
Dokter Rosalie sekilas menatap kearah tuan Hartawan, wajahnya masih terlihat sedikit gugup. Ia tidak menyangka akan bertemu Moranno dan Yurina ditempat itu.
"Bagaimana kalian bisa berada disini?" Tanya dokter Rosalie berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Pengantin wanitanya adalah sahabat isteriku." Sahut Moranno.
"Jadi kau sudah bertemu Randiasa??" Tanya dokter Rosalie nampak terkejut dan sedikit khawatir.
"Sudah....." Singkat Moranno.
"Aku harap kau tidak melakukan sesuatu padanya di pesta pernikahannya ini Moranno?" Dokter Rosalie masih terlihat khawatir.
Yurina dan tuan Hartawan yang tidak memahami apa yang sedang dibahas keduanya hanya ikut menyimak sambil berdiri pada sisi pasangannya masing - masing.
"Menurutmu, sesuatu apa yang bisa aku lakukan padanya?" Moranno balik bertanya.
"Yah, aku tidak tahu..... tapi bisa saja 'kan kau mempermalukannya?"
"Rosalie, sekalipun aku bisa melakukannya, tapi aku tidak mungkin melakukannya pada suami sahabat isteriku. Dan jangan khawatir, aku juga bukanlah orang yang suka mempermalukan orang lain dimuka umum. Aku tahu batasanku." Jawab Moranno dengan nada rendahnya. Rosalie nampak Lega mendengar ucapan Moranno
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi Rosalie?" Moranno kembali mengingat tujuannya menghampiri sahabatnya itu.
"Pertanyaan apa?" Rosalie pura - pura tidak mengerti.
"Pura - pura lupa atau mau aku perjelas?" Ungkap Moranno sambil bersidekap, menanti penjelasan dari mulut sahabatnya itu Dokter Rosalie menatap tuan Hartawan sejenak, lalu berusaha memberi penjelasan pada Moranno yang terus menunggu jawabannya.
"Aku dan tuan Hartawan..... kami berdua.... " Dokter Rosalie menjelaskan dengan terbata - bata. Tangannya ikut bergerak menunjuk dirinya dan tuan Hartawan, namun ia nampak sulit melanjutkan penjelasannya.
__ADS_1
"Mamah........!! Papah........!!" Seorang anak perempuan kecil berhambur menubruk kaki Rosalie dan tuan Hartawan dengan napas terengah - engah lalu memeluk erat. Sementara Rara pengasuhnya, berlari - lari kecil menyusul dari belakang.
Mata Moranno mendelik, ia terkejut mendengar panggilan anak kecil itu pada dokter Rosalie dan tuan Hartawan
"Sayang..... sepertinya aku sudah melewatkan banyak hal termasuk panggilan gadis kecil itu pada dokter Rosalie." Ucap Moranno pada Yurina yang turut menyaksikan hal itu. Yurina mengedikkan bahunya sambil menggeleng.
"Sudah pipisnya sayang?" Tanya dokter Rosalie pada gadia kecil itu.
"Sudah mamah, Losa haus abis lali - lali sama kakak Lala....." Ucap Rosa yang sudah terdengar lebih jelas berbicara walau lidahnya masih cadel.
"Kak Rara temanin Rosa minum disana ya....." Ucap Rosalie pada Rara menunjuk kesatu arah.
"Iya tante....." Rara lalu menggandeng gadis kecil itu untuk ikut dengannya. Moranno kembali mendelik, yang ia tahu, pengasuh Rosalia selalu memanggil dokter didepan nama Rosalia.
"Ayo Rosa, ikut kakak, kita ambil minum disana ya....?" Ucap Rara. Gadis kecil itu mengangguk setuju lalu mengikuti Rara.
"Tunggu - tunggu..... Jangan bilang kalian sudah menikah dengan diam - diam tanpa mengundangku...." Tebak Moranno yang masih terheran - heran dengan sikap dokter Rosale dan Rosalia yang sudah seperti satu keluarga.
"Lalu mengapa anak tuan Hartawan memanggil dirimu dengan sebutan 'mamah'?" Ucap Moranno sambil menatap wajah dokter Rosalie dan tuan Hartawan secara bergantian.
"Itu..... karena......" Dokter Rosalie merasa bingung harus memberi penjelasan pada pertanyaan Moranno.
"Karena Rosalia menganggap dokter Rosalie adalah ibunya tuan. Waktu masih bayi, Rosalia hanya beberapa kali bertemu dengan ibu kandungnya, yang sedang dirawat saat itu. Ditambah lagi ia belum bisa mengenal wajah ibunya dengan baik. Rosalia lebih banyak ditangani dokter Rosalie bila sedang rewel. Mungkin itu yang menyebabkan ada kedekatan hubungan antara Rosalia putri saya dengan dokter Rosalie." dokter Rosalia merasa lega mendengar tuan Hartawan memberi penjelasan, ia merasa terbantu dari sikap ingin tahu Moranno.
"Owhhh....." Moranno mengangguk - anggukkan kepalanya menandakan penjelasan tuan Hartawan masuk dalam logikanya.
"Tapi.....kenapa dokter Rosalie menggandeng tangan anda begitu mesra tuan Hartawan?" Entah apa yang terjadi padanya, tidak biasanya jiwa kepo Moranno tiba - tiba meronta meminta penjelasan tanpa mengingat siapa dirinya dimata kedua orang yang sedang menjadi pusat pertanyaannya.
__ADS_1
Wajah dokter Rosalie langsung merona, ia telihat salah tingkah berdiri disamping tuan Hartawan. Sementara tuan Hartawan masih bersikap tenang.
"Suamiku..... pertanyaan macam apa itu?" Tegur Yurina sambil menyikut pelan pinggang Moranno, ia merasa tidak nyaman pada apa yang ditanyakan sang suami.
"Entahlah sayang, aku sendiri heran kenapa aku sekepo ini pada dokter Rosalie dan tuan Hartawan..." Ucap Moranno setengah berbisik namun masih dapat didengar oleh Yurina, dokter Rosalie dan tuan Hartawan.
Tuan Hartawan merasa geli, sehingga ia sedikit menyunggingkan senyumnya mendengar perkataan Moranno yang menggelitik hatinya.
"Sebenarnya......??" Ucap tuan Hartawan menggantung, membuat Moranno menahan napasnya menunggu kalimat selanjutnya.
"Sebenarnya apa tuan Hartawan?" Wajah Moranno begitu penasaran.
Hartawan kembali tersenyum melihat sikap Moranno yang begitu antusias mendengar kelanjutan penjelasannya. Bukan maksudnya sengaja membuat Moranno penasaran. Ia menatap sejenak wajah dokter Rosalie disampingnya, dokter Rosalie yang sudah bisa menebak maksud pandangan tuan Hartawan segera menggeleng rusuh.
"Maafkan saya tuan Moranno, sepertinya saya terpaksa membuat anda penasaran, karena dokter Rosalie tidak mengijinkan saya melanjutkan penjelasan saya." Ungkap tuan Hartawan memberi alasan, wajahnya terlihat jenaka menahan tawa melihat Moranno yang kecewa.
"Rosalie..... ternyata pengaruhmu sangat kuat, gelengan kepalamu saja bisa membuat seorang polisi seperti tuan Hartawan patuh padamu dan mengubah keputusannya...." Ucap Moranno kembali meledek, disambut gelak tawa tuan Hartawan. Yurina dan dokter Rosalie ikut tergelak karena melihat wajah Moranno yang tidak puas namun berusaha bercanda.
"Tuan Hartawan, kumohon..... lanjutkan penjelasan anda tadi padaku?" Pinta Moranno, dengan wajahnya yang memelas membuat Yurina merasa heran melihat sikap Moranno yang seperti bukan dirinya.
"Suamiku..... sejak kapan kau ingin tahu urusan pribadi orang?" Yurina mulai tidak nyaman dengan sikap suaminya itu.
"Sayang..... aku bisa - bisa tidak tidur malam ini karena penasaran....." Sahut Moranno masih bersikeras. Tuan Hartawan dan dokter Rosalie yang mendengar perdebatan sepasang suami isteri itu jadi saling berpandangan. Wajah dokter Rosalie terlihat heran, sedangkan wajah tuan Hartawan menahan senyum.
"Suamiku..... kau seperti wanita hamil yang sedang mengidam saja....." Ucap Yurina yang sudah tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikan suaminya itu yang tetap ingin tahu mengenai hubungan sahabatnya itu.
"Iya sayang..... kau benar..... aku sedang mengidam....." Moranno langsung mendapat ide untuk memenuhi rasa ingin tahunya saat mendengar ucapan Yurina isterinya dengan wajah berbinar.
__ADS_1
"Tuan Hartawan...... anda dengarkan, isteri saya mengatakan saya sedang mengidam? Jadi tolong katakan pada saya..... apa anda tega melihat anak saya nanti ileran saat lahir." Ucap Moranno masih beusaha mendapatkan penjelasan. Yurina dan dokter Rosalie hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala melihat tingkah Moranno yang semakin menjadi.
Tuan Hartawan masih berusaha menahan senyumnya melihat sikap sahabat dokter Rosalie itu, ia seolah tidak percaya, seorang CEO yang ia segani selama ini, yang memiliki prestasi dan pengaruh yang besar dikalangan pembisnis ternyata memiliki sisi yang bisa membuat dirinya harus sering menahan senyum dimalam itu.