
"Tuan dan nyonya Morgan, maksud saya mengundang anda berdua kemari adalah untuk memberitahukan kabar gembira." Ucap Nyonya Agatsa ditengah - tengah obrolan mereka.
"Kabar gembira apa itu nyonya besar?" Tanya tuan Morgan nampak penasaran. Billy yang berdiri dipangkuannya memainkan kerah baju kakeknya itu.
"Kami akan menambah anggota keluarga baru lagi papa dan mama....." Terdengar suara Moranno yang baru masuk keruang keluarga itu. Semua mata memandang kearahnya.
"Menambah anggota baru?? Itu artinya....." Wajah tuan Morgan langsung berbinar.
"Iya pa.... itu artinya..... isteriku ini sedang mengandung anak ketiga kami......" Ucap Moranno sambil memeluk leher Yurina dari belakang dengan satu tangannya.
Yurina yang duduk disebelah ibunya tersenyum bahagia saat mengetahui suaminya itu sudah kembali.
"Sayang...... Mawar ini untukmu....." Moranno menyerahkan sebuket mawar merah pada Yurina.
"Untukku.....??" Tanya Yurina memastikan sambil menyambut mawar segar yang dibawa Moranno.
"Iya, untuk isteriku dan untuk ibu dari anak - anakku...... Selamat ya sayang, kita akan punya anak lagi......" Moranno mencium kening Yurina dengan penuh kasih sayang.
Nyonya Agatsa, tuan dan nyonya Morgan ikut tersenyum bahagia melihat kemesraan kedua anak mereka.
"Selamat ya sayang....." Nyonya Morgan memeluk lalu mencium putrinya itu dengan sayang.
Tuan Morgan juga, dengan menggendong Billy ditangannya, ia memeluk Yurina putrinya dengan satu tangannya sambil mencium kening putrinya itu.
"Selamat ya sayang..... papa senang sekali mendengarnya..... kau juga Moranno, papa dan mama mengucapkan selamat pada kalian berdua." Ucap tuan Morgan sambil menatap kearah Moranno dan Yurina secara bergantian.
"Terima kasih papa dan mama....." Moranno dan Yurina menjawab secara bersamaan.
"Ini memang kabar yang membahagiakan, kita semua merasa sangat senang mendengar kabar ini. Kita harus merayakannya." Ucap nyonya Morgan dengan senyum sumringahnya.
"Tentu saja nyonya, itu sebabnya saya mengundang kita untuk makan malam bersama disini. Ayo.... karena Moranno sudah datang, kita langsung kemeja makan saja." Nyonya Agatsa segera berdiri dan mengajak kedua besannya, juga Yurina dan Moranno menuju ruang makan.
Dimeja makan, Moranno dengan telaten mengurus isterinya. Walau Yurina berusaha menolaknya karena malu dilihat oleh kedua orang tuannya juga ibu mertuanya.
Bayi Billy dan juga bayi Willy yang masih beberapa hari lagi akan berulang tahun yang pertama, juga ikut makan bersama dimeja makan itu.
Kedua bayi kembar itu tidak mau diurus oleh kakek dan kedua neneknya. Mereka bersikeras makan sendiri dengan memegang sendok dan garpu dikedua tangan gembul mereka.
Kursi bayi khusus yang keduanya gunakan dimeja makan membuat mereka sama dengan orang - orang dewasa yang duduk bersama disatu meja itu.
Khusus diarea bayi Billy dan bayi Willy meja terlihat begitu kacau hingga kelantai dibawahnya, makanan berhamburan akibat ulah keduanya.
__ADS_1
Nasi dan bumbu lauk berlepotan menempel dipinggir mulut, pipi, hidung, dan dahi kedua bayi itu.
Tanpa merasa tergganggu mereka berdua tetap makan dengan lahap.
Tuan dan nyonya Morgan, juga nyonya Agatsa sesekali menambah menu yang kedua bayi kembar itu sukai kedalam piring mereka masing - masing. Terkadang mereka juga menggeleng - gelengkan kepala saat melihat tingkah polah kedua cucu kembar itu, sambil melemparkan senyum geli melihat wajah kedua bayi itu yang berantakan.
Malam itu, adalah kali pertama bagi bayi Billy dan bayi Willy makan bersama disatu meja dengan kedua orangnya dan juga kakek dan kedua neneknya.
Walau demikian, mereka semua bisa menikmati suasana makan bersama dimana semua keluarga bisa berkumpul, kecuali Margareth, Harry dan nyonya Naomi yang tidak berada dikota yang sama karena perkerjaan.
...***...
"Sayang.... ini susumu....." Moranno memberikan gelas susu pada Yurina yang sudah mengganti gaun malamnya dengan pakaian tidur.
Yurina menerima gelas susu yang diberikan Moranno dan segera menghabiskannya.
Perutnya tiba - tiba terasa begitu mual membuat wajahnya terlihat tidak enak dilihat.
"Sayang.... kau kenapa?" Tanya Moranno yang melihat Yurina membekap mulutnya dan memegang perutnya dengan tangannya yang lain.
"Aku mau muntah, setelah minum susu itu suamiku....." Ucap Yurina.
Moranno segera mengambil minyak kayu putih dan mengolesnya di daerah hidung, leher dan pundak Yurina.
"Sedikit lebih nyaman, tapi rasa mual itu masih ada...." Keluhnya sambil duduk ditepi tempat tidur.
"Kalau begitu, kau tunggu dulu disini sayang, aku akan kedapur membuat sesuatu untukmu." Yurina mengangguk. Moranno bergegas keluar kamar.
Sepeninggal Moranno Yurina naik ketempat tidur, ia bersandar pada sandaran tempat tidur dibelakangnya.
Tak lama, Moranno sudah kembali membawa sesuatu diatas nampan yang ia pegang dengan kedua tangannya.
Dengan hati - hati ia meletakkan nampan ditangannya diatas nakas disisi tempat tidur.
Diraihnya teko kecil lalu menuangkannya kedalam gelas.
""Apa itu suamiku?" Tanya Yurina sambil melihat apa yang dikerjakan Moranno.
"Ini.... Minuman jahe madu hangat, untuk mengurangi, bahkan bisa menghilangkan rasa mualmu sayang. Aku mengolahnya tidak terlalu pedes." Moranno membawa gelas yang telah ia tuang pada Yurina.
Yurina menghirup aroma jahe yang menyegarkan indera penciumannya itu.
__ADS_1
"Kau mengolahnya sendiri suamiku?" Yurina masih mencium aroma minumannya itu.
"Iya sayang..... kasian bibi Nani dan yang lainnya, mereka pasti lelah berkerja sepanjang hari ini, apalagi ini juga sudah jam istirahat.
"Terima kasih suamiku, engkau memang yang terbaik......" Yurina lalu menyesap minuman jahe madu hangat buatan suaminya itu dengan hati - hati.
"Bagaimana rasanya??" Moranno menatap wajah Yurina yang sedang mengecap minuman jahe madu buatannya setelah menyesapnya.
"Rasanya pas, madu dan jahenya sama - sama terasa. Enak.... buatanmu enak suamiku, aku menyukainya." Puji Yurina sambil kembali menyesap minuman yang masih belum habis digelasnya.
"Terima kasih sayang atas pujianmu...." Moranno tersenyum dan merasa senang karena Yurina menyukai minuman jahe madu buatannya.
"Tambah lagi?" Moranno menawarkan.
"Iya, segelas lagi..... perutku terasa hangat dan nyaman." Yurina memberikan gelas kosong ditangannya dan memberikan pada Moranno untuk diisi kembali.
"Ini sayang....." Moranno kembali memberikan gelas yang telah diisinya lagi pada Yurina.
Yurina menerimanya dari tangan Moranno lalu mulai menyesap minuman jahe madu itu lagi.
"Terima kasih suamiku....." Ucap Yurina sambil menyerahkan gelas yang sudah kosong pada Moranno.
"Sama - sama sayang.".Moranno menerima gelas dari tangan Yurina dan meletakkannya kembali diatas nampan yang berada diatas nakas.
Setelahnya Moranno naik ketempat tidur dan duduk disisi Yurina sambil turut bersandar bersama isterinya itu.
"Suamiku....." Panggil Yurina.
"Iya sayang....." Sahut Moranno melirik kearah Yurina yang menyandarkan kepalanya dibahu kirinya.
"Aku kesal sekali padamu hari ini....." Ucap Yurina jujur. Matanya memandang lurus kedepan.
"Kenapa??" Moranno mengernyitkan dahinya heran.
"Kau tidak perduli padaku.... tidak menanyakan kabarku.....padahal semalam kau kan tahu kalau aku mual - mual dan muntah - muntah, dan itu semua karena baumu..... tahu tidak, aku sangat benci padamu." Ucap Yurina dengan lancar tanpa ragu menyuarakan isi hatinya.
Moranno kembali melirik sekilas Yurina yang masih menyandarkan kepalanya pada bahunya sambil tetap menerawang kedepan.
"Kau memang isteriku yang sangat lucu sayang....Walau kau sangat membenci suamimu, tapi kau juga sangat menikmati sandaran kepalamu dibahu suamimu yang tampan ini." Goda Moranno sambil terkekeh.
Yurina yang mendengar perkataan Moranno, serta - merta menegakkan kepalanya. Ia menatap wajah Moranno yang masih terkekeh geli.
__ADS_1
"Aawww..... sakit sayang.... apa yang kau lakukan....." Moranno menjerit kesakitan, memegang kepala Yurina yang sedang menggigit bahu kirinya.