JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 33 "Hal penting apa yang membawamu menemui mommy malam-malam begini"


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap saat Yurina dan Moranno keluar dari pusat perbelanjaan. Pak Kasan membukakan pintu mobil buat kedua majikannya.


"Pak Kasan ini ada makanan buat bapak dan keluarga dirumah." Yurina menyodorkan paper bag berisi kotak makanan pada pak Kasan sebelum supir pribadi suaminya itu menjalankan mobilnya.


"Tapi nyonya." Kata pak Kasan merasa tak nyaman menerima pemberian nyonya majikannya.


"Tak mengapa pak Kasan, kami sengaja memesankannya untukmu." Kata Moranno.


Terima kasih tuan dan nyonya." Pak Kasan menerima pemberian kedua majikannya itu dengan penuh haru.


Pak Kasan lalu mengemudikan mobil tuannya itu secara perlahan meninggalkan area parkir pusat perbelanjaan. Jalan raya senja itu cukup ramai seperti biasanya, klakson kendaraan saling bersahut-sahutan.


Beberapa meniit kemudian mereka telah tiba dirumah.


"Pak Kasan tolong barang belanjaannya dibawa masuk ya?" Kata Miranno sesaat sestelah mereka keluar dari mobil.


"Baik tuan."


Bibi Nur dan beberapa pelayan lainnya menyambut kedatangan Moranno dan Yurina dengan sikap hormat mereka.


"Tuan dan nyonya makan malam telah siap." Kata bibi Nur.


"Mommy sudah kembali?" Tanya Moranno pada kepala pelayannya itu.


"Belum tuan."


"Kabarkan padaku bila mommy sudah kembali."


"Baik tuan."


"Makan malamnya dibagi saja kepada yang lain, sayang mubajir. Kami sudah makan malam diluar." Kata Moranno lagi.


"Baik tuan. Terima kasih."


Moranno dan Yurina melangkah menuju kamar mereka. Yurina segera membersihkan dirinya dikamar mandi, tubuhnya terasa gerah dan lengket. Demikian juga dengan Moranno.


"Tidurlah lebih dulu, kau terlihat sangat lelah. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku diruang kerja, setelah itu akan menyusulmu tidur. Sekarang minum dulu vitaminmu dan juga susumu. Tadi aku membuatkannya untukmu."

__ADS_1


Yurina menerima vitamin dan juga susu yang diberikan Moranno lalu meminumnya hingga habis.


"Terima kasih." Kata Yurina dengan sedikit menyunggingkan senyum dibibirnya sambil menaruh gelas diatas nakas.


"Bolehkah kau menemaniku sampai aku tertidur?" Pinta Yurina agak ragu.


"Apa kau merindukan pelukanku?" Ucap Moranno menggoda isterinya sambil tersenyum.


"Bukan aku, tapi bayi-bayi yang ada dalam kandunganku." Kilah Yurina dengan wajah terlihat merona.


"Baiklah..... Hanya para bayi ini yang merindukan pelukan daddynya, sedangkan mommy nya tidak. Jadi bagaimana caranya daddy memeluk kalian para baby ku? Kata Moranno sambil menatap perut Yurina dengan kening berkerut seolah berfikir.


Yurina menatap wajah Moranno yang belum beraksi beberapa saat lamanya, hanya memandang perut buncitnya saja.


"Ibunya juga sebenarnya ingin dipeluk." Yurina akhirnya berkata dengan sedikit malu.


"Nah, begitu.... Kalau rindu katakan rindu, kalau sayang katakan sayang, tak usah gengsi-gengsian." Ucap Moranno dengan senyum kemenangannya. Dipeluknya tubuh isterinya yang sudah tidak ramping lagi, sudah terlihat berisi disana-sini.


Moranno mengelus-elus rambut panjang milik isterinya dan sesekali mencium pucuk rambutnya yang mengeluarkan aroma wangi. Moranno tidak merasa ada pergerakan pada tubuh Yurina, hanya hembusan napasnya yang teratur.


Moranno memperhatikan wajah isterinya yang telah tertidur pulas. Perlahan ia bangkit dari pembaringannya, merapikan selimut Yurina lalu beranjak keluar kamar menuju ruang kerjanya.


"Masuklah." Ujar Moranno dari dalam.


"Permisi tuan. Nyonya besar sudah kembali, dan berada dikamarnya." Ujar kepala pelayan sesaat setelah memasuki ruang kerja Moranno.


"Baik, terima kasih bibi Nur."


"Saya perimisi tuan." Ucap kepala pelayan mengundurkan diri dengan tidak lupa menuduk hormat.


Moranno kembali mematikan laptop yang baru saja ia nyalakan. Ia bergegas kekamar ibunya dilantai tiga. Moranno mengetuk pintu beberapa kali, hingga akhirnya dibuka. Nampak ibunya baru selesai mandi.


"Boleh aku masuk mom?"


"Masuklah."


Moranno mengekor ibunya dari belakang, dan duduk bersebelahan dengan ibunya di sofa yang berada disudut kamar ibunya.

__ADS_1


"Hal penting apa yang membawamu menemui mommy malam-malam begini?" Tanya nyonya Agatsa pada putranya.


"Akhir - akhir ini, aku melihat mommy sering sekali bertemu dengan Gandis. Perusahaan kita juga tidak ada menjalin kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Gandis. Apa mommy merencanakan sesuatu yang aku tidak ketahui?" Selidik Moranno.


"Apa maksudmu Moranno dengan pertanyaan seperti itu?"


"Apa mommy masih berupaya menjodohkan Gandis denganku?"


Nyonya Agatsa terdiam sejenak, dengan wajah datarnya ia menatap Moranno yang duduk disebelahnya.


"Kàlau iya kenapa?"


"Mommy, sadarlah. Aku sudah menikah dengan Yurina."


"Kau yang seharusnya sadar Moranno, mommy tidak pernah suka dan tidak pernah mau mengakui wanita itu menjadi menantu mommy."


"Mom, tolong mom. Pernikahan kami sudah sah secara agama dan juga hukum. Dan semua orang juga sudah tahu bahwa aku sudah memiliki isteri. Bagaimana mungkin aku menikah lagi dengan seorang gadis, aku hanya mau punya satu istri mom."


"Dari awal kau sudah mengetahui bahwa mommy sangat dan sangat tidak menyetujui rencanamu menikahinya. Apalagi mommy sudah membaca semua perihal tentang dirinya mengenai laporan yang ada di amplop laci meja kerjamu. Moranno, kau pasti mengasihaninya, iya kan?"


"Kau tau Moranno, bila ada undangan makan malam kolega, arisan bersama teman - teman mommy, mereka semua membawa dan memperkenalkan menantunya dengan bangga, karena menantu mereka sederajad. Sama - sama dari keluarga konglomerat, lulusan luar negeri."


"Bila isterimu, apa yang mommy ingin perkenalkan? Keluarganya mana, tidak jelas, dia anak yatim piatu. Pendidikan S1 nya pun belum kelar, apa yang bisa mommy banggakan. Yang ada hanya ditertawakan dan dicemooh."


"Kau itu tidak sulit mendapatkan seorang gadis yang sederajat dengan keluarga kita Moranno. Bahkan dari semua kolega yang menawarkan diri untuk melakukan pernikahan bisnis, mommy sudah memilih keluarga Morgan. Tuan dan nyonya Morgan sudah menyetujui putri mereka Gandis dinikahkan denganmu. Tapi keputusanmu yang salah untuk menikahi wanita itu sudah mengacaukan semua rencana mommy untuk kebaikanmu. Gandis itu gadis yang baik dan cocok untukmu Moranno."


"Bila Gandis adalah gadis yang baik menurut mommy, apakah pantas ia memasukan obat perangsang pada minumanku dipesta malam ulang tahun perusahaan kita. Jangan pikir aku tidak mengetahuinya. Bukankah mommy juga turut terlibat, membantu memuluskan rencana Gandis malam itu. Akibat perbuatan mommy dan Gandis, Yurina lah yang menjadi korban. Bahkan sebelum malam itupun Gandis sudah pernah mencampur minumanku, aku tau semuanya mommy." Kata Moranno penuh penekanan pada ibunya.


Nyonya Agatasa hanya terdiam ditempat duduknya.


"Aku tidak memproses semuanya itu, karena ada mommy yang ikut terlibat didalamnya. Jadi kumohon mommy, berhentilah melakukan semuanya itu. Tuan dan nyonya Morgan adalah orang yang baik, dan aku mengenal mereka mommy, tapi anak mereka Gandis tidak mewarisi kebaikan orang tuanya. Dan aku tegaskan, aku tak pernah mau mempunyai isteri seperti Gandis. Dan kita juga pernah datang kepada tuan dan nyonya Morgan kan mom untuk membahas semuanya itu, bila mommy berusaha mendekatkan lagi aku dan Gandis, apa pendapat mereka tentang keluarga kita?"


"Dan ingat, semua yang telah aku putuskan dan jalani bersama Yurina isteriku sekarang ini adalah bentuk pertanggung-jawabanku atas segala hasil perbuatan mommy dan Gandis. Aku justru bersyukur, karena mommy dan Gandislah yang membuat aku bertemu dengan Yurina, isteri yang pantas buatku."


"Bila mommy ingin memperkenalkan Yurina dengan bangga, mommy sebagai mertuanya harus melatihnya. Dia adalah wanita yang pandai dan cerdas, mommy saja yang belum mengenalnya, atau lebih tepatnya tidak mau mengenalnya."


Moranno mengakhiri pembicaraannya lalu berdiri, dan meninggalkan ibunya yang masih terdiam ditempat duduknya.

__ADS_1


"


__ADS_2