
"Ibu Selia, katakanlah sesuatu supaya kami mendengarnya langsung darimu." Pinta nyonya Naomi pada ibu Selia.
Sejenak, ibu Selia menarik napas dalam, lalu tatapannya terruju pada tuan dan nyonya Morgan yang juga sedang menatap kearahnya seperti sedang menunggu apa yang akan dikatakan mantan asisten rumah tangga mereka di dua puluh satu tahun itu.
"Saya..... mohon maaf pada tuan dan nyonya Morgan." Suara ibu Selia nampak serak. wajahnya nampak begitu tegang karena semua pasang mata tertuju padanya, seolah menunggu tidak sabar akan perkataan selanjutnya yang harus ia ungkapkan.
"Sayalah yang membawa putri tuan dan nyonya Morgan atas perintah nyonya Naomi. Saat itu saya merasa bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Saya bingung harus membawa bayi mungil itu kemana. Karena dilarang untuk tidak kembali lagi, saya berpikir akan pulang kampung, tapi bila saya membawa bayi, apa kata orang tua saya dikampung nanti, dan apa kata calon suami saya dan juga orang - orang kampung lainnya."
"Dalam kebingungan itu saya akhirnya tiba di Panti Asuhan Benih Kasih ini. Yang terlintas dibenak saya saat itu hanya ingin bagaimana bayi tuan dan nyonya Morgan itu aman dan selamat, dan saya pun tidak terkena masalah bila pulang kampung. Bunda Marissa saat itu yang saya temui untuk menitipkan bayi itu sementara, meminta identitas bayi itu. Saya yang masih bingung hanya bisa mengatakan, bahwa putri saya belum sempat saya beri nama, dengan alasan saya sibuk mencari uang untuk membayar sisa biaya persalinan, karena saya tidak memiliki suami."
"Karena perasaan iba, akhirnya bunda Marissa bersedia menerima bayi yang saya bawa itu, karena saya berjanji hanya menitipkannya hanya satu minggu saja."
"Sejak hari itu, saya tidak pernah kembali lagi ke Panti Asuhan ini. Saat saya pulang kampung, saya langsung dinikahkan dan dibawa kekota yang lain oleh suami saya. Perasaan bersalah itu selalu mengikuti saya selama ini, rahasia besar itu hanya saya simpan seorang diri tanpa berani mengungkapkannya pada siapapun. Hingga akhirnya, saya sudah tidak tahan lagi, saya ceritakan pada suami saya, dan suami saya membawa saya pindah ke kota ini untuk datang ke keluarga tuan dan nyonya Morgan...... untuk meminta maaf dan mengungkapkan rahasia yang saya simpan selama ini."
"Saya yang baru bisa mengandung dalam usia pernikahan kami yang menginjak dua puluh tahun.disarankan oleh dokter kandungan saya menggugurkan kandungan karena ada kista dirahim saya, namun saya tidak mau. Sehingga kehamilan saya itu membuat suami saya harus mengeluarkan biaya besar dalam perawatan saya dan bayi yang ada dalam kandungan saya. Suami saya yang terkena pemangkasan karyawan ditempat kerjanya akhirnya membuat keadaan kami semakin sulit."
"Hal itulah yang menyebabkan kami belum bisa menemui keluarga tuan dan nyonya Morgan."
"Hingga akhirnya, suami saya terlibat tindakkan kriminal. Ia menculik nyonya muda dari keluarga Agatsa."
"Walaupun telah menjadi korban penculikan suami saya, nyonya muda masih mau membantu saya dan putri saya, bahkan saya bisa membuka warung di ruko yang ada didekat rumah sakit Pemerintah, sehingga saya dapat membiayai hidup saya, anak saya Putri walau suami saya ada didalam penjara."
"Beberapa hari lalu, nyonya Naomi, yang pernah menjadi majikan saya datang menemui saya. Saya memang sempat terkejut akan kedatangannya. Setelah saya mendengar semua penyesalan yang ia ungkapkan dihari itu, kami pun langsung ke Panti Asuhan Benih Kasih ini untuk menemui bunda Marissa."
__ADS_1
"Saya sangat tidak menyangka..... ternyata bayi yang saya titipkan waktu itu.... ternyata bayi itulah yang menolong saya pada saat suami saya sudah tidak sanggup membiayai saya dan anak saya Putri di rumah sakit." Kata ibu Selia mengakhiri ceritanya.
"Mengapa saya menceritakan semua ini dihadapan tuan - tuan dan nyonya semua? Walau pun sebenarnya saya merasa sangat malu akan kisah ini, namun saya tetap harus menceritakannya. supaya ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa tidak semua bisa dihargai dengan uang." Lanjut nyonya Naomi setelah ibu Selia selesai berbicara.
"Kita tidak bisa menilai seseorang karena apa yang ia miliki atai tidak ia miliki. Menantu saya, tuan Morgan, ternyata sekarang ia lebih sukses dari saya sekarang, yang pernah menganggapnya rendah pada saat itu. Namun karena hatinya yang baik, ia tidak mempermasalahkan sikap saya dimasa lalu. Saya merasa malu, karena hati saya yang jahat saat itu padanya."
"Tuhan masih mengasihani saya, melalui nyonya Agatsa, sahabat kelurga tuan dan nyonya Morgan, anak menantu saya, kami berhasil mendapatkan hasil test DNA, ternyata nyonya muda dalam keluarga Agatsa adalah benar cucu saya, cucu perempuan yang pernah saya buang."
Semua mata tertuju pada Yurina. Yurina yang sudah tidak sanggup lagi mendengar kisah itu sudah bersembunyi dalam pelukan Moranno suaminya.
Moranno memeluk isterinya itu dengan erat. Ia tahu bahwa kenyataan itu pasti sangat berat bagi Yurina.
Bayi perempuan berusia tujuh hari yang dijauhkan dari kedua orang tuanya dan tidak diinginkan oleh nenek kandungnya sendiri karena tidak bisa menerima ayah dari sang bayi.
"Sayang...... maafkan nenekmu yang begitu tega padamu dimasa lalu....." Kata nyonya Naomi dengan mata berkaca - kaca.
Yurina tidak memberi jawaban. ia hanya mematung dan mendekap Moranno dengan erat.
Semua pasang mata masih tertuju pada nenek dan cucunya itu, mereka sangat penasaran melihat respon Yurina yang hanya berdiam diri saja.
Setelah sekian lamanya Yurina tidak bergerak, Moranno mulai menggerak - gerakkan tubuh isterinya itu dengan lembut
"Sayang..... nenekmu meminta maaf padamu...." Panggil Moranno, namun Yurina masih tidak bergeming.
__ADS_1
"Sayang...... nenekmu sudah menyesal dan meminta maaf padamu......" Moranno kembali menggerakkan tubuh isterinya. Namun Yurina masih tidak menjawab.
"Nenek tahu..... perbuatan nenek padamu sungguh tidak termaafkan. Nenekmu ini pasrah. Walau pun demikian, nenek tetap memohonkan maaf padamu sayang, kau adalah cucu nenek." Kata nyonya Naomi masih dengan mata berkaca - kaca, bahkan air matanya menetes begitu saja dikulit pipinya yang sudah mengeriput.
Moranno kembali menggoyangkan tubuh Yurina dengan halus, karena masih tidak ada jawaban, ia mendongakkan wajah Yurina dengan cepat karena khawatir.
"Sayang.... Sayang.... apa yang terjadi padamu..... kau pingsan....." Kata Moranno panik.
Suasana tegang langsung berubah panik didalam ruang acara syukuran Panti saat itu.
"Maafkan kami.... kami harus segera pergi.... " Ucap Moranno seraya mengangkat tubuh Yurina dalam pelukkannya.
Moranno yang masih belum terlalu pulih hampir saja terjatuh saat mengangkat tubuh isterinya itu dalam gendongannya.
Untung saja tuan Harry yang berada didekat mereka segera.menahan tubuh Moranno.
"Tuan Moranno, ijinkan saya yang mengangkat nyonya muda kemobil." Kata tuan Harry.
"Tapi tuan Harry....."
"Sudahlah.... jangan banyak bicara, isteri tuan ini adalah adik saya, jangan khawatir." Kata tuan Harry yang langsung meraih tubuh Yurina dari dalam pelukan Moranno dan membawanya masuk kemobil.
Moranno terlihat sedikit kesal pada tuan Harry karena tidak rela pria lain menggendong tubuh isterinya itu. Namun ia cepat menepis perasaan anehnya itu karena melihat tuan Harry hanya ingin membantunya.
__ADS_1
***