JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 101 "Saya terpaksa melewati kawasan itu untuk mempersingkat waktu."


__ADS_3

Hati Yurina bergejolak. Matanya menatap tajam pada wanita yang masih memangku anaknya itu.


Wanita itu merasa sedikit takut menerima tatapan Yurina.


"Nyonya muda, anda kenapa? Apa yang terjadi?" Kata ibu Mira yang sudah ada dibelakang Yurina. Ibu Mira melihat mata tajam Yurina yang mengarah ke wanita yang terlihat bingung sekaligus takut itu.


"Bu, apa yang terjadi, mengapa nyonya saya ini begini?" Tanya ibu Mira ingin tahu.


"Saya tidak tahu bu, tiba - tiba nyonya ini menatap saya seperti itu, seperti saya ada salah." Katanya menjelaskan dengan wajah yang masih terasa takut.


"Memangnya ibu dan nyonya sedang mengobrol apa barusan?" Tanya ibu Mira.


"Tadi nyonya itu menanyakan apakah suami saya berkerja disini? Saya jawab tidak, suami saya mengalami musibah kecelakaan. Dan nyonya ini menanyakan apakah suami saya juga korban kecelakaan truck gandeng, saya jawab bukan suami saya justru sopir truck gandeng itu bu... lalu nyonya itu seperti itu." Jelasnya panjang masih merasa takut.


Sedang Yurina masih tetap memegang dinding dengan kuat.


Tanpa sadar, ibu Mira menarik leher baju kaos oblong milik wanita itu, hingga membuat anak yang dipangkuannya menjatuhkan gula - gula yang sedang ia makan.


"...ante ja..at.... guya - guyaku atuh.... huhuhuuu..." Tangis anak usia tiga tahun itu.


Ibunya segera mengambil gula - gula yang terjatuh dilantai, ia membuang bagian luar yang kotor, sehingga menjadi lebih mengecil.


Anak itu berhenti menangis lalu memakan kembali gula- gulanya tanpa mengerti apa yang sedang dibicarakan para wanita dewasa itu dengan ibunya.


Walau hatinya masih bergejolak, perasaa Yurina jadi tersentuh saat melihat anak kecil itu memakan gula - gula yang diberikan ibunya walau sempat terjatuh dilantai.


"Apa kau tahu, kami kemari karena suami kami adalah korban suami ibu yang menjadi sopir truck gandeng itu." Suara ibu Mira meninggi.


Orang - orang yang sedang menunggu diruang tunggu melihat kearah mereka yang terdengar gaduh.


"Suami saya meninggal. Dan suami nyonya saya ini masih belum sadarkan diri sampai sekarang dirumah sakit!" Lanjutnya berapi - api.


"Ibu - ibu harap tenang, ini kantor polisi." Seorang polisi segera menghampiri mereka.

__ADS_1


"Bagaimana bisa tenang pak Polisi, suami wanita ini telah menabrak suami saya hingga meninggal, dan suami nyonya saya belum sadarkan diri hingga sekarang." Kata ibu Mira yang tiba - tiba berani bicara lantang dihadapan polisi tanpa melihat kearah polisi tersebut.


"Nyonya muda, maafkan saya. Saya tidak melihat anda." Ucap polisi itu sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


Yurina yang masih berpegangan didinding, masih berusaha menahan gejolak didadanya. Ia mengatur napasnya yang masih terasa sesak hingga beberapa detik kemudian.


"Iya tuan Hartawan, tidak mengapa. Maafkanlah juga kami yang telah membuat gaduh disini." Ucapnya setelah agak tenang.


Mari nyonya muda ikutlah saya, kami memang sedang menunggu anda datang nyonya muda." Kata tuan Hartawan.


Yurina dan ibu Mira mengikuti tuan Hartawan menujù suatu ruangan.


Sementara wanita dan anaknya yang berusia tiga tahun hanya menatap kepergian dua wanita yang sempat membuatnya shock.


"Silahkan duduk nyonya muda dan ibu Mira." Tuan Hartawan mempersilahkan.


"Terima kasih tuan Hartawan." Kata Yurina sambil duduk didepan meja tuan Hartawan.


" Ibu Mira, ayo duduklah." Kata Yurina dengan setengah berbisik saat melihat ibu Mira masih berdiri.


"Bagaimana keadaan tuan Moranno sekarang nyonya muda? Maafkanlah saya tidak sempat menengok, belakangan ini saya sangat sibuk sekali." Kata tuan Hartawan.


"Suami saya masih dalam keadaan koma hingga sekarang tuan." Sahut Yurina.


"Saya turut mendoakan, semoga tuan Moranno segera sadarkan diri nyonya muda." Katanya lagi turut berempati.


"Nyonya muda, wanita yang tadinya bersama nyonya muda dan ibu Mira, dia adalah ibu Arin isteri pak Juno, sopir truck gandeng yang telah membuat tuan Moranno dan mendiang pak Kasan menjadi korban."


"Iya, kami sudah mengetahuinya tuan." Sahut Yurina dengan wajah tanpa ekspresi.


"Nyonya muda, kami berterima kasih karena nyonya bersedia datang memenuhi panggilan kami. Memang asisten Rudi yang biasanya datang. Dan dari awall, asisten Rudi juga yang memberi laporan bahwa ada terjadinya kejadian kecelakaan. Tetapi kehadiran nyonya muda dan ibu Mira yang menjadi isteri dari korban kecelakaan itu sangat kami harapkan untuk dimintai beberapa keterangan."


"Ibu Mira, keadilan apa yang anda harapkan dalam kasus kecelakaan ini?" Tanya tuan Hartawan pada ibu Mira yang diam saja sejak masuk keruangan tuan Hartawan.

__ADS_1


Ibu Mira tidak lekas menjawab. Keberaniannya yang berapi - api diluar saat menghadapi ibu Arin tiba - tiba sirna begitu saja.


Yurina menoleh kearah ibu Mira yang masih saja tidak menjawab dan duduk mematung disebelahnya.


"Ibu Mira, tuan Hartawan bertanya, apa yang ibu harapkan dalam kasus ini, keadilan yang ibu mau atas meninggalnya mendiang pak Kasan akibat kecelakaan itu." Yurina memegang tangan ibu Mira yang terasa dingin.


"Saya.... saya mau orang yang menyebabkan suami saya meninggal harus dihukum seberat - beratnya. Karena suami saya meninggal, saya binggung membesarkan anak saya seorang diri." Kata ibu Mira agak tersendat sambil menangis.


Yurina memeluk tubuh ibu Mira, Ia dapat merasakan kehilangan yang begitu besar pada wanita itu. Sebenarnya Ia pun belum bisa menerima apa yang telah dialami Moranno suaminya.


"Kalau nyonya muda, apa keadilan yang anda harapkan pada sopir truck gandeng itu nyonya? Tuan Hartawan mengalihkan pertanyaannya pada Yurina setelah selesai menulis jawaban ibu Mira.


"Bisakah saya bertemu lebih dulu dengan pak Juno?" Pinta Yurina.


"Baik, nyonya... tunggu sebentar...." Tuan Hartawan lalu menelpon seseorang menggunakan telepon yang ada dimejanya, setelah selesai ia meletakkan kembali gagang teleponnya ditempatnya.


Tak lama, pintu diketuk dari luar.


"Masuklah...." Kata tuan Hartawan.


Seorang polisi masuk dan membawa seorang pria bertubuh agak kurus.


"Silahkan duduk." Tuan Hartawan mempersilahkan pria itu duduk dikursi.


"Pak Juno, perkenalkan.... ini nyonya muda, isteri tuan Moranno yang hingga sekarang belum sadarkan diri dirumah sakit. Yang ini ibu Mira, isteri dari mendiang pak Kasan, sopir pribadi tuan Moranno." Kata pak Hartawan menjelaskan.


Pak Juno melihat kearah Yurina dan ibu Mira sejenak, lalu menundukkan wajahnya begitu dalam. Wajahnya tetlihat kuyu dan lesu dan menggunakan pakaian tahanan.


"Nyonya muda, silahkan apa yang ingin anda tanyakan." Kata pak Hartawan pada Yurina.


"Pak Juno, mengapa anda lewat dikawasan ramai itu? Apakah anda tidak mengetahui peraturannya, bahwa kawasan dimana terjadi musibah kecelakaan itu tidak boleh dilalui oleh kendaraan truck gandeng pada siang hari pada jam - jam yang ramai." Tanya Yurina pada pak Juno.


"Saya tahu nyonya, namun karena isteri saya mengabatkan anak kami sakit, saya terpaksa melewati kawasan itu untuk mempersingkat waktu."

__ADS_1


"


__ADS_2