion mewah itu, dengan diterangi cahaya lampu taman Yurina dan Margareth duduk dikursi yang ada dipinggir taman.
"Adik ipar..... " Panggil Yurina Lirih sambil berdiri menatap kelangit, setelah sekian lama keduanya berdiam sejenak.
"Hmmm....." Margareth menoleh kearah Yurina yang sedang berdiri memandang bintang yang berhamburan dilangit malam.
"Apakah kau mengenalku?" Tanya Yurina masih memandang bintang - bintang.
Margareth merasa heran mendengar pertanyaan Yurina. Ia lalu berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendekati Yurina dan berdiri disamping kakak iparnya itu dan ikut memandang kelangit yang dihiasi bintang - bintang malam.
"Pertama kali... Aku tahu tentang kakak ipar saat berita pernikahan kalian diberitakan di beberapa media surat kabar dan juga televisi."
"Dari berita itu aku mengetahui, kakak ipar seorang anak yatim piatu dan diasuh di panti asuhan Benih Kasih. Alasan pernikahan kalian yang akhirnya terungkap karena niat tidak baik dari nona Gandis yang telah ia akui setelah insiden penculikan yang ia lakukan pada kakak ipar."
"Dan sampai akhirnya kita bertemu." Ucap Margareth menutup perkataannya.
"Kau benar adik ipar. Aku seorang anak yatim piatu, dan mendapat belas kasihan dari bunda - bunda panti asuhan Benih Kasih yang mau merawatku dari bayi berusia tujuh hari." Kata Yurina memulai kisahnya.
"Bukan aku saja, ada beberapa anak seperti diriku juga disana. Kami tidak mengetahui dimana kedua orang tua kami berada."
"Kami berusaha untuk tetap hidup dan dididik dalam asuhan para bunda yang dengan susah payah membiayai kehidupan kami. Bila kami sakit mereka berusaba membawa kami kedokter. Mereka juga menyekolahkan kami, dan membiayai kebutuhan kami yang lainnya."
"Kami bisa merasakan kasih sayang orang tua lewat para bunda - bunda itu. Dan sampai hari ini, aku tidak tahu siapa orang tua ku, apa alasan mereka menitipkanku disana.... Itu semua masih teka - teki yang belum bisa kutemukan jawabannya."
"Aku bertemu tuan Moranno karena suatu insiden yang disebabkan nona Gandis. Bersyukurnya, tuan Moranno mau bertanggung jawab menikahiku, sehingga aku dapat masuk dan menjadi bagian dari keluarga Agatsa yang aku kenal sebagai keluarga terhormat."
__ADS_1
"Awalnya aku ragu, karena pikirku, aku bukanlah siapa - siapa, tapi demi bayi yang kelak akan lahir dan statusnya harus memiliki seorang ayah, aku berusaha menjalani semuanya."
"Ternyata dalam pernikahan kami, tuan Moranno bisa menerimaku dan bisa mencintaiku. Jadi setelah aku mengetahuinya aku juga akhirnya bisa menerima dan mencintai tuan Moranno sebagai suamiku." Tutur Yurina sambil tersenyum dan masih menatap langit malam.
"Nyonya besar.... Dia masih belum bisa menerima pernikahan kami. Awalnya aku ingin menyerah menghadapinya."
"Berjalannya kehamilanku, aku sangat menyayangi bayi - bayi yang ada dalam kandunganku, ikatan kami sebagai ibu dan anak semakin hari semakin kuat. Dan setelah mereka lahir hingga usia mereka yang beberapa bulan ini, rasa sayangku semakin besar pada kedua putraku itu, mereka begitu terlihat lucu, menggemaskan walau sedang menangis."
"Dari pengalaman menjadi seorang ibu inilah aku tahu, dan aku dapat melihat hal yang sama. Nyonya besar begitu menyayangi tuan Moranno, begitu pula sebaliknya. Aku sering melihat mereka bertengkar, bahkan karena kehadiranku dalam keluarga Agatsa, namun hubungan mereka sebagai ibu dan anak tetap terjaga sampai hari ini. Itu semua karena ada kasih sayang yang kuat diantara ibu dan anak."
"Tentang dirimu adik ipar. Aku bahkan hampir tidak tahu bila tuan Moranno memiliki seorang saudari kembar. Baik tuan Moranno maupun nyonya besar, mereka berusaha tidak membahasmu. Aku mengetahuinya saat melihat pigura fhoto keluarga yang tersusun rapi diruang kelurga lantai tiga. Bibi Nur pun turut merahasiakannya saat aku bertanya padanya."
"Itu artinya mereka semua mau melupakanku, buktinya tidak seorangpun ingin membahasku." Sela Margareth .
"Menurutmu, mengapa nyonya besar yang adalah ibumu masih membiarkan pigura fhoto keluarga masih diletakkan ditempatnya semula?"
"Pigura fhoto keluarga yang ada dirimu didalamnya, tentu akan disingkirkan nyonya besar bila ia ingin melupakanmu adik ipar. Apa kau mengerti? Apa kau tidak sadar, dirimu itu mewarisi apa yang ada dalam diri ibumu?"
"Bahkan saat awal kita bertemu, aku merasa bahwa saat itu aku sedang berhadapan dengan nyonya besar Agatsa, itu sebabnya aku tahu bagaimana caranya menghadapaimu dan membawamu pulang. Karena aku tahu dibalik kerasnya hati nyonya besar, dia sangat menyayangi tuan Moranno putranya, ia menyayangi kelurganya dan selalu berusaha menjaga nama baik kelurganya, dan itu juga kulihat ada padamu."
"Aku sengaja mengintimidasimu, mengatakan bahwa aku tahu segalanya tentang dirimu supaya kau percaya aku benar - benar tahu tentang dirimu."
"Lalu bagaimana dengan berkas yang kau lemparkan keatas mejaku waktu itu?" Tanya Margaret bingung.
"Aku mendapatkannya diperpustaan saat aku sedang membaca buku. Nyonya besar rupanya rajin membuat kliping dari surat kabar tentang dirimu. Selebihnya aku mensearching jejak digitalmu."
"Jadi semuanya itu hanya....." Margareth yang baru menyadari semuanya dan sejak tadi tenganga mendengar penjelasan Yurina sudah tidak sanggup menyelesaikan kaimatnya lagi.
"Ya begitulah. Sebenarnya aku tidak banyak tahu tentang dirimu adik ipar. Yang banyak tahu tentang dirimu, dan yang mengikuti segala perkembanganmu sampai kariermu sebagai seorang dokter spesialis saraf yang dipercaya dan diterima masyarakat adalah nyonya Agatsa, ibumu sendiri."
__ADS_1
"Kau tahu, apa artinya itu adik ipar? Ibumu selalu mengawasimu secara diam - diam untuk memastikan bahwa dirimu baik - baik saja."
"Selain tuan Moranno, dihati ibumu juga ada dirimu. Hatinya terjaga dengan baik untukmu juga sebagai putrinya."
"Dan kau juga begitu kan adik ipar? Kau selalu mengawasi nyonya besar dan tuan Moranno selama ini, itu sebabnya walau pertama kali kita bertemu kau langsung bisa mengenali wajahku dengan baik. Hatimu juga terjaga dengan baik untuk mereka, untuk kakakmu dan ibumu itu."
" Kalian sebenarnya saling sayang, hanya saja ego masing - masing terlalu dikedepankan."
"Aku.... yang sekalipun belum diterima sepenuhnya sebagai menantu dirumah keluarga Agatsa ini oleh nyonya besar, namun masih diijinkan untuk tinggal disini, merasakan kasih sayang dari suamiku, dan bayi - bayiku pun mendapat kasih sayang dari ayahnya dan juga omanya, rasanya itu sudah begitu berharga bagiku."
Yurina menghadapkan mengalihkan tatapannya pada Margareth.
"Adik ipar, saat dimeja makan tadi, apakah kau melihat wajah letih ibumu?" Tanya Yurina memandang lekat wajah Margareth.
Margareth menggelengkan kepalanya lemah.
"Aku tidak terlalu memperhatikannya karena hatiku sedang kesal padanya." Sahut Margareth jujur.
"Semenjak tuan Moranno kecelakaan dan koma sekian bulan lamanya, nyonya besarlah yang menggantikan pekerjaan tuan Moranno yang begitu berat itu, perusahaan yang memiliki banyak anak cabang dimana - mana dan tidak mudah menanganinya."
"Dan itu dilakukan nyonya besar karena keluarganya, menjaga peninggalan mendiang tuan Agatsa untuk semua garis keturunannya."
"Berbaikanlah dengan nyonya besar, ibumu. Ia pasti menunggu dirimu datang padanya, jangan keraskan hatimu adik ipar."
"Pikirkanlah apa yang aku sampaikan ini. Aku harus pergi sekarang. Suamiku dan bayi - bayiku pasti sudah menungguku."
"Ingat, keluarga itu adalah harta kita yang paling berharga adik ipar."
Yurina lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauh meninggalkan Margareth seorang diri ditaman itu.
__ADS_1
Margareth memandang kepergian Yurina dengan perasaan campur aduk.