
"Untuk kekantor polisi, bila diijinkan, saya bersedia menggantikan asisten Rudi, jadi asisten Rudi bisa ke proyek pembangunan rumah sakit." Ujar Yurina angkat bicara, setelah sekian lama nyonya Agatsa tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Nyonya Agatsa menoleh kearah Yurina yang duduk disampingnya.
"Apakah kau sanggup melakukannya?"Tanya nyonya Agatsa kurang yakin pada Yurina.
"Bila nyonya besar mempercayakan pada saya, saya berusaha sebaik mungkin." Ucap Yurina percaya diri.
"Baiklah.... Tidak ada rotan, akar pun jadi. Besok kau yang menggantikan asisten Rudi kekantor kepolisian." Ujar nyonya Agatsa.
Yurina yang mendengar ucapan ibu mertuanya merasa senang, walau perkataannya seolah melecehkan dirinya.
Setidaknya dapat membantu keluarganya sendiri, sekecil apapun fungsi dirinya dimata ibu mertuannya itu tidaklah mengapa pikirnya.
"Asisten Rudi, atur pertemuan penting besok pagi dengan para pemegang saham dan dewan direksi. Aku mau tahu apa yang mereka inginkan." Perintah nyonya Agatsa pada asisten Rudi.
"Baik nyonya besar. Segera akan saya lakukan." Sahut asisten Rudi.
***
Keesokkan harinya. Selepas sarapan pagi nyonya Agatsa telah berangkat dengan mengemudikan kendaraannya sendiri.
Setelah menyusui para bayinya, Yurina membawa kedua bayi kembar itu ketaman untuk berjemur.
Kedua bayi kembar itu semakin terlihat berisi. Kulit mereka yang masih halus memerah saat terkena sinar matahari pagi.
Pandangan kedua bayi itu pokus pada mainan yang digantung bibi Nur di atas kereta mereka, suara melodi yang keluar dari mainan itu membuat mereka tidak mengalihkan pandangannya ketempat lain.
"Bibi Nur, saya titip Billy dan Willy dulu ya... ASI mereka ada dilemari pendingin. Bila bibi lelah nanti bisa minta tolong dengan bibi Salu dan bibi Sun."
"Iya nyonya." Sahut bibi Nur sambil membungkuk hormat.
Yurina lalu menuju mobil yang sudah disiapkan pak Karso.
Ibu Mira sudah menunggu didekat mobil bersama dengan pak Karso.
Mobil yang dikendarai pak Karso berjalan pelan keluar dari area mansion mewah itu.
Setelah dijalan raya, pak Karso melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Syukurlah, nyonya muda yang menemani saya hari ini kekantor polisi. Maafkan saya yang telah merepotkan nyonya muda." Ucap bu Mira saat didalam mobil.
__ADS_1
"Tidak bu Mira, kebetulan hari ini asisten Rudi sangat sibuk dikantor dan dilokasi proyek, jadi saya yang diminta untuk menggantikannya." Sahut Yurina.
"Nyonya muda sangat rendah hati. Biasanya seorang majikkan tidak mau kalau diminta menggantikan pegawainya." Puji bu Mira.
"Ahh ibu Mira bisa aja. Saya juga orang biasa bu, yang majikan adalah nyonya besar dan tuan Moranno suami saya." Sahut Yurina pada ibu Mira.
"Lho kok nyonya muda berkata begitu? Nyonya muda kan isterinya tuan Moranno, jadi nyonya muda juga sama dengan mereka statusnya..." Ucap ibu Mira yang tak mengerti maksud perkataan Yurina.
Yurina hanya tersenyum, ia sengaja tidak menjawab pekataan ibu Mira. Sementara pak Karso pokus pada kemudinya.
"Ibu Mira, Raffi tidak ikut?" Tanya Yurina.
"Tidak nyonya muda, ia sedang masuk sekolah hari ini." Sahutnya.
"Nyonya muda.... Saya sekarang bingung. Ayahnya Raffi sudah tidak ada lagi. Saya harus bagaimana membesarkan anak saya seorang diri." Kata ibu Mira dengan raut sedihnya.
"Ibu Mira bisa menggunakan uang santunan itu untuk membiayai Raffi dan ibu Mira." Sahut Yurina.
"Uang santunan itu akan habis jika saya tidak berkerja nyonya." Kata bu Mira lagi sambil memandang kearah Yurina yang duduk disampingnya."
"Ibu Mira mungkin bisa menggunakan separuhnya untuk modal usaha." Yurina memberi masukkan.
"Saya belum pernah punya pengalaman buka usaha, saya takut gagal. Ditambah lagi pendidikan saya yang minim, jika saya salah langkah saya takut uang santunan itu tidak bisa menyekolahkan Raffi nyonya muda."
Bila diajak berkerja dirumah keluarga Agatsa, ia takut ibu mertuanya itu tidak menyetujuinya pikirnya.
Mobil yang dikendarai mereka akhirnya tiba di kantor polisi.
Pak Karso segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Yurina dan ibu Mira.
"Nyonya muda, saya takut...." Kata ibu Mira dengan wajah khawatir.
"Tidak apa - apa ibu Mira, ayo kita masuk." Ucap Yurina berusaha menenangkan.
Yurina menunggu diruang tunggu bersama ibu Mira. Seorang anak berusia tiga tahun tidak henti - hentinya menangis dipangkuan ibunya yang berpenampilan kusut.
Sang ibu berusaha membujuk anaknya untuk diam, namun sang anak tetap menangis seperti meminta sesuatu yang tidak dipenuhi ibunya.
Karena merasa kasihan, Yurina mendekati ibu dan anak itu.
"Anak ibu kenapa?" Tanya Yurina.
__ADS_1
Ibu itu menengadah kearah Yurina yang berdiri disampingnya.
"Dia ingin sesuatu didepan. Tapi saya sedang menunggu panggilan untuk bertemu suami saya." Sahut wanita itu.
"Apa yang anak ibu inginkan?" Tanya Yurina lagi.
"Dia ingin gula - gula. Tapi saya belum bisa membelinya sekarang."
Mendengar perkataan wanita itu, Yurina lalu menelpon pak Karso yang menunggu dimobil untuk membelikan gula - gula yang dimaksud.
Tak lama pak Karso masuk membawa dua gula - gula ditangannya.
"Ini nyonya muda." Kata pak Karso sambil menyerahkan dua gula - gula berukuran besar.
"Terima kasih pak Karso." Yurina menerima dua gula - gula yang dibungkus plastik transparan itu. Pak Karso kembali keluar.
"Adik kecil....ini gula - gulanya." Kata Yurina sambil berjongkok didepan anak kecil itu.
Anak kecil yang masih menangis dipangkuan ibunya segera menoleh. Seketika tangisnya terhenti, saat melihat gula - gula yang dinginkannya sejak tadi.
Tangan kecilnya segera meraih dua gula - gula yang hampir tak muat dikedua tangan kecilnya.
Yurina tersenyum melihat tingkah polos sang anak.
"Bilang apa nak bila suda diberi...." Kata wanita itu pada anaknya yang terlihat berubah bahagia.
Ma... atih... a...kak...." Suaranya belum terlalu jelas.
"Sama - sama adik kecil." Kata Yurina sambil tersenyum manis pada anak kecil itu.
Dengan girang ia meminta ibunya membuka bungkusan plastik yang menutupi gula - gula itu dan segera memakannya dengan tak sabar.
"Nyonya, maafkan kami sudah merepotkan. Saya juga tidak punya uang yang cukup untuk membelinya tadi. Itu sebabnya saya belum membelinya." Katanya merasa tidak enak.
"Tidak mengapa bu, saya senang bisa membuat anak ibu senang. Ibu katanya ingin bertemu suami ibu. Apa suami ibu berkerja disini?" Tanya Yurina.
"Tidak nyonya, suami saya mengalami musibah kecelakaan lebih dari seminggu yang lalu." Terangnya.
"Apakah suami ibu juga korban dari kecelakan beruntun yang diakibatkan truck gandeng tersebut?" Tanya Yurina yang merasa sepenanggungan.
"Bukan nyonya. Justru suami saya yang menjadi sopir dari truck gandeng tersebut." Jelasnya lagi.
__ADS_1
Yurina terhenyak, ia segeraa berpegangan didinding menahan tubuhnya yang hampir terjatuh karena kaget.
"Nyonya... nyonya kenapa? Apakah nyonya sakit? Apa anda baik- baik saja." Tanya wanita itu yang juga kaget melihat reaksi Yurina.