
Sudah satu minggu ini Margareth terlihat uring - uringan. Bila selesai melakukan tugasnya sebagai seorang dokter, hal pertama yang ia lakukan adalah menyambar ponselnya dan memeriksanya. Tidak satupun panggilan telepon, pesan, ataupun e-mail yang masuk diponselnya dari Harry. Hanya dari beberapa teman, rekan kerja seprofesi, pasien, atau dari keluarganya.
Harry tidak pernah absen sebelumnya. Biasanya, setiap hari Margareth selalu menerima ucapan selamat pagi, ataupun sekedar mengingatkannya untuk makan siang, selamat tidur, dari tuangannya itu.
Namun kini, sudah terhitung tujuh hari, Harry tidak ada kabar beritanya, ia bagaikan hilang ditelan bumi semenjak kepulangan ke Singapura sore itu.
Margareth membolak - balik ponselnya, ia ragu untuk menghubungi Harry. Karena selama hubungan mereka berjalan, setelah kedua belah pihak keluarga mereka yang memberi keputusan bahwa dirinya dan Harry harus menikah, hanya Harry lah yang selalu berinisiatif menghubunginya.
Kini Margareth mulai mengetik diponselnya. Setelah menjadi satu kalimat, ia menghapusnya kembali. Begitulah yang terjadi beberapa menit berlalu, sudah belasan kalimat yang ia buat lalu ia hapus lagi. Rasa gengsinya masih begitu tinggi walau hanya untuk mengirimkan satu pesannya.
"Tapi bila aku tidak mengirim pesan padanya, bagaimana aku tahu kabarnya?" Ucap Margareth pada dirinya sendiri.
"Tapi bagaimana kalau dia tidak meresponku, aku bisa malu.... " Ucapnya lagi ragu sambil menyentuhkan ponselnya pada dagunya.
".....atau mungkin dia menungguku untuk menanyakan kabarnya lebih dahulu....... ??"
"Iya...... iya..... aku rasa begitu........" Jari - jari Margaret mulai mengetik diponselnya dengan cepat. Namun beberapa detik kemudian ia menghapusnya lagi. Kepalanya tiba - tiba terasa pusing memikirkan hal itu.
Akhirnya ia mulai mengetik lagi diponselnya. Margareth memejamkan matanya lalu nekat menekan tombol kirim.
Margareth :
Tuan Harry, apa kabar mu?
Satu detik..... satu menit..... sepuluh menit.... belum ada balasan. Margareth bolak balik membuka ponselnya walau tidak ada pemberitahuan notifikasi terdengar.
"Dokter Margareth....." Margareth sedikit kaget saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Ia menoleh cepat, ternyata dokter Randiasa. Ia melangkah mendekati Margareth yang tengah duduk seorang diri kursi taman rumah sakit.
"Iya dok, ada apa?" Sahut Margareth, saat dokter Randiasa sudah berada dihadapannya.
"Ada yang ingin saya tanyakan dokter Margareth.....anda punya waktu??" Dokter Randiasa menatap wajah Margareth yang pernah mengisi hari - harinya saat mereka sama - sama menyelesaikan pendidikan kedokteran di bangku kuliah dahulu.
"Bertanya tentang apa? Saya hanya melayani pertanyaan seputar pasien saja....." Sahut Margareth kurang bersahabat menatap lurus kedepan tanpa menoleh kearah dokter Randiasa yang tengah memandangnya.
"Pasien......" Sahut Dokter Randiasa singkat. Sebenarnya ia ingin bertanya hal lain, namun ia mengubah pertanyaannya karena sikap Margareth yang sudah menunjukan rasa ketidak - sukaannya.
"Baiklah..... Apa yang ingin dokter tanyakan?" Ucap Margareth dengan sikap datarnya.
"Bolehkah saya duduk disini?" Tanya dokter Randiasa meminta persetujuan, sambil menujuk ruang kosong pada kursi panjang yang sedang diduduki Margareth.
__ADS_1
Margareth menoleh kearah ruang kosong disebelahnya, "Silahkan." Ucapnya datar.
Bertepatan saat dokter Randiasa mendudukan dirinya, saat itu juga Margareth menggeser duduknya lebih menjauh hingga mentok diujung kursi.
Dokter Randiasa melirik sekilas dengan ekor matanya, terlihat sekali rekan satu profesinya itu berusaha menjaga jarak dengan dirinya.
Sejak hari pertama mereka berkerja sama, Margareth sudah terlihat sangat menjaga sikapnya. Berbeda saat pertama kali dirinya bertemu Margareth, wanita itu bahkan sempat memeluknya dari belakang, namun kenapa sehari setelahnya berubah 180 derajat.
"Cepat sampaikan..... apa yang hendak dokter tanyakan, saya tidak punya banyak waktu...." Ucap dokter Margareth masih menatap lurus kedepan.
"Pasien..... bernama ibu Miar..... kenapa keluarganya tidak ada satupun yang menengoknya?" Tanya dokter Randiasa menatap Margareth dari arah samping. Wanita masa lalunya itu tidak banyak berubah, walau sudah sembilan tahun mereka berpisah, bahkan ia terlihat lebih cantik dan fress walau sikapnya terkesan acuh sekarang.
"Keluarganya..... mereka berada dikampung, cukup jauh jarak tempuhnya dari kota ini." Ucap Margareth masih menatap kedepan.
"Keluarganya mengantarkannya, saat ia sudah sekarat waktu itu..... hampir saja nyawanya tidak tertolong." Tambah Margareth lagi. Dokter Randiasa tetap memperhatikan penuturan Margareth, ia melihat bibir berwarna pink milik Margareth yang terus bergerak saat berbicara.
"Mereka.... dari keluarga tidak mampu.....Itulah alasan mengapa mereka tidak bisa membawanya kemari dengan cepat."
"Jadi.... mungkin saja, ketidak hadiran keluarganya hingga saat ini disebabkan dari finansial mereka." Ucap Margareth menyelesaikan penjelasannya.
"Lalu, siapa yang membiayai pengobatanya selama ini, apa pihak rumah sakit memberikan dispensasi?" Tanya dokter Randiasa lagi.
"Lalu siapa orang itu?" Dokter Randiasa penasaran dengan orang dermawan itu.
"Seseorang..... Yang tidak ingin disebutkan namanya." Sahut Margareth menatap datar kearah dokter Randiasa.
Dokter Randiasa menutup mulutnya, tatapan wanita itu sudah sangat berubah pada dirinya. Ia dapat melihatnya secara jelas.
Margareth berdiri, ia hendak pergi dari tempat itu. Namun tangan Randiasa segera meraih lengannya dengan cepat.
Wanita itu terkejut, ia melihat tangan dokter Randiasa masih memegang lengannya dengan erat.
"Apa yang anda lakukan dokter?" Tanya Margareth masih melihat kearah lengannya yang dipegang oleh dokter Randiasa.
"Saya masih belum selesai dengan anda dokter Margareth....." Ucap dokter Randiasa lembut dalam sikapnya yang tenang.
"Tolong lepaskan tangan saya dokter....." Ucap Margareth membuang wajahnya kearah lain. Dokter Randiasa segera melepaskan tangan Margareth.
"Bukankah saya sudah menjawab pertanyaan dokter dengan sangat jelas tentang pasien yang bernama ibu Miar itu? Jadi apa lagi yang ingin dokter ketahui tentangnya?" Ucap Margareth yang kurang senang karena dokter Randiasa menahannya.
__ADS_1
"Saya ingin bertanya tentang pasien yang lainnya lagi....." Ucap dokter Randiasa masih bersikap tenang.
"Sebutkan nama pasien itu.....dan apa yang ingin dokter tahu tentangnya? Cepat katakan. Saya harus segera menyelesaikan pekerjaan diagnosa saya untuk dua pasien yang sudah kita tangani tadi." Margareth menatap wajah dokter Randiasa yang telah berdiri didepannya.
Dokter Randiasa menatap wajah Margareth, terlihat sekali wanita itu tidak sabar menunggu kata - kata yang keluar dari mulutnya.
"Pasien itu seorang dokter, namanya.....dokter Margareth....." Ucap dokter Randiasa masih menatap lekat wajah Margareth.
Wajah Margareth yang sudah terlihat tidak sabar langsung berubah garang saat mendengar ucapan pria dihadapannya itu.
"Apa maksud dokter mengatakan saya seorang pasien??" Suaranya sedikit meninggi.
"Karena hanya pertanyaan tentang pasien saja yang bisa dokter Margareth layani bukan?" Nada suara dokter Randiasa masih terdengar lembut dan tenang.
"Dokter membuang - buang waktu saya saja." Setelah berucap dengan nada marah, Margareth segera membalikan tubuhnya untuk segera pergi.
Dokter Randiasa tidak tinggal diam, ia kembali menahan Margareth dengan menarik lengannya hingga Margareth hampir terjatuh. Dokter Randiasa dengan sigap menangkap tubuh Margareth hingga tidak sengaja masuk dalam pelukannya.
Margareth terkesiap, ia menatap wajah dokter Randiasa yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Dokter Randiasa juga tidak kalah terkejutnya, dirinya tidak berharap hal itu bisa terjadi. Ia pun turut menatap wajah Margareth yang masih ia topang dengan satu tangannya supaya tidak terjatuh, sedangkan tangan satunya lagi masih memegang lengan Margareth.
...•••...
♡♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras ulet sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
♡♡♡
__ADS_1