
"Moranno malam ini Gandis akan makan malam bersama kita, mommy yang mengundangnya." Ujar ibu Moranno yang sedang duduk diruang tamu.
"Iya mom." Jawab Moranno singkat.
"Dia kenapa basah kuyup? Main Air? Masa kecil tak bahagia? Tanya ibu Moranno dengan kata sarkasnya, saat melihat Yurina yang berdiri disamping Moranno dengan pakaian basahnya.
"Wanita kebanggaan mommy yang melakukannya." Setelah berkata demikian Moranno kembali menarik pergelangan isterinya itu dengan lembut menuju kamar mereka.
Ibu Moranno menatap punggung putra kesayangannya itu dan menantu yang tidak diinginkannya pergi menjauh.
Tak lama berselang, Gandis dengan wajah anggunnya masuk ke ruang tamu dan langsung mendekati ibu Moranno.
"Apa yang kau lakukan diluar Gandis" Kata nyonya Agatsa saat wanita itu duduk bersisian dengannya disofa.
"Melakukan apa? Tidak ada tante." Kata Gandis dengan wajah tenang yang dibuatnya.
"Mengapa kau harus menyiram wanita itu? Apa tidak ada cara lain. Tante tidak membelanya, bila terjadi apa-apa pada wanita itu tentu akan membuat Moranno semakin berempati padanya. Apalagi kau tahu, sore hari begini waktunya Moranno pulang berkerja. Bila kau melakukan sesuatu pada wanita itu Moranno bisa melihatnya. Bagaimana kau bisa seceroboh itu Gandis." Gerutu nyonya Agatsa.
"Iya maafkan saya tante, habisnya dia berani berkata kasar terhadap saya tante." Katanyà membela diri.
"Sudahlah, lain waktu kau tidak boleh ceroboh lagi seperti ini, belajarlah mengambil hati putraku itu, itupun kalau kau mencintainya, kau mengerti?" Kata nyonya Moranno menyudahi pembicaraan mereka.
"Mengerti tante."
"Baiklah, mari kita kemeja makan dulu waktunya makan malam." Ajak nyonya Agatsa.
Nyonya Agatsa berdiri dan menuju ruang makan diikuti oleh Gandis.
Nyonya Agatsa duduk dikursinya. Gandis lalu mengambil tempat disisinya.
Moranno dan Yurina yang baru tiba lalu mengambil tempat duduk bersisian.
"Tante, aku akan mengambilkannya untuk tante." Kata Gandis dengan wajah manisnya.
__ADS_1
"Baiklah, tante memang mau kau melakukannya untuk tante." Kata nyonya Agatsa sambil tersenyum dengan gaya elegannya.
Gandis lalu mengambil nasi, sayuran dan lauk pauknya dan memasukannya kedalam piring, lalu menyajikannya dengan baik dihadapan ibu Moranno.
"Terima kasih sayang, sekarang kau juga harus makan banyak Gandis, tante sudah meminta bibi Nur memasakan semuanya ini sesuai kesukaanmu." Kata nyonya Agatsa dengan senyum hangatnya.
"Moranno, aku juga akan mengambilkannya untukmu." Kata Gandis tersenyum manis memandang Moranno yang duduk berseberangan dengannya sambil memegang piring di tangannya.
"Tidak perlu. Isteriku bisa melakukannya karena itu adalah tugasnya sebagai isteriku untuk melayaniku. Kata Moranno datar dan menatap sekilas kearah Gandis lalu mengalihkan pandangannya pada isterinya sambil tersenyum tipis.
"Apa salahnya Moranno, Gandis hanya mengambilkanmu makan malam saja. Lagi pula dia tidak setiap makan malam ada bersama kita kan?" Kata ibu Moranno menyela.
"Jelas salah mom. Melayani pria yang sudah beristeri, apalagi sekarang isteriku ada disisiku. Bila dia adalah tamu, selayaknya harus bersikap seperti seorang tamu." Kata Moranno penuh penekanan.
Gandis yang mendengarnya terdiam demikian pula dengan ibu Moranno.
"Ayo isteriku, aku ingin makan apa saja yang kau ambil untukku. Ujar Moranno dengan senyum hangatnya.
Tanpa berkata Yurina lalu segèra mengambil piring dan mengambil nasi, sayuran dan lauk-pauknya lalu disajikan dihadapan suaminya.
Wajah Gandis terlihat memerah, walau ia berusaha menyembunyikan kekesalannya pada sikap Moranno yang acuh tak acuh dan sama sekali tidak memperdulikan keberadaannya, tanpa ia sadari makanan dipiringnya ia bolak-balik begitu saja tanpa memasukannya kedalam mulutnya.
"Gandis.... kenapa kau tidak memakan makananmu? Apa tidak enak? Tanya ibu Moranno yang memperhatikan sikap gadis itu.
"Enak... Enak kok tante." Gandis lalu buru-buru menyuapkan makanannya ke mulutnya. Namun makanan yang lezat itu terasa hambar dilidahnya saat Moranno sama sekali tak melihat kearahnya.
"Makan yang banyak Gandis...." Ujar ibu Moranno lagi.
"Iya tante..." Jawab Gandis sambil memaksakan senyumnya pada nyonya Agatsa yang memandangnya.
"Isteriku apa kau sudah menyelesaikam makan malammu." Tanya Moranno saat ia melihat Yurina membersihkan sudut-sudut bibirnya menggunakan tissue.
"Hmmm..." Yurina hanya menggangguk menjawab ucapan suaminya itu.
__ADS_1
"Mom... Maafkan kami, kami harus segera pergi. Malam ini Yurina ada jadwal bertemu dengan dokter kandungannya." Kata Moranno pada ibunya.
"Tapi disini masih ada Gandis Moranno, ia sudah meluangkan waktunya untuk makan malam bersama kita. Tunda saja besok. Ujar ibunya.
"Tidak bisa mom, tadi siang aku telah membuat janji dengan dokter Rosalie untuk memeriksa kandungan isteriku. Lagi pula, aku sekalian akan memeriksakan kesehatan Yurina yg telah disiram oleh tamu mommy ini tadi sore." Kata Moranno tanpa melihat sama sekali kearah Gandis.
"Ayo, ikutlah denganku." Kata Moranno sembari membantu isterinya berdiri.
Moranno lalu mencium punggung tangan ibunya.
Yurina pun berusaha mengikuti apa yang dilakukan Moranno pada ibunya, namun seperti dugaannya. ibu Moranno menepis tangannya dengan kasar seperti biasanya.
"Tante, kasian Yurina, dia kan menantu tante?" Kata Gandis yang berpura-pura berempati dengan gaya mengejek saat melihat Yurina diperlakukan demikian.
"Bukan... Dia hanya isteri Moranno."
Moranno yang melihat semuanya itu merasa tak terima, hatinya begitu iba pada isterinya. Ia lalu menggenggam erat tangan isterinya lalu bergegas membawanya pergi. Ia merasa harus membela wanita yang menjadi isterinya itu. Tapi dia juga tidak bisa berlaku kasar pada ibunya, bagaimanapun juga ia harus menghormati ibu yang telah melahirkannya itu.
Moranno membuka pintu mobil dan mempersilahkan isterinya itu masuk, lalu kembali menutupnya dengan rapat. Ia bergegas menuju pintu mobil dekat kemudi, membukanya dan segera duduk dibelakang setir.
Moranno lalu memiringkan tubuhnya ke arah isterinya untuk memasang sabuk pengaman. Wajah Moranno tak sengaja tersentuh gundukan kenyal milik isterinya. Jantungnya terasa berdebar halus. Moranno baru menyadari gundukan kenyal itu terlihat lebih menonjol dari biasanya karena ukurannya lebih membesar.
Jantung Moranno semakin berdebar, darahnya terpompa lebih cepat. Ditambah aroma tubuh Yurina yang mengeluarkan aroma lembut sabun mandi.
"Apa kita bisa jalan sekarang, nanti dokter Rosalie menunggu kita lama." Kata Yurina yang menyadarkan lamunan Moranno.
Moranno segera menegakkan tubuhnya dan mengambil posisi dibelakang setir. Mesin segera dihidupkan dan Moranno perlahan menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan mereka saling membisu. Moranno berusaha keras menghilangkan pikiran gilanya.
"Aku tau gundukan itu pasti menggodaku. Atau aku yang tergoda. Tidak, gundukan itu yang telah menggodakku." Demikianlah Moranno bergulat dengan pikirannya sendiri.
Yurina yang duduk di sebelah Moranno pun sibuk dengan pikirannya sendiri. Moranno yang selalu menunjukan sikap baik padanya diawali saat pria itu meminta kesediaannya untuk dinikahi. Setiap perhatiannya saat mereka sedang bersama membuat Yurina selalu merindukannya sehingga tanpa ia sadari, ia selalu menantikan saat kepulangan suaminya itu dari berkerja, merindukan saat mereka berpegangan tangan, merindukan saat mereka sedang makan bersama, masak bersama, dan merindukan saat mereka tidur berdua disatu tempat tidur yang sama.
Walau Yurina menyadari benar, bahwa semua yang suaminya itu lakukan adalah untuk bayinya yang ada didalam tubuhnya, bukan semata karena dirinya. Tapi ia mau menikmati perasaan nyamamnya itu selama ia bisa menikmatinya.
__ADS_1
Tanpa disadari mereka sudah tiba, Moranno menepikan mobilnya dilahan parkir yang telah disediakan.
***