
"Hentikan, aku kegelian disitu" Kata Yurina sambil tertawa-tawa kecil. Moranno tak menggubrisnya, ia senggaja bermain-main pada daun telinga Yurina hingga Yurina meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Hatinya senang melihat Yurina bisa tertawa lepas.
"Tolong, hentikan, aku tak sanggup menahannya.",Kata Yurina lagi sambil tertawa. Moranno akhirnya melepaskannya lalu menatap wajah isterinya itu dengan dalam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Yurina yang perlahan menghentikan tawanya saat melihat tatapan Moranno padanya.
"Aku menginginkanmu." Wajah Moranno semakin mendekat hingga keduanya bisa merasakan sapuan napasnya masing-masing.
"Aku.... Aku takut...." Wajah Yurina menegang, saat mata keduanya saling beradu. Tubuh Yurina serasa panas dingin, detak jantungnya kembali berpacu dengan cepat.
"Aku mungkin tidak bisa menghapus ingatan masa lalu kita yang menyebabkan rasa takutmu itu. Tapi aku akan berusaha membuatmu sembuh dari rasa takutmu" Jantung Moranno tak kalah berdetak dengan cepat.
Yurina memejamkan matanya saat bibir Moranno menyentuh bibirnya. Yurina dapat merasakan betapa dinginnya bibir Moranno sama seperti bibirnya yang begitu dingin seakan membeku. Yurina berusaha menghilangkan rasa takutnya. Ia dapat merasakan betapa lembutnya sentuhan Moranno.
Bibir Moranno dan Yurina hanya menempel begitu saja sekian lama tanpa ada satupun diantara keduanya memberi respon satu sama lain. Moranno akhirnya melepaskan ciumannya, karena isterinya itu tidak meresponnya, ia mengangkat wajahnya hendak kembali pada posisi tidurnya.
"Jangan lepaskan...." Kata Yurina dengan matanya yang masih terpejam dan suaranya terdengar mendesis pelan hampir tak terdengar.
Moranno menatap sejenak wajah Yurina yang berada dibawahnya.
"Jangan lepaskan...." Suara Yurina kembali terdengar mendesis. Jantung Moranno kembali mamacu dengan cepat saat suara Yurina kembali terdengar oleh telinganya.
Moranno kembali menempelkan bibirnya dengàn lembut dibibir Yurina. Tangan Yurina langsung melingkar sempurna dileher Moranno dan sedikit menekan tengkuk Moranno. Moranno seketika terkesiap mendapatkan reaksi Yurina yang tak terduga, sehingga membuat Moranno terpana.
Dengan mata yang masih terpejam, Yurina yang merasakan Moranno hanya terdiam berusaha memberanikan diri untuk menyesap bibir bawah Moranno begitu lama. Bibir dingin Moranno perlahan menghangat. Dari bibir bawah Moranno, Yurina beralih ke bibir atas Moranno, ia pun meenyesapnya kembali begitu lama.
__ADS_1
Moranno pun turut memejamkan matanya menikmati sesapan demi sesapan yang dilancarkan Yurina. Detak jantung Moranno semakin tak beraturan, darahnya terasa terpompa begitu cepat, Moranno kembali bergairah. Perlahan bibir Moranno membalas ciuman Yurina. Lidah Moranno berusaha masuk kerongga mulut sang isteri, hingga Yurina membuka mulutnya dan memberi celah pertemuan kedua lidah mereka.
Gairah Moranno mulai meningkat, ciumannya mulai terasa liar,. Keduanya mulai saling membalas, pagutan demi pagutan mereka nikmati sekian lamanya, hingga akhirnya keduanya sama-sama melepaskan ciuman panas mereka karena sama-sama terengah-engah kehabisan oksigen.
"Aku menginginkanmu...." Kata Moranno dengan suara yang mulai terdengar parau. Tatapan mata keduanya yang kembali saling beradu seakan berbicara untuk melakukan hal yang lebih lagi dari itu.
Mata Yurina kembali terpejam saat bibir Moranno menyentuh leher jenjangnya. Detak jantungnya semakin memacu tak beraturan, sentuhan-sentuhan Moranno membuat darahnya serasa mendidih. Yurina dengan sekuat tenaga menahan suaranya agar tak keluar. Namun sentuhan-sentuhan Morano begitu membuatnya gila.
"Oooouùuuhhh...."Yurina tak sanggup menahan gairahnya yang mulai meningkat, ******* itu lolos begitu saja dari bibir seksi Yurina. Moranno yang mendengarnya semakin bergairah, kembali dilumatnya bibir Yurina, kedua lidah mereka saling menyerang dan berpilin satu sama lain, didalam rongga mulut Yurina sekian lamanya.
Detik kemudian keduanya sama-sama melepaskan ciuman panas mereka untuk mengambil oksigen yang sudah menipis.
Bibir Moranno kembali menyentuh leher jenjang Yurina yang putih mulus, kali ini sentuhan bibirnya sengaja ia daratkan pada leher Yurina yang berada pada bagian bawah telinga. Moranno seakan sangat mengetahui bahwa daerah itu adalah bagian paling sensitif bagi Yurina. Benar saja, kembali ******* halus Yurina terdengar begitu seksi ditelinga Moranno membuat ia semakin bergairah.
*******-******* halus yang keluar dari bibir Yurina yang semakin sering terdengar ditelinga Moranno membuat sentuhan - sentuhan laki-laki itu pun semakin liar.
"Tangan Moranno mulai menelusup kedalam pakaian longgar milik isterinya itu, Yurina yang dibawah rangsangan namun masih tersadar langsung memegang tangan suaminya supaya tak bergerak menyentuh aseetnya.
"Aku menginginkanmu....." Terdengar suara Moranno semakin parau. Kedua pasang mata mereka kembali beradu dengan tatapan mata yang sama- sama berkabut menahan gejolak hasratnya masing-masing yang bertambah meningkat.
Akhirnya Yurina membiarkan tangan Moranno bergerilya dengan leluasa. *******-******* halusnya kembali terdengar begitu seksi saat sentuhan -sentuhan bibir Moranno mulai menyentuh aset-aset berharganya. Walau keduanya pernah terjebak dalam insiden malam ulang tahun perusahaan, namun pengalaman yang mereka alami ini terasa berbeda.
Tubuh Yurina beberapa kal mènggelinjang merasakan kenikmatan yang diciptakan Moranno. Benda kenyal itu kini memiliki size yang lebih besar membuat candu bagi Moranno. Yurina mulai seperti orang yang meracau, *******-******* halusnya mulai terdengar kencang. membuat gairah Moranno yang mendengarnya pun berada pada level puncak
"Aku menginginkanmu....."Suara Moranno yang parau dan bergetar sudah tidak terdengar jelas lagi. Yurina tak bisa menjawab sepatah katapun, ia hanya bisa mengeluarkan *******-desahannya yang semakin menggoda.
__ADS_1
Dengan sigap Moranno memposisikan tubuhnya dan melakukan penyatuan mereka untuk pertama kalinya setelah sekian bulan mereka menikah. Penyatuan yang didasarkan atas persetujuan bersama, dan penyatuan itu membuat hati keduanya semakin erat menyatu dalam ikatan rasa saling memiliki satu sama lain.
*******-******* kenikmatan keduanya terdengar saling bersahut-sahutan dan menggema memenuhi seluruh sudut ruangan kamar mereka yang terbilang luas., Erangan-erangan halus keduanya kini berubah menjadi lebih kencang yang tanpa rasa malu lagi saling diperdengarkan seolah sedang berlomba menuju kenikmatannya secara bersama Siapa saja yang mendengarkannya akan merasa merinding dan bergidik.
Setelah sekian lamanya, keduannya sama-sama terhempas tak berdaya, keduanya mengatur napas masing-masing dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya memenuhi paru-paru mereka masing- masing. Keduanya berbaring bersisian ditempat tidur sambil berpegangan tangan. Setelah mereka bisa mengatur pernapasannya masing-masing, keduanya saling berpandangan dengan melemparkan senyum bahagia di bibir mereka masing-masing.
"Terima kasih telah menerima cintaku." Kata Moranno sambil menatap wajah Yurina yang berbaring disebelahnya.
"Terima kasih juga untuk cintamu yang begitu besar, yang telah kau berikan padaku." Jawab Yurina membalas tatapan suaminya yang berbaring disebelahnya dengan senyuman yang mengembang.
Dengan tubuh yang masih terasa lelah keduanya saling berpelukan. Moranno memeluk Yurina begitu erat, demikian pula sebaliknya dengan Yurina. Keduanya seakan enggan melewatkan detik-detik kebahagian mereka saat itu.
"Maafkan aku telah membuatmu lelah selarut ini." Kata Moranno pada Yurina yang ada dalam pelukannya sambil mencium pucuk rambut isterinya itu.
"Maafkan aku juga telah membuat ayah anak-anakku lelah setelah seharian bekerja, dan lembur hingga subuh begini." Kata Yurina membalas ucapan suaminya.
"Lemburnya nikmat." Kata Moranno sambil tersenyum nakal.
Yurina lalu mencubit lengan suaminya dengan gemas, wajahnya memerah menahan rasa malu yang tiba-tiba datang menyerangnya.
"Aduh, duh... Apakah kau ingin kita menambah lagi lembur nikmatnya ini, hmmm?" Goda Moranno.
"Lain kali saja, aku sangat lelah. Tolong bantu aku membersihkan diri dikamar mandi." Kata Yurina tak mau membahas lebih lanjut ucapan Moranno.
"Baiklah. Isteriku tercinta...." Kata Moranno sambil melepaskan pelukannya dan membantu Yurina bangkit dari pembaringan. Keduanya menuju kamar mandi dan membersihkan diri bersama.
__ADS_1