
Gelak tawa bayi Billy dan bayi Willy terdengar begitu riuh. Yurina membuka pintu kamar bayi kembarnya dengan perlahaan.
Yurina menggeleng - gelengkan kepalanya, melihat mainan kedua bayi itu yang berserakan dimana - mana.
Dengan hati - hati, Yurina melangkah, supaya tidak terinjak mainan para bayinya itu.
"Maafkan saya nyonya muda..... Kamarnya terlihat kacau. Bayi Billy dan bayi Willy menangis kalau saya membereskan mainan - mainan mereka ini nyonya...." Kata bibi Nur merasa tidak nyaman saat melihat Yurina memilih - milih jalan supaya tidak terinjak mainan yang berhamburan.
"Iya bibi.... tidak mengapa..... Mereka memang lagi masanya asik - asik bermain." Kata Yurina disela - sela gelak tawa para bayinya.
Yurina memperhatikan kedua bayinya itu yang tengah asik melemparkan mainan yang ada didekat mereka kesembarang tempat sambil tertawa girang. Kehadiran Yurina tidak membuat mereka terusik.
Sementara itu bibi Nur membereskan beberapa mainan yang berada jauh dari para bayi - bayi itu dan memasukkannya kembali ke keranjang mainan.
Setelah penuh, bibi Nur mendekatkan kembali keranjang mainan itu pada bayi Billy dan bayi Willy.
Kedua bayi itu dengan penuh kegirangan mengambil bola - bola kecil dari keranjang mainan dan melemparkannya kembali kesembarang tempat.
Kegiatan itu membuat mereka terus tertawa - tawa kegirangan.
"Bibi Nur..... Sudah waktunya makan siang, biarkan aku saja yang menjaga mereka sementara bibi istirahat." Kata Yurina mengingatkan pengasuh bayi kembarnya itu.
"Baik nyonya muda.... Saya bereskan mainan - mainan ini dulu....." Sahut bibi Nur sambil memasukan beberapa mainan yang berserakan dilantai.
"Tidak usah bibi..... Biarkan saja dulu..... Bibi istirahat saja sekalian makan siang. Tidak usah terburu - buru. Saya akan menemani mereka bibi."
"Nanti tuan datang kemari bagaimana nyonya....?" Kata bibi Nur khawatir.
"Tidak apa - apa bibi.... jangan khawatir, lagi pula mereka akan menangis bila mainannya disimpan, bukankah begitu bibi?"
"Iya nyonya benar....." Sahut bibi Nur membenarkan.
"Istirahatlah bibi, biar aku yang mengurus mereka disini." Ucap Yurina meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu.... Terima kasih banyak nyonya muda... Saya permisi dulu...." Pamit bibi Nur sambil berdiri dan membungkuk hormat.
__ADS_1
"Iya bibi..... Terima kasih kembali....." Ucap Yurina disertai senyuman.
Setelah bibi Nur pergi dan menutup pintu kamar bayi dengan rapat dibelakangnya, Yurina bangkit lalu membereskan mainan - mainan putranya yang berhambur dilantai dan memasukkannya kembali kedalam keranjang - keranjang mainan lalu mendekatkan kembali pada bayi Billy dan bayi Willy yang masih asik bermain.
Yurina memperhatikan kedua bayi gembulnya itu sambil duduk didekat mereka. Kedua bayi itu terlihat sangat sehat. Tubuh gembul mereka yang membulat membuat mereka terlihat sangat menggemaskan.
Bayi Billy merangkak mendekati Yurina. Dengan suara - suranya yang belum jelas ia naik kepangkuan Yurina.
"Kenapa sayang? Haus ya?" Tanya Yurina sambil mengangkatnya kedalam pelukannya.
Bayi Billy mulai menyusupkan kepalanya kedada Yurina membuat Yurina tertawa geli.
"Bakklah..... Baiklah..... Mommy akan menyusuimu sayang....." Kata Yurina lalu sambil memberikan pucuk dadanya pada putranya itu.
Bayi Billy yang mendapatkan pucuk dada ibunya segera menyesapnya dengan kuat.
"Pelan - pelan ya sayang....." Kata Yurina sambil mengusap lembut rambut kepala putranya itu.
Bayi Willy tiba - tiba ada didekat Yurina tanpa ia sadari. Ia naik kedalam pangkuan Yurina dan menindis bayi Billy kakaknya.
Bayi Willy yang belum mengerti apa yang dikatakan ibunya tetap menindis bayi Billy yang masih asik menyusui dengan matanya yang mulai terpejam karena mengantuk.
Untuk sesaat bayi Willy memperhatikan bayi Billy yang sedang menyesap pucuk dada ibunya. Sesekali matanya menatap wajah ibunya lalu beralih lagi pada kakaknya yang masih menyusui. Beberapa detik kemudian, secara tiba - tiba tangan gembulnya memukul wajah kakaknya berkali - kali membuat Yurina terkejut dibuatnya.
Yurina segera menangkap tubuh bayi gembul itu dengan sebelah tangannya. Walau tubuh gembul itu terasa berat, namun dengan sekuat tenaga Yurina berhasil memindahkan bayi Willy dilantai.
Bayi Billy yang sempat terkejut karena pukulan berkali - kali adiknya itu tidak jadi tertidur. Ia menangis merasakan sakit diwajahnya.
Sementara bayi Willy juga menangis, bahkan lebih kencang dari kakaknya yang terkena pukulannya.
Yurina sangat panik dan berusaha mendiamkan dua bayinya yang sama - sama menangis.
Untuk beberapa saat lamanya Yurina terlihat kebingungan, hingga akhirnya ia melihat dua botol dot ASI yang telah disiapkan bibi Nur diatas meja dekat ranjang bayi.
Dengan cepat Yurina berdiri dan segera menyambar botol dot ASI dan memberikan kepada bayi Willy.
__ADS_1
Bayi Willy yang masih menangis kencang menepis botol dot ASI yang diberikan Yurina hingga terpelanting jauh kesudut kamar.
Yurina terkejut melihat ulah bayi Willy. Ia segera bangkit lagi dan mengambil botol dot ASI yang satunya lagi dan memberikannya pada bayi Billy yang masih menangis dalam pangkuannya.
Bayi Billy yang mendapatkan botol dot ASInya lalu terdiam dan menyesapnya sambil memegang erat dengan dua tangannya.
Setelah dilihatnya bayi Billy sudah tenang, perlahan Yurina meletakkan bayinya itu diatas kasur busa yang ada didekatnya.
Bayi Billy masih memegang erat botol dot ASInya dengan kedua tangannya. Matanya sesekali terpejam dan sesekali terbuka sambil terus menyesap pucuk botol dot ASInya.
Yurina lalu meraih tubuh bayi Willy yang masih menangis kencang lalu segera memberikan pucuk dadanya pada putranya itu.
Karena masih marah, bayi Willy beberapa kali menolaknya dengan mendorong dada ibunya menggunakan kedua tangannya.
"Sayang.... Maafkan mommy..... Tadi mommy terkejut.... Lagi pula ada kakak Billy yang masih menyusui. Sudah yaa.... Jangan marah lagi..... Ayo cepat minum susunya....." Bujuk Yurina sambil mengarahkan pucuk dadanya pada bayi Willy.
Bayi Willy yang masih marah terus menolak dengan mendorong dada ibunya menggunakan kedua tangan gembulnya.
Yurina tetap berusaha menyodorkan pucuk dadanya pada putranya itu disertai kata - kata bujukannya yang lembut, namun bayi Willy masih tak mau menyusui, bahkan ia meronta mau keluar dari pelukan ibunya.
Yurina akhirnya melonggarkan pelukannya dan membiarkan bayinya itu turun dari pangkuannya.
Yurina memperhatikan bayi Willy yang naik kekasur busa dimana bayi Billy sedang menyesap botol dot ASInya sambil memejamkan matanya.
Dengan penuh kewaspadaan Yurina bergeser dari duduknya mendekati kedua bayinya itu. Ia tidak ingin kejadian pemukulan itu terjadi lagi.
Bayi Willy meraih bantal guling bayinya dan memeluknya lalu berbaring disamping kakaknya Billy yang tengah hanyut dalam keasikannya menyesap botol dot ASInya.
Bayi Willy berguling kekiri, lalu kekanan dikasur busa dengan guling bayinya sambil melihat kearah ibunya, tangisnya masih belum berhenti, namun tidak sekencang sebelumnya.
Yurina mendekatinya, lalu berbaring didekatnya. Bayi Willy segera menelusupkan wajahnya kedada ibunya itu sambil mencari sesuatu.
Yurina yang mengetahui apa yang dicari bayi Willy segera memberikan pucuk dadanya pada bayinya itu.
Begitu menemukan apa yang ia cari, bayi Willy segera menyesap dada ibunya dengan kuat. Bayi itu terlihat sangat haus, tangisannya terhenti, suaranya menyusui begitu terdengar jelas ditelinga Yurina, membuat dirinya tersenyum melihat wajah putranya itu memandang tajam padanya walaupun sisa - sisa air mata masih menggenang dalam kelopak matanya yang mungil.
__ADS_1