
"Sebelum tuan Harry terbang ke Singapura hari itu. Ia sempat mengatakan padaku, bahwa ia tidak akan menghubungiku. Katanya,..... dirinya memberikan aku kesempatan untuk memberi pilihan sebelum pernikahan itu terjadi. Bila aku menetapkan pilihanku padanya, aku bisa menemuinya dipernikahan kami." Jelas Margareth mengakhiri ceritanya.
Nyonya Agatsa mendesah dalam mendengar semua cerita putrinya itu.
"Dalam hal ini, kau memang salah Margareth. Laki - laki mana yang akan rela melihat dan membiarkan wanita yang akan menjadi isterinya memeluk pria lain dan mengatakan merindukan pria selain dirinya tepat dihadapannya." ungkap nyonya Agatsa lantang.
"Tapi aku tidak bermaksud......" Sanggah Margareth namun perkataannya segera dipotong oleh ibunya.
"Apapun alasanmu Margareth, posisimu memang salah." Ucap ibunya terlihat sangat kecewa pada putrinya itu.
"Mommy memang benar......" Raut wajah Margareth kini semakin sedih.
"Seorang pria sejati itu, kata - katanya bisa dipegang Margareth, dari ceritamu.... mommy menangkap bahwa Harry memberimu kesempatan hingga hari pernikahan kalian bukan? Jadi kau masih punya satu kesempatan. Pergunakanlah dengan sebaik - baiknya. Bila Harry benar - benar pria sejati, dihari pernikahan kalian dia pasti akan hadir disana seperti janjinya padamu." Ungkap nyonya Agatsa meyakini nalurinya.
"Apakah mungkin itu terjadi mommy.....??" Tanya Margareth merasa ragu.
"Apakah kau mencintai Harry, calon suamimu itu Margareth?" Nyonya Agatsa tidak menjawab, dirinya malah balik bertanya pada putrinya itu.
"Aku....Aku tidak tahu mommy..... Tapi aku merasa sedih saat tiga minggu belakangan ini tuan Harry sama sekali tidak menghubungiku." Sahut Margareth menyatakan apa yang tengah ia rasakan.
"Apakah kau mengharapkan Harry seperti dulu lagi, memberi perhatian padamu. Dan apakah kau merindukannya?" Goda nyonya Agatsa yang sudah bisa menebak perasaan putrianya itu.
"Iya mommy..... aku mau tuan Harry seperti dulu lagi, tidak mengacuhkanku seperti sekarang ini." Keluh Margareth sambil memeluk erat leher ibunya.
"Margareth..... Margareth..... kau putri mommy..... mommy selalu mengharapkan semua yang terbaik terjadi dalam hidupmu sayang, termasuk pernikahanmu dengan Harry. Mommy harap kau tidak bertingkah macam - macam lagi, turuti saja apa kata mommy. Percayalah, semuanya akan baik - baik saja." Nyonya Agatsa mengelus punggung Margareth lembut, dirinya tahu putrinya saat ini sedang mengalami masa - masa berat dalam hidupnya untuk memasuki hidup pernikahannya dengan calon suaminya. Sebagai ibu, dirinya hanya bisa memberi nasihat dan semangat bagi putrinya itu.
"Mommy..... Adik ipar...... Kalian belum bersiap??" Yurina yang baru tiba kembali diruang keluarga melihat heran ibu dan anak itu yang belum berganti pakaian.
"Kami sudah siap kakak ipar, tidak perlu ganti baju.... iya kan mom.....?" Ucap Margareth yang langsung melepaskan pelukannya dari ibunya.
"Iya Yurina, kami seperti ini saja. Ayo, kita berangkat, nanti kesiangan." Kata nyonya Agatsa sambil berdiri.
__ADS_1
Margareth dan Yurina segera mengikuti nyonya Agatsa menuju lantai satu dengan menuruni anak - anak tangga. Sesampainya disana mereka langsung menuju mobil nyonya Agatsa yang sudah siap dihalaman rumah.
Didalam mobil ketiga wanita itu tidak banyak bicara, mereka begitu betah dengan keheningan yang tercifta diantara mereka. Margareth yang menyetir hanya bertanya seperlunya saja arah yang harus dilewati mereka, karena sudah lama sekali dirinya tidak pernah kebutik langganan ibunya.
Margareth membelokan mobil yang ia kemudikan memasuki halaman parkir butik yang cukup luas. Begitu mobil sudah terparkir dengan sempurna, ketiga wanita itu masing - masing turun menuju pintu masuk butik.
"Selamat datang nyonya besar......" Sambut seorang pelayan butik sambil membungkuk hormat saat melihat nyonya Agatsa, Yurina, dan Margareth memasuki butik.
"Mari silahkan duduk dulu nyonya besar..... nyonya muda, dan nona muda." Pelayan muda itu langsung mengenali Margareth, karena sempat melihat wajah Margareth pada sampul kartu undangan pernikahan yang diberikan untuk majikannya pemilik butik.
Pelayan itu bergegas menuju satu ruangan yang pintunya tertutup rapat.
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berpakaian modis dan elegan, dan terlihat masih segar keluar dari ruangan itu dan mendatangi mereka dengan senyum ramahnya.
"Selamat pagi nyonya besar, nyonya muda, dan...... oh nona muda, calon pengantinya sudah tiba...... lama sekali tidak bertemu denganmu..... anda terlihat semakin cantik nona...." Sapa pemilik butik itu ramah.
"Terima kasih cie Mexan....." Ucap Margareth turut tersenyum ramah.
Saat pintu terbuka...... ruangan itu dipenuhi bermacam - macam gaun pengantin yang sudah tertata rapi. Margareth terpana melihatnya, demikian juga dengan Yurina dan nyonya Agatsa.
Margareth melangkah mendekati satu persatu gaun pengantin yang terlihat begitu indah pada pemandangannya. Dirabanya gaun - gaun itu satu - persatu dengan lembut dan penuh perasaan.
"Kau ingin mengenakan gaun yang mana sayang??" Tanya nyonya Agatsa, setelah semua gaun - gaun itu telah dilihat dan diraba putrinya dengan senyumannya yang terus mengembang.
"Aku.... aku......merasa bingung mom......" Sahut Margareth melirik sekilas ke arah ibunya, lalu kembali memandangi gaun - gaun pengantin yang ada didalam ruangan itu.
"Bagaimana kalau kau mencobanya satu - persatu sayang??" Ngonya Agatsa memberi ide yang membuat putrinya itu terperangah.
"Gaun sebanyak ini? Aku coba satu - persatu? Pasti tidak akan selesai dalam satu hari mommy....." Nyonya Agatsa, Yurina dan pemilik butik terkekeh mendengar ucapan Margareth yang terdengar seperti gadis polos.
Ya, begitulah yang sering terjadi pada calon pengantin perempuan, mereka pasti sangat bingung memilih dari sekian banyak gaun yang akan mereka kenakan saat pesta pernikahan nanti, tidak terkecuali dengan Margareth.
__ADS_1
"Tidak masalah sayang, pernikahan itu..... sekali untuk seumur hidup, jadi tidak masalah kalau kau mencobanya satu persatu untuk menemukan mana yang cocok untuk dirimu. Kalau hari ini belum selesai, kita akan melanjutkannya besok hari lagi, lusa lagi, lusanya lagi..... sampai kau menemukan gaun yang cocok untukmu sayang. Yang terpenting, jangan sampai kelewatan waktunya dari hari pernikahanmu." Semua ikut tergelak mendengar candaan nyonya Agatsa, termasuk Margareth. Ia tidak dapat membayangkan bila dirinya harus menghabiskan beberapa hari lamanya hanya untuk memilih gaun pernikahannya nanti.
"Cie mexan...... aku mau coba gaun yang ini......" Kata Margareth pada pemilik butik itu yang berdiri tidak jauh darinya.
Wanita paruh baya itu lalu melepaskan gaun pengantin berwarna putih itu dengan hati - hati dari manekin, dan membawa gaun itu keruang ganti diikuti Margareth.
Setelah menunggu beberapa menit, pemilik butik dan Margareth keluar dari ruang ganti diikuti Margareth yang berjalan pelan dibelakangnya supaya tidak terinjak ujung gaun yang ia kenakan.
Yurina, dan nyonya Agatsa terpana saat melihat Margareth yang melangkah pelan dibelakang pemilik butik.
"Adik ipar...... kau cantik sekali mengenakan gaun pengantin berwarna putih itu....." Yurina berdecak kagum melihat Margareth yang sangat cocok dengan gaun yang ia kenakan.
...•••...
♡♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras, ulet, sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
♡♡♡
__ADS_1