JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 44 "Berhentilah menggodaku. Kau akan membuatku semakin jatuh cinta padamu"


__ADS_3

"Bagaimana hasil pemeriksaan kesehatan mommy saya dok?" Tanya Moranno pada dokter Herman.


"Nyonya besar masih butuh istirahat yang cukup tuan. Asam lambungnya juga sudah lebih baik. Tidak usah banyak berpikir ya nyonya besar, usahakan rileks dan santai, jaga hati dan pikiran untuk tetap bahagia." Kata dokter memberi pesan.


"Saya permisi dulu tuan Moranno dan nyonya besar."


"Baik dokter, terima kasih banyak sudah datang."


"Sama-sama tuan."


Moranno mengantarkan dokter Herman hingga didepan pintu kamar ibunya. Setelah kepergian dokter Herman, Moranno kembali masuk kedalam kamar dan menghampiri ibunya yang sedang berbaring.


"Bagaimana perasaan mommy sekarang?" Tanya Moranno sambil duduk ditepi tempat tidur.


"Seperti yang kau lihat.... Untuk apa kau datang kemari, apa kau tidak berkerja, ini masih jam kerja?" Kata ibu Moranno dengan suara datar.


"Aku ingin melihat keadaan mommy dan juga mau meminta maaf atas ketidak nyamanan pembucaraan kita ditelpon tadi mom."


"Sekarang kau sudah melihat keadaan mommy dan sudah meminta maaf, sekarang pergilah kembali berkerja."


"Mommy... Apa mommy masih marah padaku?" Tanya Moranno dengan wajah sedihnya. Nyonya Agatsa membuang pandangannya ketempat lain, tak mau melihat putranya.


"Apa kau masih perduli pada perasaan mommy. Mommy marah atau tidak itu tidak penting bagimu, isterimu itulah yang terpenting bagimu kan? "


"Mom.... Jangan berkata seperti itu... Tolong dengarkan aku mom. Aku sungguh-sungguh menyayangimu mu mom. Mommy adalah ibuku, ibu yang melahirkan aku, merawatku, membesarkanku, mendampingi aku hingga menjadi seperti hari ini. Mommy tak tergantikan, jangan pernah mengatakan mommy tak penting bagiku." Kata Moranno berusaha membuat ibunya memahami isi hatinya.


"Yurina, dia wanita yang baru masuk dalam kehidupanku. Tapi dia isteriku, dalam tubuhnya ada anakku mom." Kata Moranno lagi.


"Apa kau begitu yakin, anak yang dalam kandungannya itu adalah anakmu, hmmm?. Perempuan itu tinggal diluar sana, tanpa ada seorangpun keluarganya, bisa saja hidupnya sesuka hatinya Moranno." Sela nyonya Agatsa masih melihat kearah lain.


"Apa karena pikiran mommy merasa Yurina tidak mengandung anakku jadi mommy tidak menyukainya?"


"Tentu saja, itu salah satu alasan mommy masih banyak lagi yang lainnya."


"Mom, Yurina bukan wanita yang hidupnya sesuka hatinya, tapi dia wanita yang diajar hidup disiplin dan bekerja keras dipanti tempat ia dibesarkan."


"Dan kau percaya itu? Tidak ada orang yang bisa hidup dididik dengan baik tanpa orang tua, yang ada mereka akan tumbuh menjadi anak-anak liar. Dan sampai kapanpun mommy tak mau dia menjadi menantu mommy. Mengapa kau tak mau mengerti Moranno, mengapa?" Kata nyonya Agatsa menatap tajam pada Moranno.

__ADS_1


"Kita sudah sangat sering membahas hal ini mommy. Dan tidak pernah mendapat titik temunya, yang ada hanya pertengkaran saja. Dan aku tidak dapat mengubah mindset mommy berpikir tentang Yurina. Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti mommy dapat mengenali pribadi Yurina dengan baik dan bisa menerimanya sebagai menantu mommy. Aku mohon maaf pada mommy, karena aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku sebagai seorang suami dan calon ayah." Kata Moranno masih berusaha bersikap tenang menghadapi ibunya.


"Bagiku, mommy dan Yurina adalah wanita yang terpenting dan aku sayangi dalam hidupku." Moranno mendekati ibunya untuk memeluknya, namun nyonya Agatsa menghindarinya.


"Terserah kau saja. Pergilah, mommy ingin beristirahat." Ujar nyonya Agatsa acuh.


"Jangan seperti ini mommy." Kata Moranno dengan wajah sedihnya.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi kan, seperti katamu tadi, hal ini sudah sering kita bicarakan namun tidak menemui titik temu, bahkan kau dan mommy akan selalu bertengkar." Kata nyonya Agatsa membalikkan kata-kata putranya itu.


Moranno terdiam sejenak mendengar ucapan ibunya, ia tidak tau harus berkata apa lagi pada ibunya itu.


"Baiklah, mommy istirahat saja dulu, aku akan kembali kekantor untuk berkerja." Kata Moranno meraih tangan ibunya dan menciumnya.


"Hmmm." Ibu Moranno hanya mengangguk tanpa sedikitpun memandang kearah putranya. Moranno berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan rapat dibelakangnya.


"Tuan, saya bawakan makan siang untuk nyonya besar." Kata bibi Nur yang baru saja sampai didepan kamar nyonya Agatsa.


"Bawa saja masuk bi. mommy menunggu didalam." Kata Moranno mempersilahkan.


"Bibi Nani baru saja mengantarkan makan siang buat nyonya muda tuan." Jawab bibi Nur.


"Baiklah, terima kasih bi, saya akan kesana." Kata Moranno sambil beranjak menuju kamar mereka.


"Iya tuan." Bibi Nur membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


Moranno membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Bibi Nani yang masih didalam kamar majikannya membungkuk dengan hormat saat melihat tuannya masuk.


"Bibi Nani, biarkan saya yang membantu isteri saya makan, bibi boleh melakukan pekerjaan yang lain." Kata Moranno pada bibi Nani yang sedang membantu Yurina.


"Baiklah tuan. Saya permisi dulu." Bibi Nani meletakan mangkuk makan siang Yurina didalam nampan diatas nakas, dengan sikap hormatnya, ia segera keluar meninggalkan kedua majikannya itu dikamar mereka.


"Sayang, aku akan membantumu makan." Kata Moranno sambil mengambil mangkuk sup yang ada didalam nampan diatas nakas.


"Aku bisa melakukannya sendiri. Bukankah kau juga belum makan, makanlah bersamaku." Kata Yurina memandang suaminya itu.


"Biar aku yang melakukannya, aku akan meyuapimu dan juga diriku." Kata Moranno sambil menyuapi makanan kemulut Yurina dan mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Apa kau tak merasa jijiik seperti itu. Sendok itu baru saja masuk kemulutku." Kata Yurina merasa tak nyaman pada apa yang Moranno lakukan.


"Tidak, bukankah air liurmu saja sudah ku makan semalam?" Goda Moranno sambil memandang wajah isterinya yang bersemu merah.


"Jangan bicara seperti itu. Kau membuatku malu." Kata Yurina salah tingkah.


"Kau isteriku, itu hal biasa bicarakan oleh pasangan suami-isteri, disini juga hanya kita berdua. Ayo buka mulutmu lagi." Moranno menyupkan kembali makanan kedalam mulut Yurina, isterinya itu hanya bisa menurut tanpa bisa berbicara lagi, hanya wajahnya saja yang tersipu dipandang Moranno.


Moranno pun tak banyak bicara ia dengan telaten menyuapi Yurina dan dirinya, hingga isi didalam mangkuk yang ia pegang habis. Ia menambahnya lagi dengan mengambilnya dari mangkuk besar yang disediakan cukup banyak oleh bibi Nani.


"Sudah cukup, aku sudah kenyang." Kata Yurina dengan isyarat tangannya.


"Kenapa sedikit sekali, ini masih banyak bibi Nani menyediakannya." Kata Moranno yang masih ingin menyuapi Yurina.


"Aku agak mual, mungkin lambungku masih agak kaget menerima makanan. Kata dokter tadi juga makannya sedikit-sedikit saja dulu, sampai lambung kembali bisa menerima makanan seperti biasa." Kata Yurina sedikit menjelaskan pada Moranno.


"Baiklah..." Kata Moranno sambil meletakkan mangkuk ditangannya diatas nakas.


"Ini, minumlah susumu." Moranno menyodorkan segelas susu untuk Yurina.


"Terima kasih suamiku.".Kata Yurina sambil menerima segelas susunya dari tangan Moranno. Moranno hanya tersenyum.


"Lanjutkan saja makanmu, aku akan gantian menyuapimu." Kata Yurina meletakan gelas susu yang baru ia habiskan isinya, lalu mengambil mangkuk diatas nakas yang sebelumnya dipegang Moranno.


"Apakah kau sudah kuat?" Tanya Moranno memperhatikan gerak Yurina yang mulai menyuapinya.


"Tentu saja, aku harus pastikan suamiku makan sampai kenyang, jadi aku akan menyuapimu juga. Ayo, bukalah mulutmu." Kata Yurina mulai menyuapi mulut suaminya itu. Moranno membuka mulutnya sambil tersenyum senang.


"Rasanya berbeda." Kata Moranno sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Berbeda? Bukankah makanannya sama dengan yang tadi? Tanya Yurina keheranan.


"Iya... Berbeda... Karena kau yang menyuapiku." Kata Moranno sambil tersenyum. Wajah Yurina kembali bersemu merah mendengar perkataan Moranno, namun ia berusaha menguasai dirinya supaya tak terlihat salah tingkah seperti sebelumnya.


"Berhentilah menggodaku, kau akan membuatku semakin jatuh cinta padamu." Kata Yurina balik menggoda Moranno.


"Benarkah? Kalau begitu berarti aku harus semakin sering melakukannya, karena itu tujuanku." Kata Moranno sedikit mengerlingkan matanya. Yurina tak bisa berkata-kata lagi, hatinya tiba-tiba berdebar-debar. Dengan sekuat tenaga Yurina berusaha menenangkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2