
Yurina memperhatikan kedua bayi kembarnya yang masih tertidur pulas dalam ranjangnya masing - masing disore itu.
Pada bagian depan masing - masing ranjang bayi itu tertulis identitas mereka.
Bayi Billy, lahir lebih awal, dengan berat badan tiga koma satu kilo gram, panjang lima puluh dua senti meter.
Bayi Willy, lahir lima menit kemudian setelah kakaknya lahir, dengan berat badan tiga koma dua kilo gram, panjang lima puluh satu senti meter.
Bila diperhatikan, tidak ada perbedaan diantara kedua bayi kembar itu. Yurina memperhatikan seluruh tubuh kedua putranya itu, pada bayi Billy ia menemukan tanda lahir dipergelangan tangan kirinya.
Kulit wajah hingga kaki kedua bayi iti masih berwara merah. Rambutnya tebal dan hitam. Hidung keduanya sama - sama mancung mewarisi hidung sang daddy. Bibir tipis mungil mereka sesekali bergerak - gerak seperti hendak menyusui.
Yurina tersenyum, hatinya menghangat, rasa bahagia itu mengalir dalam dadanya.
"Ternyata rupa kalian seperti ini babby - babby mommy." Yurina mengelus wajah kedua bayinya dengan penuh kasih sayang secara bergantian.
"Kalian berdua sangat tampan. Daddy kalian pasti merasa tersaingi nanti." Ucap Yurina seorang diri pada kedua buah hatinya itu sambil tersenyum.
Wajah keduanya nampak begitu damai. Terlihat tanpa beban. Amat menggemaskan.
Yurina memompa ASI nya yang masih begitu banyak karena bayinya masih kurang kuat menyusu padanya.
Setelah selesai memompa ASI nya Yurina perlahan turun dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri dikamar mandi.
"Nyonya muda, anda mau kemana?" Tanya bibi Nur saat melihat Yurina turun dari tempat tidurnya.
"Saya mau mandi dulu bi, tolong temanin mereka ya bi..." Pinta Yurina.
"Baik nyonya muda.... Saya bantu ya nyonya..."
"Tidak usah bi, saya masih bisa berjalan pelan - pelan."
"Hati - hati nyonya muda."
"Bibi, tolong masukan ASI yang telah saya pompa kedalam dua dot. Mungkin saja mereka sudah terbangun saat saya masih dikamar mandi. Lebihnya tolong masukkan kedalam lemari pendingin supaya awet dan bisa digunakan lagi."
"Baik nyonya muda."
__ADS_1
Yurina berjalan perlahan dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Luka jahitan pasca melahirkan masih terasa sangat perih saat terkena air. Yurina membersihkan tubuhnya dengan sangat hati - hati.
Selesai mandi Yurina melihat kedua bayi kembarnya telah terbangun dan sedang menyusui dot mereka masing - masing. Namun karena masih belum terbiasa mereka sesekali melepaskannya sambil menangis.
Yurina yang merasa kasihan, segera meraih salah satu bayi mungilnya itu.
Bayi Billy segera mencari - cari pada dada Yurina. Setelah menemukan apa yang ia cari, dengan lahap ia menyesap pucuk dada ibunya.
Yurina tertawa kecil saat merasakan sesapan bayi mungilnya.
"Ada apa nyonya muda." Tanya bibi Nur saat mendengar Yurina tertawa kecil.
"Geli bibi, bayi Billy sepertinya sangat lapar..." Kata Yurina masih tertawa.
"Biasanya diawal - awal menyusui sering terasa geli, nanti bila lama - kelamaan akan menjadi terbiasa nyonya muda." Kata bibi Nur sambil membantu bayi mungil satunya lagi menyusu menggunakan dotnya
Yurina memperhatikan wajah bayinya saat sedang menyusui. Setelah sekian menit berlalu, bayi mungil itu melepaskan mulutnya dari pucuk dada ibunya dan kembali tertidur pulas.
Yurina mengangkat bayi dipangkuannya dengan sangat hati - hati supaya tidak terbangun dan meletakannya kembali diranjang bayi.
"Tapi Nyonya, Bayi Willy sepertinya sudah ingin tertidur juga. Lihatlah matanya yang sebentar - sebentar terpejam dan sebentar - sebentar terbuka." Ujar bibi Nur sambil tersenyum melihat tingkah bayi itu.
"Tidak apa - apa bi, aku akan tetap menyusuinya, kasihan dia kalau tidak merasakan ASI ibunya secara langsung."
Bibi Nur melepaskan dot dari mulut bayi Willy saat Yurina mengangkat bayinya.
Bayi Willy yang matanya hampir tertutup karena mulai mengantuk membuka matanya sedikit lebar, walau matanya belum bisa pokus karena baru berusia sehari.
Saat didekatkan ke dada Yurina, bayi mungil itu hanya diam. Yurina mengarahkan pucuk dadanya kemulut bayi Willy, namun ia tak berespon.
"Willy sayang, ayo minumlah...." Ucap Yurina masih mengarahkan pucuk dadanya pada sang bayi.
Setelah sekian lama Yurina berusaha, akhirnya bayi mungil itu mulai mengemut pucuk dada Yurina, namun sesapannya terasa lemah.
Beberapa detik kemudian, bayi itu melepasakan mulutnya karena telah terridur pulas.
__ADS_1
"Ternyata kau sudah sangat mengantuk sayang, makanya kau tidak mau menyusui tadi." Ucap Yurina pelan.
Diciumnya bayi mungilnya itu, khas aroma minyak telon tercium oleh hidung Yurina.
Dengan hati - hati diletakannya bayi Willy kembali diranjangnya.
"Nyonya muda makan malam sudah siap. Apakah saya bawa kemari saja nyonya?"
"Tidak usah bibi, biar saya kemeja makan saja, supaya diruangan ini tidak bau."
"Baiklah nyonya.... Saya akan menemani bayi - bayi anda disini nyonya..." Kata bibi Nur sambil mendekati ranjang para bayi.
"Terima kasih bibi." Yurina lalu beranjak dari tempat tidurnya, dengan hati - hati ia melangkah menuju meja makan.
Selesai makan malam Yurina kembali kekamarnya. Ia melewati kamar rawat suaminya. Gorden kaca belum ditutup, sehingga keberadaan Moranno didalam sangat jelas terlihat dari dinding kaca.
Yurina menyentuh gagang pintu dan membukanya perlahan. Setelah masuk ditutupnya kembali pintu dengan rapat. Ditutupnya semua dinding kaca dengan gorden.
Pandangannya menyapu seisi ruangan. Kembali terlintas dikepalanya saat - saat menegangkan siang tadi, dimana ia melahirkan kedua putra kembarnya diruangan itu ditemani Moranno yang sedang koma.
Yurina menyentuh tubuh Moranno yang sedang terbaring diranjang pasien. Tubuh itu terasa hangat.
"Apa kau demam suamiku." Ucap Yurina. Ia terburu - buru memencet bel yang ada didinding, alat untuk memanggil dokter atau perawat, didekat kepala ranjang suaminya.
Yurina memeluk tubuh Moranno yang seolah sedang tertidur, dan merasakan suhu tubuh suaminya yang hangat.
"Aku sangat merindukanmu suamiku? Apa kau juga rindu padaku?" Air mata Yurin tak terasa keluar dari sudut - sudut matanya.
"Terima kasih suamiku... Engkau telah menepati janjimu... Menemaniku saat persalinan siang tadi. Sehingga aku tidak takut menjalani saat - saat itu."
"Bayi - bayi kita sudah lahir suamiku.... .Mereka sudah kuberi nama Billy dan Willy, seperti yang telah kita berdua siapkan namanya di kertas kita masing - masing."
"Mereka berdua sangat tampan... Kau sudah memiliki sainganmu suamiku. Jadi, jangan berpikir kau yang paling tampan dirumah kita nanti." Ucap Yurina tersenyum, namun air matanya terus mengalir tak tertahankan.
"Tapi jangan khawatir suamiku, bagiku... kau tetap suamiku yang paling tampan, kau tidak ada duanya, atau tiganya, empat, hingga hitungan terakhir sekalipun."
"Maka segeralah bangun suamiku, jangan terlalu lama kau tertidur. Aku sangat rindu mendengar suaramu. Aku juga merindukan belaian tanganmu dirambutku. Aku merindukan sentuhan - sentuhanmu. Aku rindu.... rindu pada semua yang ada padamu suamiku."
__ADS_1
Yurina terisak, ia memeluk suaminya begitu erat. Air matanya membanjiri pipinya hingga jatuh ke wajah Moranno.