
Didalam mobil menuju arah rumah sakit, Margareth dan Harry kembali sama - sama membisu. Mereka sama - sama tidak tahu apa yang harus diobrolkan.
Harry dengan sikap tenang dan bersahajanya, mengemudikan mobil Margareth dengan kecepatan sedang.
Margareth sesekali melirik Harry dengan ekor matanya. Pria itu tetap mengarahkan pandangan matanya kedepan dengan pokus pada jalan.
Setelah sekian lama larut dalam pikiran mereka masing - masing. Margareth berusaha membuka obrolan. Biasanya selalu Harry yang berinisiatif untuk memulai bila sedang berdua.
"Tuan Harry......" Panggil Margareth lirih.
"Hmm......" Harry menoleh sepintas menatap kearah Margareth lalu kembali pokus pada jalan.
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Tadi waktu direstoran saat aku ingin bicara, keburu pelayan sudah datang membawakan menu pesanan kita." Margareth menatap wajah Harry dari samping. Pria itu memang selalu rapi dalam setiap penampilannya, termasuk rambut barunya yang menyita perhatiannya.
"Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan, aku akan mendengarkanmu dengan baik. Atau perlukah aku menghentikan mobil ini disuatu tempat. Tapi bukankah kau telah ada janji jam dua siang ini dengan kepala rumah sakit tempat kau berkerja?" Ucap Harry kembali menatap Margareth sejenak dan kembali pokus pada jalan didepannya.
"Iya, kita mengobrol sambil jalan saja." Sahut Margareth sambil menatap kedepan.
"Pria tadi......saat kita berada dirumah sakit..... maksudku...... dokter Randiasa....." Margareth nampak kaku, ia bingung untuk memulai dari mana. Sementara Harry tetap mendengarkan sambil mengemudi, ia sengaja mengurangi kecepatan saat mendengar nama Randiasa disebut.
"Dia..... dokter Randiasa itu, dia temanku, juga teman dokter Rosalie.... dia juga teman sekolahku saat di SMU hingga perguruan tinggi kedokteran diluar negeri. Aku, Rosalie dan Randiasa kami bertiga sering bersama."
" Dokter Randiasa, dia adalah laki - laki pertama yang pernah singgah dalam hidupku, dan telah menjadi masa laluku." Margareth menjedah ucapannya, ia memandang wajah Harry dari samping. Pria itu tidak menunjukan ekspresi yang berarti setelah mendengar sedikit penjelasan dari Margareth. Namun entah kenapa, hati Margareth masih belum merasa lega.
__ADS_1
Ia ingin Harry berkomentar supaya ia tahu apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan pria disampingnya itu. Namun Harry tidak mengeluarkan satu patah katapun.
Margareth merasa bersalah pada Harry yang telah menangkap basah dirinya memeluk dokter Randiasa. Sedangkan dirinya dan Harry sudah bertunangan, dan satu bulan lagi keduanya akan menikah. Ia merasa khawatir bila Harry salah paham akan apa yang ia lihat.
Harry membelokkan mobil yang ia kemudikan memasuki area rumah sakit. Ia menurunkan kaca jendela mobil dan melemparkan senyuman pada petugas security sambil membunyikan klakson. Petugas security, turut memberikan senyuman lalu memberi isyarat untuk melintas.
Harry melambatkan jalan mobilnya, lalu menghentikan tepat diparkiran khusus pegawai rumah sakit.
"Kita sudah sampai....." Ucap Harry sambil membuka sabuk pengaman yang melilit pada tubuhnya.
Margareth menahan lengan Harry yang hendak keluar dari mobil.
"Tidakkah tuan Harry memberi respon pada apa yang telah aku sampaikan tadi??" Ucap Margareth menatap Harry, hatinya masih tidak tenang sebelum tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu.
Harry melihat tangan Margareth yang memegang erat lengannya.
"Saat melihatmu memeluk dirinya dari belakang dan kata rindumu padanya membuatku sudah bisa menebak, bahwa dokter itu adalah pria yang pernah membuatmu hampir tidak menerima lamaranku." Suara Harry terdengar serak, dari sorot matanya, terlihat ada luka disana.
"Jadi kau melihat semuanya?" Margareth nampak khawatir dan was - was. Dirinya berharap Harry tidak melihat semuanya.
"Iya, aku tidak sengaja melihat semuanya. Sebenarnya aku memanggilmu, tapi kau tidak mendengar suaraku karena sibuk menguntit seorang pria, jadi aku tetap mengikutimu dari belakang, dan kau sama sekali tidak menoleh untuk melihatku. Sampai akhirnya, aku melihatmu.... memeluk pria itu..... dan mengatakan kata rindumu itu....." Margareth terhenyak, perkataan jujur Harry seolah menampar wajahnya. Margareth sudah tidak sanggup menatap Harry yang masih menatapnya lekat, ia tertunduk lunglai disamping Harry.
"Apakah dihatimu masih ada dirinya?" Suara Harry terdengar serak, ia berusaha menahan gejolak yang ada dalam dadanya.
__ADS_1
Margareth mengangkat wajahnya, menatap Harry yang masih lekat menatap langsung kematanya seolah mampu menembus hingga kejantungnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu padaku??" Margareth balik bertanya, hatinya terasa sedih mendengar pertanyaan pria itu. Tapi Margareth tidak bisa menyalahkan Harry, bila ia pada posisi pria itu, tentu saja ia akan mempertanyakan hal yang sama.
"Aku dapat melihat.... kau tidak bisa melupakan pria itu......" Sahut Harry mengungkapkan apa yang ia amati.
Margareth tidak bisa menjawab, lidahnya terasa kelu. Bila boleh jujur, ia memang masih menyayangi pria masa lalunya itu, namun.kehadiran Harry yang tenang dan mencintainya mampu menggeser posisi Randiasa dari hatinya.
"Nona Margareth.... aku.... mencintai dirimu, bahkan semua yang ada pada dirimu......Itu sebabnya aku datang kemari tanpa mengabarimu, aku sangat merindukanmu." Ungkap Harry, ia mencondongkan wajahnya kearah wajah Margareth hingga menyisakan jarak beberapa inci saja, sapuan napas pria itu begitu hangat terasa diwajah Margareth. Mata keduanya saling bertatapan.
"Jangan memeluk pria lain lagi seperti tadi, atau membiarkan pria lain menyentuhmu. Aku tidak akan pernah rela....." Ucap Harry setengah berbisik.
Harry memajukan lagi wajahnya, hingga hidung mancungnya dan hidung mancung milik Margareth saling bersentuhan. Margareth menahan napasnya, denyut jantungnya berdetak cepat, ia memejamkan matanya. Mata Harry beralih pada bibir Margareth yang sedikit terbuka. Bibir berwarna pink itu seolah menggoda dirinya untuk **********.
"Dan aku pun tidak akan membiarkan diriku menyentuhmu, sekalipun aku menginginkannya." Harry langsung memundurkan wajahnya, ia cepat menyadarkan dirinya sendiri. Margareth yang mendengar ucapan Harry langsung membuka mata, ia masih menyandarkan tubuhnya dijok mobil.
"Aku akan menyentuhmu, saat kau resmi menjadi isteriku." Harry mengatur napasnya yang sempat memburu.
"Mengenai pertanyaanku tadi, kau tidak perlu menjawabnya lagi."
"Satu bulan kedepan kita akan menikah. Kau masih punya kesempatan untuk memilih."
"Untuk satu bulan kedepan, menjelang pernikahan kita aku tidak akan menelpon atau berkirim pesan padamu. Itu kulakukan untuk memberimu kesempatan memeriksa hatimu, apakah ada ruang untukku?"
__ADS_1
"Bila masih ada ruang untukku, datanglah kepesta pernikahan kita, aku menunggumu disana. Bila kau tidak datang, itu artinya, kau telah membantalkan pernikahan kita." Ungkap Harry.
"Ayo, arlojiku sudah menunjukan pukul 13.50, kau pasti sudah ditunggu."