JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 109 "Suamiku... tanganmu sudah memberi respon..."


__ADS_3

"Selamat siang nyonya muda." Sapa pengawal jaga saat melihat Yurina bersama bibi Nur dan kedua bayi kembarnya yang tiba didepan ruang rawat Moranno sambil membungkuk hormat.


"Selamat siang...." Sahut Yurina.


Penjaga itu lalu membuka pintu dan mempersilahkan Yurina masuk bersama bibi Nur dan bayi kembarnya.


Suasana asing, membuat kedua bayi kembar itu sibuk mengedarkan pandangan mereka kesana - kemari sambil memegang pegangan kereta yang ada dihadapan mereka masing - masing.


Suhu dalam ruangan serasa sejuk dibandingkan diluar ruangan dengan suhu yang panas karena cuaca yang begitu cerah.


"Bibi Nur, bibi tunggu diruang tamu ini dulu bersama Bayi Billy dan bayi Willy. Aku akan membersihkan tubuh suamiku dulu." Kata Yurina sebelum masuk ke ruang rawat Moranno.


"Baik nyonya muda....." Sahut bibi Nur.


Yurina terlebih dahulu kekamar mandi, mengambil air hangat dari sana, lalu membawanya masuk.


Yurina mendekati Moranno. Diletakannya baskom berisi air hangat diatas kursi dekat pembaringàn Moranno.


Didekatkannya wajahnya pada wajah Moranno. Diusapnya wajah Moranno yang nampak memucat. Dikecupnya pipi suaminya itu dengan lembut.


"Suamiku, apa kabarmu siang ini?" Ucapnya ditelinga Moranno.


"Maafkan aku, aku agak terlambat datang. Hari ini ada jadwal imunisasi bayi kembar kita, Billy dan Willy."


"Mereka adalah bayi - bayi kita yang hebat suamiku, tidak menangis saat terkena jarum suntik. Mereka kuat dan hebat sama seperti daddynya."


"Tetaplah bertahan ya suamiku. Aku akan menjemput dokter untumu. Kau pasti sembuh... Kau pasti sembuh suamiku."


"Bayi - bayi kita ada diluar bersama bibi Nur, nanti mereka akan menemuimu setelah aku membersihkan tubuhmu suamiku."


Yurina membuka kancing demi kancing baju pasien yang dikenakan Moranno.


Menurut perkataan dokter, tubuh Moranno sudah boleh digerakan, namun harus dengan sangat hati - hati.


Tubuh yang sudah tidak mengenakan pakaian itu terlihat sangat kurus. Tulang - tulang rusuknya sangat nampak.


Tubuh atletis yang selama ini dirawat pemiliknya, kini hanya menyisakan daging yang tipis dengan kulit yang sedikit mengeriput karena kekurangan lemak.


Air mata Yurina kembali mengalir, dari sudut - sudut matanya.


Tangannya terus mengusap menggunakan kain basah ditubuh Moranno. Ia tidak berbicara sepatah katapun.

__ADS_1


Suaranya tertahan ditenggorokan, hanya bahunya saja yang berguncang - guncang menahan tangis mengiringi tangannya yang terus mengusap dengan kain basah ditubuh Moranno.


Selesai membersihkan seluruh tubuh Moranno Yurina kembali mengenakan pakaian pasien yang baru dan bersih pada tubuh Moranno.


Baskom dan kain basah segera dibawa Yurina kembali kekamar mandi.


"Bibi, ayo kita bawa bayi Billy dan bayi Willy menemui daddynya."


"Baik nyonya muda...." Bibi Nur dan Yurina mendorong kereta - kereta bayi itu masuk kedalam ruang rawat Moranno.


Wajah bayi - bayi itu masih terlihat segar, tak tampak lelah sedikitpun, mungkin suasana baru dan tempat yang baru mereka kunjungi membuat kedua bayi gembul itu nampak tetap bersemangat.


Yurina meraih tubuh bayi Billy dan menggendongnya dalam pelukannya.


Didekatkannya bayi Billy pada sang daddy. Bayi Billy menepuk - nepukkan tangannya pada dada Moranno. Matanya melihat kesana - kemari.


Tangan gembulnya ingin meraih alat - alat medis yang bergelayut kesana - kemari ditubuh Moranno.


"Tidak boleh sayang, daddy sedang sakit. Daddy membutuhkan semua alat - alat itu." Ucap Yurina sambil memegang tangan bayi Billy supaya tidak meraih alat - alat yang bergelayut.


"Suamiku, ini bayi Billy... hari ini beratnya sudah enam kilo gram lebih, mommynya sudah agak keberatan menggendongnya seperti ini."


Yurina lalu membaringkan bayi Billy di samping Moranno berbaring.


"Nyonya.... jari telunjuk tuan nyonya....!"Teriak bibi Nur sambil menunjuk kearah jari Moranno yang terrindih tubuh gembul bayi Billy.


Yurina yang kaget spontan melihat kearah jari telunjuk Moranno yang beberapa kali bergerak lemah.


"Bibi cepat tekan bel!" Teriak Yurina kegirangan.


"Iya nyonya...." Bibi Nur segera menekan bel darurat untuk memanggil dokter atau para perawat.


"Suamiku, tanganmu sudah memberi respon...." Kata Yurina seraya mengangkat bayi Billy dan meletakan bayinya itu dikeretanya kembali.


Yurina menyentuh tangan Moranno. Dicium dan dipeluknya dengan penuh haru.


"Suamiku.... Kau pasti sembuh.... cepatlah bangun.... Kau harus melihat bayi - bayi kita yang tumbuh sehat dan menggemaskan." Ujar Yurina dengan air mata yang kembali menetes. Air mata bahagia karena setelah sekian lamanya suaminya itu dirawat, kkni sudah bisa memberi respon.


Terdengar ketukan pintu.


"Masuklah......" Kata Yurina.

__ADS_1


"Selamat siang nyonya muda. Apa anda memanggil kami?" Kata dokter Rogen bergegas masuk dan tidak lupa memberi hormatnya. Dua suster mengikutinya dari belakang.


"Iya dok.... Lihatlah.... tangan suami saya bisa ia gerakkan walau masih terlihat lemas." Kata Yurina sambil memegang dan sedikit mengangkat tangan Moranno keudara.


Dokter Rogen mendekat, diperhatikannya tangan Moranno yang tidak nampak bergerak sama sekali.


Wajah dokter Rogen kembali menatap wajah Yurina seakan ingin memastikan kebenaran perkataan Yurina.


"Sungguh dokter, jari telunjuk suami saya bergerak beberapa kali, bibi Nur juga melihatnya." Kata Yurina yang seolah mengerti arti tatapan dokter Rogen.


"Iya dokter... Bahkan saya yang pertama kali melihat tangan tuan Moranno bergerak, tapi masih terlihat lemah.


"Permisi nyonya muda...." Kata dokter Rogen sambil meraih tangan Moranno yang masih dipegang Yurina.


Dengan hati - hati dokyer Rogen menggerakkan tangan Moranno yang lemah dan lunglai itu dengan pelan. Tidak terjadi pergerakan sama sekali.


"Sungguh dokter, saya sungguh - sungguh melihat tangan suami saya tadi bergerak." Kata Yurina meyakinkan.


"Iya, saya percaya apa yang nyonya katakan." Kata sang dokter yang merasa kasihan pada Yurina.


Yurina lalu meraih bayi keduanya yang sejak tadi berceloteh dengan suara yang kurang jelas. Ia menggendongnya dalam pelukannya dihadapan dokter Rogen dan kedua suter itu.


"Suamiku, lihatlah ini bayi kita yang kedua... Bayi Willy... Beratnya juga enam kilo gram lebih, sama seperti kakaknya Billy."


"Kau harus bangun suamiku, kau harus melihat bayi Willy juga. Ia sama sehatnya dan meggemaskan seperti kakaknya Billy." Kata Yurina sambil meneteskan air mata.


Dokter Rogen dan kedua suster perawat itu hanya mematung ditempat mereka berdiri.


Hal yang Yurina lakukan sudah biasa mereka saksikan dan hadapi selama berkerja sebagai tenaga medis.


Walaupun demikian, naluri mereka tetap tersentuh melihat tindakkan Yurina yang begitu optimis.


Setelah berkata - kata demikian, Yurina membaringkan bayi Willy disamping Moranno.


Bayi Wlly yang tidak ingin dibaringkan, muali meronta - ronta dengan kedua tangan dan kakinya yang bergerak bebas. Gerakannya yang begitu aktif seolah memukul tubuh dan tangan sang daddy.


Karena tidak segera diangkat, bayi Willy langsung menangis kencang, membuat semua yang ada diruangan itu terkaget.


Tidak terkecuali dengan Moranno, tangan Moranno ikut bergerak beberapa kali.


Momen itu terlihat oleh dokter dan dua suster perawatnya.

__ADS_1


"Nyonya muda.... tangan tuan Moranno bergerak beberapa kali." Seru dokter Rogen.


Semuanya pokus pada tangan Moranno, sehingga melupakan bayi Willy yang semakin kencang menangis.


__ADS_2