JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 20 Nyonya, apa anda baik - baik saja?"


__ADS_3

Yurina tertegun di tempat ia berdiri seperti patung hidup, sambil memandang mobil yang ditumpangi suaminya itu meninggalkan halaman rumah yang luas itu.


"Nyonya..." Panggil kepala pelayan.


"Nyonya..." Panggil kepala payan lagi.


"Nyonya, apa anda baik - baik saja." Tanya sang kepala pelayan khawatir.


"I... Iya bi... Saya baik - baik saja." Jawab Yurina tergagap saat menyadari kepala pelayan itu tengah berbicara dengannya.


"Ada apa bi...? Tanya Yurina lagi.


"Tadi tuan meminta saya untuk menemani nyonya berkeliling." Kata sang kepala pelayan lagi dengan hormat.


"Baiklah... Ayoo bi..." Ucap Yurina segera mendekati kepala pelayan.


"Kita mulai dari sini nyonya." Kata kepala pelayan sambil berjalan bersisian dengan isteri majikannya itu.


Keduanya lalu memasuki mansion itu.


"Lantai satu ini khusus ruang publik nyonya. Bila ada tamu, tamu hanya boleh sampai disini saja." Kepala pelayan itu mulai menjelaskan dan menunjukan ruang tamu yang sangat luas. Yurina menatap berkeliling ruangan itu, berpuluh - puluh kali lipat bila dibandingkan dengan kamar kostnya beraama Lisa sahabatnya.


Perabotan - perabotan tertata rapi pada tempatnya, terlihat sangat mewah dan mahal, banyak diantaranya yang tidak pernah dilihat oleh Yurina sebelumnya.


Lukisan - lukisan dari para pelukis ternama dunia terpampang didinding dengan ukuran raksasa.



Selanjutnya Yurina dan kepala pelayan itu memasuki ruangan yang lebih besar lagi dari ruangan sebelumnya. Ukuran tubuh mereka seakan seperti semut berada diruangan seluas dan sebesar itu.


"Bila ada pesta yang perlu diadakan di rumah, disinilah tempatnya nyonya, khusus acara keluarga Agatsa.".


Yurina dan kepala pelayan lalu menaiki anak - anak tangga menuju lantai dua diatasnya.


"Lantai dua ini khusus ruang keluarga Agatsa nyonya."


"Dsini ada ruang makan keluarga, ada dapur disebah sana. Nyonya sudah kesana tadi pagi."


keduanya lalu melangkah menuju arah matahari terbit di lantai dua tersebut.


"Disini ruang kerja tuan, dan disebelahnya kamar tidur tuan dan nyonya."


"Sebenarnya kamar tuan di lantai tiga di atas, namun tuan memilih di lantai dua ini karena kata tuan nyonya sedang mengandung, jadi tuan tidak ingin nyonya kecapean turun naik tangga apabila ingin ke dapur."


Yurina tersentuh hatinya mendengar penuturan kepala pelayan tentang perhatian Moranno padanya. Namun ia segera menyadarkan dirinya sendiri, bahwa semua yang Moranno lakukan padanya adalah karena bayi yang ada dalam kandungannya, bukan semata dirinya.


"Mari nyonya, kita ke arah barat."


Yurina mengikuti langkah kaki sang kepala pelayan.


"Ini ruangan apa bibi..." Tanya Yurina saat melintas didepan pintu sebelah kamar tidur mereka.

__ADS_1


"Ini kamar kosong nyonya, kata tuan untuk kamar bàyi bila sudah lahir nanti." jelas bibi Nur.


Yurina manggut - manggut mendengar penjelasan bibi Nur sang kepala pelayan itu, sambil tetap mengikuti langkahnya.


Mereka tiba didepan pintu.


Pintu itu berbentuk buku yang terbuka.


Sang kepala pelayan memasukam anak kunci ke lubang kunci dan memutarnya dua kali, lalu membuka daun pintu dengan lebar.


"Ini perpustakaan yang ada di rumah ini." Jelasnya lagi.


"Tuan sering menghabiskan waktunya di perpustakaan bersama buku - bukunya, ini merupakan tempat paforit tuan."


Yurina lalu masuk semakin ke dalam. Ia memperhatikan satu persatu rak demi rak buku.


Buku - buku tersusun rapi di tempatnya, tak ada debu yang menempel sedikitpun.


Pada setiap rak buku ditulis daftar nama buku untuk memudahkan mencarinya.


Yurina mengitari ruang perpustakaan milik keluarga Agatsa itu, ia sangat mengagumi tempat itu, karena ia juga pecinta buku dan suka membaca.


"Nyonya, mari kita ke lantai tiga diatas." Kata bibi Nur saat melihat Yurina telah selesai berkeliling mengitari perpustakaan itu.


Yurina mengikuti kepala pelayan itu menuju tangga ke lantai tiga. Keduanya mulai menaiki anak - anak tangga satu demi satu dengan pola yang melingkar hingga tiba di lantai atas.


Begitu tiba dilantai atas, keduanya disuguhkan dengan pemandangan ruang keluarga yang dipenuhi photo - pboto keluarga Agatsa.


Seorang pria dengan wajah tampan mirip dengan Moranno suaminya. Disebelahnya seorang wanita yang cantik mirip dengan ibu Moranno. Itu pasti kesua orang tua Moranno, pikir Yurina.


Dua orang anak kecil duduk diatas kursi yang cukup tinggi. Kedua anak kecil tersebut terkesan sangat mirip, mulai wajah, ukuran tubuh, juga usianya sama. Hanya yang membuat berbeda adalah yang satu anak laki - laki sedangkan yang satunya lagi anak perempuan.


"Siapa anak perempuan ini bibi Nur?" Tanya Yurina penasaran.


"Itu adik tuan nyonya." Kata kepala pelayan.


"Dimana sekarang ia berada?" Tanya Yurina lagi.


"Saya kurang tahu nyonya, dan.... Nyonya besar tidak pernah memperbolehkan membicarakan adik tuan di rumah ini."


"Kenapa bi...?" Yurina sedikit merasa aneh.


"Maafkan saya nyonya, mohon jangan tanyakan pada saya." Kata kepala pelayan dengan raut wajah penuh misteri.


"Mari nyonya, saya tunjukan ruangan - ruangan lainnya di lantai tiga ini pada nyonya."


Yurina mengangguk. Ia mengikuti langkah kepala pelayan itu dari belakangnya.


"Disini kamar nyonya besar."


"Disebelah sana kamar tuan... seperti yang saya katakan tadi waktu dibawah nyonya.

__ADS_1


Yurina hanya mengangguk sambil terus melangkah mengikuti kepala pelayan dari belakang.


"Kemarilah nyonya."


Yurina bergegas menghampiri kepala pelayan yang memanggilnya.


"Mari kita lewat sini." Kata Kepala pelayan mengajak Yurina menaiki anak - anak tangga bersamanya menuju puncak menara.


Setibanya dipuncak menara, hembusan angin cukup kencang, membuat rambut hitam panjang Yurina berkibar diterpa angin.


"Waahhh!!! Indah sekali pemandangan dari sini ya bi...!" Seru Yurina terkagum.


Dari atas menara Yurina dapat memandang puncak - puncak bubungan mansion. Mansion itu lebih mirip dengan cerita istana - istana dalam dongeng saat terlihat dari atas menara.


Kebun sayur menghijau disisi kanan mansion itu. Di halaman depan mansion terdapat taman bunga beraneka warna, terdapat air mancur ditengah - tengah taman itu.


Disisi kiri nampak beberapa pohon buah - buhan yang baru berbunga.


Dihalaman belakang ada kolam renang dan beberapa pasilitas olahraganya.


Disudut antara tempat berolah raga dan kebun sayuran terdapat bangunan yang terpisah dari mansion itu.


" Bangunan apa itu bi...?" Tanya Yurina sambil menunjuk kearah bangunan yang ia tanyakan.


"Paviliun nyonya, tempat para pelayan tinggal." Terangnya.


"Apa masih ada lagi yang belum kita lihat?" Tanya Yurina pada bibi Nur lagi.


"Sudah semua nyonya." Kata sang kepala pelayan.


"Nyonya hari sudah siang, sebaiknya kita turun kelantai dua, tadi saya sudah meminta bibi Ruth untuk menyiapkan makan siang nyonya, karena tuan berpesan nyonya tidak boleh terlambat makan."


"Baiklah bi..."


"Lewat sini nyonya, ini lift yang digunakan nyonya besar dan tuan." Bibi Nur mengajak Yurina masuk ke dalam lift yang berada disisi menara.


Keluar dari lift, keduanya menuju meja makan yang telah tersedia makan siang.


"Apakah nyonya besar tak ikut makan siang?" Tanya Yurina saat tak melihat mertuanya.


"Nyonya besar sudah berangkat sebelum tuan berangkat nyonya."


"Makanlah bersamaku bibi." Kata Yurina pada kepala pelayan itu.


" Maafkan saya nyonya. Kami memiliki tempat khusus untuk makan nyonya, begitu peraturannya."


"Tapi sekarang kan aku sendiri, tidak ada orang yang menemani aku makan bi..."


"Tetap saya tidak berani melanggar nyonya." Kata sang kepala pelayan lagi


"Baiklah kalau begitu." Kata Yurina tak memaksa lagi.

__ADS_1


__ADS_2